Sudah berjalan beberapa bulan aku tinggal dirumah bu bidan. Liburan semester juga sudah terlewati. Saat liburan teman teman bisa menikmati sesuai dengan inginnya mereka, sementara aku cukup mensyukuri dan menikmati dirumah bu bidan saja melakukan aktifitas biasa. Kadang asyik membantu mbok jinem dengan kebun sayurnya.
Sebulan menjelang puasa bu bidan meminta buku pembukuan kebun dan meminta data pekerja kebun. Malamnya bertemu dengan bapak diruang keluarga. Pak harun menyerahkan lembaran kertas berisi data lansia dan dhuafa juga anak yatim. Rupanya data itu diambil dari rumah pak Rt lingkungan bu bidan tinggal.
Setelah kurekap jumlahnya lumayan banyak juga. Ada sekitar empat ratusan lebih daftar nama yang kucatat, namun bu bidan menyuruhku untuk membulatkan lima ratus.
Berarti nanti ada lima ratus paket sembako yang terdiri dari beras, minyak, telur, gula, s**u dan sirup.
Dalam waktu seminggu garasi sudah disulap jadi gudang sembako sementara. Bu bidan juga mempekerjakan pak karta dan beberapa orang tenaga kerja kebun. Rumah menjadi riuh dalam sehari dengan adanya mereka. Mbok jinem dan bude sum juga memasak didapur untuk makan orang orang yang ada dirumah. Aku juga menata meja prasmanan untuk menyajikan makanan para yang kerja. Kami makan bersama dengab menu ayam goreng sambal ijo ditemeni oseng oseng sawi. Terlihat sederhana tapi mereka menikmatinya denga lahap. Bu bidan dan pak harun juga berbaur dengan mereka.
Paket sembako yang telah dikemas diangkut menggunakan pick up dan dibagikan langsung sampai depan rumah. Aku salut dengan kemuliaan beliau berdua, orang kaya tapi tak terlihat kaya, dalam berpenampilan juga tak pernah glamor ataupun wah.
Memperlakukan orang yang dengan santun, tanpa memandang status sosialnya. Pembagian sembako langsung kerumah pemiliknya, menurutku itu sama saja memuliakan mereka. Selain itu semuanya bisa berjalan tertib tanpa menimbulkan kerusuhan dan kekacauan. Tidak ada yang protes karna pembagian tersebut memang tepat sasaran. sudah ada kriteria. Sangat berbeda dengan progr
Akhirnya ramadhan tiba, disambut umat islam dengan ceria. Aku hanya bisa menangis dalam hati karna ini ramadhan pertama aku tak ada dirumah. Sedih itu pasti, tapi aku harus kuat dan bertahan sampai lulus sekolah dulu.
Seminggu menjelang lebaran rumah telah disibukkan dengan kegiatan pengemasan sembako dan bingkisan lebaran. Aku juga memasukkan uang dua lembaran seratusan ke dalam amplop. Dalam dua periode aku dibuat takjub dengan total nominal yang harus dikeluarkan.
Semoga Allah memberi mereka umur yang panjang dan berkah sehingga bisa menebar manfaat untuk lingkungannya. Doaku dalam hati.
Seminggu sebelum lebaran rumah juga sudah kembali rame dengan kedatangan anak anak bu bidan. Serasa rumah penuh warna. Aku hanya bisa berdoa semoga keadaan kedua orang tuaku dan adikku dalam kondisi sehat. Oh ya aku juga dapat uang THR dari bu bidan dan baju lebaran. Uang THR ku kukirimkan untuk ibuku didesa. Ibuku sempat menangis haru karna aku bisa mengirimi mereka uang. Bahkan ibuku berpesan untuk tidak mengirimi mereka uang lagi sebelum aku lulus sekolah.
Ibu merasa sangat bersyukur kalo aku sekolah sudah ada yang biayai.
Empat hari sebelum lebaran mbok jinem mudik kekampung halamannya. Untuk anak anak bu bidan baik jadi aku tidak merasa disisihkan. Bahkan makanpun aku diajak satu meja dengan mereka.
Lebaran telah tiba, aku diajak berlebaran ke rumah orang tuanya bu bidan. Disana walaupun statusku hanya sebagai pekerja tapi mereka memperlakukan aku dengan baik. Tak ubahnya anak anaknya bu bidan, aku juga mendapatkan amplop lebaran. Begitupun saat aku diajak berlebaran ke rumah orang tuanya pak harun. Setelah hari ke empat lebaran aku beserta bu bidan dan pak harun kembali pulang. Salma, surya dan bintang masih ditinggal dirumah neneknya.
Aktifitasku masih seperti biasa tanpa kehadiran mbok jinem. Rumah terasa sunyi saat pak harun juga harus kerja keluar kota. Ternyata bukan hanya aku yang harus berjuang menuntut ilmu. Anak anak bu bidan walaupun memiliki orang tua yang berkecukupan, mereka juga menuntut ilmu dan terpisah dengan orang tuanya. Jadi kenapa aku harus sedih dan berkecil hati?. Bukankan aku harus tetap selalu bersyukur.
Tak terasa sudah hampir tiga tahun aku menuntut ilmu. Teman teman banyak yang sudah menentukan pilihan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Sementara aku, jangankan berminat, mimpipun aku tak mau. Sebenarnya para guru banyak yang memotivasiku untuk ikut daftar kuliah melalui beasiswa dan prestasi yang tidak dipungut biaya. Selain itu pak harun juga menawariku untuk lanjut kuliah. Tapi kuliah tidak pernah dalam impianku. Memang kuakui keluarga bu bidan sangat baik padaku, selama aku tinggal dirumah beliau, belum pernah sekalipun mereka bersikap kasar padaku. Aku juga nggak mau terlalu banyak hutang budi terhadap beliau.
Angan anganku malah aku pengen jadi seorang penjahit dan pengen punya usaha konveksi.
" rencana mau daftar kemana lil? " tanya bu bidan
" tidak ada bu " jawabku
" lho kenapa? nilai kamu kan bagus bagus, sayang lho gak dimanfaatin, kamu kan bisa daftar lewat jalur raport " tanya bu bidan panjang lebar
" lila gak ada minat buat kuliah kok bu " jawabku
" trus minatnya kemana? " tanya bu bidan
" lila kok malah pengen ikut kursus jahit aja, trus nanti kalo sudah bisa mahir jahitnya, lila pengen buka jahitan dirumah aja " jawabku menjelaskan
" maksudmu pengen buka jahitan kayak punya bu susi itu " tanya bu bidan menegaskan
" iya bu " jawabku.
" kalo boleh ibu tau, kenapa kamu lebih memilih profesi sebagai penjahit " tanya bu bidan lagi.
" ya karna saya lebih senang dan menikmati untuk kerja rumahan" jawabku simpel.
Bu bidan hanya bisa senyum dan geleng geleng kepala dengan keputusanku. Beliau juga tidak memaksaku. Beliau akan mendukung keinginanku.
Saat temen temenku sibuk dengan banyaknya brosur universitas, aku justru sibuk dengan brosur kursusku.
Akhirnya aku memantapkan hati untuk kursus menjahit disebuah lembaga khusus menjahit yang berlokasi di kota kabupaten. Seminggu jadwalnya lima hari, setiap hari senin sampai jum'at. Waktunya hanya dua jam pelajaran. Yang lama diperjalanan dan belanja bahan.
Pendidikan dilembaga khusus menjahit ini berlangsung satu tahun yang terdiri dari empat tingkatan. Tiga bulan pertama tingkat dasar, yang materinya berupa pengenalan semua teori, pengukuran, pemotongan. Lumayan membutuhkan kesabaran ekstra. Aku juga bersyukur sampai dititik ini bu bidan masih mendukungku secara finansial seutuhnya.
" lil sekarang ibu memberimu uang saku dua ratus ribu seminggu bisa untuk transport dan beli perlengkapan yang kamu butuhkan, nanti kalo ada keperluan yang lainnya bilang aja sama ibu ya! " pesan bu bidan
" iya bu " jawabku.
Bu bidan yang membayar uang pendaftaran dan juga uang pendidikan tiap bulannya. Bu bidan juga gak tanggung tanggung kalo membelikan bahan untuk praktek. Pernah waktu bu bidan pergi menemani temannya belanja, pulang pulang bawa kain dua puluh meter.
" lil tadi ibu antar temen belanja kain brokat, trus ibu liat ada bahan, kayaknya cocok ini kalo buat sarung bantal kursi, ntar bisa kamu padu padanin sama kain kain restan " ucap bu bidan
" wah...banyak banget bu, biasanya aja lila cari kain restan aja, makasih banyak ya bu " jawabku girang.
Yang namanya kursus jahit modal yang sering dikeluarin adalah untuk beli bahan. Biasanya selesai praktek aku dan temen kursusku akan sidak ketoko kain buat nyari kain meteran sisa. Harganya lumayan agak murah dibandingkan kalo kita beli kain meteran
Sepulang dari kursus hari sudah sore, aku dikejutkan dengan adanya mesin jahit yang diletakkan dipinggir ruang makan.
" mbok, kok ada mesin jahit, siapa yang beli? " tanyaku pada mbok jinem
" ooo... itu tadi ada pasien ibu mau pindahan kerumah mertuanya, dia punya bayi mau fokus ngurus bayi dulu, sementara kalo dirumah ibunya yang disini enggak kepake, jadi daripada nganggur tadi ditawarin ke ibu " jelas mbom jinem panjang lebar
" kok bisa ditawarin ke ibu, padahal ibu kan bukan penjahit " tanyaku bingung
" gara garanya pasien tadi nanyain kamu, kan dulu anak pertamanya dia lahiran disini trus waktu itu pernah liat kamu waktu bersih bersih dan nganterin makanan. lha kemaren waktu dia lahiran anak keduanya juga disini, nah waktu simbok yang ngaterin makanan dia nanyain kamu pas ada ibu, ya ibu cerita kalo kamu sedang fokus ikut kursus jahit trus berlanjut sampe ke mesin jahit " jelas mbok jinem.
Aku cukup senang dengan adanya mesih jahit ini, karna setidaknya aku bisa latihan dirumah.
Tak terasa sudah enam bulan aku mengikuti kursus, sudah banyak hasil karyaku dengan adanya mesin jahit dirumah. Dari yang sederhara dan simple buatnya. sudah ada dua set sarung bantal sofa, seprei bahkan mbok jinem sampai ikut berburu kain restan hanya karna ingin dibuatkan daster.
" lil, materi dan praktek tingkat trampilnya sudah selesai belum? " tanya bu bidan
" masih tinggal satu minggu ini untuk ujian " jawabku
" sampai ditingkat ini kamu menemui kesulitan apa? " tanya bu bidan lagi
" kalo celana sih, kesulitannya di bagian pasak bu, " jawabku
" itu yang harus kamu kuasai " tekan bu bidan.
" kalo kamu sudah lolos ditahap ini, kamu sudah bisa lamar kerjaan dipenjahit yang profesional, itu bisa jadi bekal pengalaman buatmu. " saran bu bidan
Tingkat terampil sudah kukuasai, sekarang saatnya aku mencoba melamar kerja ditempat bu susi. Bu susi taunya aku anak angkat bu bidan. Beliau menyambutku dengan ramah.
Setelah kuutarakan maksud dan tujuanku mau ikut belajar, Akhirnya bu susi mengijinkan aku untuk membantu di rumah jahitnya.
Rumah jahit bu susi sudah ada kemajuan dibanding dengan tiga tahun yang lalu saat aku menjahitkan seragam sekolah. Ruang tamunya sudah berubah menjadi ruang display jahitan yang sudah jadi dan ada dua unit mesin jahit, sementara ruangan lama menjadi tempat untuk menyimpan bahan pelanggan, pemotongan bahan dan mesin.obras.
Walau aku sudah bekerja ditempat bu susi aku juga masis ikut kursus naik ketingkat mahir. Aku akan masuk tiga kali seminggu. Sisanya waktu ada ditempat bu susi. Walaupun aku sudah mengikuti pendidikan dilembaga kursus, bu susi tetap memperlakukan aku sebagai pemula. Ada empat orang yang bekerja ikut bu susi termasuk diriku, tetapi hanya satu orang yang diberi tanggung jawab untuk memegang jahitan. Sementara yang tiga orang seolah menjadi asisten, karna harus mematuhi setiap perintah. Ditempat bu susi tugasku hanya menjahit tepian bawahan, pasang kancing, pasang payet. Dengan cara kerja seperti itu aku hanya mentargetkan untuk waktu tiga bulan, seandainya dalam jangka waktu tersebut aku tidak mengalami kemajuan ya....dengan sangat terpaksa sekali aku harus keluar.
Berlalunya waktu membawaku pada titik untuk mewujudkan mimpiku. Perjalanan ini akan menjadi goresan takdirku. Banyak asa yang telah terlewati dan semoga saja ini bukan mimpi.
Kenyamanan yang kuterima ditempat bu bidan jangan sampai membuatku terlena akan jati diriku yang sebenarnya. Mereka orang lain yang menganggapku sebagai keluarga. Jasa mereka ikut melukiskan perjalanan hidupku yang tak bisa kulupakan seumur hidupku. Pada saatnya nanti aku tetap harus kembali pada orang tuaku.
Berulang kali orang tuaku memintaku untuk pulang. Bukan aku tak mau tapi waktu yang belum tepat menurutku.
Aku harus mempersiapkan secara matang untuk kembali kerumah. Tak mungkin aku membawa titel pengangguran setelah sekian lama meninggal meninggalkan rumah.
Kulihat ulang saldo dibuku tabunganku. Rasanya sudah cukup seandainya nanti aku mau buka rumah jahit didesaku.
" kamu sudah mantap mau pulang lil? " tanya bu bidan
" mantap gak mantap lila tetap harus pulang kan bu " jawabku
" sebagai ibu yang punya anak, ibu tetap menyarankan kamu harus pulang, kamu juga tidak tau kan? sekarang kondisi orang tuamu bagaimana? " saran bu bidan.
" iya bu, cuma kadang lila masih takut kalo nanti bapak masih memaksa lila untuk dijodohkan " jawabku
" apakah masih yakin dengan sikap bapakmu yang seperti itu? " tanya bu bidan
" gak tau juga sih bu, kan selama ini memang tak pernah komunikasi dengan bapak, denger kabarnya bapak juga dari ibu dan adik " jawabku menjelaskan.
" kalo memang iya bapakmu masih mau menjodohkan, bukankan kamu juga masih punya hak untuk mengajukan pilihan? setidaknya kamu bisa meminta tenggang waktu untuk mewujudkan keinginanmu mendirikan rumah jahit " ucap bu bidan
" walaupun ibu lebih senang kamu tinggal disini, tapi ibu gak punya hak menahanmu " lanjut bu bidan
" seandainya nanti bapak masih memaksa lila dan lila gak mau, apakah ibu masih mau menerima lagi? " tanyaku
" lila, bagi ibu dan bapak keberadaanmu dan simbok disini sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri, kalo memang apa yang kamu takutkan itu terjadi trus kamu mau kabur, maka kaburlah kesini, ibu dengan tangan terbuka akan dengan senang menerima kamu " ucap bu bidan sambil merengkuh pundakku.
Memang terlalu berat dan sayang untuk kitinggalkan. Karna bagiku mereka adalah keluarga terbaik yang pernah kutemui.