lamaran beruntun

2005 Kata
Alhamdulillah, berkat dibantu romlah pekerjaanku semakin tertata. Aku bisa menerapkan enam hari kerja. Romlah juga sama sepertiku, tidak melanjutkan kuliah setelah lulus SMA. Siang ini ada kurir nganterin paket, biasanya aku belanja manik manik lewat olshop, tapi kali ini aku gak merasa ada belanja online. Tapi saat kulihat alamat tujuan, memang benar atas nama dan alamatku termasuk nomor hapeku. Paket kuletakkan dalam etalase, dilihat dari kemasannya, sepertinya bahan pakaian. Aku belum berani membukanya, dan sambil nunggu kabar berita. Ting notifikasi hapeku berbunyi ( lil, pesenanku sudah nyampe belum? ) pake emot lope lope, ah ternyata si doni gumamku. Semenjak doni bekerja hampir seminggu tiga kali selalu kasih kabar. Dihati agak tersanjung juga dengan perhatiannya, tapi aku takut berharap lebih. Setelah tau itu kiriman doni, paket kubuka dan isinya kain brokat. Kalo kulihat motif dan kehalusan bahannya, ini harganya lumayan mahal. Dia membelikanku dengan gajian yang kedua katanya sebagai ungkapan rasa syukur. Sementara gaji pertamanya diberikan pada ibunya. Aku merasa menjadi orang yang spesial dihatinya. ( lil, sebenernya sudah lama hal ini mau kuungkapin, tapi aku belum punya keberanian ) ( kini aku merasa sudah mampu dan siap ) ( bolehkah aku meminangmu? ) Notifikasiku beruntun berbunyi, tetapi masih kuabaikan karna aku mau fokus dulu menyelesaikan pekerjaanku. Setelah selesai aku serahkan pada ibu sebagai tenaga finishing. Karna ibu akan memasang kancing dan merapikan tepian kain serta menggosoknya. Aku mengecek hape, rupanya ada beberapa chat yang masuk dari doni. Kaget bercampur bahagia saat doni menunjukkan itikad baiknya ingin menjalin hubungan yang serius denganku. Akupun belum menyanggupi menjawabnya, karna aku juga butuh waktu berpikir dan memantapkan hati. Jujur saja selama ini aku tidak suka melihat orang pacaran dan tidak suk berpacaran. Untungnya selama ini tidak pernah ada temen cowok satupun yang mengajak aku pacaran. ":lil, besok libur kan? " tanya bapak " iya pak " jawabku " besok pagi belanjalah sama ibumu karna besok sore aka ada tamu besar " ucap bapak sambil menyerahkan uang ratusan lima lembar. " siapa pak tamunya " sela ibuku " mas danu orang tuanya fajar, kemaren ngasih tau kalo nanti besok sore mau kesini " jelas bapak. " tumben, dalam rangka apa? " sahutku " biasaaa silaturahmi " jawab bapak. TING ( mbak bisa minta tolong jahitin ) pesan di wa ku Ternyata ada chat dari mas panji ( jahit apa ya ) balasku, karna saat ini yang terpikir masih di seputar per kain an. ( hati aku ) balasnya dengan emot sedih dan menangis. ( maaf mas, profesiku sebagai penjahit kain bukan hati ) balasku ( mbak, boleh kulamar jadi istri aku ) tulisnya lagi ( kalo berani ngomong sama bapakku aja ) balasku. Sudah hanya sampai disitu komunikasi dengan mas panji. Malamnya aku curhat sama ibu mengenai niatnya doni ingin meminangku sama ibu dan aku belum memutuskan untuk memberi jawaban. Ibu menyarankan aku untuk sholat istikharah dulu, minta bimbingan dan petunjuk dari Allah. Jangan tergesa gesa memutuskan sebelum ada kemantapan hati, karna kadang yang terlihat baik dimata kita belum tentu baik menurut Allah dan begitupun sebaliknya. Ibu memberiku nasihat. Sesuai pesannya bapak pagi ini aku, adek dan ibu kepasar. " sepertinya nanti sore orang tuanya fajar ingin menanyakan kamu untuk anaknya " ucap ibu " maksud ibu, fajar mau melamarku gitu " tanyaku agak panik " ya ndak langsung lamaran tho lil, wong belum ada ijin dari kamu, lamaran itu kalo nanti kamu menyetujui baru akan diadakan lamaran " jawab ibu menjelaskan " berarti nanti aku harus bagaimana bu " tanyaku " ya bilang aja kalo kamu minta waktunya untuk memutuskan " ucap ibu " menurut ibu bagaimana? " tanyaku " ya, ibu kan belum bisa menilai si doni itu orangnya bagaimana, fajar juga bagaimana, makanya kamu sholat istikharah dulu, biar ndak bingung, karna nantinya kamu yang akan menjalani dengan siapa kamu menikah " jelas ibu panjang lebar Sepulang dari pasar kami memasak sesuai menu yang dipesan bapak. Tak banyak tanya yang ingin kusampaikan pada bapak. Aku juga ingin tau sejauh mana bapak akan mengarahkan masa depanku. Mau menghargai pilihanku atau mau memaksakan kehendaknya. Hari beranjak sore, sehabis waktu ashar, tamu yang ditunggu bapak telah datang. Kupikir bawa banyak orang, ternyata hanya bertiga. Wah banyak makanan sisa nih!. Ayah ibunya dan fajar sendiri. Sesuai yang disampaikan bapak, mereka datang untuk silaturahmi dan ingin mengenalkan aku dan putranya. Aku hanya bisa menerima niat baik mereka untuk saling mengenal. Obrolan masih sekitar kegiatan masing masing. Kedua orang tua fajar adalah pedagang, fajar anak kedua dari tiga bersaudara. Fajar juga berprofesi sebagai seorang pedagang. Dia sudah memiliki toko sendiri. Usai saling mengenalkan satu sama lain mereka pun berpamitan. Malam harinya seusai sholat maghrib kami dikejutkan dengan kedatangan mas panji didampingi pak rt dan pak rw. Pak rw yang sebagai jubir mas panji menyampaikan niatnya untuk meminangku menjadi istrinya. Jujur kami semua dibuat melongo. Karna tanpa angin tanpa hujan tiba tiba datang melamar. Aku tidak berani langsung menerimanya, karna aku juga meminta waktu untuk berpikir. Mas panji memakluminya dan akan sabar menunggu jawabanku. Sesuai saran ibuku, aku mulai giat sholat istikharah dan hajat untuk bermunajat pada Allah agar memberiku pilihan yang terbaik menurutNya. Sementara bapak lebih menekanku untuk menerima mas fajar aja yang menurut bapak lebih mapan dan akan membuat masa depanku terjamin. Tiada hari tanpa kalimat pujian untuk mas fajar dari bapak. " lil, apasih kurangnya fajar, orang tuanya kaya, lagian si fajar juga sudah mapan, mandiri. Rumah, kendaraan dia sudah punya, asal usulnya juga jelas " ucap bapak " berikan lila waktu sebentar lagi pak, untuk memantapkan hatinya, lagian nikah itukan untuk seumur hidup pak " ucap ibu " lha coba ibu pikirkan seandainya lila milih yang datang semalem, apa gak susah hidupnya? tempat tinggal aja masih ngekos, kendaraan juga masih buntut, apa yang mau dibanggakan, yang ada hidupnya kalila jadi sengsara " ucap bapak " bapak jangan ngomong seperti itu, didoakan yang baik baik aja " sahut ibu " kenyataannya kan begitu " ucap bapak tak mau kalah. Aku merenung didalam kamar. Sampai saat ini aku masih bingung. Untuk doni aku gak berani bermimpi terlalu jauh walaupun kalau menuruti hati, aku punya rasa suka kepadanya. Seandainya aku menikah dengan doni, rasanya aku tak akan sanggup harus jauh dari orang tua lagi. Sementara aku dan doni tinggal didaerah yang berbeda. Keinginanku saat ini, andai aku menikah nanti, aku tak ingin tinggal jauh dari orang tuaku. Walau kelak harus berpisah tempat tinggal tapi setidaknya masih dalam satu kota. Ting Notifikasi dari ponselku ( besok temui aku di cafe xx jam sebelas ) isi chat dari mas fajar ( in shaa Allah mas, aku usahakan, soalnya masih banyak kerjaan ) balasku ( luangkan aja waktumu, kerjaanmu kan masih bisa ditunda ) chat dari mas fajar lagi Tiba tiba merasa dejavu membaca chat dari mas fajar. Kok gini komunikasinya gumamku dalam hati. Esoknya usai beres beres dan sarapan aku langsung ke ruang jahit. Hari ini aku harus mengerjakan pesanan pelangganku agar bisa tepat waktu selesainya. Andai hari ini tak sampai selesai setidaknya waktu lemburku untuk menyelesaikan tidak terlalu larut malam. " lho lil, tumben pagi pagi sudah pegang kerjaan " tanya ibuku heran. Karna biasanya sebelum jam delapan aku masih asik pegang hape. " iya nih bu, soalnya nanti diajak ketemuan sama mas fajar " jawabku " jam berapa ketemuannya " tanya ibu " semalem sih bilangnya jam sebelas, tapi lila berangkatnya jam setengah sebelas aja " jelasku Akupun lanjut fokus sama pekerjaanku hingga siang menjelang. Romlah sudah bisa kulepaskan untuk menangani pesanan pelanggan meskipun terkadang masih sering konsultasi jika menemui kesulitan. Biasanya sih romlah lebih memilih mengerjakan pesanan pelanggan yang modelnya lebih simpel. Kuserahkan hasil pekerjaanku pada ibu untuk proses pemasangan manik manik. Untuk pemasangan payet dan manik manik aku meninggalkan gambar pola, ibu tinggal menerapkan dan memadukan warna manik maniknya. " sudah ini bu, lila berangkat dulu ya " pamitku sama ibu " rom, ada pesen apa? aku sekalian mau keluar " tanyaku pada romlah. " untuk saat ini gak ada mbak, masih cukup semua " jawab romlah. Akupun berangkat menuju kafe xx untuk bertemu dengan mas fajar. Jam sebelas kurang aku sampai. Kulihat disetiap meja belum terlihat ada mas fajar. Akhirnya aku memilih meja dipinggir jendela kaca. Mungkin sebentar lagi ucapku dalam hati. Seorang pelayan datang menghampiri, aku hanya memesan segelas jus alpukat. Sambil mengusir jenuh aku membuka media sosial melihat kabar terbaru. Sesekali kulihat penunjuk waktu dihapeku, sudah jam sebelas lewat. Jus alpukat tinggal sepertiga gelas. ( assalamualaikum mas, hari ini jadi kita ketemuan? ) ketikku lalu tombol kirim kupencet. ( walaikumsalam, iya jadi ) tak berapa lama balasan kuterima ( kira kira jam berapa ya mas? ) tanyaku ( tunggu aja sebentar disitu ini baru mau jalan ) balasnya. Ya Allah, sabarkan hatiku, doaku dalam hati. Ini belum apa apa rasanya kok sudah ilfil ya, aku mulai mendesah kesal dalam hati. Komunikasi gak ada basa basinya, dia yang janji dia sendiri yang ngulur waktu tanpa ada rasa bersalah sama sekali. Bener bener hatiku dongkol kali ini. Istigfar lila istigfar doaku menahan sabar. Jam dua belas dia baru sampe dengan tanpa kata maaf ataupun rasa bersalahnya. " mbak buku menunya mana? " tanya mas fajar pada pelayan yang lewat disisi meja kami. Mbak pelayan datang sambil menyodorkan buku menu " mie goreng satu sama jus mangga satu " ucap mas fajar sambil menyodorkan buku menu ke arahku. " mie goreng sama air mineral aja mbak " ucapku sambil menyodorkan buku menu ke mbaknya. Pelayan berlalu dari hadapan kami. " gimana rencana kamu selanjutnya? " tanyanya " mmm maksud mas fajar " tanyaku kaget dengan pertanyaannya. " ya rencana kita kedepannya " ucapnya sambil menatapku " aku belum tau mas, soalnya kerjaanku juga masih banyak, aku juga belum berani memutuskan dalam waktu dekat " jawabku sambil mengalihkan pandanganku. Jujur aku merasa nggak nyaman dengan sikap dan tutur katanya. Seorang pelayan mendatangi meja kami dan meletakakan pesanan kami. Setelah pelayan pergi kami menikmati hidangan kami dalam diam. Addduuuuh rasanya pengen cepet cepet kabur dari meja ini. Saat aku sudah menyelesaikan makanku, aku terkejut melihat mas panji dan teman teman dinasnya akan makan dikafe ini. Ya Allah mudah mudahan dia tidak melihatku, doaku dalam hati. " lil, kalo kamu nanti jadi nikah sama aku, kamh kan nggak perlu repot jahit lagi. aku akan cukupi kebutuhanmu, kamu cukup dirumah, kalo kamu ada waktu kamu juga bisa bantu bantu ditokoku " ucap mas fajar panjang lebar. " wah, kalo masalah itu sepertinya kalila nggak bisa mas, keinginan kalila buka usaha jahit itu selain kalila punya kesibukan juga kalila bisa membantu ekonomi orang tua mas, dan kalila juga masih punya tanggungan biaya adek kuliah " jawabku menjelaskan. " kalo masalah orang tuamu nanti aku akan tanggung jawab, tapi kalo untuk adikmu, diakan bisa kuliah sambil kerja, jadi kamu gak tidak terlalu repot membiayai sekolah adekmu itu " ucap mas fajar. " aku tu pengennya kalo punya istri itu, dia gak perlu kerja cari tambahan penghasilan atau apapun itu, aku maunya dia dirumah ngurusin rumah, ngurusin anak anak, jadi kalo aku pulang kerumah itu ya istri bisa selalu nyambut kedatangan suami " jelasnya. " ternyata apa yang jadi pemikiran saya dan mas fajar sangat bertolak belakang ya " ujarku " ya mau nggak mau istri kan harus nurut suami, karna suami yang jadi pemimpin keluarga " ujarnya lagi Pertemuan yang berakhir dengan kekecewaan. Kecewa dengan sikapnya dan kecewa dengan perlakuannya. Sebelum pulang aku mampir beli empat porsi siomay buat oleh oleh rumah. " gimana mbak sukses pertemuannya? " tanya romlah " sukseslah, lha wong sebelum pulang perut dah kenyang " jawabku sambil tertawa. Aku menyerahkan bungkusan siomay sama ibu, romlah kedapur mengambil piring dan mereka menikmati siomay yang aku bawa tadi. Masih ada sisa dua bungkus untukku dan bapakku. " eh iya lil, tadi adekmu telpon katanya kamu ndak bisa dihubungi " ucap ibuku " mmm pantesan, lha wong hapeku mati " ucapku sambil mencharger hape. " adek ada pesen apa bu? " tanyaku " katanya dia mau beli alat buat praktek uangnya masih kurang " jelas ibu " ya sudah nanti malem lila kirim, soalnya kemaren lila cuma kirim uang makan sama spp asramanya aja " ucapku
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN