April 2018, Istanbul, Turkey
Aida baru saja mendudukkan bokongnya di sofa apartemennya. Sudah dua hari ini dia tidak merasakan nyamannya suasana apartemennya sendiri. Jadwal operasi yang padat serta jadwal ujian kompetensi nya yang sudah dekat, hanya hitungan minggu, memaksa Aida untuk memadatkan jadwal nya, mengatur agar ia dapat tetap mengikuti seluruh prosedur operasi yang dijadwalkan di departemen Bedah Ihsar Hospital, sebelum semua nya akan diujikan bulan depan, menentukan apakah kompetensinya sudah mumpuni untuk kemudian meningkatkan lagi gelar nya di bidang kesehatan. Aida kemudian memejamkan matanya sejenak, mencoba menghirup udara kelegaan dari rasa penatnya yang berhari-hari ini berkutat dengan kegiatan perkuliahan serta jadwal jaga nya di Emergency Room. Minggu ini ia beruntung hanya 2 hari tidak pulang ke apartemennya. Di awal-awal ia memulai perkuliahannya , Aida ingat dalam 1 minggu ia hanya bisa mencicipi nyamannya suasana apartemennya tidak lebih dari 24 jam. Ia melirik sekilas ke arah kamar yang ada di sebelah kamarnya, pintunya terbuka, menandakan sang empunya tidak berada di kamarnya. Seperti yang pernah Zaineb katakan, keluarga nya sudah menyiapkan apartemen untuk mereka tinggali berdua, dan di sinilah mereka. walaupun Aida dan Zaineb tinggal satu rumah, namun karena kesibukan mereka dan jadwal jaga mereka yang berbeda membuat keduanya jarang bertemu dirumah. Seperti saat ini, saat Aida sudah pulang, Zaineb masih berkutat dengan pasiennya.
Ting! Aida merogoh saku jaketnya, ada sebuah pesan masuk di cellphone nya. Ia berharap ini bukan dari ER. Dengan mata setengah terpejam Aida melirih layar handphone nya.
“ Assalamualaikum , dek. Kamu apa kabar? Udah lama ga ada kabar... Kakak dan keluarga di sini agak khawatir. ...” Ternyata SMS dari Indonesia. Oops, karena kesibukannya Aida sampe lupa, hampir sebulan tidak menghubungi keluarga di Indonesia. Ia kemudian menekan tuts di hape layar sentunya, mencari kontak kakaknya. Terdiam sejenak menunggu panggilannya tersambung, seharusnya di Indonesia masih sore, ia bisa tau, karena kakak Yudi masih bisa berkirim pesan padanya. Aida memang meminta kakaknya untuk tidak menelponnya, Aida lah yang akan menghubungi karena Aida tau, tarif telpon SLI tidak lah murah. Ia hanya meminta kakaknya mengririm SMS, dan Aida yang akan menelpon.
“ Assalamualaikum dek,” Sahutan dari sana.
“ Waalaikumsalam kak. Maaf ya, aku udah lama ga telpon, soalnya udah persiapan ujian kompetensi. Jadi jadwal padet banget. “
“ Iya gak apa-apa. Jangan terlalu di forsir, kamu harus tetep jaga kesehatan. Kamu ga sakit kan dek? Kok suaranya lemes gitu?” Tanya Yudi lagi.
“ Nggak kok kak, aku sehat walafiat. Ini aku baru pulang, baru aja nyampe. Oh ya, gimana kabar mbak Syifa? Anak-anak? Aku udah pengen banget pulang, udah kangen berat sama Palembang.” Jawab Aida.
“ Semuanya sehat. Oh iya, doain ya, kakak sama mbak Syifa kayaknya bakal punya momongan lagi. “ Kata Yudi sembari tersenyum agak malu, karena sejak menikah dengan Syifa yang lebih dahulu menikah dengan almarhum kakaknya dan telah memiliki 1 anak dari kakaknya Ahmad, kini ia harus merepotkan Syifa dengan kehamilan kelimanya.
“ What???!!! Kakaaaak. Kan kasian Mbak Syifa nya, masa setiap tahun harus ngelahirin? Ngeri banget sih kakak.... ” sahut Aida Sewot. Yudi menjauhkan hapenya dari telinganya karean teriakan tiba-tiba Aida.
“ Heehehe... kan seneng banyak anak kecil di rumah dek....” balas Yudi lagi.
“ Iya sih, tapi itu si bungsu aja baru hitungan bulan lahir. Masa mau nambah lagi? Mbak Syifa nya mana, Aku mau ngomong...” Yudi pun memindah tangannya hp yang ada di genggamannya, memberikan hp ke isitri yang duduk sambil menyusui bayi kecil di sebelahnya.
“ Assalamualaikum Da... “
“ Mbaaaak, kok mau sih dihamilin lagi ?? Mbak ga KB apa? Ga cape ya ngurusin krucil-krucil itu?” Cecar Aida.
“ Hehehe, capek sih Da, tapi seneng....” jawab Syifa tersipu.
“ Pokoknya abis ini mbak KB ya, bidan di sana banyak kan???”
“ Iya insyaallah, klo Kak Yudi ngijinin buat ga punya anak lagi...”
“ Mbak, kalo mau punya anak banyak boleh, tapi dijarakin dooonk... biar mbak ga terlalu capek.” Aida bersuara lagi, namun kali ini dengan suara lebih lembut.
“ Iya, nanti di bicarain lagi sama kak Yudi nya. “ balas Syifa.
“ Ya udah, jaga kesehatan, jangan lupa minum vitamin, sering-sering kontrol ya Mbak, soalnya ini udah yang kelima buat mbak.... yang empat aja Aida belum ketemu....”
“ Makanya cepet pulang, biar bisa bantu ngasuhin ponakan kamu ...” suara nya sudah berubah, rupanya hp sudah berpindah tangan ke Yudi lagi.
“ Iiih, kak Yudi ini. Ini juga lagi diusahain cepet selesai. Biar bisa cepet pulang. Doain aja.”
Sahut Aida.
“ Ya udah, hati-hati di sana. Kalo udah ketemu jodoh, bilang kakak, biar dinikahkan sekalian.”
“ iiih kakak ngomong apa sih? Ini kuliah aja ga selesai-selesai, malah mau mikirin nikah, ga sempet! “ Sewot Aida.
“ Umur kamu kan udah cukup. Uang udah punya, tunggu apalagi coba?” balas Yudi lagi.
“ Nunggu ada yang mau.” Sahut Aida singkat.
“ Lah, dulu bukannya udah diajakin Mubarak, kamu nya yang ga mau, malah kabur ke Turkey, daftar beasiswa ga bilang-bilang lagi....” balas Yudi.
“ Duuuh, kok malah ngomongin Mubarak sih... udah lama, udah nikah kali dia....”
“ Dia belum nikah dek, 2 hari yang lalu dia nelponin kakak, nanyain kabar kamu.” Kata Yudi.
“ Udah ah, males bahas itu, kalo jodoh ya ga bakal kemana. Terserah Allah aja. Udah ya, aku ngantuk, udah 2 hari ga tidur.” Ujar Aida sambil menguap, memang benar ia merasa lelah saat itu. Yudi pun mengakhiri percakapan. “ Ya udah, istirahat lah, jangan lupa makan, jaga kesehatan, jaga diri. Assalamualaikum.”
“ Iya kak, waalaikumsalam. “
Aida pun memutus sambungan teleponnya. Ia kemudian menyandarkan kepala ke sofa dengan posisi mendongak sambil memejamkan matanya. Satu tangannya memijat-mijat keningnya. Sempat-sempatnya kak Yudi membahas masalah itu. Huft. Aida kemudian beranjak, menenteng bungkusan yang tadi ia bawa pulang menuju meja makan yang ada di dapur. Ia membuka kemasannya, menarik satu potongan Pastry dan memasukkan ke dalam mulutnya. “ Bismillah...” Aida pun dengan lahap mengunyah Baklava yang ia beli tadi. Sejak dari pagi tadi ia belum mengunyah makanan berat apapun. Padatnya ER hari ini dan jadwal operasi yang harus ia ikuti memaksanya untuk hanya mengunyah roti-roti ringan. Tak sulit menemukan ribuan varian roti di Turkey, karena memang makanan pokok di negeri ini adalah roti. Dan Aida sudah terbiasa dengan itu, walaupun sebenarnya ia pun kangen dengan masakan Indonesia.
Setelah merasa perut nya sudah terisi, Aida pun merapikan kembali kemasan Baklava yang dibukanya tadi, lalu di taruhnya ke dalam lemari pendingin. Tak lupa ia mengirim pesan singkat ke Zaineb.
“ Jika kau pulang, ada Baklava di Lemari pendingin. Aku tidur dulu. “