Akila yang meninggalkan Alexander, kini sudah berada tepat di ruang rapat bersama dengan yang lain. Namun tidak dengan Alexander. Alexander kini telah menerima pengeluhan dari Clarisa, mengenai Akila yang mengusirnya dari lantai 35. Alexander begitu marah dengan perilaku Akila.
Kini Alexander sudah berada tepat di ruang rapat, namun tatapan Alexander yang begitu tajam membuat seisi ruangan terasa dingin bagai sedang berada di kutup selatan, semua yang melihat tatapan tajam dari atasannya, hanya bisa menundukkan kepala. Beda halnya dengan Akila, yang duduk dengan santainya.
Alexander memulai rapat, namun dengan cepatnya Ia mengakhirinya, semua yang berada di ruang rapat hanya bisa mengikuti arahannya tanpa ada yang membantah. Semua direksi pun berdiri dan berjalan keluar ruangan. Kini tinggal Lucas, Alexander dan Akila yang sedang membereskan beberapa file.
Dirut Alex. Panggil Akila.
Apa? Tanya Alexander dengan dinginnya.
Mengenai tender bersama Zurick Group, bolehkan saya mengundurkan diri dari semua pembahasan tender ini?
Bukannya Aku sudah menjelaskannya padamu? Aku mengatakan bahwa kau harus hadir dalam semua rapat yang akan datang. Kecuali ada alasan khusus, mengapa kau harus mengundurkan diri dari semua rapat? Tanya Alexander beruntun kepada Akila.
Saat semua mengatakan bahwa saingan terbesar Houten adalah Juandy. Aku berharap semuanya tetap terjaga baik tanpa ada kecurangan dan jangan pernah menjadikanku batu sandungan untuk menekan Rey. Jawab Akila dengan nada yang tinggi
Aku sungguh tidak peduli siapa pacarmu. Sejak kau memutuskan untuk bekerja sebagai asisten Dirut, aku harap kau sudah tahu pasti mengenai tugasmu dan dengan siapa kau bekerja. Alexander berbicara dengan tegasnya, dan berjalan meninggalkan Akila.
Sejak perdebatan antara Akila dan Alexander, kini Akila pun mulai menjaga jarak dengan Alexander. Kini Akila sedang bergelut dengan beberapa pekerjaan, setelah selesai Akila pun beranjak dari ruangannya. Tepat pukul delapan malam Akila sudah janji temu dengan sang sahabat di Retro bar.
Akila dan Sanaya kini sudah berada di club malam. Keduanya pun duduk di salah sebuah meja yang berada di pojok meja bartendert, kali ini Akila memesan Vodka untuknya dan Sanaya. Namun Alexander dan beberapa temannya berada tepat di salah satu ruangan.
Akila, kini sudah begitu mabuk setelah menghabiskan 4 botol vodca bersama Sanaya. Akila yang hendak berjalan ke toilet, namun rasa pening di kepalanya, tidak dapat menopang tubuhnya berdiri dengan baik dan hendak terjatuh, namun dengan cepatnya Alexander yang melihat itu, langsung menarik Akila dalam pelukannya.
Akila, " Ada apa denganmu? Dan sejak kapan kau-. Alexander belum sempat meneruskan berbicara, tangan Akila sudah menutup mulutnya. Houten, maafkan aku, aku sangat mencintaimu. Kenapa kau selalu berbicara dengan dinginnya kepadaku? Tanya Akila dengan suara serak kepada Alexander dengan jarak yang sudah bertatapan wajah yang begitu dekat.
Alexander begitu kaget, mendengar perkataan Akila, dan memeluknya begitu erat. Akila, sejak pertama mengetahui kembalinya dirimu dan keberadaanmu di perusahanku, aku begitu bahagia, sejak 12 tahun lamanya, kini aku bisa bertemu denganmu. Akila pun langsung mengangkat wajahnya dan menatap Alexander. Alexanderpun langsung melumat bibir Akila. Akila pun membalas lumatan bibir Alexander.
Alexander membopong Akila keluar dan menaikkan Akila ke mobilnya. Namun Alexander menelpon seseorang untuk mengantarkan Sanaya pulang. Alexander mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hampir setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai di Apartement Alexander.
Kini Alexander menggendong Akila masuk ke kamarnya dan membaringkan Akila di ranjangnya yang tidak pernah di tempati oleh orang lain selain dirinya. Alexander pun mengambil sebuah bantal dan selimut dan berlalu menuju sofa di ruang tamu.