Surabaya, Jawa Timur
Sementara di tempat lain, di kota sebelah, Dina dan Addry yang tak lain adalah Pakdhe dan Budhe dari Aliya dan adik-adiknya sedang bertengkar mengahadapi Bagus, anak sulungnya yang keras kepala dan susah di beritahu bila kemauannya tidak dituruti.
Bagus sempat mengutarakan keinginannya untuk menikahi Aliya pada Mai dan Hardi lewat video call beberapa minggu yang lalu namun mereka dengan halus menolaknya dan tidak memberi tahukan ini semua pada Aliya. Bisa-bisa jika tahu, Aliya akan syok mendengar hal gila ini.
"Bu, please izinin Bagus untuk hal itu ya, Bu, Pak?" Bagus memohon sekali lagi.
"Yo ndak iso cah Bagus..., Aliya iku sepupumu, nak." suara Dina menggema di rumah megah itu. "Ponaa'ane Ibuk karo Bapak."
"Tapi Bagus cinta sama dia, Bu, Pak."
Dina berdecak keras. "Gus, denger Ibuk. Aliya itu, sepupu kamu. Bukan orang lain yang bisa kamu cintai sesuka hati kamu, dia itu adik kamu Gus, adik sepupu. Mau di bilang apa nanti kamu kalau semua orang tahu kamu menikah sama sepupu kamu sendiri. Ndak iso Gus. Ndak, Ibuk karo Bapak ndak setuju, sampai kapanpun Ibuk ndak rela, Gus. Walaupun Aliya iku ayu, baik, patuh, sholeha. Ndak Gus, ibuk ndak mau sampai kapan pun, Aliya iku tetap adik sepupumu!" Dina menekan kata terakhirnya, menentang keras kemauan Bagus untuk menikahi Aliya.
"Aliya itu masih kecil, Gus. Banyak impian dia yang belum tercapai, Bapak dan Ibuk ndak setuju kalau kamu mau menikahi adik sepupumu sendiri, Bapak juga ndak rela lihat ponakan Bapak menikah sama Mas nya sendiri. Meski agama memang tidak melarang tapi tidak ada sejarahnya keluarga Prayuda menikahi sepupunya sendiri."
"Kalau kamu memang kebelet pengin nikah nanti Bapak jodohkan kamu sama anaknya temen Bapak, usianya sama dengan kamu, dia sudah kerja, mandiri, cantik lagi, nurut sama orang tua nya, ndak kayak kamu. Suka nya membangkang saja!" ucap Addry yang juga menentang kemauan anaknya yang satu ini.
"Ini kan bukan zaman perjodohan lagi, Pak!" protes Bagus.
"Bagus! Denger Bapak, kalau kamu masih bersikeras untuk menikahi adik sepupumu sendiri, lebih baik Bapak menjodohkanmu dengan Hanum. Dia jauh lebih dewasa di banding Aliya, Gus. Om Hardi dan Tante Mai juga nggak akan setuju dengan kemauan kamu ini!" Addry mulai geram karena ucapannya selalu di bantah oleh Bagus yang masih keras kepala ingin menikahi Aliya yang bahkan umurnya baru genap 20tahun.
"...Wes, ndak usah gila Gus. Kamu lupa sama kagetnya Om Hardi dan Tante Mai waktu mendengar keinginan gila kamu itu?" tutupnya, Bagus pasrah.
"Gus, apa kamu lupa gimana dinginnya Aliya sama kamu waktu itu? Pas dia datang ke sini dan saat dia lihat kamu dia malah lari ketakutan?" Dina mengingatkan kejadian waktu pertama kali Aliya datang ke Surabaya.
"...Ibuk lihat semuanya, Gus. Ibuk lihat dari cara dia menjauh dari kamu, dia risih dekat-dekat kamu. Dia itu tumbuh menjadi gadis yang ndak murahan Gus, yang ndak gampang di dekati laki-laki. Ibuk yakin kok, Om Hardi dan Tante Mai ndak pernah mendidik' Aliya untuk menjadi perempuan genit yang mudah di dekati, Ibuk tahu kamu sudah 28 tahun, Ibuk dan Bapak tidak akan memaksa kamu untuk buru-buru menikah, karenanya nanti setelah menikah kamu lah yang akan menjalankan rumah tangga itu bersama Istrimu nanti."
"Tapi setelah Ibuk tahu perasaan kamu sama Aliya seperti itu, Ibuk dan Bapak putuskan untuk segera menikahkan kamu dengan Hanum secepatnya." jelas Dina panjang lebar dengan aksen Jawanya membuat Bagus ternganga dan akhirnya pasrah dengan kemauan kedua orang tuanya, terlebih saat ia tahu apa yang berdampak pada keturunannya nanti bila menikahi saudara sepupu kandung nya sendiri.
"Kita akan ke rumah Om Hardi dan Tante Mai akhir minggu ini, untuk minta maaf atas kelancangan kamu itu." jelas Addry sebelum menelepon adiknya untuk memberi kabar kalau mereka bertiga akan datang ke Jakarta.
"Awas kamu, Gus. Jangan macam-macam sama Aliya di sana." ancam Dina.
"Nggih, Buk." sahutnya pasrah.
.
.
.
.
Hardi yang sedang berada di kantornya menerima telepon dari Addry, Kakaknya dan tidak menolak kedatangan mereka yang akan akhir pekan di Jakarta sekaligus meminta maaf atas kelancangan Bagus beberapa minggu lalu.
Ia lalu memberitahu Mai lewat w******p dan memintanya untuk memberitahu Bik Minah untuk beres-beres rumah.
Ellea yang sedang berada di klinik bersama Mai heran melihat wajah Kakaknya yang gusar setelah membaca pesan w******p di ponselnya. "Kenapa, Mbak?"
"Ini, Kakaknya Mas Hardi sama Istri dan anaknya mau datang ke Jakarta dan menginap di rumah akhir pekan ini." jelas Mai pasrah dan menarik nafasnya dengan berat.
"Kakaknya Mas Hardi yang mana, Mbak?"
"Mas Addry sama Mbak Dina, El."
"Oohhh!! Yang kemarin Mbak ceritain kalau anaknya mau nikahin ponakanku, Mbak?" Ellea terkejut mendengar siapa yang akan datang ke Jakarta.
Mai hanya mengangguk mendengar jawaban adiknya ini. Mai dan Hardi terkejut, bak di hantam petir di siang bolong saat itu, mereka juga bingung dengan kemauan Bagus, padahal sudah jelas kalau Aliya tidak menyukai keberadaan Bagus di dekatnya. Aliya sempat cerita kalau dia risih berdekatan dengan Bagus karena tatapan matanya seolah akan menerkam Aliya.
"Mbak, Aliya jangan suruh keluar ya? Kalau bisa dia menginap dulu di rumahku deh Mbak. Kalau di kamar, tidur malam jangan lupa kunci pintunya. Biasanya yang kayak begitu akan menghalalkan segala cara, Mbak. El takut Aliya di apa-apain sama itu anak. Biar gimana pun dia itu laki-laki normal Mbak, yang punya nafsu sama perempuan. Nanti tahu-tahu Aliya bangun udah nggak pakai baju gimana Mbak? Astagfirullah..., amit-amit!" jelas Ellea memperingatkan Mai untuk 'mengungsikan' Aliya ke rumahnya bila perlu.
"Astagfirullah..., Hush! Kamu nih kalau bicara suka sembarangan deh, El!"
.
.
.
.
.
Di rumah, Aliya dan bik Minah kerepotan dengan si kembar yang sedang lincah-lincah nya berlarian kesana kemari tanpa merasa lelah sedikitpun dan mereka berdua baru bisa istirahat setelah si kembar tidur.
"Bi, rasa ada yang aneh nggak?" ucap Aliya sambil mengibas-ngibaskan tangannya karena kegerahan.
"Naon, non?"
"Ih bibik mah, itu Kanika anteng-anteng gitu daritadi. Coba tolong di cek bik." pinta Aliya, bik Minah segera mengecek Kanika yang sejak tadi anteng di atas sofa.
"Dedek Kanika," ucap bi Minah mengusap kepala Kanika. "Eh ya Allah, non, Kanika demam!" pekik bik Minah saat meletakkan punggung tangannya di kening Kanika.
Aliya yang mendengar itu langsung menghampiri bik Minah. "Aliya bawa ke klinik ya bik. Titip kembar." Aliya beringsut membawa Kanika yang mulai rewel ke dalam mobil dan meletakkan Kanika di atas car seat-nya di bangku belakang lalu segera tancap gas ke klinik tanpa menelepon Mamanya.
Sekitar setengah jam kemudian Aliya sudah berada di halaman klinik. Ia memberhentikan mobilnya hingga berdenyit dan berteriak memanggil Suster lalu mengeluarkan Kanika yang badannya semakin demam.
Aliya menggendong Kanika sampai di dalam ruang periksa Tante nya yang kata Suster sedang tidak ada pasien, tanpa memperdulikan beberapa pasien di ruang tunggu.
Karena ia tahu ruangan Mama nya pasti sedang ada pasien, jadi ia lebih memilih naik ke lantai 2 sambil terus menggendong Kanika. "Bunda." panggilnya, Suster membuka kan pintu.
"Lho, Mbak?" Suster heran melihat Aliya di depannya.
"Eh, Kanika kenapa sayang? Ya ampun, panas sekali dia." Ellea segera memeriksa Kanika yang demam.
"Kanika lagi flu ya, Kak?" Ellea menanyakan.
"Iya, kayaknya baru tadi pagi pas Mama Papa udah berangkat." jawab Aliya.
Ellea menganggukkan kepalanya. "Kani nggak apa kok, Kak. Infeksi virus ringan aja ini, istirahat sama banyak minum air putih juga. Bilang Mama nanti ya, Mama lagi banyak pasien jadi Kanika istirahat dulu di ruang bawah sama infus set sekalian. Sus, tolong siapin ya."
"Baik, dok."
***
Sudah sekitar dua jam Kanika tidur di salah satu ruangan klinik, Mai melihat mobil merah Aliya terparkir di halaman depan, ia menanyakan pada Suster ke mana Aliya, setelah Suster menjelaskan kenapa Aliya ada di klinik, Mai langsung menuju salah satu ruangan dan ia menemukan Kanika sedang tertidur pulas di atas d**a Aliya.
Mai mematung di depan pintu melihat kedua putrinya sedang pulas tertidur. Mai mendekat dan mengelus kepala anak-anaknya, ia paling tak tega melihat anaknya sakit seperti ini. Memang tadi pagi Kanika sudah flu, Mai sudah memberinya obat tapi sepertinya tidak mempan. Dua kecupan manis mendarat di pipi mereka, Aliya mendadak terbangun, ia lihat Mama di depannya sedang tersenyum.
"Hai sayang." sapanya.
"Mama." gumamnya pelan.
"Terimakasih udah cekatan bawa Kanika ke sini." ucapnya lalu duduk di atas brankar dan mengelus puncak kepala Aliya.
"That's what doctor-to-be supposed to do, Mam." jawab Aliya sambil membetulkan posisi duduknya dengan Kanika yang masih tertidur di atasnya.
Mai hanya tersenyum mendengar jawaban Aliya lalu setelahnya Kanika terbangun dan menangis. Ia sedang rewel sekarang, Mai merengkuh Kanika ke dalam pelukannya.
"Mama..." ucap Kanika sambil memperhatikan tangan kanannya yang tertancap jarum infus di sana.
"...Ngan, Ka. Napa, Ma?" racaunya menanyakan ada apa dengan tangannya sambil menangis.
"Tadi Tante El pasang infus di tangan Kanika. Kenapa? Perih ya? Sakit?"
"Syakit Ma, epash Ma epash..." Kanika meminta Mai untuk melepaskan infusnya, Mai menggeleng dan kembali menenangkan Kanika yang menangis di gendongannya.
***
Derum knalpot mobil Hardi memasuki garasi, ia segera masuk ke dalam rumah dan menemukan rumah sepi, kosong, semua penghuninya sedang berada di kamarnya masing-masing.
Ia melihat meja makan sudah siap dengan makanan di atas meja, tapi hanya satu piring kosong berada di sana, berarti hanya Hardi yang belum makan karena ia pulang cukup larut hari itu pukul 10 saat semua anak-anaknya sudah lelap tertidur.
Hardi memutar kenop pintu kamarnya dan melihat anak-anaknya juga Mai sudah pulas tertidur di atas tempat tidur sementara si kembar di dalam baby box nya. Ia terpaku melihat tangan Kanika yang terbalut plester bekas infus dan kening Kanika yang tertutup plester bye bye fever untuk bayi.
"Ya Allah Kanika demam." lirihnya. "Mam," ia mengusap lengan Mai dan membuatnya terbangun.
"Eh, Mas baru pulang?" Mai menggeser badannya agar tidak membangunkan Kanika yang sedang rewel. "Kok tumben?" tanyanya setengah berbisik.
"Iya, aku banyak pekerjaan tadi. Maaf ya sayang." ucap Hardi yang duduk di samping Mai lalu mengecup kening Istrinya itu.
"Temani aku makan ya?" pintanya. Mai hanya mengangguk dan menyelimuti anak-anaknya yang sudah pulas dalam dunia mimpi mereka.
.
.
.
Perbincangan mereka berlanjut hingga membicarakan Bagus yang akan datang ke Jakarta. "Pokonya ya Mas, besok Aliya harus tidur berdua, di temanin bik Minah kalau perlu. Bahaya tidur sendirian" oceh Mai.
"Iya iya. Kamu tenang aja, Yang. Dia nggak akan melakukan hal tidak senonoh seperti di pikiran kamu itu." ucapan Hardi terkesan membela Bagus, membuat Mai semakin kesal.
Mai mendengus kesal. "Udah, nggak usah di belain ponakannya. Kita kan nggak tahu dia gimana Mas. Pokoknya, biar gimana pun, dia itu laki-laki Mas, laki-laki!" Mai menekankan ucapan terakhirnya.
"Yang punya nafsu sama perempuan. Kamu nggak lihat kejadian di tv-tv itu? Udah ya, pokoknya kalau perlu Aliya kita ungsikan dulu ke rumah Ellea!" racaunya semakin kesal.
Hujani aku dengan vote dan komen kalian ya gaes ♥️
#dahgituaja
#awastypo
Dudui
Danke,
Ifa