Ataturk International Airport, Istanbul, Turkey
Pesawat Turkish Airlines yang membawa Aida dari Cairo baru saja landing. Semua penumpang mulai turun dari pesawat satu persatu termasuk Aida sendiri. Hanya bermodalkan sebuah peta di handphone nya, dan juga satu nomor seorang kenalan dari pembimbingnya di Kairo. Aida celingak celinguk mencari petunjuk kemana ia harus berjalan, mencari arah pintu keluar bandara. Jalur gate yang ia lewati merupakan bangunan yang dibuat demikian rupa, disisi-sisinya terpasang kaca, sehingga setiap orang yang melewati jalur ini dapat melihat secara langsung pesawat-pesawat yang sedang landing, take off ataupun yang sedang terparkir membongkar dan memuat barang, juga yang sedang menurunkan dan menaikkan penumpang. Pemandangan yang tentu saja jarang dapat dinikmati oleh Aida. Aida sengaja memelankan langkahnya, menikmati setiap jejak pandang yang ia tangkap di depan netranya. Ia tersenyum, beginilah aktivitas bandara, dengan kesibukan yang berbeda dengan yang ia jalani selama ini. Apalagi Ataturk adalah International Airport yang tingkat kesibukannya termasuk ke dalam peringkat 17 bandara tersibuk di dunia, peringkat ke 4 bandara tersibuk di Eropa.
Braaaak....!!!!
“ Ouch! Astaghfirullah.... “
“ Uft! Sorry, i’m really Sorry. I’m in a hurry.” Ujar pria tinggi yang baru saja menbarak setengah badannya dari belakang dan membuat Aida terkejut karena Back Pack yang di bawanya dengan satu bahu terpental. Dan Laptop nya...
“Allah.... Laptopku... “ Aida langsung berjongkok menghampiri pria yang sudah lebih dulu mengambil Backpack nya yang terjatuh. Pria itu menatapnya sekilas. “ Dari Indonesia juga? Apa kita satu pesawat? Maaf, saya sedang buru-buru. Ibu saya sedang sakit, jadi saya... ..” Ia merogoh saku mantelnya. “ Ini kartu nama saya, hubungi saya untuk urusan laptop kamu. Sekali lagi maaf...” lanjut pria itu yang langsung pergi setelah menyerahkan Backpack milik Aida. Aida hanya mengangguk sambil melongo memandangi punggung pria tinggi itu. Rasanya familiar. Sekilas diliriknya kartu nama yang ada di genggamannya. Abdullah. Dia seorang CEO??? Ok. “ Aku urus nanti saja. “ gumam Aida dalam hati. Ia melanjutkan langkahnya menuju gate Arrival bandara. Seseorang sudah menunggunya di sana. Aida langsung dapat mengenalinya. Karena sehari sebelum keberangkatannya, mereka sudah saling berhubungan melalui Skype. Dari ujung sana tampak Zaineb tersenyum sembari melambaikan tangannya ke arah Aida. Aida pun membalas sambil menebar senyumnya. Setelah mengikis jarak, Zaineb tak ragu merengkuh tubuh Aida, memeluknya penuh kehangatan. “ I am so happy that you have arrived safely, sister. How are you?? How was your flight??” serbu Zaineb. “ Assalamualaikum....Which question should i answer first, sister? “ balas Aida semberi tersenyum. Zaineb serta merta terbahak pelan. “ Waalaikumsalam... hahaha, i’m sorry, i forget to say salam... it’s exciting to see you Aida. I will probably meet my best soulmate... hahaha” dan mereka pun langsung akrab, seperti sudah saling mengenal sejak lama.
Ihsar International Hospital, Istanbul
Abdullah Breck.
Dengan langkah tergesa Abdullah memasuki gedung 7 lantai setelah menumpangi taksi dari Esenboga Airport. Kabar bahwa mama nya tengah di rawat di rumah sakit serta merta membuat Abdullah mendadak mengosongkan jadwalnya sampai batas yang tidak ditentukan. Bagaimanapun Mama Yun adalah perempuan yang paling berharga dan berjasa dlam hidupnya saat ini. Sebanyak apapun hal yang ia lakukan tak akan cukup untuk membalas semua yang sudah dilakukan mama untuknya. Dengan gelisah Abdullah memandangi angka yang bergerak naik itu, ia menggerutu dalam hati, “Kenapa lambat banget siiiih...???”
Ding! Pintu lift terbuka, Abdullah berlari menuju kamar VIP yang terletak di sebelah kanan gedung & lantai ini, VIP Room 2. Draaak! Pintu kamar itu terbuka. 2 pasang mata langsung tertuju pada nya. Abdullah langsung merangsek masuk, dan menghampiri Bed yang berada di tengah-tengah ruang perawatan ini. Tetes bening di sudut matanya mengalir saja, dipandanginya sosok ringkih yang terbaring itu. Tak ada yang membuka suara. Masing-masing hanyut dengan pikiran mereka, Yusuf dan papa nya. Abdullah duduk di kursi samping tempat tidur mama nya. Direngkuhnya dalam genggaman tangan halus yang selama ini sudah menjaganya, memberikan kasih sayang yang berlimpah, mendidik, menemani setiap jengkal langkahnya. Restu dari nya dalam setiap jejak hidupnya, doa tulusnya yang selalu terselip nama nya di setiap sepertiga malam nya yang khusyuk. Abdullah selalu mendengar lirih doa yang mama nya panjatkan. Setiap malam ia terjaga untuk sekedar mendengar suara lirih itu, lalu merengkuh peluk sang mama setelahnya.
Dikecupnya tangan mungil itu, khidmat. Ia berdoa dalam hatinya, semoga Allah memberinya kesempatan untuk membahagiakan mama nya, memberikannya kesempatan membalas budi pada keluarganya. Karena merekalah Abdullah tidak pernah merasa sendiri. Mereka yang telah memberikan kehidupan yang lebih dari layak untuknya, menjadikannya sosok tegar seperti saat ini. Pria mandiri, cakap dalam segala hal. Sedang larut dalam doa lirih nya, Abdullah merasakan sentuhan erat di bahu nya. Ia menolehkan kepalanya. Yusuf. “ Sebaiknya kamu pulang dan istirahatlah dulu Bi.” Ucap Yusuf. Abdullah menggeleng. “Aku mau di samping mama bang. “ Balas Abdullah. “ Ada abang di sini yang akan jagain mama. Mama udah ga apa-apa. Cuma butuh istirahat yang banyak sekarang. “ ujar Yusuf lagi. “ Iya Bi, papa juga ada di sini. Kamu kan baru aja nyampe, nanti malah kamu yang sakit. Nanti kalo kamu udah seger kamu bisa jagain mama. Sekarang mendingan kamu pulang dulu gih, Dianterin abangmu ya.” Bujuk Danu. “ Ayo abang antar Bi.” Ajak Yusuf. Abdullah kemudian berdiri, walaupun berat meninggalkan mama nya dalam keadaan seperti ini, tapi apa yang dikatakan papanya ada benarnya. 16 jam perjalanan udara tanpa tidur karena memikirkan kondisi mama nya, membuat Abdullah benar-benar merasa penat. Dirasakannya lengan sang kakak merengkuh bahunya. Menuntunnya untuk keluar dari ruang rawat itu.
Di dalam mobil diperjalanan, Yusuf melirik sekilas ke arah kursi penumpang di sampingnya. Abdullah. Ia tampak lebih tirus dari saat terakhir ia bertemu adiknya itu. Abdullah yang terlelap kelelahan tak sedikitpun terusik. Tampak sekali wajah lelah itu, dia pasti sudah bekerja keras selama di Jakarta apalagi dia belum menemukan apa yang dicarinya. Yusuf melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menuju , tempat tinggal keluarganya di Istanbul. Ya, sejak naik turunnya kondisi kesehatan mama Yun, keluarga itu memutuskan untuk menyewa sebuah rumah hunian di distrik Umraniye, tak jauh dari Rumah Sakit tempat sang ibunda menjalani perawatan.