mungkinkah ini jodohku 2

2021 Kata
" lila memang sudah waktunya berumah tangga, tapi lila sebagai anak juga tak bisa lepas tanggung jawab terhadap mereka sekalipun kelak lila harus mengabdi pada suami " ucapnya " kalo boleh tau tanggung jawab apa yang akan dek lila lakukan " tanyaku " sekalipun nanti lila menikah, lila tetap ingin meneruskan usaha rumah jahit, apalagi usaha lila yang selama ini bisa menopang kebutuhan keluarga dan juga untuk biaya adek kuliah, setidaknya dengan usaha tersebut lila tak perlu merepotkan suami untuk ikut membantu orang tua lila sendiri " ucapnya menjelaskan. " trus kalo sudah nikah nih, bagaimana dengan tempat tinggal? apakah tetap ikut orang tua atau ikut suami? " tanyaku " walau harus ikut suami tetapi kan lila masih bisa sambil ngelola rumah jahit " jawabnya " seandainya mas mengabulkan apa yang dek lila mau, apakah mas bisa diterima untuk melamarmu? " tanyaku meminta ijinnya. " in shaa Allah bisa mas " jawabnya dengan senyum mengembang. Akhirnya kelegaan itu menghampiriku. Usai pertemuan dan perbincangan tentang tujuan kami, kamipun memutuskan pulang dengan beriringan. Ah, tak berapa lama lagi jok motor belakangku akan ada pemilik yang mendudukinya setelah sekian lama kosong hanya kududuki sendiri. Tiba dikamar kos hati terasa masih merasa bahagia. Aku menghubungi ibuku menyampaikan maksud dan tujuanku. Ibu sangat antusias dan gembira mendengar pintaku untuk meminang gadis pilihanku. Ibu akan menyiapkan pernak pernik lamaran. Begitupun diriku mencari cincin yang akan kupersembahkan sebagai penanda dirinya siap untuk kunikahi. Aku tidak perlu pulang kerumah orang tuaku. " dah lah nak, tak perlu pulang lah, cukup kamu tunggu disitu tau beres aja, biar mami siapin apa apa aja yang akan diperlukan, kamu cukup persiapkan cincin aja untuk tunanganmu " jelas ibu panjang lebar. Aku pergi ketoko mas, buat memesan cincin pertunangan. Aku memilih cincin yang polosan namun disisi dalamnya terukir namanya dicincin yang akan kukenakan dan namaku dicincin yang akan dia kenakan. Aku juga meminta ijin pak rt untuk meminjamkan sementara tempatnya menampung kedatangan keluargaku. Tak lupa pula aku juga mengecek pekerjaan penyelesaian rumahku. Aku harus menambah beberapa orang pekerja untuk mempercepat penyelesaian rumahku. Setidaknya nanti setelah kami menikah rumah itu bisa kami tinggali. Hari lamaran telah tiba, orang tuaku dan beberapa kerabat dekatku telah tiba. Ada sekitar sepuluh orang belum termasuk keluarga pak rt dan pak rw. Bu rt sangat terkejut saat diberi tahu suaminya kalo orang tuaku akan datang dan singgah sementara ditempat beliau untuk melepas lelah sebelum kami berkunjung ke rumah pak jamal. Bu rt tidak menyangka kalo aku berkeinginan menikahi kalila. Sementara dalam pandangan bu rt aku tidak pernah kelihatan dekat sama kalila. " aduuh maaf bu, saya sama sekali tidak tau kalo mas panji ini suka sama anaknya pak jamal, karna selama ini saya tidak pernah lihat dia dekat sama kalila " ucap bu rt ke ibuku " saya juga dikasih taunya mendadak, saat itu dia telpon saya ' mih, panji mau lamar anak orang, mamih papih besok datang ya' gitu katanya, dikira kalo nglamar cuma bawa badan aja " balas ibuku bercerita dengan menampilkan mimik wajah yang lucu. " kan jamannya anak sekarang ya bu, pacarin dulu anaknya kadang sampai dibawa kemana mana baru setelah itu baru dilamarin " ujar bu rt " nak, sejak kapan kamu dekat sama gadismu ini " tanya ibu ke aku " gak lama sih bu, saat itu aku nganterin bahan ke dia minta buatin baju sama seragam, trus saat aku chat pengen deketin dia, dianya nyuruh untuk ijin ke bapaknya, trus ya udah aku minta tolong ke pak rt buat ijin ke bapaknya, habis itu bapaknya minta waktu, lanjut beberapa hari yang lalu dia ngasih ijin aku untuk bawa papi mami datang " ucapku menceritakan proses awal pertemuanku dengan kalila. " wah hebat itu bang, gak perlu basa basi tapi pasti jodoh dari pada pacaran lama lama akhirnya ditinggalin juga " ucap pamanku sambil menyindir kisah yang baru saja kualami. Kami memilih acara lamaran diakhir pekan karna bertepatan dengan hari liburku. Dengan begitu aku bisa menemani keluargaku yang beristirahat di rumah pak rt. Ada beberapa macam hantaran lamaran yang dibawa oleh rombongan ibuku. Aku gak tau apa saja macamnya. Usai sholat ashar kami menuju rumah pak jamal. Sebelumnya aku sudah memberitahukan pada kalila lewat telpon kalau hari ini keluargaku akan datang melamar. Aku juga menyampaikan ada berapa banyak pihak keliargaku yang akan ikut mendampingi. Hal itu kusampaikan agar pihak orang tuanya kalila bisa mempersiapkan tempatnya selaku tuan rumah. Rombongan yang datang sekitar lima belas orang termasuk dengan keluarga pak rt, sementara keluarga pak rw tadi pamit duluan karna beliau ditunjuk oleh pak jamal sebagai jubirnya tuan rumah. Kami disambut dengan ramah, ada beberapa warga sekitar rumah kalila yang ikut menyambut rombongan kami. Suasana terjalin hangat karna sebagian besar warga desa ini mengenalku sebagai anak kos tetangganya pak rt. Aku ngekos diwilayah ini sudah sekitar satu tahun yang lalu, jadi sudah lumayan sering berinteraksi dengan warga sekitar. Kami yang diwakili oleh pamanku selaku jubir keluargai mengutarakan maksud dan tujuannya datang untuk meminang putrinya pak jamaludin. Dan alhamdulillah acara lamaran berjalan dengan lancar. Sebagai penanda aku menyerahkan cincin tunangan pada ibuku dan kemudian ibuku yang menyematkan cincin tersebut dijari manis kalila. Hal itu kulakukan untuk menghormati kalila yang menghindari sentuhan dengan yang bukan muhrim. Dalam acara tersebut juga langsung dari pihak keluargaku meminta untuk segera menetapkan hari pernikahan kepada keluarga pak jamal. Ibuku juga memberikan uang belanja yang sudah dimasukkan daĺam amplop coklat untuk biaya penyelenggaraan acara. Selesai acara ramah tamah kami menikmati hidangan yang sudah disajikan di meja prasmanan oleh tuan rumah. Acara lamaran telah usai, kami tinggal menunggu jawaban kapan acara pernikahanakan dilangsungkan dari pihak calon besan. Kamipun pamit untuk kembali pulang. Kali ini kedua orang tuaku singgah ke kosku. " mamih pengen rebahan dulu tempat anak bujang, besok kalo kesini kan statusnya sudah beda, mamih gak mungkin bisa leluasa rebahan dikamarmu lagi " ucap ibuku Aku mempersilahkan orang tuaku untuk sidak kekamarku, sementara sopirnya bapakku lebih memilih istirahat dimobil aja, dan kerabat yang lain memilih pulang duluan. " ya ampun nak, jadi selama ini kamu ngekos dikamar segini? " tanya ibuku. Ya wajar aja beliau kaget dengan luas kamarku yang tak seberapa. Sementara dirumah luas kamarku dua kali lipat dari ukuran kamar kos ku. " kenapa ndak nyari kontrakan aja " tanya bapak. " merasa lebih nyaman aja pih, kalo ngontrak takutnya gak bisa membatasi pergaulan, lagian anak bujang pih, lagian juga kalo ngontrak takutnya nanti malah dijadiin basecam " jawabku menyampaikan alasanku. " oh ya, nanti kamu tanya calon istri kamu pengen konsep pernikahan impiannya itu yang bagaimana, masalah biaya nanti biar mamih yang tanggung, tapi ngomong ngomong mamih suka lho sama si lila itu, kayaknya anaknya gak neko neko " ucap ibuku " baguslah, papih juga suka smoga dia akan jadi jodoh pertama dan terakhirmu " ucap bapakku " aamiin " jawabku dan ibuku serentak. " gimana dengan pembangunan rumah barumu " tanya bapak " in shaa Allah dalam satu bulan kedepan sudah rampung " jawabku " trus rumah yang dikontrakkan? " tanya bapakku lagi " dia memperpanjang untuk dua tahun kedepan pak " jawabku " menurut mamih, kalo rumah barumu belum bisa ditempati, mending kalian ngontrak dulu aja, " saran ibuku " iya mih, masalah itu nanti bisa kubicarakan dulu sama dek lila " jawabku. Tak sampai dua jam istirahat di kamar kosku, beliau memutuskan untuk lanjut pulang. Orang tuaku sangat memahami bagaimana diriku. Walau orang tuaku termasuk keluarga berada tapi aku lebih suka mandiri dengan hasil jerih payahku sendiri. Dulu awal beli sapi dari uang tabunganku yang saat itu baru mampu beli seekor untuk penggemukan. Kebetulan yang memelihara petani yang kerja dikebun orang tuaku, dari situ sapiku bertambah dan berkembang biak tanpa aku harus repot repot memeliharanya langsung. Sekitar sembilan tahun yang lalu setelah lulus SMP aku memulai usaha itu. Trus tiga tahun yang lalu ada temen jual rumah diperumahan dekat dengan aku kerja saat ini. Saat itu kutempati sendiri, trus sering jadi tempat ngumpul teman, bahkan ada yang sering ngajak pacarnya maen kerumah, lama lama aku jadi merasa gak nyaman dengan privasiku sendiri. Akhirnya aku memutuskan untuk ngekos aja dan rumahnya aku kontrakkan. Satu tahun yang lalu aku beli sebidang tanah, yang sekarang kudirikan bangunan untuk rumah tempat tinggal. Awal rumah ini kubangun untuk tempat tinggal memang kuniatkan untuk kutempati dengan istriku nanti. Kalo dulu posisinya aku masih dengan mantan tunanganku dulu jadi kupikir saat rumahnya siap akan jadi surprise buat dia, nggak taunya aku yang dapat surprise duluan. Walau pihak keluargaku menyanggupi menanggung seluruh biaya pesta, kalila tetap memilih dengan kesederhanaannya. Dia menolak memesan gaun pengantin dan lebih memilih sewa pada WO nya. " kenapa harus pesan dengan biaya mahal mas, sayang uangnya masih bisa dipake untuk kebutuhan yang lain yang lebih penting " ujarnya saat aku mengajaknya pesan baju pengantin. Akhirnya hari pernikahanku tiba juga. Kali ini ada sekitar sepuluh mobil yang mengiringi mobil kami. Lumayan meriah acara resepsinya walau aku hanya mengundang teman kantor saja. Rumah sederhana itu sudah disulap mirip dalam sebuah gedung. Tak sia sia ibuku mengucurkan dana untuk pesta ini. Bahkan warga sekitar seakan tidak percaya jika orang tuaku yang punya andil besar dalam terlaksanya pesta ini. Usai pesta seluruh rombongan keluargaku kembali kerumah. Mau nggak mau untuk sementara aku ikut tinggal dirumah mertua. Aku dipersilahkan memasuki kamar yang selama ini kalila tempati. Luas kamarnya sama seperti luas kamar kosku. Yang membedakan hanya tak ada kamar mandi didalamnya. Malam ini terasa canggung bagi kami. Bagiku malam ini kalila terlihat sangat cantik. Dia sangat kikuk saat mau melepas baju pengantinnya. " sini mas bantuin melepasnya " tawarku saat melihatnya kesulitan menurunkan rit yang ada dibelakang punggungnya. " iya mas, minta tolong soalnya bajunya sudah ditunggu mau dibawa pulang " ucapnya " ya begini kalo resiko barang sewaan, selesai kontrak langsung kembalikan " ucapku sambil duduk membelakanginya. " sini biar ku kasihkan ke mbaknya " ucapku sambil menerima baju pengantin yang belum dilipat. " belum selesai mas, ini kerudungnya belum selesai aku lepas " ucapnya sambil melepas hijabnya " mas yang nganter atau aku aja? " tanyanya " ya sudah mas aja, cuma ini atau masih ada yang lain? " tanyaku memastikan Aku menyerahkan pakaian pengantin dan aksesorisnya pada asisten WO . Setelah itu aku kembali ke kamar. Kalila sudah selesai membersihkan seluruh make up nya . Aku sungguh terpesona saat melihatnya tanpa jilbabnya. Dia hanya menunduk. Aku mendekatinya dan kubisikkan doa ditelinga kanannya. Semoga Allah selalu memberkahi pernikahan kami. Doaku dalam hati. Dengan bismillah kurengguk nikmatnya surga dunia yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. Kalila merupakan anugrahku. Tak henti hentinya aku memujinya akan ketulusan dan kelembutannya melayaniku. Hari pertama tinggal ditempat mertua, kesibukan masih terasa, karna harus memberesi dan membersihkan sisa sisa pesta semalam. Nuril adiknya kalila juga ada dirumah. Dia mengajukan ijin kuliah beberapa hari untuk menghadiri acara kami. Disaat orang lain sibuk diluar, aku diajak untuk membuka amplop dan kado dari para undangan yang datang. Layaknya seperti raja aku dilayani dari bangun tidurku hingga menuju lelapku. Aku menyadari walau kami masih dalam proses adaptasi. Lima hari sudah aku tinggal ditempat mertuaku, hingga kini jadwalnya orang tuaku mengadakan acara ngunduh mantu. Tidak tanggung tanggung acara besar telah orang tuaku siapkan. Bahkan beliau mengirimkan dua armada bis untuk sarana membawa tetangga sekitar kami tinggal. Kata ibuku biar mereka juga ikut menikmati acara yang beliau gelar. Ini perhelatan pesta besar, karna orang tuaku menyebar banyak undangan. Katanya pesta terakhir untuk anak bungsunya. Kami mulai menapaki awal kehidupan rumah tangga kami. Tiap akhir pekan aku mengajak istriku menghabiskan waktu mengunjungi orang tuaku, sementara hari hari biasa kami tinggal dikamar kos. Aku memang sengaja karna ingin mengujinya seberapa besar ketulusannya menerimaku sebagai suaminya. Aku juga mengijinkan istriku untuk beraktifitas dengan usahanya. Untuk hasil gajiku, kupercayakan pada istriku untuk mengelolanya. Aku masih merahasiakan soal rumah yang sedang dalam tahap penyelesaian. Untuk furniture aku memang sengaja pesan khusus sesuai keinginan. Aku memang mengorek informasi dari istriku soal membangun rumah impian. Ada beberapa hal yang harus kusesuaikan dengan impian istriku, seperti model kichen setnya dan ruangan lainnya. Dalam waktu dua bulan akhirnya rumah yang kubangun sudah siap kutempati. Sengaja ibuku menggelar acara syukuran untukku menempati rumah baru. Bahagia rasanya saat bisa memberikan kejutan manis untuk orang kesayangan. Semoga kami menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah, aamiin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN