Rasanya sudah tak sabar menanti hari seni tiba. Dimana aku mengenakan seragam sekolah dan duduk di bangku SMA. Keinginan yang sempat kuredam dalam sabar. Aku tak menyangka Allah akan secepat ini mengabulkan doaku.
Hari ini aktifitasku agak berubah karna ada pasien bu bidan yang melahirkan diklinik. Hari ini ibu dinas, sementara diklinik ada mbak vina sebagai bidan pengganti. Mbak vina masih muda dan belum menikah. Dia masih jadi bidan kontrak, tidak seperti bu bidan yang sudah PNS. Mbak vina sangat ramah. Sesuai arahan bu bidan, kami disuruh membuat menu untuk makan pasien. Mbok jinem masak sesuai pesanan bu bidan. Disaat jadwal makan, aku yang bertugas mengantar makanan dan kemudian mengambil wadah bekas makanannya sebelum menu berikutnya kuantarkan.
Hari ini bude sum datang lagi padahal baru kemaren beliau kesini mencuci dan menggosok pakaian bu bidan dan pak harun. Kalo ada pasien yang melahirkan, esoknya bude sum pasti datang untuk membersihkan kain kain klinik yang kotor.
Ngomong ngomong, aku juga sudah bercerita ke bude sum kalo aku mau lanjut sekolah dengan biaya ditanggung oleh bu bidan, aku juga cerita kalo pak harun bertindak sebagai waliku disekolah. Bude sum sangat terharu dan bersyukur kalo akhirnya aku bisa langsung melanjutkan sekolah. Bahkan beliau sampe memelukku dan menangis haru. Bude sum juga menawarkan seragam bekas kakaknya rumi kalo mau dipake sementara sambil nunggu seragam barunya selesai dijahit. Aku setuju saja atas sarannya bude, karna takut kejadian seperti didesaku dulu, penjahitnya tidak bisa menyelesaikan sesuai waktu yang dijanjikan.
Minggu sehabis sholat dzuhur bu bidan mengajakku ke tempat bu susi untuk mengambil jahitan. Alhamdulillah seragam yang akan kupakai untuk hari seni sudah jadi. Bu susi juga menyuruhku untuk mencoba seragam baruku, sambil dicek siapa tau ada yang kurang pas dan bisa langsung dibenahi. Dengan penuh senyum kucoba seragam baruku. Oh ya, seragam yang kujahitkan adalah seragam panjang. Jadi mau gak mau aku harus menggunakan jilbab. Aku memasuki ruang pas yang didalamnya terdapat cermin setinggi badanku. Aku keluar dari kamar pas, bu bidan dan bu susi mengamatiku.
" gimana dek, apakah ada yang kurang nyaman? biar sekalian ibu betulin " ucap bu susi.
" sudah nyaman bu " sahutku
" aku rasa sudah pas bu, wah ternyata cantik juga nih lila pake seragam itu " komentar bu bidan
" ya sudah, kalo gitu sekarang bisa dilepas " ucap bu susi.
Seragam yang sudah dilepas diambil oleh bu susi, dilipatnya dan dimasukkan dalam plastik kemasan.
" bu isma, untuk seragam batik dan pramuka nanti bisa diambil hari selasa aja ya " pesan bu susi ke bu bidan.
" siap bu susi, kalo gitu sekalian saya lunasi aja, biar besok kalila tinggal ambil aja " jelas bu bidan
" gak papa kan lil, sepulang sekolah kamu mampir ambil jahitannya " tanya bu bidan kepadaku.
" gak papa bu, besok biar kalila aja sendiri yang ambil " jawabku.
Usai dari ambil jahitan kami langsung pulang. Sepanjang perjalanan pulang hatiku terasa riang. Terasa tak sabar menanti hari senin tiba.
Mbok jinem tak henti hentinya menasehatiku untuk selalu rajin beribadah dan juga rajin sekolah.
" Walau bu bidan selalu berbuat baik padamu, selalu usahakan kamu jangan mengecewakannya, fokusmu untuk sekolah, dekati temen temen yang punya tujuan sama, jauhi teman teman yang malas, yang menganggap sekolah hanya sebagai ajang bermain, trus kalo ada kegiatan sekolah yang dilakukan diluar jam pelajaran sekolah, kamu harus bilang dulu sama bu bidan " jelas mbok jinem
" dan lagi posisimu disini itu kerja jadi kamu tetap harus bisa bertanggung jawab terhadap hasil kerjaanmu " lanjutnya lagi
" iya mbok, lila akan selalu ingat pesen mbok, lila juga minta tolong mbok jangan bosan untuk mengingatkan lila ya " ucapku memohon sambil kugenggam tangan mbok jinem.
Bagiku selama aku bekerja dan tinggal dirumah bu bidan, mbok jinem adalah satu satunya orang yang bisa kuajak berkeluh kesah. Aku sudah menganggap seperti orang tuaku sendiri. Aku juga merasa bersyukur mbok jinem bisa menerimaku dan menyayangiku.
Pagi ini bukan seperti hari yang biasanya. Bangunku terasa lebih bersemangat, karna hari ini awal aku masuk sekolah. Karna hari ini aku sekolah, mbok jinem menyuruhku untuk bersih bersih wilayah klinik saja. Untuk urusan dapur mbok jinem yang mengerjakan. Selesai dengan tugasku aku lanjut bergegas mandi. Kukenakan seragam baruku lengkap dengan jilbabnya. Ya Allah, aku benar benar masih merasa mimpi dengan semua yang kukenakan. Senyum cerah selalu menghiasi bibirku. Mbok jinem memanggilku untuk bergegas sarapan. Aku berlalu dari kamar menuju dapur, sarapan bersama mbok jinem. Dimeja ada yang berbeda karna ada kotak bekal makanan yang selama ini kulihat hanya tersimpan dilemari.
" ini simbok siapkan bekal untukmu " ucapnya
" lha ini wadal bekalnya siapa mbok? " tanyaku
" ooo... ini wadahnya mbak salwa, kata ibu disuruh make aja " jelasnya
" makasih ya mbok, mbok sudah baiiik banget ke aku " ucapku
" iya lila " ucap mbok jinem tersenyum sambil memandangku.
Akupun memasukkan bekal tersebut kedalam tas ranselku. Aaaahh tak ada kata yang bisa kucapkan selain rasa bahagia yang membuncah.
Bu bidan memanggilku menanyakan kesiapanku, ternyata beliau mau mengantarku, katanya biar aku gak bingung dan gak nyasar. Bu bidan juga menjelaskan bagaimana kalo nanti pulang sekolah aku naik angkot. Karna besok aku juga harus belajar berangkat sekolah sendiri. Kata bu bidan aku juga bisa jalan kaki kalo mau, rutenya lebih pendek dari pada kalo naik transportasi umum.
" lila, ini ibu kasih kamu uang saku untuk satu minggu. Kalo belum satu minggu uangmu sudah habis berarti resiko tanggung sendiri lho ya " ucap bu bidan sambil menyerakan beberapa lembar uang dua puluh ribuan dan sepuluh ribuan. Bu bidan memberiku uang saku tujuh puluh lima ribu.
" trima kasih bu " sambutku dengan tersenyum.
Lalu kamipun berangkat bersama, tak lupa sebelum berangkat aku pamit mbok jinem dulu.
Setelah sampai disekolah akupun diturunkan didepan gerbang sekolah, aku pamit bu bidan seraya mencium punggung tangannya.
Kuucapkan bismillah sebelum memasuki gerbang sekolah. Ya Allah berkahi langkahku dan berkahilah ilmuku, aamiin, doaku dalam hati. Berhubung ini hari pertama masuk, wajar dong kalo aku masih agak bingung, Aku mencari petugas sekolah dan menanyakan lokasi kelasku sambil menyodorkan berkas pendaftaran. Sukaryo nama yang ada di nametagnya. Beliau mengecek nomor pendaftaranku dengan komputer yang ada didepannya. Tak berselang lama pak karyo memberitahukan bahwa aku berada dikelas satu B. beliau juga menunjukkan arah yang harus kulalui. Akupun berjalan sesuai arahnya untuk menuju kelasku.
"hai lila, suara orang memanggilku. Aku menoleh kearah sumber suara, agak terkejut juga sih, kalo ada yang tau namaku.
" rumi, aku berbelok menuju kearahnya.
" ibuku kemaren ngasih tau aku kalo kamu nerusin sekolah, tapi lupa nanya nama sekolahnya. rupanya kamu masuk sini!" jelas rumi.
" aku juga gak nyangka kalo ibu sama bapak mau membiayai sekolahku " jawabku
" kamu dikelas mana?" tanyanya
" kelas B " jawabku
" wah.... kita sekelas donk, yuk kita masuk bareng " ajak rumi.
Kamipun berdampingan masuk kelas. Rumi langsung menempati tempat duduknya sementara aku masih berdiri sambil mengamati keadaan. Aku mendekati rumi dan menanyakan bangku kosong. Karna aku masuk sekolahnya belakangan mau gak mau aku duduk dibangku belakang.
Tak berapa lama bel berbunyi, pertanda dimulainya kegiatan belajar. Berhubung ini hari senin, maka kami melaksanakan upacara bendera dihalaman sekolah. Aku ikut baris dirombongan kelasku. Sebagian temen temenku menyapaku dengan senyum. Alhamdulillah, awal hari yang indah. Usai upacara kami kembali ke kelas, Sebagian temen temen baruku yang perempuan mengajakku berkenalan. Dapat dimaklumi karna kami sama sama anak baru.
Jam pertama pelajaran bahasa indonesia, dengan bu rina sebagai pengampunya. Sebelum memulai belajar bu rina mengabsen kami, hingga tiba giliranku. Karna aku termasuk anak baru yang baru masuk, maka bu rina menyuruhku untuk memperkenalkan diri didepan kelas. Tiba waktunya jam istirahat pertama, seisi kelas berhamburan keluar smua, tak terkecuali aku. Aku duduk dipagar beton teras kelas, sambil memandang sekitar kelas. Aku belum punya temen deket. Hana mendekatiku dan mengajakku beli jajan cilok yang mangkal diluar gerbang sekolah. Ternyata banyak juga pedagang jajanan yang mangkal menggunakan sepeda motor. Dari cilok, bakso, somay, cireng dan entah apalagi. Aku mengikuti hana, banyak yang antri didepan mamang cilok. Kulihat mereka banyak yang pesan tiga ribuan, termasuk hana dan aku. Selesai dengan cilok hana mengajakku menghampiri penjual es sirup. Kali ini aku menolaknya karna selain aku sudah bawa minum, aku juga harus belajar berhemat. Kami kembali kekelas, kulihat masih banyak temanku berjubel ke kantin sekolah. Kulihat rumi dan ayu sudah duduk dibangkunya sambil makan batagor.
" rum, nanti kamu pulang sekolah naik apa? " tanyaku
" selama ini sih ngankot, kamu pulangnya dijemput? " tanya rumi
" tadi dipesenin untuk naik angkot juga " jawabku
" ya udah, nanti kita bareng aja " sarannya
" berapa ongkosnya? " tanyaku
" kalo tarif anak sekolah cuma dua ribu, kalo umum empat ribu " jelasnya
Dalam benakku akupun mulai berhitung batas maksimal uang jajanku, uang transport dan uang jaga jaga alias uang tak terduga.
Bel sudah berbunyi pertanda jam istirahat telah usai dan bersiap lanjut ke pelajaran yang berikutnya. Kali ini mata pelajaran matematika, pak bambang sebagai guru pengampunya. Lumayan jenaka juga cara beliau menerangkan rumus rumusnya dan tak terasa berganti ke matapelajaran berikutnya hingga bel berbunyi tanda istirahat kedua. Sebagian teman temanku berhamburan keluar dan sebagian masih bertahan didalam kelas.
Aku mengeluarkan bekal dari tasku. Ternyata yang bertahan didalam kelas, mereka smua membawa bekal.
Saat aku membuka bekalku, rumi dan rika masuk kekelas.
" kirain kamu ke kantin lil, ternyata bawa bekal tho! " ucap rumi.
" kalian tadi dari mana? kulihat kok buru buru " tanyaku
"dari toilet, habiiiis dah gak tahan " jawab rika.
Mereka sama sama mengeluarkan wadah bekal juga.
" kalian bawa bekal juga?" tanyaku.
" kadang kadang aja sih, kalo lagi pengen, lagian males juga ngantrinya " jawab rika.
" nih, kalo mau nyicip bekalku " rumi menyodorkan bekalnya ketengah meja
Kami makan berempat, aku duduk bersebelahan dengan hana. Akhirnya kami buat formasi duduk berhadapan. Rumi dan rika memutar kursinya menghadap kemejaku. dengan menu yang berbeda. Rumi dengan sayur oseng tempe dan kacang panjang, dilengkapi dengan dadar telur, rika bawa sambalado telur ceplok, hana dengan semur ayam, sementara aku bawa nasi goreng dan telur ceplok. Rasanya nikmat luar biasa kami bisa makan bersama dan berbagi sekelumit cerita. Istirahat kedua berbarengan dengan suara adzan dzuhur. Usai kami menghabiskan isi bekal dan membereskannya kami langsung menuju mushola. Waktu istirahat yang terbatas membuat kami bergegas menyelesaikan sholat. Tak lama kemudian bel berbunyi tanda waktu istirahat telah usai dan berlanjut belajar matapelajaran berikutnya. Dua jam matapelajaran telah lalui hingga terdengar suara bel berbunyi lagi tanda usai waktu belajar. Kami membereskan perlengkapan belajar kami sebelum beranjak pulang.
Sesuai kesepakatan aku dan rumi yang akan pulang bareng naik angkot. Kulihat banya anak anak sekolah yang naik kendaraan roda dua, Tapi tak sedikit pula yang naik angkot. Rumi mengajakku naik angkot berikutnya aja, karna angkot yang didepan kami sudah penuh sesak.
" kapan kapan kita jalan kaki yuk " ajaknya
" kapan? " tanyaku
" aku sih oke oke aja lanjutku
Kamipun akhirnya naik angkot bersama rumi hingga kami turun diperempatan tugu. Rumi lanjut jalan ke rumahnya di daerah perkampungan sementara aki berjalan menuju rumah bu bidan.
Sampe rumah kuucapkan salam, ternyata. Mbok jinem masih didapur mengiris bawang. Katanya Kucium punggung tangannya sebelum berlalu ke kamar dan ganti baju. Usai ganti baju aku kedapur menemani mbok jinem.
" gimana tadi disekolah? dah dapar temen? " tanyanya
" alhamdulillah mbok, hari ini sekolahnya berjalan lancar " jawabku
" eh mbok, ternyata aku sekelas sama rumi anaknya bude sum " jelasku
" wah kebetulan itu, kalo ada kerja kelompok ngerjain tugas gak perlu jauh jauh " ucap mbok jinem sambil mengiris bawang merah tipis tipis.
" tadi pulangnya naik apa" tanya
mbok jinem
" naik angkot mbok
" sana makan dulu " perintahnya
" eh iya mbok, lila hampir lupa, wadah bekalnya belum kukeluarkan dari dalam tas " ucapku sambil berlalu dari dapur.
Begitu sudah kuambil aku langsung langsung mencucinya.
" mbok, makasih ya sudah bawain bekal buat lila " ucapku
Mbok tersenyum dan mengangguk menanggapi.
" besok biar lila aja ya yang siapin bekalnya " ucapku
" ya" jawabnya .
" sekarang ada yang perlu dibantu " tanyaku
" sini lanjutkan yang ngiris mbok mau nggoreng " ucapnya.
Lumayan banyak juga buat bawang gorengnya, komentarku.