CHAPTER 15 SUJUD KU

1266 Kata
Cairo, September 2015 Aida Atiyya             Malam ini, entah sudah sujud ke berapa yang Aida hamparkan di hampir setiap sepetiga malamnya, ia isakkan tangisnya, di tengah gemuruh gelisah yang tak bisa ia bendung walau sudah hampir 4 tahun sejak musibah yang dialami keluarga nya. Ia masih terus memanjatkan doanya, memohon petunjuk kepada Rabb yang mengendalikan hidupnya. Namun, kali ini, ia seperti sudah merasa lelah akan semua yang ia jalani. Aida menelungkupkan tubuhnya, seperti memeluk sajadah yang ia hamparkan, ia menangis dengan sedu sedan yang mengiris hatinya. Lama. Hingga tak sadar ia tertidur dengan di hamparan sajadahnya dengan air mata yang mengering di wajahnya. Alarm mengejutkan dan membangunkan Aida dari tidurnya. Ia melirik jam dinding di kamarnya. “ Sudah hampir subuh”. Aida membatin. Tak lama sayup Adzan subuh berkumandang, menyentil nurani Aida untuk bangkit, memenuhi panggilan sang Ilahi untuk menghadapNya. Setelah sholat nya tunai, Aida meraih Al Quran dan mulai melantunkan Surah Ar Rahman, yang belakangan ini sering ia buka dan baca. Entah mengapa ia merasa dengan membaca Surah ini, doa-doanya selama ini akan dikabulkan oleh Sang Maha Pemberi. Selama 30 menit Aida melantunkan Ar Rahman, ia kemudian bersiap untuk segera ke Kampusnya Al Azhar. Ia tak akan melewatkan hari ini begitu saja. Hari yang penting, yang akan menentukan masa depannya.             Aida bersujud khidmat setelah mendengar langsung hasil Pengajuan Beasiswanya dari dekan di Fakultasnya yang juga merupakan Pembimbing Akademiknya. Isaknya tertahan karena rasa bahagia nya, Allah sudah menjawab semua doa-doanya selama ini. Hasil jarih sabar yang ia jalani selama 4 tahun belakangan ini. “ Sungguh aku bangga padamu Aida, selama ini aku begitu khawatir dengan tingkahmu. Kamu bahkan hampir kehilangan nyawamu hanya karena sifat keras kepalamu. Selama ini belum ada yang mampu menyelesaikan Pendidikan Kedokteran hanya dalam waktu 4 tahun sepertimu, dan lagi kamu tidak pernah menceritakan bahwa kamu mengajukan pendaftaran Beasiswa ke Turki.” Ujar pria yang ada di balik meja kayu besar itu. “ Mubarak Hasheem – Dean Of Medical Faculty” tertera di papan nama yang ada di meja itu. Aida kemudian bangkit. “ Saya senang bisa menjadi bagian dari Al Azhar. Saya berterimakasih karena Bapak telah banyak membantu saya selama ini.” Ujar Aida tanpa memandang ke pria yang bernama Mubarak itu. Pria yang berusia 35 tahun itu tersenyum, senyum yang sedikit di paksakan. Selama ini ia menyimpan begitu banyak harapan kepada Mahasiswinya yang satu ini, baik secara akademik yang tak sekalipun ia ragukan kemampuan Aida, dan juga harapan pribadi yang lama ia simpan. Walaupun tak pernah secara langsung ia ungkapkan. Niat nya untuk menjadikan Aida istrinya , itulah rencana nya semula setelah pengumuman kelulusan Aida, namun tiba-tiba harus tertunda atau kandas sama sekali karena wanita yang telah membuat nya tak mampu memandang wanita lain selama 3 tahun terakhir ini, harus berangkat ke  Istanbul, Turki untuk melanjutkan pendidikan General Surgeon nya. Mubarak bukannya tak bahagia melihat Aida senang, ia hanya harus merelakan gadis itu pergi, tanpa pernah tahu niat tulusnya.             “ Ini janji saya pada Kakak dan keluarga saya di Indonesia Pak, mereka lah yang menjadi motivasi saya untuk segera menyelesaikan studi saya. Terutama Kak Yudi, yang telah banyak menghabiskan waktu nya mencemaskan keberadaan saya di sini.” Kata Aida.             “ Ah ya, kakakmu pernah menceritakannya pada ku. Aku sangat mengenal kakakmu Yudi. Aku juga tak menyangka, kalian harus mengalami semua kesulitan ini.” Balas Mubarak lagi.             “ Kalau begitu, saya pamit dulu, saya harus segera bersiap. Sekali lagi terima kasih bapak telah banyak membantu saya selama ini. Assalamualaikum. “ Ucap aida sembari membalikkan badan hendak meninggalkan Mubarak.             “ Tunggu Aida.” Mubarak tiba-tiba memanggil Aida. Langkah Aida pun terhenti.             “ Aida............ menikahlah dengan ku.” Ucap Mubarak tiba-tiba. Dalam hati ia bergumul, setidak nya Aida tahu niatku. “ Aku.... selama ini menyimpan perasaan pada mu Aida. Aku berusaha menahannya. Kamu perempuan yang sangat baik, karena itu aku berusaha keras untuk tidak bermain-main dengan mu. Aku berencana mengatakan ini setelah acara wisuda besok, tapi karena kejadian hari ini, aku... aku... “ tiba-tiba saja lidah Mubarak kelu, ia gugup. Aida tertunduk, wajahnya yang memucat setelah mendengar pengakuan tiba-tiba Dekan Muda yang merupakan teman baik kakaknya. Ia semakin tak berani menatap bahkan hanya menolehkan badannya menghadap ke arah Mubarak. “ Saya... saya... “             “ Aku tahu, aku hanya ingin kamu tahu niat  ku  yang tersimpan selama ini. Kamu tidak perlu menjawabnya. Aku tak ingin menghalangi mu. Jika memang kita berjodoh, dengan cara dan dalam keadaan apapun Allah akan mempertemukan kita.” Sambung Mubarak tulus, suara nya melemah. Bagaimanapun, ia tak bisa menghalangi Aida, ia pun tak mungkin bisa mengikuti Aida ke Tuki, keluarganya lebih memerlukannya di sini sebagai anak sulung sekaligus Kepala Keluarga menggantikan ayahnya untuk menjaga ibu serta 3 adik perempuannya. Tapi dalam hati, Mubarak tetap berdoa, semoga Allah menakdirkan Aida untuknya suatu hari kelak.             “ Maafkan saya Pak, saya tidak bermaksud mengecewakan bapak. Seperti yang bapak katakan , jika memang kita berjodoh, tentu Allah akan mempertemukan kita. Bapak orang yang baik dan soleh di mata saya. Jikapun takdir berkata lain, saya yakin Allah sudah mempersiapkan jodoh yang baik untuk Anda. Assalamualaikum. “ Pungkas Aida sembari melanjutkan langkahnya keluar dari Ruang Kantor Dekannya itu. Airmatanya menetes, setelah beberapa detik tadi berusaha ia tahan. Apapun yang terjadi setelah ini, semoga hanya kebaikan yang akan dialaminya juga pria yang baru saja menyatakan perasaan pada nya, yang sedikit terlambat. Flashback On             “ Dek, kakak harus pulang. “ Yudi membuka suaranya setelah membereskan sisa-sisa makan malam nya dengan Aida. Aida yang baru menyelesaikan cucian piring terakhirnya mengambil posisi di kursi di hadapan Yudi.             “ Kak, apapun keputusan Kakak, Aida pasrah, mbak Syifa dan yang lainnya memerlukan kita.” Balas Aida.             “ Bukan kita, tapi kakak. Cuma kakak yang akan pulang. Kamu harus menyelesaikan Studi mu di sini Aida. Bagaimanapun amanah abah dan ayahmu, sekarang menjadi tanggung jawab kakak. Berjanjilah, untuk menyelesaikan studimu. Kakak akan mengurus keluarga kita, jagalah diri baik-baik disini. Jangan kecewakan abah, ayah, bang Ahmad dan kakak mu ini. Oke....” Aida tertegun mendengar penuturan kakaknya. Dia tahu bahwa dia sanggup hidup sendiri di sini, di Kairo, tapi tetap saja disini bukanlah di tanah tempatnya dilahirkan. Rasa takut itu tetap ada. “ Tapi kak.... Aida harus tinggal sendiri di sini?” tanya Aida lirih. “ Kakak sudah mengurus semuanya, teman Turki mu Fateema akan menemanimu tinggal di sini. Dari sekian banyak teman mu, Fateema lah yang paling kakak percaya. Dan... mengenai pembimbing akademik mu, dia adalah sahabat baik kakak. Dia pria yang baik, kakak mempercayakan kamu sama dia, kakak sudah meminta dia untuk tetap profesional dan menjaga batas, dia juga yang akan mengurus semua keperluan studimu. Jadi semuanya akan baik-baik aja.” Jelas Yudi. Digenggamnya erat tangan Aida yang tampak bergetar. “ Kakak bisa saja menjodohkanmu dengan seseorang supaya ada muhrim yang menjagamu, tapi mencari sosok yang baik untuk menemani seumur hidup itu bukan perkara yang remeh. Kakak ga mau gegabah, terlebih banyak hal lain yang harus dipertimbangkan. Jadi, kamu satu-satunya yang bisa menenangkan hati kakak mu ini. Hm?!!” Yudi mencoba meyakinkan Aida.             “ Baiklah. Aida ga akan ngecewain kakak, abah, ayah dan abang. Jadi, Aida bertekad untuk secepatnya menyelesaikan Studi Aida kak. Aida akan usahakan selesai dalam waktu 4 tahun. “ ucap Aida tegas. “ Ga perlu maksain diri gitu juga dek. Kedokteran bukan lah jurusan yang mudah. Kakak ga mau maksain kamu gitu juga...” balas Yudi lembut. Mereka saling menatap. Itulah Aida, Yudi membatin. Sorot matanya itu sudah menggambarkan tekadnya. “ Baiklah, terserah kamu aja, yang jelas jangan sampe memforsir diri. Sewajarnya saja. Lusa kakak berangkat, sebelum itu, Fateema akan mengantarkan barang-barangnya. Lalu kita akan ke bandara bersama. “ ujar Yudi lagi.             Keputusan sudah ditetapkan. Tekad pun sudah dibulatkan. Flashback Off    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN