Namanya kalila, dia anaknya pak jamaludin dan bu kusrani. Enam tahun yang lalu setelah tamat SMP dia pergi merantau keluar daerah dan sekarang pulang langsung buka rumah jahit. Sekilas info yang kudapat dari bu rt saat berkunjung kerumah ibu kosku. Wah hebat wanita tangguh, gumamku dalam hati. Enam tahun yang lalu saat awal aku memasuki daerah ini kuamati mayoritas anak gadis setelah lulus SMA langsung nikah. Bahkan ada yang setelah lulus SMP langsung nikah. Mereka juga tidak mempermasalahkah legalitas pernikahannya. Yang penting sah secara agama itu sudah cukup. Namun setelah ada peraturan baru mengenai data, masyarakat mulai berbenah dah peduli. Kalo dulu satu orang bisa punya KTP lebih dari satu, tapi kalo sekarang pengisian datanya lebih diperketat, dari mulai anak lahir harus punya akte kelahiran, syarat akte kelahiran harus ada buku nikah. Sementara yang tidak punya buku nikah akte kelahiran anaknya yang boleh tercantum hanya nama ibunya. Syarat buku nikah ada kalo menikahnya sudah cukup umur atau minimal umur dua puluh tahun, sedangkan kalo belum cukup umur negara belum bisa mengeluarkan buku nikah. Makanya sekarang masyarakat kuno sudah mulai nurut sama peraturan baru, katanya biar gak ribet dan bikin mumet.
Hari ini aku dapat oleh oleh bahan batik dari teman dan juga aku masih punya bahan polos untuk baju dinas. Berhubung ada penjahit yang terdekat, aku coba jahitkan kesitu aja, karna saat k****a papan namanya ' menerima jahit pakaian pria dan wanita '.
Saat ketemu pertama kali, anaknya manis dan kalem juga sederhana dilihat dari tutur kata, sikap dan penampilannya.
Aku merasa salut saat mengukur, dia membutuhkan sampel pakaian jadiku. Repot sih, karna aku harus balik ke kos buat ambil .pakaian contoh. Tapi disisi lain aku menghargainya, karna dia menghindari sentuhan yang bukan muhrimnya.
Beberapa hari yang lalu aku mencoba untuk berkirim pesan padanya, bukan berniat iseng, tapi memang bingung mau memulai komunikasi dari mana. Dia tidak menganggap iseng tapi ditanggapi dengan serius. Alhasil aku merasa senang dan berjumpalitan didalam kamar kos ku sendiri. Seandainya aku bisa menjadi suaminya aku akan memuliakan dia dan keluarganya.
Aku bungsu dari dua bersaudara. Orang tuaku juragannya petani, kenapa aku menyebutnya begitu, karna orang tuaku mempunyai puluhan hektar kebun karet dan sawit. Bapak ke kebun hanya sebagai pengisi waktu luangnya. Sementara ibuku hanya sebagai ibu rumah tangga. Kakakku sudah berkeluarga dan tinggal dijakarta. Gak tau kenapa kakakku tidak berminat mengelola kebun yang orang tuaku punya. Kakakku sudah memiliki dua orang putra yang setiap lebaran tiba akan meramaikan suasana rumah orang tuaku. Aku bekerja disalah satu instansi pemerintah sebagai PNS. Usaha sampinganku beternak. Bukan aku yang beternak secara langsung tapi aku titipkan pada petani dengan sistem bagi hasil. Aku menitipkan sapi dan kerbau. Kalau betina maka sistem bagi hasilnya adalah anaknya, jadi kalo sapinya melahirkan anak pertama jadi milikku dan anak kedua baru yang memelihara. Tapi kalo pejantan bagi hasil keuntungan penjualan biasanya enam puluh persen pemilik dan empat puluh persen pemelihara. Dari sekian banyak ternak kalo dihitung aku sudah memilki seratus lima puluh ekor sapi dan tujuh puluh lima ekor kerbau.
Jarak rumah orang tuaku tinggal dengan tempat kerjaku lumayan jauh karna berbeda kabupaten. Biasa kutempuh dalam dua jam kendaraan bermotor. Tapi aku lebih senang ngekos aja biar gak ribet. Sebenarnya aku juga sudah punya dua rumah, tapi rumah itu aku kontrakkan dan satunya lagi baru selesai dibangun. Rencananya rumah baruku akan kuhadiahkan untuk istriku.
Sebenarnya aku dulu sudah bertunangan, rencananya sebulan yang lalu mau menentukan hari pernikahan, tapi sebelum hari itu ditetapkan aku mengetahui tunanganku sudah memiliki kekasih. Ya dengan terpaksa aku batalkan. Kecewa, sakit hati dan frustasi itu pasti, tapi aku seneng, setidaknya itu terjadi sebelum kami menikah.
Orang tuaku orangnya sangat bijak terhadap pilihan anak anaknya. Beliau tak pernah memaksakan kehendaknya pada anak anaknya. Beliau hanya berpesan jaga prilaku dan jangan sembarangan dengan anak gadis orang. Beliau mengatakan ' siapapun dia yang penting seiman, sayang terhadap orang tuanya dan saudaranya, mau menerima kelebihan dan kekuranganku, maka bawalah kemari untuk kamu kenalkan pada kami '
Setelah terima balasan untuk meminta ijin pada ayahnya, aku memang merasa senang luar biasa. Ya Allah, mungkinkah ini jodohku gumamku dalam hati.
Disini aku memang tak punya keluarga dekat. Orang dekat yang kuanggap keluarga ya hanya keluarganya pak rt. Beliau merupakan salah satu tokoh yang disegani warga sekitar aku tinggal. Dengan beliaulah aku merasa nyaman untuk saling bertukar pikiran.
Aku bekunjung ke rumah pak rt yang kebetulan disitu ada juga pak rw. Kami saling bertukar pikiran mengenai sekitar permasalahan warga. Mulai dari penanganan sampah yang dibuang ke kali juga mengenai rasa enggan warga untuk mengurus bpjs sejak dini. Ini kalo pas sedang ada kejadian baru sibuk ngurus bpjs. Nanti ujung ujungnya perangkat desa yang disalahkan. Bu rt menyuguhkan minuman dan cemilan, sehingga obrolan kami semakin panjang.
Akhirnya aku menyampaikan ke pak rt niatku untuk menanyakan anaknya pak jamaludin. Siapa tau beliau berkenan aku untuk menjadi menantu.
" sejak kapan nak panji tau sama anaknya pak jamal? " tanya pak rt
" waktu masukkan bahan jahitan beberapa hari yang lalu " jawabku
" lha sudah ada PDKT belum sama anaknya " tanya pak rt lagi
" niatnya sih, mau PDKT dulu pak, tapi anaknya malah suruh ijin ke bapaknya " jelasku
" wah, bagus itu mas, jarang lho anak sekarang bersikap seperti itu, kebanyakan deketin anaknya dulu baru ijin bapaknya " ucap pak rw.
" iya pak, siapa tau jodoh, bapaknya mengijinkan dan anaknya mau nerima " ujarku
" aamiin " jawab pak rt dan pak rw serentak.
" kira kira kapan waktunya, semakin cepat kan semakin baik kalo niat baik itu disampaikan " ucap pak rt
" saya ngikut pak rt saja kapan punya waktu senggang " jawabku
" baiklah, besok saya kabari aja ya nak " kata pak rt.
Malam itupun berlalu tanpa kulewatkan dengan doa bermunajat kepadaNya. Selalu kupinta jikalau dia jodoh terbaikku, maka beri aku jalan kemudahan untuk meraihnya.
Pada malam kedua setelah perbincanganku dengan pak rt, kami mengunjungi rumah pak jamal. Pak rt sebagai perwakilan orang tuaku. Beliau menyampaikan keinginanku untuk mengenal putrinya. Kami disambut dengan baik, dan mengijinkan aku untuk mengenal putrinya. Dari situ kami juga baru tau kalo tadi sore sebelum kami datang juga sudah ada keluarga yang menanyakan putrinya dan berniat ingin meminangnya. Namun belum ada jawaban dari putrinya karna putrinya masih meminta waktu untuk menjawabnya. Akupun mengerti dan menghormati jawaban beliau saat beliau juga meminta waktu memberikan jawaban. Akupun masih ada harapan untuk bisa menjadi menantunya.
Tak apa apa, sebelum janur kuning melengkung, masih ada waktu untuk melangitkan pintaku pada sang pemilik hatiNya.
Hari hari kulewati seperti biasa, belum ada kelanjutan cerita aku harus bagaimana merajut asa bersama kalila.
Siang ini bersama teman teman kami makan bersama dikafe xx dalam rangka perpisahan dengan rekan kerja. Sekilas aku melihat kalila duduk berhadapan dengan seorang pria. Aku hanya bisa mengamatinya dari kejauhan. Kelihatannya pertemuan mereka sedang membahas sesuatu yang serius. Mungkinkah dia salah satu yang menjadi rivalku tanyaku dalam hati. Sampai acara makan kami usai kalila dan teman bicaranya masih berada ditempat. Sepintas lalu kulihat lelaki yang ada dihadapan kalila cukup gagah. Akupun berlalu dari kafe itu, tanpa ada rasa ingin menyapa.
Beberapa hari kemudian aku ketemu dengan kalila, saat itu dia mau kepasar dan ban motornya bocor. Aku berhenti dan menyapanya. Lalu akupun membantunya membawa motornya dengan jalan kaki, sementara dia membawa motorku dengan mengendarainya pelan pelan. Padahal sudah kusuruh untuk laju duluan saja, tapi dianya memilih mengiringiku. Ya Allah, rasanya musibah yang membawa berkah. Benarkah aku sudah benar benar menyukainya? tanyaku dalam hati. Walau saat ini pertemuan yang minim kata diantara kami tapi menimbulkan banyak rasa bahagia. Ya Allah, jadikan dia sebagai jodohku, doaku dalam hati.
Saat kami sudah sampai bengkel tambal ban, aku tetap menemaninya menunggu ban motornya selese ditambal. Dia menyodorkan segelas es dawet. Rasanya membuat adem tenggorokan dan hatiku mendapat perhatian darinya. Sayangnya tenggorokanku memiliki rasa sensitif terhadap pemanis buatan, jadi setelah menghabiskan segelas cendol aku buru buru mencari air mineral untuk menetralkan rasa yang mulai menggelitik ditenggorokanku. Akupun memberinya sebotol air mineral juga kepadanya.
Usai ban motornya ditambal kamipun pisah jalan. Dia melanjutkan kepasar sementara aku langsung pulang ke kosan. Sore harinya aku dipanggil untuk datang ke rumah pak rt.
" gimana mas panji, kelanjutan hubunganmu dengan anaknya pak jamal " tanya pak rt
" belum ada pak, masih jalan ditempat " jawabku
" denger denger kemaren rumahnya pak jamal kedatangan tamu, katanya sih dia mau melamar putrinya, tapi sepertinya lamarannya ditolak " cerita pak rt
" ntar apa yang dicari si lila itu, orang kok ndak liat umur, lagian kalo diliat yang nglamar juga bukan orang biasa, pamali gadis sudah berumur nolak lamaran lelaki, nanti dia bisa jadi perawan tua " ujar bu rt dengan setengah emosi.
" ibu jangan sembarangan ngomong lho, mereka kan punya alasan sendiri kenapa menolaknya " jelas pak rt.
" lho, jaman sekarang itu susah lho pak nyari suami yang seperti itu. Mapan berpendidikan, harusnya dia sadar kondisi orang tuanya bagaimana, lha ini ada yang mau mengangkat derajat orang tuanya, dia juga akan dapat nama, sayang aja kalo dilewatkan " ujar bu rt masih dalam mode sewot.
" udah deh, ibu gak usah sibuk ikut memikirkan urusan mereka " ucap pak rt meredam ucapan istrinya. Akhirnya bu rt diam dan berlalu dari hadapan kami.
" sepertinya peluangnya berhasilnya lebih besar mas panji " ucap pak rt sambil tersenyum menatapku.
" in shaa Allah, mohon doanya juga pak, " ucapku
" kalo memang jodohnya, pasti nanti akan Allah permudah prosesnya " ucap pak rt lagi
" aamiin " jawabku.
Akupun pamit untuk kembali ke kos karna sore mulai beranjak petang.
( assalamualaikum dek lila, bagaimana kabarnya ) tulisku
ting
hapeku berdenting
( walaikumsalam mas, alhamdulillah kabarnya baik ) balasnya
( maaf sebelumnya, apakah dek lila berkenan orang tuaku datang untuk silaturahmi? ) tulsku
( maaf juga, bolehkan kita bertemu sebelum orang tuanya mas panji datang kemari? ) balasnya
( tentu saja boleh kalo selain hari sabtu minggu, saya ada waktu setelah waktu ashar ) balasku, karna aku harus mengikuti ritme jam kerjaku.
( baiklah mas, kalo besok sore jam empat kita ketemu di cafe bambu? ) tulisnya
( siap dek, besok aku akan kesana ) balasku.
Mungkinkan akan ada sesi tanya jawab dulu secara pribadi sebelum dia menerima lamaranku? banyak pertanyaan berkecamuk dalam pikiranku.
Mungkinkah saat aku melihatnya di cafe xx dia sedang mengajukan negosiasi?
Waktu yang dijanjikan telah tiba, aku datang sesuai janjiku. Kususuri area kafe dengan penglihatanku. Ternyata kalila sudah menungguku dimeja area taman. Dia mengangkat tangannya saat pandanganku melihatnya. Seulas senyum menyapaku, membuat d**a ini berdebar tiba tiba.
" sudah lama nunggunya? " tanyaku begitu aku sudah duduk dihadapannya.
" aku baru sampai juga kok mas, " jawabnya
" syukurlah kalo gitu berarti tak perlu jenuh menunggu " ucapku sambil tersenyum.
Seorang pelayan mendatangi meja kami dan mencatat pesanan kami. Aku memilih menu nasi goreng dan jus jeruk sementara kalila memilih mie goreng dan jus alpukat.
" aduh rasanya kok jadi deg degan kayak lagi ngadepin ujian " ucapku sambil menggosok kedua tanganku dibawah meja mengurangi rasa nervousku.
" santai aja sih mas, tapi dianggap serius " jawabnya sambil tersenyum
" maaf sebelumnya kalo kalila merepotkan waktu mas panji. Pertemuan ini kalila anggap sebagai tolak ukur akan keputusan yang akan kalila ambil, karna ini menyangkut masa depan kalila dan keluarga kalila " ucapnya tegas.
MasyaAllah baru kali ini ketemu cewek yang tegas tanpa basa basi. Serasa sedang menghadap ibu kepala sekolah auranya.
Suasana hening sesaat saat pelayan datang mengantarkan menu pesanan kami.
" kita makan dulu aja dek, mumpung masih hangat " ucapku
Suasana kembali hening dengan kami menikmati hidangan yang sudah disajikan.
" silahkan apa yang ingin dek lila ketahui " ucapku setelah kami selesai menyantap hidangan.
" mas panji serius dengan lila? " tanyanya
" in shaa Allah hati mas mantap memilih dek lila untuk menjadi pendamping mas " jawabku mantap
" ada beberapa hal yang ingin kalila utarakan, apakah mas panji berkenan? " tanyanya
" silahkan " jawabku
" Dengan pria manapun kalila mau menikah asalkan dia seiman, tidak meninggalkan sholat lima waktu, sayang dan cinta terhadap orang tua dan keluarga, bertanggung jawab dan mau menerima segala kekurangan dan keburukan pasangan " ucapnya