sabar

2010 Kata
Alhamdulillah, bintang sudah pulih dan sehat kembali. Dan sesuai janjiku pada ustadnya, aku akan mengantar bintang kembali ke pondok. Sebelum balik pondok bintang dah request untuk mampir ketempat orang tuaku yang biasa dipanggil mba uti dan mbah kung juga mampir ke rumah orang tua suami yang biasa dipanggih mbah dhok dan mbah nang. Untung rumah mereka berlokasi di magelang walau dengan kecamatan yang berbeda. Mungkin bintang bener bener kangen sama keempat mbahnya. Maklum saja lah pertemuan mereka biasanya hanya berlangsung setahun sekali dihari raya itupun hanya punya kssempatan nginap lima hari ditempat orang tuaku dan lima hari ditempat orang tua suamiku. Rasanya belum cukup puas dengan pertemuan mereka, tapi bagaimana lagi karna bintang juga harus balek pondok. Bintang bersorak girang saat mendapatkan uang saku dari keempat mbahnya. Tak sampai menginap kamipun langsung lanjut menuju pondoknya bintang. Setelah menjumpai ustad dan menitipkan bintang pada ustad pengasuhnya, kamipun pamit untuk beranjak pulang. Serasa dalam dua puluh empat jam hidup dijalanan. Kami harus langsung pulang karna esok hari kami harus bekerja. Pagi hari aku dikejutkan dengan kedatangan pak karta, istri dan anaknya. Rupanya anak pak karta yang seusia bintang mengalami demam tinggi. Sebelum berangkat dinas aku melalukan tindakan dulu untuk samsul anaknya pak karta. Aku tetap memperlakukan pak karta seperti keluarga pasien lainnya. Simbok tetap kuintruksikan membuat menu makanan untuk mereka. Setiap minggu aku memang menjadwalkan simbok untuk belanja mingguan dan kali ini aku memang menyarankan untuk mengajak kalila mumpung kalila masih dalam libur semerter. Khusus untuk keluarga pekerja jika mereka sakit akan kubebaskankan biaya berobat dan rawat inap diklinikku. Sementara pelayanan tetap sama seperti pasienku pada umumnya. Tetapi jika mereka harus dirujuk dan dirawat ditempat lain tetap akan aku bantu walau tidak sepenuhnya. Bagiku mereka juga kuanggap keluarga karna sudah turut serta membantuku juga walaupun hanya diperkebunan. " assalamualaikum mbak vina " sapaku lewat sambungan telp " walakumsalam, iya bu ada yang bisa vina bantu " jawabnya diseberang " pagi ini ada pasien anak dengan gejala panas tinggi, sudah saya lakukan tindakan, ini saya bawa sampel untuk dicek dilaborat, tolong nanti ditindak lanjuti ya " pintaku " baik bu, sebelum keklinik nanti saya akan mampir ke puskes dulu " jawab bidan vina akhirnya pembicaraan kami akhiri dengan menutup salam dan akupun melanjutkan aktifitasku seperti biasanya. Tak terasa waktu telah berganti hingga kini sudah memasuki bulan menjelang ramadhan. Tiga bulan ke depan ini bisa dibilang ada pengeluaran besar besaran yang sudah menjadi rutinitas keluarga kami. Aku akan berbagi sembako untuk tenaga kerjaku yang dikebun, kaum duafa dan anak anak yatim piatu yang ada disekitar tempat tinggalku. Memang setiap menerima uang panen dari kebun aku akan memilah milah yang aķan kumasukkan dalam beberapa pos diantaranya uang zakat, dana kesehatan, dana anak yatim, sembako puasa, thr lebaran dan dana tak terduga. Alhamdulillah dari hasil panen sudah bisa mencukupi target yang kutetapkan untuk berbagi dengan para tenaga kerjaku dan orang orang sekitarku yang membutuhkan. " kalila tlg nanti didata ada berapa orang tenaga kerja yang ada dikebun ya! " pintaku pada kalila " iya bu " jawabnya " Sekalian sama buku kas kebun ya " lanjutku lagi " baik bu " jawabnya Malam harinya saat sudah usai makan malam kalila menyerahkan apa yang kuminta. Suamiku juga menyerahkan data manula, dhuafa dan anak yatim warga sekitar tempat tinggal kami. Aku juga meminta kalila untuk membantuku mencatat apa apa saja yang akan aku butuhkan. Ada dua periode pembagian, pembagian sebelum puasa dan sebelum lebaran. Sebelum puasa kami akan membagikan sembako, sedangkan sebelum lebaran kami akan membagikan sembako, kue lebaran dan uang dalam amplop. Untuk pembagian sembako kuambilkan dari uang hasil kebun yang kusisihkan sementara untuk pembagian sebelum hari lebaran itu hasil dari penyisihan hasil kerja suami. Alhamdulillah, dengan menerapkan berbagi ini setiap tahunnya, kami merasa apa yang kami butuhkan sudah Allah cukupi. Mingingatkanku akan pesan ibu mertua. " kita harus bijak dalam segala hal, juga bijak dalam hal memilih, kita hidup tidak harus memenuhi apa yang kita INGIN kan, tetapi kita harus memenuhi apa yang kita butuhkan " Sama halnya saat aku ingin berganti kendaraan. Ibu mertuaku akan menghargai keputusanku saat kusampaikan kenapa harus ganti kendaraan. Karna anggota kami bertambah dengan kehadiran bintang, kami butuh tempat duduk dan bagasi yang agak longgar. Bukan pada merk atau sedang tren. Hari tersibukpun telah tiba, ada sekitar lima ratus paket yang harus kami bagikan. Garasi menjadi tempat penampungan sementara. Aku akan meminta tolong pada pak karta dan sebagian tenaga kerjanya untuk membagikan sampai tujuan menggunakan kendaraan pick up yang biasa dipake dikebun. Karna berbagi dengan mengundang warga datang antri kerumah menurutku kurang efisien dan tidak tepat sasaran. Sudah sekitar 10 tahun yang lalu kegiatan ini berlangsung semenjak aku mendirikan klinik Kasih Ibu. Aku juga akan masak besar karna adanya kegiatan ini. Aku akan meminta bu sumi dan kalila membantu simbok didapur. Begitupun saat menjelang hari raya, aktifitas yang sama juga akan berlangsung. Seminggu sebelum lebaran kami akan menjemput anak anak, karna mereka hanya memiliki waktu libur sekitar tiga minggu. Sebelum kami menjemput anak anak kami akan berkunjung ketempat orang tua kami. Seperti sudah menjadi kewajiban kami untuk memberi sedikit rejeki kami pada mereka. Memang sih untuk ukuran materi, mereka sudah tidak kekurangan. Hampir setiap tahun aku tidak pernah membelikan baju lebaran untuk anak anakku, karna kedua nenek sudah mempersiapkannya. " bu saya mudiknya tiga hari sebelum lebaran " ucap simbok saat aku mau berkemas menjemput anak anakku. " ya mbok, simbok ada pesen apa untuk oleh oleh yang dirumah? " tanyaku " jenang kudus aja bu " sahut simbok Sudah jadi kebiasaanku setiap simbok mau mudik aku pasti akan memberinya oleh oleh untuk anak anaknya yang dirumah. Suasana rumah akan kembali riuh kalo anak anak berkumpul dirumah semua. Aku akan lumayan dibuat repot kalo tidak ada simbok. Untung kali ini masih ada kalila, setidaknya ada yang membantuku untuk bersih bersih rumah. Simbok sudah mudik kemaren, kalila tinggal sendiri. Kami tetap mengajaknya bersantap sahur dan berbuka dalam satu meja. Mungkin karna sudah terbiasa kalila sudah tidak canggung menguasai dapur. Dia juga sudah paham akan menu yang biasa kami olah. Seperti kali ini anak anak ingin membuat es buah dan bakwan. Salma dan kalila sudah berinteraksi layaknya saudara. Aku membiarkan mereka berkreasi dengan imajinasinya sendiri. Hingga aku turun tangan untuk membereskan kekacauan yang mereka timbulkan. " mamas dan adek sudah selesai belum potong potong buahnya " tanyaku mendekati keduanya " miiii, adek nggak kuat kalo liat buah buahan diiris kayak gini rasanya pengen cepet cepet berbuka " ucap bintang dengan wajah memelas " ya sudah adek mandi dulu gih, biar badannya seger " suruhku " tapi mandinya maunya sama mamas " ucap bintang mulai merajuk " tanggung ini dek, mamas selesein dulu " sahut surya " miii.... mamas gak mau mi " ucap bintang semakin merajuk " mass... temeni adek mandilah " suruhku. " trus ini gimana mi " tanya surya " ya udah nanti mami lanjutin " jawabku " gimana bakwannya mbak " tanyaku " ini lagi mau digoreng " jawab salma " mbak lila buat teh " perintahku " iya bu" sahutnya. Setelah semua selesai kami meninggalkan dapur untuk mandi. Kulihat bintang dan surya sedang bercengkerama didepan tv ditemani ayahnya. Sore menjelang berbuka kami akan menghabiskan waktu didepan tv atau duduk diteras depan sambil lihat orang berlalu lalang. Selepas magrib, suara takbir berkumandang dari segala penjuru. malam ini disambut dengan suka cita. Kami mulai berkemas untuk mudik ke magelang. Lebaran tahun ini kami akan sholat id dengan orang tuaku. Selesai sholat id kami akan makan bersama juga sambil menanti kedatangan kerabat dekat dari saudara bapak dan ibuku. Biasanya kami akan saling berbagi angpao khas anak anak. Kali ini kalila juga dapat angpao dari mereka. Untuk lebaran tahun kemaren sholat id kami ke rumah orang tua suami. Kalila juga ikut lebaran bersama kami. Kami akan menginap dirumah orang tuaku hanya dua malam, begitu juga dirumah orang tua suami. Sementara anak anak punya sepuluh hari untuk berbagi tinggal dirumah para mbahnya. Maklumlah hanya anakku cucu kandung yang mereka miliki. Selesai dengan rutinitas berlebaran ditempat orang tua, aku dan suami harus kembali karna memang masih punya tugas. Sementara anak anak masih tinggal ditempat neneknya hingga jadwal menginap usai. Kalila tetap pulang bersama kami. Moment kebersamaan dengan anak anak sangatlah terbatas waktunya. Dari lahir hanya punya waktu sekitar dua setengah bulan yang full time mendampingi, selebihnya hanya disela sela selesai jam kerja sampai anak usia pra sekolah. Kami menyadari dengan keterbatasan waktu kami dalam mendampingi anak anak, makanya kami lebih mewajibkan anak anak untuk sekolah.dan mondok. Selain untuk kemandirian mental mereka juga membekali mereka dengan dasar agama. Kini saat anak anak sudah masuk pondok semua memang terasa dirumah bagaikan dalam kesunyian. Momen pertemuan dengan mereka juga kami manfaatkan sebaik baiknya. Kini kami harus kembali pada rutinitas kami. Kami punya pekerjaan yang harus kami pertanggung jawabkan. Suami juga sudah mulai beraktifitas kembali. Kali ini harus pergi keluar kota, karna pekerjaannya ada disana. Simbok juga sudah datang. Setidaknya aku tidak kesepian dirumah. Tak terasa sudah hampir tiga tahun kalila tinggal dirumah kami. Tak pernah sekalipun kalila meminta ijin untuk pulang kampung. Pulang kampung besok aja kalo sudah selesai kuliah dan kerja, begitu alasannya saat kutanya diwaktu libur panjang sekolahnya. " setelah lulus ada rencana lanjut kemana lil? " tanyaku " mau ikut kursus jahit aja bu? " jawabnya " lho kenapa gak lanjut kuliah? " tanyaku lagi " kuliah tidak ada dalam angan saya bu " jawabnya mantap " kenapa " cecarku " sampai saat ini, yang ada dalam angan saya hanya ingin kursus menjahit, trus nanti kalo sudah bisa saya akan mandiri buka rumah jahitan dari hasil menabung bu " jawabnya yang terdengar simpel. Sudah pernah kami menawarkan dia untuk lanjut kuliah. Suami juga menyanggupi untuk menanggung biaya kuliahnya. Sayangnya kalila tidak tertarik sama sekali. Sangat sederhana sekali keinginannya. Kupikir selama ini dia tak ada rasa rindu dengan keluarganya, karna aku tak pernah dengar dia cerita tentang kondisi orang tuanya, juga melihat dia menghubungi mereka. Rupanya dia ingin nanti kalo sudah bisa njahit, dia ingin pulang dan dia mau buka rumah jahitan di desanya. Hari kelulusan telah tiba, kulihat kalila biasa aja, tak seperti teman temannya yang sibuk ikut ujian masuk perguruan tinggi. Kulihat dia masih asik mengumpulkan beberapa brosur kursus menjahit. Akupun hanya bisa mengarahkan apa yang jadi keinginannya. Aku juga tak ingin perjuangan kalila meninggalkan desanya hanya sia sia. Setidaknya dia harus berhasil mandiri dan mewujudkan keinginannya. Akhirnya kalila ikut kursus menjahit disalah satu lembaga kursus, Aku juga membelikan mesin jahit tapi yang bekas, karna kebetulan saat itu ada keluarga pasien melahirkan dan akan diboyong kerumah mertua dan tidak ingin melanjutkan menjahit karna mau fokus mengurus bayinya. Dengan mesin jahit tersebut setidaknya bisa dipake belajar praktek dirumah. Kulihat kalila juga semangat belajarnya. Mulai dari praktek membuat sarung bantal sampai dasternya simbok. Saat kalila kursus sudah sampai tahap terampil aku menyarankan untuk melamar kerja ke penjahit yang sudah profesional, tidak apa apa hanya sebagai asisten dulu, karna nanti lama lama dia bisa dapat ilmunya. Jangan berkecil hati menerima upah yang tidak seberapa, karna dia sedang dalam proses belajar dilapangan. Pengalaman praktek itu yang lebih diutamakan. Setelah kalila diterima kerja, waktunya jadi lumayan tersita. Kami meminta kalila untuk tetap tinggal bersama kami. Karna kami sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri. Sehingga dengan ritme kerjanya masuk pagi pulang sore dia tidak merasa sungkan. Dia juga punya jatah libur sehari dalam seminggu. Tapi dia masih bertanggung jawab tentang kebersihan klinik. Tapi saat ada pasien simboklah yang bertanggung jawab pada penyajian makanan. Bagaimanapun juga aku juga tidak boleh egois. Masa depan kalila masih panjang, aku tidak mungkin menahan kalila untuk tetap bersamaku. Selain itu aku juga tulus menyayanginya. Aku hanya ingin melihat dia berhasil meraih mimpinya. Biarlah dia tetap bersamaku hingga nanti dia siap untuk kembali ke daerahnya. Pelan tapi pasti kalila mulai mahir dalam menjahit pakaian. Aku jadi bersemangat untuk beli kain bahan. Kalila akan membuatkanku baju dengan model yang kuinginkan. Aku juga dijadikan tolak ukur hasil jahitannya. Dia sangat sabar menerima kritikan yang kusampaikan. Kadang aku juga memberi tantangan untuk membuat model gaun seperti yang ada gambar majalah. Kadang simbok juga membeli bahan dan minta tolong kalila untuk membuatkan dia gamis. Yach itung itung njahit gratis kata simbok.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN