Hot 8 - Ulangtahun Alarick

1393 Kata
"Cinta itu, sebenarnya apa?" Tanya Alarick tiba-tiba, membuat ketiga orang lainnya tersentak. Mereka masih berdiri di antara tamu-tamu undangan yang hadir di pesta ulangtahun Alarick. Alarick Kaslov Damian. Pengusaha yang memegang sebagian aset Damian yang mana sudah turun temurun dan sukses sedari awal. Sahabat Felix yang dikenalkan oleh Makiel saat mereka masih duduk di bangku SD dan berteman hingga sekarang. Makiel berdecak. "Berhentilah! Berhenti! Dari kemarin aku mendengar kata menggelikan itu. Betapa sialnya aku." Felix mendengus geli. "Kiel, sebegitu takutnya kah kau jatuh cinta padaku?" Makiel melotot mendengarnya. "Sial! Aku menolak LGBT! Mana mungkin aku mau dengan sesama batang!! Sangat menggelikan bagaimana bisa mereka mengadukan pedang mereka di ranjang." Kesalnya sambil merinding sendiri mendengar ucapannya. "Kiel, di antara kita bertiga, hanya kau yang tidak pernah jatuh cinta," balas Alarick. "Dan Darren juga belum, tentunya. Tapi tidak apa-apa. Dia masih kecil sedangkan kau sudah beruban." "Hey, siapa yang kau sebut masih kecil?!" "Syalan! Aku tidak memiliki uban!" "Alarick benar. Kau harus segera jatuh cinta, Kiel. Jika tidak, cintamu yang di umur setua ini takkan berhasil karena cinta pertama itu selalu gagal." Kata Felix. "Siapa yang menciptakan kalimat cinta pertama selalu gagal itu?!" Kesal Darren. "Aku sudah jatuh cinta. Pada calon istrinya Darren. Angel-ku." Jawab Makiel. Darren menatap Makiel dengan tatapan membunuh. Darren Valentino Reinhard. Keturunan Reinhard yang berkepribadian dingin dan memiliki IQ yang mengalahkan Felix, alias sangat pintar. Darren adalah pemilik salah satu rumah sakit swasta terbesar di LA, tadinya. Dia sekarang sudah menjadi pengangguran dan akan menjadi CEO di perusahaan milik Alarick. "Benarkah? Memangnya, kau tahu bagaimana ciri-ciri orang jatuh cinta?" Tanya Felix dengan senyum miring. "Tentu saja," jawab Makiel dengan dagunya yang diangkat tinggi. "Jatuh cinta itu saat kau merasa ingin meniduri orang itu." "Ish, kau hanya b*******h, syalan!" Desis Alarick kesal. "Dan lagi, setelah kau mendapatkan wanita yang menurutmu membuatmu jatuh cinta itu, kau pasti akan meninggalkannya setelah merasakan tubuhnya. Sekarang, kau merasa masih jatuh cinta pada Anna hanya karena dia tidak bisa kau tiduri." "Alarick benar," Felix menambahkan. Gelas di tangannya ia gerakan dengan melingkar. Matanya menerawang menatap genangan wine di dalam gelasnya. "Jatuh cinta itu, saat semuanya tidak semudah itu. Namun, walaupun kau tahu jika semuanya tidak akan semudah itu, kau tetap nekat dan tetap menerjang hal yang tidak mudah itu. Karena kau mencintainya." "Aku tidak mengerti ucapanmu." Komentar Makiel, sedangkan 2 teman Felix yang lain tetap diam seolah menerawang. "Kau akan merasakannya, Kiel," kata Darren. "Saat melepaskannya tidak semudah itu. Saat cemburumu sudah tidak tertahankan dan membuatmu merasa ingin mengurungnya di penjara yang hanya ada aku dan dia saja." Makiel menguap lebar seolah bosan dengan percakapan mereka. "Benarkah? Lalu kenapa aku merasa percakapan kita ini sangat amat tidak penting?" "Dengarkan saja. Ini ilmu untukmu," ucap Alarick. "Suatu saat, kau akan merasakan bagaimana rasanya tidak ingin kehilangan wanita yang kau cintai. Walaupun harus menempuh jalan dengan cara menyakiti dirinya ataupun bahkan dirimu sendiri." "Bisa kau hentikan?! Aku mulai mengantuk sekarang! Dasar b***k-b***k cinta. Lembek sekali kalian ini." Dan ucapan Makiel mendapatkan tatapan tajam dari ketiga orang di sana. Makiel berdeham canggung, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Oh? Apakah itu Felly?" "Feli?? Felicia?! Kau mengada-ada?!" Pekik Alarick sambil mencengkram kerah pakaian Makiel. Wajahnya terlihat panik. Makiel segera menabok wajah Alarick. "Bukan Feli itu! Maksudku Felly wanitanya Felix. Dia di sana!" "Kau mabuk? Felly sudah lama kabur dan tidak ada kabar." Kata Darren. "Aku tidak mungkin salah lihat! Kau lupa mataku sangat tajam dan ingatanku sangat kuat?!" Sedangkan mereka sedang bertanya-tanya, Felix hanya diam dengan tatapan mata yang bergerak ke segala arah, mencari keberadaan Felly. *** Felly berjalan gontai tidak tentu arah. Pikirannya hanya tertuju pada percakapannya dengan Valerie saat di toilet. "... Ada masa di mana aku merasa sangat ingin dicintai..." Ya, benar. Ada masa di mana Felly ingin kembali dicintai oleh Felix. Dan ada perasaan tidak rela ketika Felix mencintai wanita lain. "... Aku ingin bertahan, sungguh. Aku ingin bertahan dalam luka jika itu bersamanya. Aku ingin bertahan dalam luka jika aku bisa menjadi miliknya. Tapi aku tidak setegar itu..." Felly menghentikan langkahnya. Dia mengingat ketika Felix mengucapkan kalimat kasar padanya. Betapa Felly terluka, namun masih ada perasaan jika Felly ingin bertahan. "... Aku pun butuh dicintai dan dibahagiakan. Bukan hanya mencintai dan mencoba membahagiakan seseorang yang bahkan tidak mengetahuiku sedikit pun. Aku butuh seseorang yang mengetahui apa warna kesukaanku, makanan apa yang kusuka dan tidak kusukai ataupun tanggal ulangtahunku. Bukan hanya aku yang sangat mengetahui apapun tentangnya. Aku... Membutuhkan pria yang mencintai seperti itu..." Sepertinya..., Menyenangkan jika Felly memiliki kebahagiaan sesederhana itu. Membutuhkan pria yang mencintai seperti itu. Seperti itu. Yang bisa membahagiakan dengan sesederhana itu. Apakah..., Felly bisa memilikinya? "Lihat kan?! Aku benar!!" Suara itu sangat dekat dengan Felly dan sukses membuat Felly tersentak dari lamunannya. Dia menoleh, dan terkejut mendapati Makiel, Darren, Alarick dan Felix berdiri di dekatnya. "Felly!!" Teriak Makiel sambil memeluk Felly dengan tawa. "Ke mana saja kau?! Lihat wajahmu! Kau lebih cantik sekarang!" Felly menatap ke arah Felix dengan canggung, dan dibalas dengan kedikan dagu yang menyatakan jika Felly diizinkan mengobrol dengan Makiel. Felly tertawa canggung kemudian. "Ah, Makiel. Kau bisa saja. Aku sedari dulu juga cantik." "Iya. Aku sedari dulu juga tampan." Balas Makiel sambil terkekeh dan menatap Felly dengan berbinar senang. Felly mengangkat sebelah alisnya dengan bingung. "Dan apa maksud ucapanmu itu?" "Maksudnya, kita sangat cocok, tentu saja. Hehehe," jawab Makiel dengan lancar jaya. Felly mendelik. "Kau masih sama saja seperti dulu. Terlalu percaya diri!" "Orang tampan memang selalu percaya—" "Sedang apa kau di sini, Felly?" Tanya Alarick, memotong ucapan Makiel. "Ah ya! Selamat ulangtahun, Al. Kau sudah sangat tua sekarang. Sudah waktunya menikah." "Aku sudah menikah, tahu! Yang harus kau khawatirkan adalah kakakmu. Dia yang paling tua di sini tapi belum menikah. Darren saja sudah akan menikah." "Darren akan menikah?! Kapan?!" Felly melotot kaget mendengarnya. Sial! Aku ketinggalan berita heboh lagi!! "Kau tidak pernah menonton TV? Pernikahan Darren akan diadakan sebentar lagi. Semua media dia undang." Jawab Makiel. "Hah?! Sungguh?! Kapan itu?!" Sial, jika akan menjadi berita di mana-mana, aku harusnya paling pertama mendapatkan berita itu!! Ah, bayangkan berapa bonus yang akan kudapatkan jika aku menjadi yang pertama. Makiel mengernyit bingung. "Kau tinggal di mana sih? Tidak ada yang tidak tahu jika Darren akan menikah." Felly menggaruk belakang kepalanya sambil terkekeh. "Aku tinggal di Indonesia. Baru pulang beberapa hari yang lalu." Makiel terlihat syok. "Negara kuno itu?!! Negara penganut no s*x before marriage itu?!! Felly, kau masih perawan ya?" Tidak. Kakakku menodaiku. Felly berdecak kesal. "Kenapa kalian selalu merendahkan negara itu? Negara yang menghargai tentang norma dan agama. Kalian yang tidak bermoral ini tidak pantas merendahkan negaraku!" Bela Felly. Makiel segera menatap Felix. "Lix, kita tidak bermoral, katanya. Dan omong-omong, kenapa kau tidak kaget melihat kedatangan Felly?" Felix terlihat enggan menjawab. Dan Felly segera tertawa menutupi hal itu. "Ahh, aku dan Felix sudah bertemu seminggu yang lalu. Dan hari ini, aku datang atas undangan Felix juga. Sekalian hari ini aku dan Felix akan pergi." "Ouhhhh, Cinta Lama Belum Kelar." Ucap Makiel. Felly tersentak mendengarnya bersamaan dengan Felix yang melotot pada Makiel. "Apa maksudmu?" Tanya Felly. Makiel mengerjapkan matanya. "Aku tadi bilang apa, memangnya?" Felix segera berdeham. "Baiklah. Aku dan Felly akan pergi duluan." Katanya sambil menarik tangan Felly dan berlalu dari sana. "Sampai jumpa, Felly!" Seru Makiel semangat. Felly melambai sambil tersenyum pada Makiel. Dia hanya dapat mengikuti langkah Felix yang membawanya ke tempat parkir. Mereka memasuki mobil milik Felix dengan tergesa. Felix mengusap wajahnya dengan kasar. Dia memukul stir mobilnya dengan keras dan mengembuskan napas kasar. "Kau bodoh?! Bagaimana bisa kau berpikir untuk melewati jalan itu?! Kau sendiri yang mengatakan jika tidak ingin kembali ke sangkar emas. Tapi kau malah menunjukkan dirimu pada orang lain." Felly hanya menghela napas panjang, kemudian memberikan recorder yang diberikan Felix padanya. "Aku sudah merekamnya," kata Felly singkat, kemudian menatap ke luar jendela setelah Felix menerima recordernya. "Bisakah kau menunda kemarahanmu dulu? Aku sedang dalam keadaan yang buruk. Dan walaupun aku adalah Nafelly, aku masih tetap manusia. Memangnya, menunggu selama itu di depan toilet, tidak melelahkan?" Hening. Felly tidak mendapatkan jawaban apapun dari Felix. "Bisakah kita pulang? Aku lelah." Ucap Felly kemudian. Felix segera menyalakan mesin mobil. "Aku akan membawamu ke suatu tempat. Aku yakin kau bisa menghilangkan rasa lelahmu." Felly mendengus sinis. "Ya. Terserah kau saja. Kau kan bosnya." Dan mobil Felix pun melaju keluar menjauhi kafe di mana tempat ulangtahun Alarick diadakan. Selama perjalanan, Felly dan Felix sama-sama diam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN