buku tabungan baru

2014 Kata
Kulalui hari hari seperti biasanya. Pagi pagi sekali aku sudah bersih bersih diruangan klinik. Kalo tidak ada pasien bersalin aku hanya cukup membersihkan sekali saja yang kukerjakan dipagi hari tapi kalo klinik sedang ada pasien yang menginap maka akan membersihkan dua kali yaitu dipagi dan sore hari. Jika hari libur aku bisa membantu mbok jinem dikebun sayur. Alhamdulillah, walau pengakuan anak angkat tidak pernah terucap secara langsung kepadaku tapi perlakuan mereka membuktikan ucapan mereka. Bu bidan tetap mengijinkan aku mengikuti kegiatan ekstra kurikuler yang wajib diikuti disekolah, seperti halnya pramuka. Tak terasa sudah satu bulan aku tinggal dirumah bu bidan. Aku merasa nyaman dan betah tinggal disini. Selain pekerjaan yang kukerjakan tidaklah berat, perlakuan orang orang rumah juga baik. Bu bidan dan pak harun memperlakukan kami layaknya keluarga. Oh ya selain membersihkan klinik aku juga diberi tanggung jawab untuk membuat pembukuan kebun kopi. Biasanya.setiap seminggu sekali ada pak karta yang datang kerumah. Kadang beliau sambil bawa hasil panen kebun seperti pisang ataupun umbi umbian. Kata pak karta tanaman itu yang ditanam dipinggir kebun. Selain hasil kebun yang akan diserahkan ke mbok jinem, pak karta juga akan memberiku buku catatan saku dan beberapa lembar nota belanja. Catatan dan nota tersebut akan kucatat dalam buku khusus. Catatan yang dibuku kecil berisi pengeluaran upah tenaga, hasil penjualan beberapa tandan pisang, dan kopi kalo sedang panen. Sementara nota nota yang kuterima sebagian besar berupa pembelian beberapa sak pupuk. Malam ini sehabis makan malam bu bidan memanggil. " Lila berhubung kamu sudah bekerja disini sudah ada satu bulan, maka ibu akan mengeluarkan hakmu, ini ada uang sebagai gaji bulanan kamu, dan ibu minta tolong besok sepulang sekolah kamu mampir ke bank untuk buka rekening " jelas bu bidan " setidaknya uang tabunganmu nanti bisa kamu manfaatkan setelah lulus sekolah " imbuhnya. " oh ya kamu bisa pake kartu pelajar untuk buka rekening " ucapnya lagi " iya bu, terima kasih banyak bu" ucapku. Akupun berlalu dengan hati yang berbunga bunga, Seandainya aku disini tidak digajipun aku tidak keberatan mengingat pekerjaan yang kuanggap tidak berat, perlakuan mereka yang menganggap seperti keluarga dan mereka membiayai sekolahku sepenuhnya juga memberiku uang saku yang terhitung banyak. Bagiku itu sudah cukup sekali. Tapi ini aku masih menerima tambahan gaji. Alhamdulillah, aku sangat bersyukur sekali. Sesuai intruksi bu bidan sepulang sekolah ini aku pergi ke bank. Karna aku sama sekali belum pernah masuk kantor bank, dengan terpaksa aku mengajak rumi untuk menemaniku. Suasana didalam terasa sepi sekalipun banyak orang. Hanya terdengar suara panggilan nomor antrian dan bunyi beberapa mesin printer. Seorang petugas satpam mendekati kami dan menanyakan keperluan kami. Kusampaikan aku akan buka tabungan, lalu pak satpam mengarahkanku untuk mengambil nomor antrian CS. Kami duduk dengan tenang, andai kami bicara, suara kami pelankan bahkan mirip berbisik. Seumur hidup baru kali ini aku masuk ke bank. Jadi wajar aja kalo baru kali ini aku buka buku tabungan. Tak berapa lama tibalah nomor antrianku dipanggil untuk menuju meja CS. Rumi tetap kuajak menemaniku hingga kini kami duduk berdampingan didepan CS. Aku membuka tabungan atas namaku sendiri dengan menggnakan identitas kartu pelajar. Usai urusanku di bank, kamipun lanjut pulang. Sebelum pulang aku mengajak rumi mampir ke kedai bakso, anggap aja sebagai rasa terima kasihku karna dia sudah menemaniku, tapi rupanya rumi menolaknya. " maaf lil, bukannya aku menolak rejeki, tapi karna aku takut kesorean sampe rumah. aku kan harus kerja " jelas rumi " lain kali aja ya, ntar kalo aku ada waktu aku akan tagih tawaranmu hari ini " lanjut rumi sambil tersenyum. " baiklah kalo gitu, mudah mudahan nanti pas kamu tagih aku, akunya masih ada uang" jawabku sambil senyum Kami kembali naik angkot menuju pulang. Seperti biasa kami turun diperempatan tugu. Akupun membayarkan ongkosnya rumi. Sampai rumah suasananya sepi, karna dirumah hanya ada mbok jinem. Bu bidan dan suaminya sedang berkunjung kepondok anak anaknya. Kata mbok jinem biasanya mereka pergi dua hari. Habis selesai makan malem, mbok jinem mengajakku nonton tv diruang keluarga. Selama sebulan lebih aku tinggal disini, baru kali ini aku bisa ikut menikmati nonton tv. Sebenarnya sudah sering sih bu bidan ngajak aku dan mbok jinem nonton tv. Mbok jinem akan nolak bergabung kalo ada pak harun dirumah. Akupun merasa sungkan kalo ada bapak. " bulan kemaren pas ibu dan bapak pergi kepondok anak anaknya, ibu akan menyuruh mbak rukah untuk nginep disini nemenin simbok " mbok jinem bercerita. " trus pada ngerjain apa mbok " tanyaku penasaran. " ya .... gak ada, cuma nonton tv aja nyampe malem, soalnya paginya kan bebas gak harus nyiapin sarapan " jelas mbok jinem. " paling paling mbok suka bikin sambal jengkol " lanjutnya sambil ketawa. " kenapa gitu mbok?" tanyaku kepo " soalnya ibu sama bapak kan paling gak suka sama jengkol " jelasnya. " tadi gmana? dah jadi buka tabungan?" tanya mbok jinem " sudah " jawabku " kalila besok kalo dah lulus mau kuliah?" tanyanya lagi " kalo lila sih, gak ada pikiran mau kuliah mbok, lila pengennya nylesein sekolah dulu " jawabku Kami memutuskan untuk tidur depan tv. Berhubung paginya sekolah aku tetap harus belajar. Sebenarnya kurang fokus juga membaca buku pelajaran sambil nonton tv apalagi kadang kadang diajak berkomentar tentang jalannya cerita. Ya..... gak papalah daripada mbok jinem sendirian. Paginya kami bangun seperti biasa. Bedanya mbok jinem tidak terburu buru buat sarapan. Mbok jinem hanya memasak nasi dengan rice cooker dan menghangatkan sayur dan lauk sisa menu kemaren malam. Aku juga tak masalah bawa bekal dengan tumis kacang sisa kemaren dan semur telur tahu. Bisa menikmati menu seperti ini aja syukurku luar biasa. Setiap minggu bu bidan selalu memberiku uang saku tujuh puluh lima ribu. Dalam seminggu aku masih bisa menyisihkan dua puluh lima ribu. Sepuluh ribu kumasukan tabungan sekolah dan yang lima belas ribu kusimpan dikamar, buat jaga jaga kalo aku ingin membeli kebutuhan pribadi seperti pembalut ataupun bedak. Tabungan disekolah digunakan nanti untuk acara study tour ke daerah wisata yang akan diadakan saat liburan kenaikan kelas. Jika hari libur aku juga diijinkan untuk pergi bermain ke rumah teman tapi tetap harus ingat waktu. Beliau juga melarangku untuk keluar malam kecuali dengan mereka. Dua hari tak ada bu bidan dan pak harun dirumah membuat rumah semakin sunyi. Kata simbok nanti malam bu bidan sampai rumah. Beliau memberi kabar lewat hapenya mbok jinem. Malam kedua kami masih memutuskan tidur didepan tv, sekalian untuk jaga jaga nanti kalo beliau pulang. Mbok jinem menyuruhku memasang spre dikamar bintang. Bintang adalah anak ketiganya bu bidan. Kata mbok jinem, bintang sakit dan akan dirawat dirumah saja. Jam satu dini hari kami dibangunkan dengan suara dering hapenya mbok jinem. Ternyata bu bidan kasih tau kalo mereka hampir sampai rumah. Mbok jinem keluar membuka pintu garasi dan segera beres beres tempat yang baru kami tempati. Setelah selesai akupun keluar menyusul mbok jinem. Mobil sudah masuk garasi dan mbok jinem baru selesai menutup pintu pagar luar dilanjut mengunci pintu garasi. Pintu mobil dibagian sopir terbuka, pak harun turun langsung membuka pintu dibelakang sopir. Pak harun membopong bintang untuk dibawa ke kamarnya. Bu bidan turun sambil bawa selimut menyusul suaminya. Aku membantu mbok jinem menurunkan barang barang yang ada dibagasi mobil. Belum selesai aku menurunkan barang barang, bu bidan keluar dari rumah. " lil, tolong bantuin ibu dulu ke klinik ambil impus dan perlengkapannya " ucap bu bidan sambil berlalu menuju klinik. " ya bu " jawabku sambil menyusulnya. " tolong kamu bawain tiang infus ini ke kamar bintang ya " pesan bu bidan sambil menyodorkan tiang besi yang beroda. Aku mengangkat tiang infus dan kubawa masuk rumah. Saat mau masuk kamar bintang kulihat pak harun masih duduk di ranjang bintang. Aku hanya berdiri di dekat pintu sambil menunggu kedatangan bu bidan. Tak berapa lama bu bidan datang. " ayo dibawa masuk " ajaknya aku mengikuti bu bidan dan meletakkan tiang besi disamping ranjang sesuai arahannya. " Minta tolong ambilin air putih ya, pake botol dan dikasih sedotan bengkok " perintah bu bidan. Oh ya, sekalian buatkan teh panas dua cangkir ya, takaran gulanya tanya simbok aja " pinta bu bidan. " ya bu " jawabku dan berlalu dari kamarnya bintang. Akupun mencari mbok jinem untuk menanyakan takaran gula yang diminta bu bidan. Mbok jinem baru selesai meletakkan barang barang yang dari mobil ditaruh ruang keluarga. Aku mengikuti simbok menuju dapur. Mbok jinem menjelaskan takaran gula, untuk cangkir bapak satu setengah sendok makan gula, sementara dicangkir ibu satu sendok peres gula. Cangkirnya pasangan cuma berbeda warna. Selesai kuseduh teh untuk beliau dan mengisi botol air minum, akupun mengantarnya ke kamar bintang. Sampai dikamar tangannya bintang sudah terpasang infus. Kulihat bintang masih terlelap tidur. Kuletakkan baki minuman diatas nakas disamping tempat tidur. " ada yang perlu lila bantu bu, " tanyaku sebelum undur diri. " sudah cukup dulu, sekarang kamu lanjut tidur aja, besok sekolah kan? " tanya bu bidan. " iya bu" jawabku dan setelahnya aku berlalu menuju kamarku dan mbok jinem untuk melanjutkan tidurku. Suara adzan subuh berkumandang, aku terbangun kulihat mbok jinem sedang menunaikan sholat shubuh. aku beranjak dari kasurku menuju kamar mandi. Selesai melaksanakan sholat shubuh aku mengerjakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabku, setelah itu mbok jinem menyuruhku untuk mengambil kain kain kotor yang ada di ruang keluarga dan membawanya kebelakang ke tempat ruang cuci. Mbok jinem masih berkutat dengan menu sarapan keluarga. Mbok jinem juga membuat bubur, katanya untuk dek bintang. Aku lanjut mandi dan persiapan untuk berangkat sekolah. Selesai sarapan aku menyiapkan bekal sekolah sendiri. Lanjut aku pamit ke mbok jinem. Seperti biasanya aku akan salim dan mencium punggung tangannya. Kulihat bu bidan juga akan bersiap berangkat dinas, tapi masih berada dikamar bintang. " maaf bu, kalila mau pamit berangkat " pamitku " eh iya, sudah sarapan?" tanyanya " sudah bu " jawabku " dek bintang, cepet sembuhhh ya " ucapku ke bintang sambil kuelus lengannya. " makasih mbak lila " jawab ibu mewakili bintang, karna bintang sepertinya sedang malas bicara. " nanti langsung pulang aja ya, kalo sudah selesai sekolah " pesan bu bidan " iya bu " jawabku dan berlalu dari kamar bintang. Aku berangkat sekolah seperti biasa. Jalan kaki menyusuri komplek perumahan menuju perempatan tugu dimana biasa aku mangkal menunggu angkot. Angkot pada jam jam sekolah banyak terisi penuh oleh anak sekolah. Saat naik kedalam angkot ada beberapa orang kakak kelasku dan beberapa orang lainnya ada petugas kesehatan. Angkot berhenti didepan gerbang sekolah, kami turun bergantian. Suasana sekolah mulai tampak ramai dengan banyaknya siswa yang berdatangan masuk ke gerbang sekolah. Aku berjalan menuju kelasku, sudah ada beberapa teman yang didalam kelas, sebagian masih bercengkerama diluar kelas. Dodi temanku yang jadi ketua kelas mendekati mejaku. " lil, nanti pulang sekolah kita jenguk hana ya, tadi malam infonya dia masih dirawat " ajak doni. " maaf don, hari ini aku nggak bisa ikut karna adikku juga sedang dirawat dirumah, jadi tadi aku sudah diwanti wanti untuk langsung pulang" jawabku " trus kamu bisanya kapan " tanyanya lagi " don, kalo mau jenguk hana kan nggak harus bareng aku, kamu bisa ajak teman yang laen. Lagian kalo mau jenguk hana ke rumah sakit, gak mungkin kan kita dateng rame rame " jawabku panjang lebar. " baiklah usulmu kuterima" ucap doni " don, nanti bisa kamu tawarin ke temen temen buat iuran jenguk hana, gak mungkinkan kita dateng dengan tangan kosong " usulku pada doni " kira kira berapa orang yang akan jenguk hana? " tanyanya lagi " kalo dirumah sakit maksimal tiga atau empat orang aja menurutku, kecuali kalo sudah dirumah, kita bisa dateng rame rame " usulku. Kebetulan aku didaulat jadi sekertaris kelas dan hana sebagai bendahara kelas. Kalau ada sesuatu hal biasanya kami komunikasikan bertiga. Berhubung hana sedang tidak ada, makanya kami bahas berdua. Usai membahas rencana menjenguk hana doni kembali kebangkunya yang bertepatan dengan bel masuk kelas. Aktifitas disekolah berjalan lancar seperti biasanya. Walau tidak ada hana suasana tetap riuh dikala jam istirahat mengudara. Aku yang merasa kesepian karna hana teman semejaku. Biasanya setiap istirahat pertama dia akan selalu mengajakku untuk menemaninya jajan diluar gerbang. Sekalipun kukatakan aku gak pengen jajan tapi dia akan selalu merajuk untuk ditemani. Sudah tiga hari dia tidak masuk sekolah. Dan kami dapat kabar dari wali kelas kalo hana dirawat dirumah sakit karna demam berdarah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN