Cairo, Mesir -- Perjalanan Bandara – El Nasr

1128 Kata
00.05 AM, Cairo International Airport, Cairo.     Aida menyeret Travel  Bag nya menuju pintu kedatangan. Dari  jauh tampak sosok yang familiar baginya walaupun jarang bertemu. Yah, Yudi Santoro sudah menunggunya di pintu kedatangan bandara Kairo. Lambaian tangan Yudi tertangkap netra Aida. Dilihatnya senyum yang mengembang dari sudut bibir kakaknya itu. Aida pun membalas senyum sembari  melambaikan tanga nnya. Langkah kaki Aida mantap, di sinilah ia sekarang.     “ Assalamualaikum kak. “ Ucap Aida setelah tiba di hadapan Yudi, sembari mencium punggung tangan Yudi. “ Waalaikumsalam, dek. Kirain bakal nyasar loh. Kakak agak khawatir, karena ini penerbangan pertama kamu yang cukup jauh kan...” Yudi mengambil alih koper Aida. “ Ayo kita keluar” Ajak Yudi lagi. Aida hanya tersenyum. Terlihat jelas raut lega di wajah kakaknya itu. Walaupun mereka jauh, namun Yudi selalu menyempatkan untuk menghubungi keluarga nya di Indonesia, tentu saja untuk mengetahui keadaan abah dan saudara-saudari nya. “ Tadinya Aida juga ragu kak, takut nyasar. Tapi Alhamdulillah, ada temen dari jeddah yang punya tujuan sama. Aida jadi punya temen ngobrol.” Kata Aida. “Oh ya? Cewek apa cowok nih???” Goda Yudi. “ Iiih, kakak apaan sih? Ya cewek lah... Aida ga berani lah ngobrol sama cowok yang Aida ga kenal.” Balas Aida. Yudi terkekeh. Sudah lama ia tidak menggoda adik perempuan nya ini. Yudi kemudian mencari taksi bandara. Satu Taksi sedan menghampiri mereka. Yudi menyebutkan tujuan ke sopir taksi. “ El Nasr, ya akhi.” Ucap Yudi. “ Na’am.” Balas Sang sopir. Aida mengikuti kakaknya memasuki taksi setelah mereka dibantu sopir memasukkan barang a ke bagasi belakang mobil. Aida duduk di kursi belakang, dan Yudi duduk di kursi depan. “ Kalo capek, kamu tidur aja Aida. Nanti kalo udah nyampe kakak bangunin.” Kata Yudi , yang sudah menangkap kelelahan di mata Aida. Aida mengangguk. Aida pun tak ragu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, tak perlu memakan waktu lama ia pun terlelap. “ Dari Indonesia?” supir itu bertanya sambil tersenyum, lirikan nya tetap pada jalanan di depan. “ Iya, bagaimana Anda tahu pak?” tanya Yudi. “ Aaah, mudah saja. Di sini banyak mahasiswa dari Indonesia, saya bisa tahu dari bahasa kalian. Saya memang tidak terlalu mengerti Bahasa Indonesia. Tapi saya bisa tahu saat kalian bicara.” Jawab si supir samnil tersenyum ramah. “ Oh , saya  Mikail. “ ucapnya lagi memperkenalkan diri. “ Dia adik anda, tuan?” tanya nya lagi. “ Oh, iya, benar. Dia akan melanjutkan studi nya di Al Azhar, pak.” Jawab Yudi. “ Adikmu cukup cantik. Dan sebaiknya jagalah dia dengan hati-hati. Kita tak pernah tahu niat orang-orang di sekeliling kita. Apalagi El Nasr cukup ramai. Cukup banyak orang orang dari luar Kairo bahkan luar Mesir yang tinggal di sana.” Ucap Pak Mikail. “ Iya, terimakasih sudah mengingatkan kami pak.” Balas Yudi tulus. “ Oh ya, saya Yudi. Saya juga mahasiswa Al Azhar.”  Yudi berbasa-basi . 27 menit perjalanan yang diisi obrolan ringan antara Yudi dan Si supir  Mikail pun tek terasa lama. Mereka sudah tiba di El Sefarat  Area, Nasr City, Cairo, tepat di depan bangunan 7 lantai yang tentu saja tersusun flat-flat warga. Tak hanya warga lokal yang tinggal di gedung ini. Karena EL Nasr adalah salah satu distrik yang merupakan pusat perekonomian yang padat di Cairo, banyak berdiri pusat-pusat perbelanjaan, supermarket, apartemen-apartemen dari yang paling mewah dengan harga sewa 3 jt Pound Mesir per tahun nya sampai dengan yang termurah seharga  450 rb pound mesir/tahun. Dan flat yang  mereka tempati adalah yang kelas terakhir. Walaupun terbilang paling murah, tapi fasilitas yang didapat cukup lengkap dan memadai. “Dek, “ Yudi menggoyangkan ringan lengan Aida. “ Dek, kita sudah sampai...” Kata Yudi berujar pelan. Aida pun mengerjapkan kedua bola matanya. Sekilas ia mengusap wajahnya, kemudian melihat sekeliling. Terpampang jelas di depannya sebuah gedung yang tak terlalu besar, dengan tiga lantai. Ia pun turun dari taksi, kemudian menutup pintunya. Pandangannya berkeliling, tanpa sadar ia memutar seluruh tubuhnya. Pemukiman ini cukup padat, jika diperhatikan mungkin ada sekitar 5-6 blok bangunan yang berdiri di sepanjang gang yang Aida belum tau namanya. “ Ayo...” ajak Yudi sambil menggeret travel bag yang sudah dikeluarkan dari bagasi. “ Terima kasih Pak Mikail, terimakasih sudah mengantarkan kami dengan selamat.” Ucap Yudi sembari menyerahkan uang jasa sesuai dengan yang tertera dikargo taksi, tak lupa ia selipkan sedikit tips untuk sang supir taksi. “ Tapi uang nya terlalu banyak Nak.” Kata Pak Mikail ketika menerima uang dari Yudi. “ Tak apa Pak, ini rezeki dari Allah melalui saya” Yudi tersenyum. Wajah bahagia supir itu pun terlihat jelas.  “ Terima Kasih, terima kasih, semoga hari-harimu ke depan di berkahi oleh Allah. Amiiin.” Kata sang supir. “ Amiiin” sahut Yudi. Taksi itu pun perlahan menjauh, dan menghilang di sudut gang.     Flat yang Yudi tempati selama ini ada di lantai 7. Flat nya bukan flat mewah yang besar, tapi Yudi memang mencari flat yang ada dua kamar tidur, kalau kalau diperlukan ketika ia dan teman-teman nya membutuhkan tempat untuk mereka mengerjakan tugas secara berkelompok. Dan sudah pasti , setelah kedatangan Aida flat nya tak bisa lagi menjadi base camp nya untuk mengerjakan tugas. Yudi merogoh sakunya, meraih kunci pintu flatnya, membuka pintu dan mengajak Aida masuk. “Ayo dek.” Ujar Yudi. “ Iya kak, Assalamualaikum.....” ucap Aida. “ Waalaikumsalam.” Balas Yudi. Yudi terus melangkahkan kakinya, langsung menuju kamar yang sudah ia siapkan untuk Aida. “Ini kamar kamu dek. Kalo ada yang kurang bilang aja ya.” Jelasnya. “ Iya Kak. Makasih ya Kak. “ kata Aida. “ Sama-sama, oh iya, kalo mau bersih-bersih badan, kamar mandinya di sana, kita Cuma punya satu kamar mandi, dekat dapur. Dapurnya juga kecil, tapi lengkap kok. Kamu bersih bersih gih, terus istirahat, besok kalo capek kamu udah hilang kakak mau ajak kamu keliling. Kebetulan jadwal kuliah kakak 3 hari ke depan masih kosong. Senin nanti baru masuk lagi.” Jelas Yudi lagi. “ Iya kak.” Balas Aida. Aida pun tanpa ragu masuk ke kamar yang ditunjuk Yudi, beserta travel bagnya. Ia menurunkan backpack dipunggung nya ke atas single bed yang sudah rapi. Netranya mengelilingi sisi – sisi ruang kamar itu, kamar berukuran 3,5 x 2 meter itu cukup untuk 1 single bed, 1 lemari kecil, dan 1 meja belajar kecil untuknya. Masih tersisa space untuk ia menggelar sajadahnya. Aida pun mengeluarkan peralatan mandinya. Ia sudah sangat gerah karena melakukan perjalanan udara yang cukup lama, 17-18 jam sudah ditambah waktu transit.     Selama 15 menit Aida berkutat di kamar mandi. Ia tak perlu menyalakan kran air hangat. Suhu di mesir saat ini mungkin 25oC, karena sedang musim panas. Cukup hangat diwaktu dini hari seperti ini, apalagi badannya gerah ditempeli bekas keringat. Air dingin tentu lebih melegakan. Selesai mandi, Aida menggelar sajadahnya setelah menyalakan aplikasi pencari arah kiblat di handphone nya, ia menghadap Sang Ilahi, menggunakan sepertiga malamnya untuk mencurahkan segala perasaannya. Tangisnya tumpah. Dalam setiap ayat dilirihkannya adalah harapan kepad PemiliK Kehidupan. Sampai pada sujud terakhirnya yang panjang. Setelah menghadap Illah nya, Aida menyelaraskan waktu di jam tangan mungilnya, dan juga di handhonenya juga weker klasiknya. Perbedaan waktu antara Indonesia dan Mesir adalah 5 jam. Tak lupa ia menyalakan alarm untuk membangunkannya Sholat Subuh. Lalu ia pun terlelap dalam kelelahan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN