aku pulang

2021 Kata
" hai lil, apa kabar? lama nggak ketemu, kamu lanjut kemana? " doni menyapaku. " alhamdulillah don, kabarku baik, aku gak lanjut kuliah kok don, kalo kamu lanjut kemana? " tanyaku " aku dijogja lil " jawab doni " sekarang apa kegiatan kamu " tanyanya " ini lagi dalam perjalanan pulang kerumah " jawabku tersenyum " maksudku kegiatanmu sehari hari? kamu dah kerja ?" tanya doni meminta penjelasan " oooo.... harus detail ya penjelasannya " jawabku " ish...harusnya ya gitu " ucap doni dengan wajah yang serius " lulus SMA aku lanjut kursus jahit don, trus sekarang aku masih kerja di Flamboyan taylor " jawabku " minta no. wa mu donk, siapa tau kalo aku punya bahan bisa jahitin sama kamu " ucap doni " boleh " jawabku Doni waktu masih di SMA, pertemanan kami lumayan dekat karna kami sering kegiatan bareng apalagi kalo ada rapat mewakili kelas, karna saat itu doni sebagai ketua kelasnya dan aku sebagai sekertarisnya. Saat itu menurut teman dekatku seperti hana dan rumi mengatakan kalo doni punya rasa sama aku dilihat dari perhatiannya yang lebih ke aku. Tapi aku menganggapnya biasa aja, karna fokusku saat itu hanya sekolah. Pertemuan kami tidak disengaja, saat itu aku pulang dari kota kabupaten habis belanja bahan, karna rencananya aku mau buat seragam sarimbit untuk keluargaku. Itung itung sebagai oleh oleh. Aku pulang naik bis kota yang didalamnya ada doni. Doni kuliah dijogjakarta ambil teknik informatika. Komunikasi kami berlanjut lewat seluler. Aku masih melakukan aktifitas seperti biasa bekerja di flamboyan taylor. Aku menjahit berbagai macam model baju sesuai keinginan pelanggan. Sampai sejauh ini pelanggan merasa puas dengan hasil jahitanku. Setiap malam dan hari libur kumanfaatkan untuk menyelesaikan pakaian sarimbit keluargaku. Aku bersyukur banget bisa tinggal dirumah bu bidan. Selama aku terjun di dunia perjahitan, beliau tidak pernah keberatan ruang makannya harus berbagi dengan aktifitas menjahitku. notifikasi ponselku berbunyi ( apa kabar lila ) dari doni (alhamdulillah baik ) jawabku ( akhir pekan besok kamu ada acara gak ) dari doni ( ada ) jawabku ( bisa meluangkan waktu satu jam aja ) dari doni ( maksudnya ) jawabku ( temeni aku ngemi ayam yuk ) dari doni ( dimana? ) tanyaku ( tempat biasanya ) jawabnya langganan kita ) jawabnya ( oke ) jawabku setuju Dalam hati ' tumben doni ngajak ngemi '. Waktu kami masih sekolah bareng, kami tu punya tempat makan mie ayam yang jadi langganan kami. Selain rasanya juara dilidah kami, harganya juga bersahabat dengan kantong kami saat itu. Akhirnya kami ketemu di tempat pak toti, tempat langganan mie ayam kami. Tempatnya tidak banyak berubah selain warna cat dinding dan alas mejanya yang diperbarui. Bisa dimaklumi saat doni kemukakan alasannya. Teman teman deket kami dulu sudah menyebar ke berbagai wilayah, selain itu juga sudah banyak yang berkeluarga. Berawal dari semangkok mie ayam, kedekatan kami berlanjut walau baru sebatas lewat seluler. Aku juga tak berani berekspetasi terlalu tinggi. Jalani aja sesuai takdirnya. Pakaian sarimbit hasil karyaku sudah jadi, aku juga sudah mempersiapkan diri untuk pulang. Jujur terlalu berat aku meninggalkan orang orang yang telah berjasa mengiringi perjalananku hingga sampai dititik ini. Mbok jinem sudah kuanggap sebagai pengganti ibuku selama disini dan bu bidan majikan serasa kerabat. Pak harun, walau jarang komunikasi dengan beliau, tapi sosok beliau sebagai figur seorang ayah yang bijak dan berwibawa. " lila, tempat ini akan selalu terbuka untukmu kapanpun kamu akan datang, ibu akan tetap merindukanmu." ucap ibu " ibu, lila haturkan rasa syukur dan rasa trima kasih lila untuk keluarga ibu, lila juga minta maaf atas segala khilaf lila " ucapku Haru, sedih bercampur jadi satu. Mbok jinem memelukku erat berharap suatu saat bisa ketemu lagi. Tetesan air mata mengiringi keberangkatanki. Tiga hari dua malam perjalanan ini kutempuh. Tak bisa kubayangkan kala itu, aku melewatinya seorang diri dengan harapan yang masih abu abu. Tapi kini aku kembali dengan kemantapan hati. Kepulanganku disambut haru biru orang tuaku dan adikku. Baru kali ini kulihat ayahku menangis memelukku. Mungkinkah ini yang namanya air mata kerinduan seorang ayam? Adikku kini telah beranjak remaja, mengingatkanku pada sosok diriku yang dulu. Aku berjanji dalam hati, aku akan membiayai sekolah adikku hingga pendidikan yang tertinggi dari hasil usahaku nanti. Ibuku sudah terlihat kulitnya mengeriput, besar badannya juga sudah terlihat banyak menyusut. Tenaganya sudah tak segesit yang dulu, Keluhan pegal pegal dan sakit pinggang yang sekarang sering ia rasakan. Tak jauh berbeda dengan tubuh ayahku, selain tubuh yang kian mengurus irama nafas juga mulai terasa berat. Dengan kondisi kedua orang tua yang seperti ini aku tak mungkin tega jauh dari mereka. Dalam dua hari kuhabiskan waktuku untuk selalu dekat dengan ibuku, melepas rindu yang selama ini terpendam. Kami berbelanja bersama juga memasak makanan favoritku juga keluarga. Makan besar layaknya hari raya. Ayahku masih bekerja dikebun orang, walau tenaga sudah tak segesit yang dulu tapi masih dibutuhkan, karna sekarang sudah mulai susah mencari orang yang mau bekerja diladang. Banyak pemuda warga desa yang pergi merantau keluar kota. Adikku sekarang sudah kelas tiga SMP dan tentu saja dia harus mengenyam pendidikan yang lebih baik daripada aku. Hapeku berdering saat aku baru selesai menata menu sarapan di meja dapur. Pagi ini kami belanja sekalian beli sarapan. ( apa kabar lila, maaf aku sibuk lembur nyusun skripsi jadi sampai tak kasih kabar ) bunyi chat doni ( alhamdulillah kabarku baik don, semangat selesein skripsinya ya, jaga kesehatan dan semoga semua dimudahkan ) balasku Kami masih sering komunikasi walau hanya lewat chat. Sekadar ngasih kabar berita kalau keadaanku baik baik saja. Kami juga belum ada komitmen apa apa jadi ya wajar saja kalo sampai saat inipun dia belum tau kalo aku sudah pulang ke kampung halamanku. Ibu bercerita teman teman seangkatan SMPku dulu sudah menikah semua, bahkan ada yang anaknya sudah masuk SD. Aku hanya tersenyum menanggapi cerita ibu. Karna sampai saat ini aku belum ada punya niat untuk berkeluarga. Kusampaikan keinginanku mau buka rumah jahit. Untuk sementara aku akan buka dirumah aja memanfaatkan ruang tamu yang tak seberapa luasnya. Rumah orang tuaku masih semi permanen. Bagian bawah masih bata merah tanpa plesteran dan lantainya masih berlantai semen kasar. Untuk kamar tidur kami alasi dengan karpet lantai. Untuk membuat rumah orang tuaku terlihat bersih dan terang aku memutuskan untuk memplester dinding.juga mengecatnya. Sementara lantainya kupasang keramik agar terlihat bersih. Menghitung dana yang ada aku hanya memperbaiki ruang tamu dulu, sementara untuk ruang lainnya akan kurenovasi menyusul saja kalo usahaku sudah lancar. Ayahku tidak memprotes apa yang aku lakukan. Setelah selesai dengan ruang tamu aku mulai mengisi dengan mesin jahit dan mesin obras, juga etalase. Gak papa beli yang sangat dibutuhkan dulu, perlengkapan lainnya nanti menyusul aja. Tak lupa aku juga memasang papan nama didepan rumahku. Penjahit berkah ibu yang kujadikan nama. Semoga dengan nama tersebut bisa membawa berkah untuk keluargaku. " lho kalila buka rumah jahitan ya wak! " tanya bu rt " iya bu rt " jawab ibuku " kebetulan ini aku ada bahan seragam PKK, aku jahit tempat lila aja lah yang dekat " ucap bu rt " silahkan bu rt " sambutku Alhamdulillah, bu rt adalah pelanggan pertamuku. Dengan rasa optimis aku menyesesaikannya dengan cepat. Belum ada seminggu sebagian warga sudah datang kerumah untuk memasukkan kain dengan berbagai macam tujuan. Dari seragam untuk sekolah sampai gaun untuk pesta. Kadang untuk model ada yang menyertakan contoh modelnya lewat gambar, ada pula yang menyerahkan aku memilihkan modelnya. Aku juga menawari utk pemasangan payet manik manik yang membuat gaunnya terlihat semakin mewah dan elegan. Untuk harga kupasang variasi tergantung tingkat kesulitannya. Dengan berjalannya usaha jahitku, Alhamdulillah bisa mencukupi kebutuhan hidup orang tuaku. Ibuku sudah tidak bekerja ditempat orang lagi tapi lebih banyak membantuku dirumah. Memasang kancing juga mengesum tepian kain adalah tugas baru ibuku. Ibuku merasa senang aku ada dirumah dengan usaha ini. Ibuku juga belajar memasang payet dan manik manik lewat bantuan hape. Tiga bulan sudah aku dirumah, " wak, kalo lila sibuk terus ngurus jahitan kapan dia punya waktu untuk menikah, jangan sampe si lila kelompatan adiknya " ucap mak jono yang sering maen kerumah " Sabar mak jono, nanti kalo sudah waktunya juga pasti menikah " jawab ibuku " hati hati wak, sekarang umur si lila sudah berapa? orang si ayu aja sudah mau punya anak dua " ucap mak jono mulai menghibahin aku Kalo sudah begini aku hanya bisa menanggapi dengan senyum dan diam. Walau dalam hati juga bertanya siapa nanti yang akan jadi jodohku. ( lil, kamu dimana ) chat wa dari doni ( maaf don, aku ada dirumah orang tuaku ) balasku ( kenapa kamu tak cerita kalo kamu pulang kampung ) tanyanya ( aku vc ya ) lanjutnya Tak berselang lama komunilasi virtualpun tersambung. Ada yang aneh dengan diriku, rasa debar didada tak menentu. Padahal selama ini komunikasi kami baik baik saja. Mungkin karna harus bertatap muka jadi sensasinya beda. Doni mengabarkan baru selesai wisuda dan dia sudah bekerja di perusahaan swasta. Ya.... aku hanya mengucapkan kata selamat, karna aku juga merasakan bahagia atas keberhasilannya. Malam ini aku dibuat terkejut saat ada tamu pria datang kerumah. Rupanya dia pemuda yang ngekos didekat rumah pak rt. Panji mahendra namanya. Dia bekerja disalah satu instansi pemerintah sebagai PNS. Dia datang membawa bahan batik dan bahan polos untuk seragam dinas. Jujur kuakui, aku memang sudah biasa menjahit untuk pakaian pria, tapi kalo mengukur badannya, lebih baik aku nyerah aja dech!. Akupun meminta maaf untuk meminjam baju dan seragam contoh untuk mengukurnya. Sebenarnya dia keberatan harus bolak balik, tapi ya mau gimana lagi. " ngukur kan cuma sebentar mbak, lagian disini juga ada ibumu, jadi gak mungkin nanti saya akan aneh aneh " paksanya " maaf mas, bukan saya menolak tapi tolong hargai keputusan saya, karna masnya bukan muhrim saya " jawabku tegas " ya sudah saya ambil contohnya tapi bisakan diselesaikan dalam waktu tiga hari " ucapnya lagi. " maaf mas, kalo mengikuti antrian ini bisanya enam hari baru jadi, tapi kalo masnya mau jadinya dipercepat nanti kena ongkos lebih mahal lho " jawabku " ya gak papa ngikutin tarif ekspres aja " balasnya mengalah. Sebagai penjahit aku mengutamakan kepuasan kenyamanan hasil jahitanku dan hasil yang tepat waktu, makanya kadang aku sampai lembur untuk menyelesaikan. Kalo ada pesanan ekspres memang kukerjakan sebagai lemburan. Ilmu ini kudapati saat aku ikut bekerja dan belajar di tempat bu susi dan di flamboyan tailor. Aku tetap akan memprioritaskan sesuai nomor antrian. Aku juga tidak menerapkan hutang. Kadang ada juga pelanggan yang nakal, minta pengerjaannya dipercepat, tapi setelah jadi sampai berbulan bulan tidak diambil. Makanya khusus yang meminta jahitan ekspress aku memang meminta uang muka dibayar separo. Tak ada angin tak ada hujan ayahku menceritakan anak tetangga yang pindah ke lain kecamatan. Beliau menceritakan tentang kesuksesannya. Usut punya usut ternyata ayah ingin mengenalkannya padaku. Bagiku sih tak masalah kalo hanya berkenalan asal jangan memaksakan kehendak. Pada hari ketiga mas panji datang kerumah untuk ambil jahitan. Seperti biasa setiap pelanggan pasti akan kuminta untuk mencobanya, siapa tau nanti kalo ada kekurangan bisa langsung aku perbaiki. " sudah pas ini mbak, sesuai dengan yang saya harapkan " ucapnya. Dua hari berlalu. ( mbak perkenalkan saya panji ) chat baru masuk dengan nomor tak dikenal. ( iya mas, ada yang bisa saya bantu ) balasku ( tolong simpan nomor saya ) pesannya lewat chat. Hari hari terlewati dengan aktifitasku sebagai penjahit busana. " bu, kira kira ibu tau gak warga sekitar sini yang mau kerja disini, syukur syukur dia bisa jahit " tanyaku pada ibu. " si romlah itu katane baru selesai kursus jahit " jawab ibuku memberi tahu. " mau gak ya bu kalo romlah kerja disini " tanyaku pada ibu. Dengan melihat antrean tumpukan bahan yang tertata rapi dietalase menunggu dikerjakan, otomatis aku harus memutar otak untuk segera menyelesaikannya. Mau tak mau aku harus melatih seseorang agar bisa meringankan beban pekerjaanku. Rupanya ibu setuju kalo aku nyari karyawan jahit. Romalahpun sangat senang saat aku menawarinya pekerjaan. Aku juga harus selalu mengoreksi hasil kerjanya. Alhamdulillah, romlah merupakan tipe gadis pekerja keras, dia tidak mudah berputus asa. Kegigihannya untuk belajar membuatki semakin menyukainya sebagai patner kerjaku. Dengan kehadiran romlah membuat ritme kerjaku menjadi lebih teratur. Kami lembur jika ada yang menginginkan jahitan exspres, sementara untuk jahitan yang regules kami kerjakan sesuai jam kerja. Dengan begitu aku bisa menerapkan disiplin jam kerja
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN