Triiiing, triiiing, triiiing.... ! Alarm di hp Aida berbunyi nyaring. Diliriknya layar hp nya, pukul 03.15 waktu Istanbul. Aida beranjak. Ia berjalan menuju pintu, keluar menuju dapur, dilirik nya sekilas kamar di sebelahnya, pintu tertutup, lampu tidur yang remang menyala, menandakan Zaineb sudah pulang. Ia meneruskan langkahnya ke dapur untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Kemudian ke kamar mandi untuk berwudhu. Tak lama Aida pun larut dalam khusyuknya di sepertiga malam.
Aida beranjak dari sajadahnya, kemudian duduk di tepi ranjangnya. Di pandangnya secarik foto usang yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidurnya. Mungkin ia harus menaruhnya di bingkai agar tidak cepat menjadi usang dan kusam. Batinnya. Ia lalu meraih foto itu, memandangnya sejenak lalu menyelipkannya di buku agenda kerja nya. Matanya pun menangkap dua buah benda yang tertata di meja kerja disudut kamarnya. Laptop lamanya. Yang menyimpan banyak kenangan di dalamnya. Dan Notebook nya.
Flashback On
Aida berlari menuju ER setelah mendapat pesan singkat mengenai seorang pasien yang mengalami cidera saat melakukan pekerjaan merenovasi sebuah bangunan.
“ Di mana pasiennya? “ tanya nya pada seorang perawat.
“ Bed 4.” Jawab si perawat singkat dan mengikuti langkah Aida.
“ Pasien Mansoor Jabeer, usia 35 tahun. GCS 10, cidera tertimpa kayu, hematoma di Occipital frontalis Sinistra karena benturan, Vulnus laceratum regio Fibula sinistra, perdarahan aktif, sudah dibersihkan, sudah di dep, belum heacting. Belum di temukan tanda-tanda fraktur. Tekanan darah saat ini 100/70 mmHg.” Jelas sang perawat singkat.
Aida melakukan pemeriksaan secara seksama dari kepala hingga kaki. “ Sudah berapa lama pasien tidak sadar? “ tanya nya. “ kurang lebih 10 menit” jawab perawat itu lagi.
Aida melihat infus yang sudah terpasang. “ Ok. Injeksi Citicolline 1 ampul dulu. Lakukan Cranial Scanning, X ray ekstremitas bawah dextra-sinistra. Baru kita tau tindakan apa yang akan kita lakukan. Setelah hasil Scanning keluar hubungi departemen bedah syaraf. Oh iya, tambahkan injeksi Tranexamat Acid 1 ampule, jarak 15 menit dari Injeksi Citicoline.”
“ Baik Dokter.” Perawat itu pun bergegas mengambil trolly obat, dengan cekatan ia kemudian melakukan apa yang di instruksikan Aida. Aida tak tinggal diam, ia pun melakukan hal yang sama, demi menyelamatkan pasien yang ada di hadapannya. Ia pun menghubungi departemen radiologi untuk mengkonfirmasi rencana X Ray dan Scanning. Tak lama, pasien pun di bawa ke departemen radiologi. Kondisi pasien itu tidak terlalu buruk, hanya saja prosedur harus tetap dilakukan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Kurang lebih 1 jam Aida sibuk dengan Pasien cidera tersebut, tidak ada yang serius, luka nya termasuk luka ringan, tidak ditemui perdarahan otak, dan juga fraktur di kaki pasien tersebut. Luka robek pun sudah ditangani dengan baik. Pasien pun sudah sadar, respon nya pun bagus, hanya perlu observasi selama 24 jam untuk berjaga-jaga. Konsultasi ke bedah syaraf pun sudah dilakukan. Pasien pun segera di pindahkan ke rawat inap. Aida menarik nafas panjang. Setelah mencuci tangan dan mengeringkannya, ia melangkahkan kaki menuju ruangan dokter, untuk melanjutkan penulisan jurnal nya untuk ia serahkan ke Kepala Departemen Bedah minggu depan. Tapi, baru beberapa langkah beranjak, ia berhenti karena sebuah panggilan.
“ Dokter Aida!!” Aida pun menoleh ke arah suara. Seorang petugas portir Rumah Sakit berlari kecil menuju ke arahnya, dengan menenteng sesuatu. “ Ada apa Eeman? “ tanya Aida.
“ Ini dokter, ada kiriman paket untuk Dokter. “ Laki-laki yang dipanggil Eeman itu pun menyodorkan sebuah kotak kardus berukuran agak besar. Aida mengambil alih kardus itu, lalu membaca alamat pengirimnya. Dari Uskudar. “ Ah, mungkin laptopku sudah selesai di perbaiki. “ batin Aida. Ia pun tersenyum. “ Terima kasih Eeman.” Ucap Aida pada Eeman. “ Sama-sama dokter” balas laki-laki itu.
Aida membawa kotak paket itu ke ruangan istirahat para dokter. Ia tak sabar membuka bungkusan paket itu. Ia agak kaget saat dibukanya kardus itu, ada dua kemasan berbeda di dalamnya. Yang satu bisa ia lihat, laptop nya yang rusak dengan layar yang sudah utuh kembali. Dan kemasan satu lagi adalah .... Laptop Baru??? Aida mengernyitkan dahinya. Ia merogoh saku jas dokternya, tap tap tap, lalu menunggu sambungan telepon. Tuuuuut.... “ Halo Assalamualaikum... “ sahut suara dari sana.
“ Waalaikusalam, mas.... hmmm ini, laptopnya sudah saya terima, terima kasih sudha memperbaikinya, tapi,.... untuk yang baru...”
“ Itu sebagai permintaan maaf saya. Maaf saya ceroboh saat itu. Tolong jangan sungkan menerimanya. Yang itu siap pakai, jadi ga perlu instal ini itu. “ sahut suara itu lagi.
“ Tapi mas...”
“ Maaf Aida saya harus pergi, saya agak sibuk akhir- akhir ini. Assalamualaikum”
“ Waalaikumsalam.” Aida hanya bisa melongo memandangi dua benda yang ada di hadapannya saat ini. Laptop miliknya, dan Notebook baru untuknya, lalu ia memandangi layar hp nya yang menggelap.
Ting. Pesan singkat masuk. “ Tolong jangan sungkan menerima Notebook itu, itu permintaan maaf saya. Sekali lagi saya minta maaf, karena terkesan mengalihkan tanggung jawab, mohon maklumi saya. Saya berharap suatu saat kita bisa ketemu. “ pesan Abdullah.
Flashback Off