JET LAG

1027 Kata
        Kriiiiiiing.... alarm dari weker klasik di nakas samping tempat tidur Aida berdering.... pukul 04.30 waktu Mesir. Aida sedikit mengucek kedua matanya, ia menguap ringan, menandakan tubuhnya sebenarnya masih butuh istirahat, ia baru tidur kurang dari 3 jam. Tapi suara sayup adzan subuh terdengar dari  menara Masjid yang Aida rasa cukup jauh dari tempat nya berada. Aida membuka matanya dan beranjak duduk, tapi baru beberapa detik, ia merasa tubuhnya melayang. Kepalanya agak pusing. Ia kemudian mencoba berdiri. Sepertinya masih bisa kalo sekedar ke kamar mandi, batinnya. Aida pun berjalan pelan sambil berpegangan pada dinding kamar, menuju ke kamar mandi. Begitu pintu kamar nya terbuka dilihatnya Yudi baru saja keluar dari sana. “ Sudah bangun? Kakak kira kamu masih mau tidur. Kakak mau bangunin kamu setelah kakak sholat, eh taunya udah bangun...” sapa Yudi. Aida diam. Ia mengerjapkan mata nya menahan rasa pusing di kepalanya.         Yudi menangkap keanehan sikap Aida yang tidak menyahut sapaannya. “ Kamu kenapa? Kamu sakit?” tanya Yudi sembari mendekati  Aida. “ Cuma pusing sedikit kak. Ga apa-apa kok. Aida mau sholat aja dulu, nanti Aida bawa tidur lagi sebentar biar ilang pusing nya.” Jawab Aida. Yudi memapah Aida ke kamar mandi. “ Ga apa-apa kak. Aida wudhu dulu.” Kata Aida lagi. “ Hati-hati, nanti malah kepeleset looh.” Balas Yudi. “ Iya , kak.” Sahut Aida lagi. Tak sampai 10 menit Aida sudah keluar dari kamar mandi. Yudi segera menghampiri, bermaksud membantu adiknya. Aida menyunggingkan senyumnya demi melihat tingkah kakaknya itu. “ Aida masih bisa kok kak. Ini Cuma kurang tidur aja. Aida baru tidur sekitar 2 jam.” Jawab Aida. Yudi hanya bisa memasang wajah khawatir. Baru saja tiba, adiknya sudah sakit. Ia hanya bisa memandang Aida yang melangkah pelan ke kamarnya, dan berdoa dalam hatinya, “ Semoga benar ga apa-apa ya Allah..” batinnya.                 Yudi memandang jam dinding di ruang tengah, lalu melirik ke arah kamar adiknya. Ini sudah jam 9 lewat, kenapa aida belum bangun juga ya? Tanya Yudi dalam hati. Karena khawatir, Yudi memberanikan diri mengetuk pintu kamar Aida. Tok tok tok! “ Dek.... Dek, udah jam 9 loh... kamu belum sarapan. Kakak udah siapin roti bakar buat kamu.” Ujar Yudi. Tak ada sahutan dari dalam. Hening. Yudi kemudian memegang knop pintu dan menekannya. Untunglah, kamar ini tidak dikunci. Ia melongokkan kepala nya mencoba menangkap sosok Aida. Dilihatnya Aida meringis, mukanya tampak pucat. Yudi memperbesar langkahnya mendekati tempat tidur Aida. Di sentuhnya kening adiknya. “ Kamu kenapa dek? Badan kamu ga panas, tapi kok kamu pucat gitu??” tanya Yudi. Ia awam terhadap kondisi seperti ini, ini bukanlah keahliannya. “ Aida pusing kak. Kalo bangun rasanya dunia bergoyang gitu... kerasa kayak masih di pesawat kak.kayaknya Aida kena Vertigo deh.” Jawab Aida sambil meringis. “ Jet Lag kamu. Ya udah, tunggu sini, kakak ke apotik dulu, beliin obat buat kamu. Tunggu ya.” Yudi baru mau beranjak dari tempatnya.” Ga usah kak. Aida bawa obat kok, ada di Backpack nya Aida.” Kata Aida pelan. “ kenapa ga bilang dari tadi sih?? Lagian tadi kenapa ga langsung diminum kalo obat nya sudah ada?!!” omel Yudi. “ Tunggu sini, kakak ambilin air minum sama sarapan kamu dulu.” Kata Yudi lagi sambil melangkah keluar untuk membawa sarapan Aida ke kamar nya. Tak sampai 2 menit Yudi kembali dengan nampan di tangannya. Diletakkannya di nakas kecil samping tempat tidur Aida.Lalu meraih Backpack Coklat yang masih terkapar di lantai samping tempat tidur. “ Ditarok dimana obatnya? “ Tanya Yudi. Aida masih belum bisa membuka matanya. Tapi ia menjawab, “Kantong bagian dalam kak, ada dalem pouch biru.” Yudi segera mengeluarkan Pouch biru yang dimaksud Aida. Lalu mengeluarkan beberapa obat, “ Yang mana nih obatnya??” dilihatnya beberapa obat yang sudah ada di tangannya. Paracetamol, AzythroMycin, Cetrizine, Dexametasone, Flunarizine dan betahistine.” Yang Betahistine kak, sama paracetamol aja.” Kata Aida lagi. Yudi lalu memasukkan kembali obat-obat itu ke dalam pouch, selain yang sudah ia pisahkan untuk diminum oleh Aida. Lalu mencoba membantu Aida untuk duduk. “ Ayo duduk dulu, makan roti nya dulu, baru minum obatnya.” Perintah Yudi. “ Ga bisa kak, pusing.” Jawab Aida, lalu mencoba memiringkan tubuhnya menghadap ke kakaknya. Yudi menyodorkan Roti bakar yang ia bawa. Aida meraihnya, dan memasukkan nya ke dalam mulut, dikunyahnya perlahan sambil menahan pusing. Sebenarnya, Aida tak sanggup untuk menghabiskan seluruh roti bakar yang ia pegang,tapi abahnya mengajarkan untuk tidak membuang-buang makanan karena itulah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad. Jadilah Aida mengunyah perlahan sampai makanannya habis, sambil diperhatikan oleh Yudi.         Setelah menghabiskan sarapannya, Aida meluruskan tubuhnya lagi. “ Loooh, kok obatnya ga langsung diminum??” tanya Yudi. “ Nanti kak, biar makanan nya tercerna dulu, sekitar 30 menit lah, biar kerja obat nya juga maksimal. Itu obatnya kan diminum sesudah makan, makanan baru tercerna di lambung itu sekitar 30 menit.” Jawab Aida dengan nada lesu karena masih merasakan pusing. “ Ya udah, air putih nya kakak tarok sini ya, nanti kakak balik lagi ke sini, kakak mau beresin ini dulu.” Lanjut Yudi. Ia beranjak meninggalkan kamar Aida, membereskan sisa-sisa sarapan nya yang tadi, lalu mencuci semua peralatan makan yang sudah terpakai. Masih tersisa 10 menit sejak Aida menghabiskan sarapannya. Ia lalu duduk di ruang tengah, meriah remote tv, dan menyalakan tv. Yudi mencoba mencari siaran yang bisa mengalihkan perhatiannya dari Aida, ia miah belum tenang, 10 menit rasanya begitu lama. Lalu tepat 10 menit itu berlalu, ia menghampiri kamar Aida  yang sengaja tidak ia tutup agar ia bisa melihat keadaan adiknya. “ Dek, ...” Yudi baru mau membangunkan Aida, tapi urung setelah dilihatnya Aida sedang meneguk segelas air putih yang tadi ditinggalkannya di meja kecil samping tempat tidur. Dua jenis pil yang ia sisihkan tadi pun sepertinya sudah Aida teguk, dilihatnya kemasan obat itu sdh dirobek. “ Sudah?! Kamu istirahat aja dulu. Nanti kalo pusing nya sudah hilang, kamu bisa duduk di luar tuh, nonton tv. Tapi channel nya channel luar semua, ga  ada yang pake bahasa indonesia looh. Kakak mau ke supermaket di blok sebelah dulu, mau beli bahan makanan, ada yang habis. Kakak kunci pintunya dari luar ya, soalnya belum ada duplikatnya. Kalo ga dikunci nanti ada orang asing dateng kamu bingung.” Kata Yudi. “ Hmmmm... “ Aida hanya membalas dengan deheman kecil. Ia masih terlalu lelah. Rasa kantuk pun menyerang setelah obat yang ia minum tadi. Ia butuh istirahat lebih untuk menghilangkan vertigo karena Jet Lag. Yudi berlalu, dan melangkahkan kakinya menuju El Taybat Grocery Store yang tak jauh dari flat nya berada.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN