Pagi itu, dua perempuan yang tinggal dalam satu atap sedang asik menikmati sarapan mereka sembari bercengkerama. Banyak hal sepele yang mereka bicarakan, dari mimpi saat tidur, pasiem, sampe peliharaan dan koleksi succulent yang berjejer di jendela balkon apartemen mereka. Hobi keduanya sama, mengoleksi succulent. Walaupun tidak banyak, tapi cukup untuk memanjakan mata mereka yang melihatnya.
“ By the way Aida, bagaimana jurnalmu?” tanya Zaineb sembari memberi semprotan air ke succulent-succulent kesayangannya.
“ Masih di koreksi Prof Shahab Shaleh. Mungkin hari ini akan ada hasil. Mudah-mudahan aku bisa maju bulan depan. “ Jawab Aida sambil sibuk menyiapkan perlengkapan kerjanya.
“ Kau ada jadwal hari ini? “ tanya Zaineb lagi.
“ Hu um. Jadwal poliklinik di pagi hari menggantikan jadwal Prof Shehaan. Dan siang hingga sore piket di ER. Operasi sedang kosong. Minggu ini sepertinya bedah syaraf yang menguasai OR. Pasien mereka sedang banyak. Setidak nya aku bisa sedikit bernafas lega. Hehe.” Jawab Aida.
“ Hari ini jadwal kita sama. Aku akan ada di ER siang hingga sore hari. Jadi kita punya waktu luang di malam hari bukan?!”
“ Ada apa Zaineb? Apa kita akan pergi?” tanya Aida heran dengan ekspresi sahabatnya itu.
“ Hmmmm, sebenarnya malam ini, akan ada acara di rumahku. Ada seseorang yang... eeng...
Hendak melamarku kepada orang tuaku. Kau mau menemaniku kan?” Zaineb.
“ Masyaallah Zaineb. Alhamdulillah... aku turut senang mendengarnya.... selamat ya...” Aida memeluk Zaineb yang tersipu dan terpaku di tempatnya.
“ Kenapa? Ada masalah? Apa kamu ga suka dengan laki-laki itu? Kalian dijodohkan kah? “ tanya Aida bertubi-tubi.
“ Entahlah, yang aku tahu, dia adalah teman kakakku. Dan dia tidak tinggal di sini. “ jawab Zaenab.
“ Tidak tinggal disini? Di luar Istanbul? “ tanya Aida lagi.
“ Dia bukan orang Turki.”
“ Whaaat?!!! Hey.... kamu luar biasa, jadi selama ini kamu menjalani hubungan di belakang ku ya??” ujar Aida.
“ No, it’s not like what you think. He is a friend of my Brother. He have been admired me since years ago, and i just knew it in last few days. Kareem told me. Beberapa hari yang lalu aku pulang ke rumah di Fatih untuk masalah ini. Dia di sana dan menyampaikan maksudnya.
Dan malam ini dia bermaksud secara resmi menemui keluargaku. Memboyong keluarga nya dari Mesir.” Jelas Zaineb singkat. Aida tersenyum sumringah. Ia tak dapat menyembunyikan kebahagiaan untuk sahabatnya ini. Direngkuhnya Zaineb, di peluknya dengan sayang.
“ Aku selalu mendoakan kebahagiaan mu Zaineb. Aku yakin dia pria yang baik. Tapi, apakah aku pantas bergabung dalam acara keluargamu?” tanya Aida ragu.
“ Aku sudah meminta izin keluargaku. Mereka mengiyakan, lagipula teman-teman kakakku juga akan datang. Mereka memang sering bertemu di rumah kami, dan tahun ini adalah reuni mereka di rumah kami pertama kali setelah bertahun-tahun. Jadi tidak akan ada masalah. Siapa tau, di antara teman-teman kakakku juga salah satunya akan jadi jodohmu.” Ujar Zaineb.
“ Baiklah kalo begitu. Aku akan ikut.” Aida antusias.