CHAPTER 20 LANGIT DUBAI

1173 Kata
            Waktu subuh beranjak menuju pagi, dari gedung tertinggi di dunia, Burj Khalifa, lantai 142, Abdullah Breck seperti biasa menikmati Hot Chocolate favorite nya. Ia menikmati pemandangan indah di depan matanya, view kota Dubai, kota termegah di tanah Jazirah Arab. Setahun ini, Abdullah memang sering bolak-balik Indonesia-Dubai, untuk mengawasi dan membantu berjalannya Khalifa Tech, hingga Abdullah memutuskan untuk membeli salah satu apartemen mewah di Burj Khalifa. Sudah banyak tempat wisata di Dubai yang ia kunjungi. Mulai dari Pantai Jumeirah yang membentang di sepanjang Area Jumeirah salah satu tempat paling eksklusif di Dubai. Tempat di mana salah satu hotel paling terkenal di dunia berdiri, Burj Al Arab, juga beberapa Club dan pusat-pusat perbelanjaan yang arsitektur nya di pengaruhi gaya ekperatariat barat, terkesan modern sekaligus arabic, perpaduan yang kontras namun indah di mata Abdullah, seperti Mediterranian Town.             Abdullah beranjak dari tempatnya berdiri, dilihatnya Said masih menikmati sarapan roti sandwichnya dan menghirup pelan segelas Esspresso di meja makan, sambil senyum senyum berbalas chat line dengan Ibtissam istrinya. “ Hei Bro, kita ke Palm Jumeirah yok, aku pengen nyobain SkyDive di sana. “ ajak Abdullah menghampiri. Said menolehkan wajahnya. “ Ini udah yang ke berapa kali SkyDiving, masih bilang nyobain?? “ ucap Said. “ Ayolah, kamu ga perlu ikut diving deh, ikut terbangnya aja... hehehe” bujuk Abdullah.  Said tampak berfikir, mengernyitkan dahi nya. “ Ayolaaah, dari kemaren udah puas berkutat dengan kerjaan, sekarang waktunya refreshing Said.... “ Abdullah  masih merayu. “ Breck, kau tau aku ini takut ketinggian kan, apalagi terjun dari ketinggian 14.000 kaki,it’s not me at all! kau mau aku mati di tempat?? Anakku masih lama lahir Breck...” tolak Said. “ Baiklah, ga perlu ikut terbang, cukup tunggu saja di bawah, aku dan yang lain yang akan SkyDive.” Ajak Abdullah belum menyerah. “ Yang lain? “ tanya Said. “ Iya, Skydiver yang lain kan juga banyak, bukan Cuma aku saja.” Sahut Abdullah cepat. Kali ini Said tak bisa lagi menolak, lengan nya ditarik begitu saja oleh Abdullah, untung saja tadi ia sudah mandi, setidaknya tubuhnya jauh dari bau tidak enak.             Setelah kurang lebih 15 menit dengan SUV silver nya yang ia beli beberapa hari lalu untuk operasional perusahaan barunya, sekaligus untuk digunakan oleh Said, Abdullah menghentikan laju mobilnya. Menuju tempat ganti dan bersiap para SkyDiver sebelum melanjutkan petualangan lagit mereka. ada beberapa prosedur yang harus di lewati untuk bisa melakukan SkyDiving, trermasuk pemeriksaan Vital Sign. Abdullah tanpa basa-basi menarik lagi lengan Said yang tampak sekali ia enggan ikut ke tempat ini. Setelah di dalam ruangan persiapan....             “ Assalamualaikum.... “ Ucap Abdullah.             “ Hei Bro... waalaikumsalam..... lihat siapa ini yang kau bawa Breck??? Kau ajaib karena bisa mengajak orang ini kemari hahahah” ujar Hossam yang sudah siap dengan perlengkapan SkyDiving di tubuhnya. “ Hai hai hai... Kau tidak lupa dengan ku kan??? “ Kareem yang langsung saja meranngkul hangat bahu Said yang masih terkejut dengan kedatangan sahabat-sahabatnya, tak ketinggalan juga Zayeed. Mereka saling berpelukan melepas rindu. Tiba-tiba... “ Stop!!” teriak Said melepas rangkulan mereka. empat sahabatnya lansung menoleh ke arah Said. “ Kalian ini.... !!! aku kayak orang bodoh aja tau ga? Aku ga dikabari kalo kalian akan datang. “ cerca Said. “ Hei, tenang bro, ini idenya Breck, dia bahkan rela mengeluarkan uang untuk tiket pesawat kami pulang pergi. “ jawab Zayeed. Yang lain mengiyakan. “ Jadi, kamu mau ikut kami atau menunggu di bawah sini??” tanya Hossam. “ Teman-teman, kalian tau dengan laut saja aku bisa mabuk, apalagi ke atas? Setinggi 14.000 kaki, aku menunggu saja. “ jawab Said cepat. Abdullah, Hossam, Kareem, Dan Zayeed hanya tertawa kecil. “ Kau memang paling bungsu di antara kita Said. “ Kata Kareem kemudian, sambil menyeringai bermaksud menggoda Said dengan ketakutannya terhadap ketinggian. Said hanya mengendikkan bahu nya, ia sudah kebal dengan ejekan menggoda para sahabatnya.             “ Tuan-tuan!!” seorang instruktur SkyDiving memanggil. “ Good Morning, Let me introduce myself first. My name is Michael, me and other man will be your Instructures today. This is Mehmet, Bryan, James and Hadi. I hope we can make a good coordination later. Make sure that you all wearing the atribut perpectly. Because after 15 minutes, we will do the great adventure in Dubai Sky. Enjoy your Diving. ” Ucap Michael dengan suara lantang. Ini SkyDiving mereka pertama di Dubai. Sebelum terbang mereka terlebih dahulu diberikan tips dan cara bertahan selama di udara, dengan mendongakkan kepala, punggung melengkung dan membentangkan kedua tangan dengan mata menatap lurus ke depan.dan satu Hal yang paling penting dalam setiap olahraga adalah Pemanasan.             Para Skydiver pun mulai menaiki mini Aircraft yaang khusus digunakan untuk Skydiving. Satu per satu mereka pun menaiki pesawat. Tak lama, pesawat pun mengudara. Ketika pilot sudah memposisikan pesawat di titik yang tepat untuk SkyDiving, sang pilot memberi aba-aba. Abdullah, Hossam, Kareem dan Zayeed dengan tandem instrukturnya masing-masing sudah siap untuk terjun bebas dari ketinggian 14.000 kaki. Kini pesawat sudah menemukan titik terbaiknya. Lalu memberi aba-aba pada mereka. satu per satu dari mereka mulai keluar dari badan pesawat, melayang, menikmati indahnya langit Dubai. Abdullah tak berhenti mengagumi keindahan Dubai dari atas sini. Palm Jumeirah yang terlihat di bawah sana, dengan pulau-pulau kecil yang ditata sedemikian rupa membuktikan bahwa sungguh peradaban manusia sedang mencapai puncaknya. Pulau yang berbentuk pohon palm itulah Palm Jumeirah. Abdullah dan sahabat-sahabatnya membelalakkan mata mereka, mneyuguhkan pemandangan yang menakjubkan bagi mata mereka. Inilah makna nya liburan. Batin Hossam.             Sekitar kurang lebih 20 menit mereka melayang di udara, dan parasut pun sudah dibentangkan, tanda para SkyDiver siap untuk kembali menginjakkan kaki di daratan. Said yang menunggu di bawah dengan sabar, mendongak menatap langit. Ia sebenarnya iri dan ingin sekali mencoba untuk melakukan hal-hal ekstrem seperti sahabat-sahabatnya, tapi phobia nya terhadap ketinggian selalu menghalangi keinginannya. Ia pun teringat ketika teman-temanya mengajak untuk melakukan pendakian, sesampainya di pucak gunung, Said malah pingsan karena memandang ke kaki gunung dari tempat yang tinggi. Sejak saat itu, hal apapun yang berkaitan dengan ketinggian akan Said hindari, walaupun harus rela mendengar ejekan teman-temannya.             Satu persatu skydiver mulai mendarat, Hossam tersenyum dengan puas, disusul Abdullah yang hanya tersenyum dingin, lalu Zayeed, dan terkahir Kareem. Said pun menghampiri mereka dengan berlari kecil. Membantu mereka melepaskan perlengkaan SkyDiving nya. “ Kamu menyesal bro!” Ujar Hossam tiba-tiba sambil menepuk pundaknya. “ Terserah apa katamu Hossam. Aku belum bisa.” Jawab Said tersenyum. Yang lain hanya menepuk kecil pundak Said, Abdullah menepuk, lalu merangkul bahu menyeret langkah Said mengikuti mereka ke ruang ganti. Ba’da Isya, Abdullah and the genks sudah siap untuk makan malam mewah mereka. Kali ini Kareem yang akan mentraktir mereka makan. Tempatnya, Said lah yang memberi rekomendasi. “Aku sudah reservasi di Arphani Restaurant. Tidak perlu keluar dari Burj Khalifa. “ kata Said. Yang lain hanya mengiyakan. Mereka pun beranjak dari apartemen Abdullah, sembari berjalan, dari arah belakang, Abdullah membisikkan sesuatu pada Kareem. “ Hei, apa sudah kau bereskan masalah Laptop itu??” Tanya Abdullah pelan. Kareem tidak menjawab, ia hanya menggunakan jempolnya sebagai isyarat bahwa bantuan yang dibutuhkan Abdullah sudah ia selesaikan dengan Baik. “ Tessekur ederim bro. “ ucap Abdullah tersenyum. Kareem hanya menganggukkan kepala.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN