keputusanku

2034 Kata
" bu, sepertinya mas fajar bukan orang yang lila inginkan " ucapku sama ibu " lha tadi siang waktu ketemu kalian bahas apa? " tanya ibu " dia menyampaikan kriterianya istrinya itu harus dirumah, dia gak perlu kerja, ngurus anak anaknya, selalu menyambut kedatangan suami " jelasku " lha tanggapanmu gimana? " tanya ibi " lila gak bisa bu, kalo mengikuti apa yang diinginkan mas fajar " jawabku " lila tu pengennya, walaupun nanti lila sudah menikah, usaha lila tetang rumah jahit ini harus tetep ada, lila tetep bisa membiayai ibu bapak juga adek, lila gak mau gara gara lila nikah nanti adek putus kuliah " jelasku " ya nanti kamu sampaikan alasanmu ke bapakmu, kalo kamu nggak mau nglanjutin rencananya bapak " ujar ibuku " iya bu " jawabku MALAM HARINYA " pak, sebelumnya lila minta maaf kalau lila mengecewakan bapak " ucapku " memangnya ada apa " tanya bapak " lila memutuskan untuk menolak lamarannya mas fajar " jawabku " kamu tu memang anak gak tau diuntung, apa kurangnya fajar? kalo kamu nikah sama dia hidupmu akan enak gak perlu susah susah cari duit " ucap bapak dengan intonasi tinggi. " justru itu pak, lila masih pengen ngembangi usaha rumah jahit yang sudah lila bangun " jelasku " orang tua mencarikan jodoh anaknya itu gak sembarangan, lagian kamu itu sudah lewat umur, masih bersyukur si fajar punya niat baik mau ngelamar kamu, lha terus kalo kamu sampe nolak lamaranne fajar, trus siapa lagi yang mau ngelamar kamu, semakin tambah umur itu semakin susah dapat jodoh " ucap bapak dengan wajah masam Aku hanya bisa menangis mendengar ucapan bapak seperti itu. Ibu menyusulku ke kamar. " sudah nduk jangan bersedih, yang penting sudah kamu sampaikan apa yang jadi ganjalan hati kamu, sisanya perbanyak sholat hajatmu, minta langsung sama Allah, semoga Allah mengabulkan apa yang kamu inginkan " ucap ibu menenangkanku. TING notifikasi dari hapeku berbunyi ( bagaimana lil, dengan jawabanmu tempo hari ) ( bolehkah aku meminangmu ) ( apapun keputusanmu, aku akan sangat menghormati dan menghargainya ) Chat dari doni k****a berulang kali. Aku sadar aku punya rasa untuknya, tapi aku juga sadar aku tak mampu berpisah jauh lagi dari ibuku. Doni tak mau jika harus meninggalkan pekerjaannya, apalagi saat ini dia menduduki posisi penting di sebuah perusahaan. Andaikata kami menikah nanti, dia tetap menginginkan aku mendampingi dimana dia tinggal. Dengan sangat terpaksa aku menolaknya karna aku tak bisa memenuhi keinginannya. Siang ini aku mengecek target penyelesaian pekerjaan satu minggu kedepan. Dengan begitu aku bisa memprediksikan apa apa yang kurang dan apa yang dibutuhkan. Jadi saat dalam proses pengerjaan tidak akan terhambat berhenti karna masih ada kekurangan. Aku belanja kadang lewat olshop, selain harganya murah, aksesoris atau manik manik yang yang tersedia lebih lengkap pilihannya. Tapi kalo ini barang barang yang kubutuhkan ada dipasar desaku. Jarak pasar dengan tempat tinggalku sekitar sepuluh KM, jadi ya lumayan juga jauhnya. Toko langgananku tutup sore hari, jadi habis sholat dzuhur aku pergi kepasar dengan motor maticku. Baru sampai pertengahan jalan, tiba tiba ban motorku gembes. Wah repot ini, mana tukang tambal bannya juga masih jauh. Terpaksa aku harus menuntunnya sampai bengkel terdekat. Belum ada lima menit jalan. " assalamualaikum dek " tiba tiba ada motor yang menghampiriku " walaikumsalam, hah " jawabku sambil menoleh terkejut. Biasanya mas panji memanggilku dengan panggilan ' mbak '. " eh mas panji " ucapku " kenapa motornya " tanyanya sambil mematikan motornya dan menstandarkannya. " ini bannya bocor " jawabku sambil nunjuk ban belakangku. " ya udah ini dek lila pake motorku dulu, biar motornya ini aku yang nuntun sampe tambal ban " ucapnya sambil menyerahkan kunci motornya. Akhirnya aku pke motornya mas panji, sementara mas panji yang nuntun motorku. Sebenarnya mas panji menyuruhku untuk jalan duluan sampe bengkel tambal ban, tapi aku gak mau, jadi aku lebih mengiringinya pelan pelan. " dek lila mau kemana? " tanyanya " mau kepasar mas, mau belanja kebutuhan rumah jahit, lha mas panji dari mana? kok lewat sini! " tanyaku " oo ini tadi habis penyuluhan dari desa sebelah " jawabnya. Sekitar dua puluh menit kami berjalan baru nyampe ditempat bengkel tambal ban. Kulihat peluh menetes dari pelipisnya, punggungnya pun terlihat basah hingga tembus ke baju dinasnya. Kebetulan disebelah bengkel ada penjual dawet, akupun memesan dua gelas untukku dan mas panji. " ini mas minum dulu " tawarku sambil menyodorkan gelas dawetnya " eh iya makasih, tau aja kalo aku haus " jawabnya " taulah soalnya kelihatan dari bajunya " jawabku sambil tersenyum " memang ada apa dengan bajunya? " tanyanya sambil melihat kearah dirinya sendiri " itu lho bagian punggungnya basah keringetan " jawabku menjelaskan " oooh iya ya " ucapnya sambil manggut manggut. " mas, lila ditinggal aja nggak papa, kan cuma tambal ban aja kok " ucapku setelah dia sudah menghabiskan dawetnya. " gak papa juga ditungguin, biar gak takut ilang " jawabnya tersenyum " ini buat dek lila biar hilang dahaganya " ucapnya sambil menyodorkan air mineral botolan. Kupikir mas panji mau pulang nggak taunya ke warung samping bengkel buat beli air mineral. " eh mas panji masih haus tho, lila sudah cukup kok mas, " ucapku sambil kembali menyodorkan botol itu ke mas panji. " udah dibawa aja buat jaga jaga nanti kalo kehausan dijalan " ucapnya. Akhirnya botol mineral tersebut kumasukkan dalam kabin motorku. Selesai ditambal ternyata mas panji yang bayarin ongkos tambalnya. Walau aku merasa sungkan tapi mau bagaimana lagi mas panji menolak uangku. Akhirnya kami berpisah jalan, mas panji pulang ke kosnya sementara aku lanjut kepasar belanja. Sampai saat ini belum banyak komunikasi yang terjalin antara aku dan mas panji setelah datang ke rumah. Seperti biasa sebelum pulang kerumah aku pasti akan mampir beli siomai dulu. Gak tau kenapa kami, terutama aku paling suka dengan siomay. Jadilah aku beli empat porsi dibungkus untuk kubawa pulang. Kalo dulu setiap aku keluar dengan adikku, pasti kami akan mampir makan disini. Tapi kalo sekarang aku belum pernah makan disini sendirian. Mungkin lain waktu aku akan ngajak romlah atau ibu untuk menemaniku makan disini. Ting notifikasi hapeku berbunyi saat aku baru sampai rumah. Setelah menyerahkan belanjaanku dan nota belanja pada romlah, aku juga menyerahkan plastik bungkusan siomay pada ibu. Aku berlalu dari ruang jahit masuk kekamarku, memeriksa ponselku yang masih berada didalam tas. ( assalamualaikum, dik lila sudah sampe rumah apa belum ) tulis chat dari mas panji (walaikumsalam, Alhamdulillah baru sampe rumah ) balasku. ( makasih ya sudah bantuin lila tadi ) susul tulisku ( alhamdulillah kalo sudah sampai rumah ) tulisnya Malam harinya setelah waktu isya orang tua mas fajar dan mas fajar datang bertamu ke rumah. Kami sama sama terkejut karna kedatangannya tanpa pemberitahuan hingga kami tidak ada persiapan untuk menjamunya. " ini ada sedikit oleh oleh dari kami mbak yu " ucap ibunya mas fajar ke ibuku " wah kok repot repot gini " jawab ibuku dan berlalu menuju dapur. Akupun membantu ibu membuatkan minuman dan menyuguhkan cemilan dalam toples yang biasa kupersiapkan untuk menemaniku mencari referensi mencari info model terbaru lewat postingan medsos. " kok repot repot lil " ucap ibunya mas fajar " nggak repot bu, hanya sebatas air minum aja " jawabku sambil menyuguhkan. " gini lho mbak yu, kangmas dan lila, selain kami kesini untuk silaturahmi, kami juga mau minta jawaban kepastian mengenai permintaan fajar untuk meminang lila " ucap ibunya fajar. " mengenai jawaban itu tetap kuserahkan pada kalila sendiri mbak, karna bagaimanapun juga nanti kedepannya juga kalila yang akan menjalaninya " ucap bapak sambil memandangku sendu. " bagaimana lila, ibu ingin mendengarkan jawabanmu secara langsung " ucap ibunya fajar sambil memandangku lembut. Aku gemetar tiba tiba, ada perasaan takut dan cemas yang datang secara beramaan. Aku meremas jemariku dalam genggaman. Keringat dingin membasahi kedua telapak tanganku. Tangan kanan ibuku meraih tangan kiriku dan menggenggamnya seolah menyalurkan rasa ketenangan. " sebelumnya kalila minta maaf bu, apabila ada salah kata dalam berucap, beberapa hari yang lalu saya dan mas fajar sudah bertemu secara pribadi berdua dan membicarakan masalah ini. Saat ini kalila sedang merintis buka usaha jahitan, memang sih terkesan masih jalan ditempat. Jujur saja kalila tidak bisa meninggalkan usaha ini seandainya kalila menikah nanti " ucapku dengan d**a yang berdebar. " ibu ngerti dengan keinginan kamu nak, tapi seandainya nanti kamu sudah menikah dengan fajar kamu kan tidak perlu repot repot cari uang lagi, apalagi nanti setelah menikah dan punya anak, waktumu pasti akan tersita untuk ngurus anak dan suamimu " ucap ibunya mas fajar " maaf sekali lagi kalila minta maaf bu, kalila tetap nggak bisa " jawabku pelan. " berarti kamu sudah mantap menolak fajar? " tanya ibunya mas fajar sambil menatapku tajam " saya tetap berharap mas fajar bisa mendapatkan istri yang lebih baik dari saya dan sesuai yang diharapkan mas fajar " jawabku sambil menunduk Alhamdulillah pertemuan itu berakhir dengan lancar dan baik. Walaupun jawabanku mengecewakan mereka. Mereka juga menghargai keputusanku. " kamu itu gimana sih, masih kurang apa keluarganya si fajar itu? kamu mau ngarepin suami yang seperti apa?, apa kamu mau nerima lamarannya siapa itu, yang diantar pak rt itu iya? " tanya bapak dengan kesal. " siapapun itu pak, yang penting dia mau bertanggung jawab dan mau mengerti apa yang kalila inginkan " jawabku " kenapa rumah jahit ini yang kamu jadikan alasan " tanya bapakku. " bagaimanapun juga kalila nggak mau keinginan kalila untuk melanjutkan usaha ini kandas karna adanya pernikahan " jawabku " dengan adanya lila punya usaha, lila tetap bisa bantu orang tua secara finansial tanpa merepotkan suami, begitu juga lila bisa tetap membantu biaya sekolahnya adek " jelasku memohon pengertiannya bapak. " lila, kalo sudah waktunya kamu mau menikah ya tetap menikah aja nak, jangan jadikan kami dan adikmu sebagai bebanmu, apalagi nanti setelah menikah kamu tetap harus ikut suami kamu, jangan kuatirkan kami, kalo soal rejeki, in shaa Allah nanti ada jalannya " ucap ibu menenangkan. " bu, lila selalu berdoa dan memohon sama Allah, siapapun jodoh lila nanti, dia mau mengerti dan mau menghormati apa yang menjadi keiinginan lila " jawabku mencoba memberi penjelasan pada ibu. Walau bapak merasa kecewa dengan keputusanķu tapi bapak tidak memaksakan kehendaknya. Dari hasil usahaku mendirikan rumah jahit aku bisa membiayai adikku kuliah dan menabung untuk rencana pengembangan usahaku. Selain itu aku juga menyisihkan uang untuk memperbaiki rumah orang tuaku. Kali ini aku memperbaiki kamar orang tuaku dan kamar adikku. Gak papalah memperbaikinya secara bertahap aja sesuai kemampuan yang penting jangan sampai berhutang. Alhamdulillah usaha rumah jahitku berjalan lancar. Walaupun sudah dibantu ibu dan romlah, antrian masih saja panjang hingga sampai sebulan. Hari ini ada rombongan pkk dari kampung sebelah ingin menjahitkan baju seragam. Ada sepuluh orang mereka minta dijadikan dalam waktu tiga hari. Seperti biasanya kami menerapkan harga ekspres dan mereka menyetujuinya. " rom, kamu bisa lembur kan? " tanyaku padanya " in shaa Allah bisa mbk " jawabnya Dalam waktu lima hari kami selalu lembur untuk menyelesaikan pesanan pelanggan ekspres. " mbak, kayaknya dalam minggu depan kita perlu kejar tayang lagi loh " ucap romlah padaku " lho memangnya ada apa? kamu mau ngajuin cuti? " tanyaku. Karna aku selalu menyelesaikan pesanan sesuai target, jadi disaat salah satu dari kami mau libur, kami akan menyelesaikan pekerjaan kami sebelumnya. Jadi disaat pelanggan datang, pesanannya sudah kami siapkan. " nggak gitu sìh mbak, kemaren keluarganya kang muslih sudah ngasih tanggal akad dan resepsinya " jelas romlah " alhamdulillah, kapan rom " tanyaku " bulan depan mbak minggu awal, trus acara yang di tempat kang mus lima hari setelah ijab " jelas romlah lagi. " trus kamu liburnya mau berapa hari? " tanyaku " ijinku sepuluh harian mbk " jawabnya " ya sudah gak papa kalo gitu, semoga kita selalu diberi kesehatan ya, biar bisa lancar smuanya " ucapku. " ngomong ngomong, setelah nikah nanti apakah suamimu nanti akan mengijinkanmu bekerja disini? " tanyaku, soalnya kalo sampai suaminya romlah tidak mengijinkan dia untuk bekerja lagi, aku harus segera nyari pekerja lagi agar pekerjaan yang ada tidak sampai keteteran. " in shaa Allah masih diijinkan selama akunya masih bisa bagi waktu buat ngurus rumah dan suami " kata romlah. Romlah mau menikah disaat berumur dua puluh tahun, Sementara aku sudah mendekati dua puluh empat belum menentukan siapa yang akan jdi pasanganku. Aku yakin suatu saat nanti Allah akan mengirimkan jodoh yang tepat untukku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN