Aida Attiya
Aida baru saja selesai membereskan barang-barangnya. Tak terlalu banyak pakaian yang ia bawa, sebagian besar barang-barang nya adalah buku-buku Medikal Bedah. Karena bagaimanapun terjun di bidang kedokteran tidak bisa lepas dari buku dan jurnal. Flat yang ia tempati bersama Zaineb saat ini tak jauh dari Istanbul University, memudahkan mereka untuk mondar mandir kampus dan rumah. Tapi mungkin ini sementara, karena beberapa hari lagi mereka sudah akan bekerja sekaligus menjadi dokter residen di sebuah Rumah Sakit di Istanbul. Aida melirik laptopnya.
Aida kemudian memandangi ponsel nya dan kartu nama yang digenggamnya bergantian. Ia ragu. Haruskah ia menelpon si pemilik kartu nama itu atau hanya mengirimi nya pesan. Layar laptop nya retak. Ia belum punya cukup uang untuk memperbaiki brang penting itu. Dan besok ia harus menemui dekan Fakultas Kedokteran Istanbul University.
“Hmmmm, dia bilang, ibu nya sedang sakit. Mungkin aku akan mengganggu waktunya.” Aida membatin. “ Ok, aku kirim pesan via Line aja deh...” gumamnya lagi.
Aida mulai mengetik di ponselnya.
“ Assalamualaikum. Maaf, mengganggu waktu anda. Saya Aida, orang yang anda tabrak di Airport tempo hari. Mengenai laptop saya, apakah kita bisa bertemu?? Laptop saya rusak, dan ada beberapa data penting yang tersimpan. Maaf kalo saya lancang. Terima kasih sebelumnya. Wassalamualaikum.” Ting! Aida menyertakan foto laptopnya. Ting!
Pesan terkirim. Aida menarik nafas panjang. Sebenarnya, ia bisa saja memperbaiki sendiri laptopnya ke tempat sevice, tapi mengingat tabungannya yang hanya cukup untuk nya studi, ia memutuskan untuk menuntut tanggung jawab orang itu. 5 menit, 10 menit, 15 menit. Bahkan pesannya belum di baca oleh si penerima pesan. Aida pasrah. Mungkin saai ini pria itu sedang fokus mengurus ibunya. Saat ini ia lelah sekali, setelah masak mie instan untuk sekadar mengganjal perutnya, ia pun berbaring. Sholat isya sudah ia tunaikan sedari tadi. Dan sekarang Aida pun merebahkan tubuhnya di atas kasur , memeluk guling, tak lupa mengucapkan doa di dalam hatinya, dan perlahan ia pun terlelap.
“ Allahuakbar allahuakbar.....” adzan subuh membangunkan Aida. Ia pun bergegas menuju kamar mandi, mengguyurkan air dari kran langsung ke bagian-bagian tubuhnya sesuai rukun wudhu. Setelah selesai wudhu, Aida membentangkan sajadahnya, mengenakan mukena nya lalu larut dalam khusyuk ibadah menghadap Nya. Aida keluar kamar saat mendengar suara berisik yang berasal dari arah dapur, dilihatnya Zaineb sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
“ Gunaydin. Kita akan sangat sibuk mulai hari ini Aida. Aku sedang menyiapkan makanan yang bisa menjaga stamina kita seharian ini. Get ready for today!!” Ujar Zaineb penuh semangat. Aida sangat bersyukur mendapatkan teman satu rumah seperti Zaineb, perempuan yang mandiri, cerdas, dan pandai bergaul juga selalu ceria. Mereka memang belum saling mengenal jauh, tapi keduanya sudah sangat akrab dan tampaknya mereka bisa mudah saling memahami. “ Tamam. Apa ada yang bisa aku bantu pagi ini Zaineb? Apa yang akan kita masak?” tanya Aida tak kalah semangat. “ Hahaha, tampaknya, kau sudah mulai belajar bahasa Turki. Ok. Kita membuat pasta saja, dan Rollade sayur, kita juga akan membawa nya untuk bekal makan siang, dan pagi ini, ada kebab sandwich isi daging kambing. Ini kesukaanku, selain praktis, kebab sangat mengenyangkan buat perutku, cukup untuk mengisi energi untuk memulai hari.
“ Tamam. Kebab sandwich juga favoritku. “ Balas Aida. “ Oh ya, apakah, Ihsar Hasnetesi jauh dari sini? “ Tanya Aida kemudian. “ Hmmm, lumayan memakan waktu untuk kesana, sekitar 1 jam setengah. Kenapa? Apa kau ada urusan di sana? Rumah Sakit itu juga salah satu kandidat Rumah Sakit tempat kita akan menjadi residen. “ jawab Zaineb sembari tetap melanjutkan kesibukannya. “ Aku ada janji dengan seseorang.” Jawab Aida pula. “ Janji?? Kau punya kenalan di Istanbul? Aku pikir kau baru pertama kali ke Turki.” Balas zaineb. “ Kau ingat, laptopku. Orang yang menabrakku dan yang menyebabkan layarnya retak, mengajak ku bertemu di daerah sekitar Rumah Sakit itu. Ibunya sedang dirawat di sana, jadi dia ga bisa pergi jauh-jauh dari ibunya. kebetulan juga, sepertinya dia orang Indonesia. Aku sudah menerima pesan nya pagi ini. Mudah-mudahan akan ada jadwal kosong setelah kegiatan kampus kita. “ jelas Aida. “ Oke. Baiklah. Kita lihat saja nanti. Aku akan menemanimu ke sana. “ sambung Zaineb. “ Tesekkurler.” Sahut Aida tersenyum.
Abdullah Breck.
“Assalamualaikum warahmatullah.... assalamualaikum warahmatullah.... “ Abdullah menutup sholatnya dengan salam, lalu menengadahkan tangannya, memanjatkan doa panjangnya. Airmata perlahan membasahi kedua sisi pipinya yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus, akhir-akhir ini dia hampir melupakan rutinitas nya membersihkan wajahnya dari bulu-bulu jambang yang memenuhi sisi-sisi wajahnya. Bram lah yang sering mengingatkan nya untuk menjaga penampilan. “ Jangan berpenampilan terlalu garang di kantor Breck, karyawan banyak yang takut loh dengan tampang mu yang penuh brewok itu.” Ujar Bram setiap kali jambangnya mulai melebat di wajahnya.
Abdullah menghela nafas setelah menutup doa nya yang panjang itu. Ia beranjak meninggalkan mushola pribadi rumah keluarganya. Semalam tadi ia tidur sendirian di rumahnya. Yusuf, abangnya langsung kembali ke rumah sakit setelah menemaninya makan malam. Abangnya juga mengkhawatirkan keadaan sang papa yang juga sudah mulai renta, terlalu lelah tak baik juga untuk kesehatan nya.
Abdullah melirik sekilas nakas di samping tempat tidurnya, seharusnya baterai ponselnya sudah terisi penuh karena semalam ia sudah memasangkan chargernya. Ia pun menyalakan ponselnya. Samsung A7 nya menyala. Ting! Pesan line masuk. Abdullah mulai membaca pesan yang masuk di akun Line nya. Aida. “ Wanita yang aku tabrak kemarin rupanya. “ ucap Abdullah dalam hati. Ia mencoba mengingat kejadian di bandara saat ia baru tiba 2 hari lalu. Dan foto laptop itu... “ Ya Allah.... laptopnya parah ternyata... Hmmm... Aku telpon aja deh kayaknya...” gumamnya sendiri. Tap tap tap tap tap....
Abdullah memainkan jemarinya di atas layar ponselnya. Degup jantung nya meningkat, sama saat dia tak sengaja menabrak gadis itu di bandara. Saat itu ia tak terlalu peduli, karena pikirannya dipenuhi dengan sang mama yang terbaring sakit.
“ Halo... Assalamualaikum.... “ ucapnya agak bergetar setelah telepon di sana dijawab sang pemilik.
“Waalaikumsalam.... ya hallo, saya Aida... “
“ Iya, saya sudah tahu, mmm mengenai laptop kamu, kalo memang mau digunakan secepatnya, apa mungkin kita bisa ketemu?” tanya Abdullah to the point.
“ Sebenarnya hari ini saya baru memulai studi saya di sini. Saya belum terlalu tahu banyak tentang daerah Istanbul, dan juga saya belum bisa memastikan jadwal saya hari ini.” Jawab Aida.
“ Oh begitu, hmmm, saya Cuma ingin minta tolong, kalo bisa kita ketemu di rumah sakit tempat ibuku di rawat. Saya hanya ga bisa ninggalin beliau terlalu lama. Mungkin, kamu bisa pertimbangkan? Atau kamu bisa memberikan nomor rekeningmu, aku akan ganti kerusakannya, atau kamu perlu beli laptop baru, atau... “
“ Ah nggak nggak, saya perlu data-data yang ada di laptop saya, tapi saya nggak tau di mana tempat yang bagus untuk memperbaiki gadget seperti ini, karena saya baru pertama kali ke Istanbul. “ jelas Aida.
“ baiklah kalo begitu, kita ketemu di cafe Rumah Sakit Ihsar saja, kalo kamu ga keberatan. “ balas Abdullah. “ Baiklah, waktu nya akan saya konfirmasi, karena hari ini saya harus ke kampus terlebih dahulu. “
“ Ok. Deal. Kabari saya se... secepatnya. Ass... Assalamualaikum hh hh” Tiba-tiba Abdullah merasa dadanya seperti terhimpit, keringat dingin mengucur pelan dari balik helai rambutnya. Ia merasa sakit sseperti waktu itu. Jemarinya meremas d**a kirinya. Cepat ditutupnya sambungan telepon itu tanpa menunggu jawaban dari seberang.
Aida melongo, menatap ponselnya. “ Waalaikumsalam. Kok langsung ditutup?? Oh, mungkin ada keadaan mendesak. “ Gumam Aida.