Oktober 2015, Dubai, Emirat Arab
Burj Khalifa, Lantai 124.
Penandatanganan kontrak akuisisi atas Perusahaan IT yang baru saja dirintis satu tahun belakangan ini akhirnya selesai. Sejak berdirinya Khalif Tech oleh 5 orang anak muda satu tahun lalu, di mana Perusahaan Abdullah yang menjadi mentornya, kini terpaksa ia akuisisi demi menyelamatkan kondisi perusahaan. Tidak mudah bagi Abdullah mengambil keputusan ini, karena Khalif tech merupakan perusahaan yang masih sangat baru dan belum banyak pengalaman, sehingga banyak kebocoran di sana-sini, menyebabkan beberapa investor lokal dan 2 investor asing lainnya memilih untuk angkat kaki, dan menarik investasi mereka. Abdullah tentu saja tidak bisa tinggal diam. Ia sudah meminta Bram untuk membuat draft kontrak akuisisi untuk Khalif Tech.
“ Ok. Kontrak Akuisisi sudah kita sepakati, setelah ini aku harap kalian bisa menjalankan Perusahaan ini dengan baik. Kita berjalan sesuai dengan isi kontrak saja. Dan tentu saja, CEO nya saya yang akan memilih. Dia orang yang kompeten di bidangnya, pandai membaca peluang, dan saya harap saya tidak menyia-nyiakan 40 persen saham saya di sini. Ah, pasti sudah sampai. “ Ujar Abdullah, sembari melihat ke arloji nya.
Krrrt.... pintu kaca itu terbuka. “ Assalamualaikum... “ Ucap pria yang baru saja masuk ke ruangan rapat itu. “ Waalaikumsalam, Brother. Khaif al Halq?? “ Balas Abdullah memeluk erat sahabatnya itu. “ Alhamdulillah, tamam brother. Kau tampak lebih kurus dari terakhir kita bertemu?? “ balas Said Ibrahim. Yah, Abdullah baru saja menyerahkan tanggung jawab kepada sahabatnya untuk mengurus perusahaan baru nya itu.
Rapat kemudian berlanjut hingga menjelang Zuhur. Saat adzan berkumandang mereka pun menyudahi rapat dan menunaikan sholat kemudian makan siang di lantai dasar. Ada sebuah kafe dan kedai yang mnyediakan makanan cukup enak di sana. Selepas sholat Zuhur, Said dan Abdullah berbincang mengenai kehidupan mereka setelah keluar dari kampus Istanbul University. “ Seleramu masih sama bro. “ Ujar Abdullah.
“ Hahaha, aku ini berdarah Arab kental, jadi ga bisa lah menanggalkan atribut kearaban ku. Hehehe ...” balas Said dengan cengirannya. “ Eh, gimana perjodohanmu dengan siapa namanya, mmm Ibtisam??? Dia jelek seperti perkiraanmu kah?” tanya Abdullah menggoda Said.
“ Hmmmm, awalnya aku emang ga respek sama dia. Kau tau kan, adat orang Arab itu, menikah harus dengan orang Arab juga. Yang aku tidak suka, budaya arab masih saja membatasi kaum perempuan untuk jadi lebih maju. Setidaknya mereka kuliah, cerdas. Apalagi mengingat keluargaku tinggal di daerah yang masih memegang erat budaya kolot seperti itu. Aku menolaknya mentah-mentah, sebelum dia diperkenalkan ke aku. “ cerita Said. “ Lalu? Apakah pernikahanmu batal?” tanya Abdullah lagi. “ Hmmm, pernikahan tetap berlanjut. Aku bahkan tidak ingin tahu latar belakang keluarga nya, yang kudengar dia masih keluarga ibu ku. Jadi aku langsung menebak saja, dia tak akan jauh berbeda dengan keluarga ibu ku yang lain, yang anak gadisnya hanya melakukan pekerjaan rumah, lalu berkumpul untuk bergosip.” Lanjut Said.
“ Ceritamu makin menarik. Hahaha... lalu? Malam pertama? “ Abdullah masih mencerca nya. “ Breck.... kau mau mengejek ku?? “ Hardik Said. “ Hei, Slow bro... bukan itu.. aku hanya penasaran dengan pernikahanmu yang jadi bahan gunjingan Hossam di emailku, bahkan dia bilang dia hampir pingsan setelah bertemu dengan adik sepupu mu waktu pesta pernikahanmu. Hahaha “ ujar Abdullah.
“ Kau ini.... eh, Hossam bertemu dengan sepupuku? Siapa? Gimana cara nya mereka ketemu? Bahkan ruang pesta kami berbeda?? “ gumam Said. “ Hossam tak sengaja melihatnya waktu mau ke toilet, dan kebetulan adik sepupu mu sedang ada di dapur tanpa Niqab nya, dan.... mmm” Abdullah ragu untuk melanjutkan.
“ Dan apa?? Apa? “ cecar Said. “ Wanita arab itu memang seperti itu ya? Menggunakan abaya saat keluar rumah, tapi memakai gaun saat berada di rumah? “ tanya Abdullah. “ Hei. Otakmu ini, tentu saja mereka memakai gaun di rumah, saat tidak ada non muhrim di sekitar mereka. Mereka hanya membuka aurat di hadapan muhrim saja. Mungkin saat itu karena sedang ada pesta, jadi mereka sedikit berdandan?? “ ujar Said.
“ Dan Hossam kepincut. Wait, tadi kita sedang membicarakan Pernikahanmu, kenapa jadi Hossaam? Lanjutkan ceritamu. Jadi, apa kau suka Ibtisam akhirnya?” tanya Abdullah. “ Awalnya aku benar-benar mengacuhkannya. Sampai akhirnya, setelah 2 bulan dia menghardikku.” Jawab Said. “ Apa??? 2 bulan? Kau bisa tahan selama itu ga ngapa-ngapain dengan istrimu? “ tanya Abdullah terheran. “ Iya. He... Aku bener-bener ga ada perasaan apa-apa waktu itu. Akhirnya dia bilang, dia ikhlas kalo aku memberi talaq pada nya. Dia memberiku waktu satu bulan untuk berfikir. Kata-kata yang dia ucapin waktu itu, perlahan buka hati aku, pikiran aku. Dan dari situ juga aku tahu ternyata dia adalah wanita yang cerdas, cakap dalam segala hal, dia juga kuliah ternyata, selama kuliah dia tinggal di Riyadh. Penduduk di sana lebih modern dari penduduk di tempat ku tinggal. Aku juga jadi mulai memperhatikannya, dan mulai menyukainya. Bukan, tapi mulai jatuh ke hatinya hahaha... Aku bersyukur dijodohkan dengannya. Dan, dia saat ini sedang mengandung bayi kami....” ucap Said lagi.
“ Hei.... selamat bro... kok kamu ga bilang sih? Kalo aku tau, aku ga bakal minta kamu jauh-jauh ke Dubai... “ seru Abdullah. “ Aku juga baru tau pagi ini Breck.” Jawab Said. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponselnya. Dan menunjukkan pesan line dari istrinya. Foto Test pack dengan dua garis merah di sana. “ Waaahhh, mabroook Bro... “ ucap Abdullah.
“ Sekarang pun kamu masih betah aja nge jomblo. Ga ada niatan nyari istri apa?” tanya Said tiba-tiba. Yang ditanya Cuma cengar cengir. “ Belum bisa. Tapi Kareem juga lagi jomblo, aku ga sendirian loooh... “ balas Abdullah cepat.
“ Lah?? Dia ga jadi dengan Tania cewek model itu? “ tanya Said. “ Keluarga nya menolak Tania, dengan alasan pernah punya banyak skandal dengan beberapa pria, ada yang sesama model, artis juga pengusaha. Kareem juga pernah memergokinya sedang jalan-jalan mesra dengan cowok, model juga.” Jawab Abdullah.
“ Pasti dia patah hati banget, secara Kareem orang nya loyal gitu dan gak gampang suka sama orang. “ lanjut Said. Obrolan pun berlanjut sampai waktu tidak terasa berlalu hingga adzan ashar. Mereka berdua pun beranjak untuk memenuhi panggilan adzan, lalu melanjutkan rapat perencanaan bisnis Khalif Tech. Masih banyak yang harus dibenahi, mulai dari strukturisasi manajemen, sampai staf yang akan direkrut atau pun harus keluar dari perusahaan. Abdullah sendiri sudah memegang data keuangan dengan beberpa titik kebocoran yang tidak wajar menurutnya. Data itu pun sudah dianalisis langsung oleh Bramastya sang asisten. Dan catatan beberapa rekomendasi serta saran untuknya.
Rapat berlangsung alot dalam 2 jam. Abdullah dan Said sudah mendiskusikan kemungkinan terburuk, yaitu pertama, penggantian nama perusahaan dengan nama yang baru, Khalif Breck Tech & Corp, pemecatan beberapa karyawan lama, dan perekrutan karyawan baru. Dokumen-dokumen penting kini sudah ditandatangani oleh Said. Abdullah hanya mengawasi. dan akhirnya rapat selesai pas saat adzan maghrib berkumandang.