Abdullah Breck
Abdullah terbaring di sofa ruang rawat VIP mama nya. Ia sudah lega, karena kondisi kesehatan mamanya sudah mulai membaik. Kesadaran mama Yun pun sudah kembali, dan siang ini mama Yun sudah bisa makan dari suapannya. Ia sangat lega. Walaupun begitu, banyak hal yang sedang mengisi otaknya saat ini. Kabar terakhir yang ia terima dari Bramastya membuatnya frustasi. Sudah hampir 4 tahun ini ia dan Bram berusaha mencari keluarga Ihsan Anggoro. Yang Bram temukan hanyalah nisan nya. Hanya nisan almarhum ayahnya , tanpa tahu keberadaan adik angkatnya Tia.
Bukan apa-apa, sejak ia berpisah dengan keluarga itu, ayah Ihsan seperti menutup akses dirinya untuk bertemu mereka. Entah apa alasan yang menjadi penyebab kondisi keluarga mereka menjadi seperti itu. Abdullah tidak habis pikir. Ia tahu, dia bukannlah putra kandung ayah Ihsan Anggoro, tapi Abdullah ingat betul, ayah Ihsan berjanji untuk menjaga, merawat nya sampai ia dewasa. Akan menganggapnya seperti anak kandung nya sendiri. Tapi, perpisahan 12 tahun lalu, membuat nya hampir putus asa.
Abdullah tau, mama Yun dan Papa Danu yang merupakan kerabat paling dekat nya memang lebih ber hak untuk menjaganya. Tapi tetap saja, Abdullah merasa dibuang. Terlalu banyak pertanyaan yang ada dibenaknya untuk ayah Ihsan. Tapi semua harapan pertemuan itu pupus sudah, Abdullah harus menyimpan semua rasa penasarannya. Yang kini menjadi kegelisahannya adalah keberadaan Tia. Adik angkatnya. Tiba-tiba dadanya kembali berdegup kencang saat memikirkan Tia. Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia sudah mencapai cita-citanya? Apakah dia hidup dengan baik? Di mana dia tinggal? Apakah dia tumbuh menjadi perempuan yang cantik? Apakah dia sudah menikah?
“ Ah, apa yang aku pikirkan???” Gumam Abdullah.
Ting! Sebuah pesan masuk di akun line nya. Dilihatnya Arloji yang melingkar di lengannya. “ Hmmm, sudah waktunya ya... Abang kemana ya? Kenapa belum nyampe sih? Huft” Abdullah gusar.
Draaak! Pintu ruangan terbuka. “ Assalamualaikum. Maaf ya, meeting nya makan waktu lebih lama dari perkiraan...” jelas Yusuf singkat. “ Waalaikumsalam. Ih abang tuh emang gitu deh, kebiasaan. “ balas Abdullah pura-pura marah. “ Ma, Abdullah mau ketemu temen sebentar ya...” diliriknya mama yun yang sudah membuka mata nya saat mendengar pintu terbuka tadi. “ Loh, mama sudah bangun? Maaf ya ma, kami berisik ya? Padahal mama butuh istirahat yang cukup.” Ucap Yusuf minta maaf. Sang Mama hanya tersenyum. Ia hanya menganggukkan kepala, belum punya cukup tenapa untuk banyak bicara, kedua putra nya itu memaklumi keadaan sang ibu. Abdullah kemudian mengecup pipi kanan sang mama, saat Yusuf juga memberikan kecupan sayang nya di sisi pipi lainnya. Mereka tertawa ringan. Abdullah pun pamit dan menyeret langkahnya keluar ruangan. Menuju cafe hisar di lantai dasar rumah sakit itu.
Setelah sampai di pintu masuk Cafe, Abdullah celingak celinguk mencari seseorang. Di sudut ruangan, ia melihat seseorang duduk dengan menyilangkan kakinya, menghadap keluar, ke arah kepadatan jalan Sarah Mah yang padat. Kondisi umum yang terjadi di Istanbul setiap hari, apalagi di saat jam-jam seperti, di saat jam kantor sudah mulai selesai, dan staf-staf nya sudah mulai beranjak pulang. Rush Hour.
Style yang masih sama, selera yang sama, cara duduk yang belum berubah. “ Iyi gunler brother!!” Seru Abdullah setelah tiba di hadapan sosok itu!!! “ Hi Bro! Nasilsiniz???” balas pria itu, ia berdiri dan menyambut Abdullah, mereka berpelukan, saling berjabat tangan. “ Iyiyim, bro. Bagaimana kabar mu sendiri, Kareem? “ tanya Abdullah.
“ Alhamdulillah aku baik kawan. Tadi nya aku ingin ke atas sekalian menyapa ibumu, bagaimana kondisi ibu mu? “ tanya Kareem. “ Kondisinya sudah jauh membaik. Alhamdulillah.” Jawab Abdullah. “ Eh, ayo duduk, aku sudah pesankan kopi kesukaan mu, sebentar lagi pasti datang. Aku masih belum lupa kopi favoritmu Breck. “ seru Kareem. Mereka pun berbincang seru, setelah sekian tahun mereka tidak bersua. Pembahasan dimulai tentang kabar masing-masing teman satu genk mereka, Zayeed, Hossam, Said. “ Iya ya, mereka sekarang semua sudah sukses. Untunglah, kita masih selalu berkomunikasi, walaupun hanya lewat email. Kiriman foto dari Zayeed terakhir kali bulan lalu, anak gadis nya menggemaskan. By the way, kamu sudah menemukan gadis itu Breck?” tanya Kareem tiba-tiba. Abdullah hanya menggeleng kepala ringan. “ Entahlah, Allah belum memberikan takdirnya untuk aku bertemu dengan dia. Tapi, kau tahu? Jantungku msih selalu berdegup kencang saat aku memikirkan dia. Aku ga tau dia seperti apa saat ini. Mungkin wajahnya sudah banyak berubah. Dia pasti tumbuh jadi gadis yang cantik bukan??” gumam Abdullah pelan. Kareem menepuk pundaknya perlahan. “ Breck, mungkin kau harus meningkatkan frekuensi berdoamu. Aku yakin , Tuhan tahu keinginanmu, Tuhan mungkin saja sedang menyiapkan skenario terbaik untukmu dan gadis itu. Ya kan?!” hibur Kareem. Abdullah mengangguk. Sekilas diliriknya arloji ditangannya. Waktu sudah masuk ashar. “ Ayo kita sholat dulu.” Ajak Abdullah pada Kareem. “ Ayo!”. Mereka pun beranjak menuju mushola yang terletak dibagian belakang Rumah Sakit. Menunaikan kewajiban.
Aida Attiya
Hari ini, hari yang cukup melelahkan bagi Aida dan juga Zaineb. Banyak hal yang harus diurus terkait dengan kelangsungan studi mereka. dan rasanya baru beberapa hari yang lalu Aida merapikan barang-barang pribadinya di apartemen nya yang sekarang dekat denan kampusnya, tapi kini ia harus mengemasi kembali barang-barangya, untuk tinggal dan menetap di Umraniye, dekat dengan rumah sakit dimana ia dan Zaineb akan menghabiskan sebagian besar waktu tugas nya. Aida sangat beruntung bertemu dan bisa berteman dekat dengan Zaineb, gadis yang ia ketahui selain ramah dan baik itu, tapi ternyata memiliki latar belakang kehidupanyang tidak pernah ia duga sebelumnya. Aida sebenarnya tak enak hati terus menempel pada Zaineb, ia takut akan dicap hanya memanfaatkan teman kaya saja. Karena, begitulah kehidupan Zaineb, yang belakangan baru Aida ketahui bahwa ia adalah putri dari konglomerat terkenal di Istanbul, Farhen Mehmet. Bertolak dengan kehidupan pribadinya, Zaineb yang Aida kenal sangat lah rendah hati, berpenampilan pun tidak seperti orang kaya pada umumnya. Bahkan, studinya saat ini pun ia tempuh dengan beasiswa. Hanya terkadang Aida heran dengan sikap Zaineb yang selalu mengeluhkan Abi nya, yang menurut Zaineb Overprotektif terhadap dirimya.
“ Bahkan, rasanya untuk bernafas saja aku perlu izin dari nya Aida. Dia sangat menyebalkan. “ itu salah satu curhatan Zaineb kepadanya saat mereka hendak pindah ke Umraniye. Bukan apa-apa, kakak laki-lakinya yang tak pernah Zaineb sebutkan namanya itu sudah menyiapkan apartemen untuk kami tinggali berdua, dan apartemen nya tepat berada di sebelah apartemen kakaknya. “ Aku merasa akan mati kalau aku menyebut nama nya. Sangat keramat, bisa-bisa dia akan langsung muncul dihadapanku dalam hitungan detik.” Keluhan Zaineb yang lain. Aida hanya tersenyum menanggapi semua uneg-uneg Zaineb tentang kakaknya. “ Aku rasa, semua kakak laki-laki memang begitu Zaineb. Mereka kan seperti kepala keluarga. Apalagi kakak laki-laki sulung. Kau beruntung, karena memiliki kakak yang sangat perhatian dan sayang pada mu. “ balas Aida suatu ketika. “ Tapi, kakak mu tidak seperti itu Aida, ia melepasmu begitu saja bukan??” tanya Zaineb lagi. “ Kondisinya berbeda sister, kakak ku memiliki tanggung jawab yang lebih besar, apalagi sejak kecelakaan yang merenggut orang tua kami. Kau tahu, ada anak-anak panti yang harus dijaga, jumlahnya puluhan. Dan kakakku, harus memikul tanggung jawab untuk membesarkan mereka, bukan Cuma aku.” Ujar Aida lagi. Zaineb tertunduk, yaah, aku memang tetap harus mensyukuri apa yang sudah Allah berikan padaku.
“ Baiklah, berhenti membahas ini, ayo kita bergegas, mobilku sudah siap di depan. Waktu sudah sore, bisa-bisa kita akan sampai setelah maghrib. Sekalian akan kutunjukkan betapa indahnya Turki, dan betapa kau tidak akan menyesal memilih belajar di sini Aida. “ ujar Zaineb antusias. Aida tersenyum, ia beranjka dari ranjangnya, lalu memikul ranselnya dai bahu kirinya. “ Kalo begitu, ayo kita berangkat. “ ajak Aida. “ Pastikan tidak ada barang yang tertinggal ya!” Zaineb berseru. “ sudah kupastikan Insyaallah. “ sahut Aida. Mereke melenggang keluar dari apartemen, menuju tempat tinggal barunya.
Zaineb sudah siap di belakang kemudi, Land Cruiser putih ini, sangat cocok dengan nya. Mewakili sifatnya yang suka ceplas ceplos, dan juga tegas, menggambarkan kepribadian yang kuat untuk seorang wanita. Apalagi dia adalah seorang putri konglomerat. Aida menempati kursi penumpang di zamping Zaineb, lalu memasang sabuk pengamannya. “ Ini adalah kendaraan kesayanganku. Mobil ini aku beli dengan uang kuliah yang diberikan Baba. Karena aku kuliah dengan dengan beasiswa sejak SMA. Hehehe. “ cerita Zaineb setelah LC nya sudah mulai berjalan. “ Cukup memakan waktu untuk membeli mobil ini. Tapi aku senang , mobil ini hasil jerih payahku menabung, bukan langsung meminta. Kau tahu, menahan nafsu unutk membeli barang Branded bagi kaum wanita seperti kita bukan hal yang mudah hahaha... “ lanjutnya nya lagi. “ Jadi kau juga termasuk kaum Shoppaholic begitu??” tanya Aida agak terkejut. “ Hahahaha...” Zaineb hanya tertawa. “ No, no no... aku hanya bercanda. Aku memang tidak suka menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal seperti itu, tapi memang, terkadang kita membutuhkan barang yang tidak hanya nyaman saat digunakan, tapi awetnya, kualitasnya, dan seperti yang kita tahu, barang-barang seperti itu memang harganya sedikit lebih mahal iya kan, tapi aku juga tidak mengagungkan barang-barang Branded, baju harus produk Saint Laurent, tas harus Channel, Gucci dan lain-lain. Terkadang aku juga membantu temanku yang membuat produk sendiri. Tidak bermerk, tapi cukup berkualitas. “ Begitulah Zaineb menjelaskan kehidupannya kepada Aida. Sepanjang perjalanan banyak hal yang mereka bahas, mulai dari hal-hal kecil, lalu membahas istimewanya Turki, sebuah negara yang separuhnya berada di Eropa, separuhnya lagi berada di Asia, dipisahkan oleh selat Bosphorus zaineb pun menceritakan beberapa penggalan sejaarah Turki. Bagaimana dulu ada seorang pemimpin muslim pertama yang manjalankan sistim pemerintahan secara diktator. Mengubah banyak aspek kehidupan yang sampai saat ini mempengaruhi peradaban budaya Turki. Saat mereka mulai memasuki jembatan Galata, Zainab pun dengan antusias menunjukkan pemandangan indah dari atas selat Bosphorus. Dari Jembatan sepanjang 1.090 m ini, di belakang mereka jelas dapat terlihat tiga bangunan iconic di Istanbul, Masjid Sultan Ahmet yang lebih dikenal dengan nama Blue Mosque atau Masjid biru, Hagia Sophia yang dulunya adalah gereja dan sempat beralih fungsi menjadi tempat ibadah umat muslim kemudian akhirnya diubah menjadi museum, lalu tak jauh dari sana ada Basilica Cistern, tempat penampungan air di Istanbul. “ Di area ini juga ada tempat di mana kau bisa berbelanja sepuas hati Aida, Gran Bazaar Istanbul tak jauh dari Hagia Sophia. Di sana ada banyak turis dan wisatawan asing yeng berbelanja oleh-oleh khas Turki. Tapi, apapun bisa kau dapat di sana. Ah, satu lagi, jika ada kesempatan kau harus mengunjungi Ankara sister, kota yang indah, dan juga banyak tempat-tempat bersejarah, salah satunya makam Sultan Diktator yang aku ceritakan tadi.” Lanjut Zaineb lagi sembari menebar senyum. Matahari sore yang menerobos dari jendela kaca mobil yang bening itu oun menerpa sebagian sisi wajah Zaineb yang berbinar-binar, menciptakan siluet yang menurut Aida cukup indah. Diam-diam Aida mengeluarkan ponselnya, membidik pemandangan unik yang ada di depannya. Cekrek!
Zainab terkejut, “ Hei... kau memotretku?? Awas saja kalo hasil potretanmu itu bisa mempermalukan aku. Kau akan kujodohkan dengan kakakku.” Teriak Zaineb. “ Tenang saja, aku shoot gambar yang unik, kau lihat saja nanti. Sekarang fokuslah dengan setirmu sister. “ ujar Aida mengerling ke arah Zaineb. Sore yang menyenangkan, sebelum besok hari- hari mereka mungkin saja tidak bisa sesantai saat ini lagi.
Aida melirik sekilas layar ponselnya. “ Assalamualaikum. Mas Abdullah, sebelumnya saya minta maaf membatalkan janji sore ini. Karena saya dan teman saya sedang berkemas untuk pindah ke tempat tinggal baru. Dan urusan di kampus juga baru selesai setelah ashar. Jadi, waktu nya tidak cukup. Sekali maaf. Wassamualaikum.”
Ting! Pesan baru. “ waalaikumsalam. Kirimkan saja nomor rekeningmu, karena besok aku akan kembali ke Indonesia. “
Tap tap tap tap tap. “ Hmmm, ga perlu repot mas, ga apa-apa, saya bisa perbaiki nanti. Terima kasih. “ Sent.
Ting! Pesan baru. “ Kalo gitu, kamu kirimkan laptop mu ke alamat ini. Dia temanku. Dan bisa menyelamatkan> 002. Uskudar, Istanbul. Aku yang akan menghubunginya, kamu kirim aja laptopmu. “
Tap tap tap tap. “ Ok. Makasih sebelumnya, maaf merepotkan Mas Abdullah.” Sent.
5 menit, 10 menit. Aida menghela nafas. “ Kenapa? “ tanya Zaineb. “ Laptop. Aku sudah berencana buat beli yang baru. Tapi aku butuh data-data yang ada di laptop ini. Dan orang itu menyuruhku mengirimkan laptop ini ke temannya. Dia akan kembali ke Indonesia besok. Lalu pesannya Cuma begitu saja. “ ucap Aida dengan nada kesal. “ Kenapa kau kesal begitu??? Reaksimu aneh. “ tanya Zaineb lagi. Aida tiba-tiba terkejut dengan ucapan Zaineb. “ Iya ya? Kok Aku jadi kesel sendiri? Huft...” batin Aida. “ Ya udahlah, besok aku kirim aja. Toh dia kan ga lari dari tanggung jawabnya. Secara dia CEO, jadi pasti sibuk” Ujar Aida. Ia merutuki dirinya yang kesal tanpa alasan terlebih pada orang yang sudah mau bertanggung jawab untuk memperbaiki laptopnya. Harusnya ia bersyukur dan berterima kasih pada Abdullah yang sangat sibuk tapi tetap berusaha untuk memenuhi janji nya. Aida menghela nafas.