Jumat pagi, Addry, Dina juga Bagus sudah berangkat dari Surabaya menuju Jakarta. Mai dan Hardi sampai tidak bekerja hari itu, karena Hardi menjemput mereka ke bandara dan berangkat pukul tujuh pagi tadi.
Mai sudah menceritakan apa yang terjadi beberapa minggu lalu, Aliya terkejut mendengar penjelasan Mama dan Papa nya dan ia lebih memilih untuk diungsikan ke rumah Ellea besok pagi karena takut dengan Bagus yang bila melihatnya seperti macan melihat mangsa empuk di hadapannya.
Tapi entah kenapa Bagus selalu melihat Aliya seperti ingin memakannya dan selalu melihat ke arah dadanya, padahal Aliya selalu memakai kerudung yang panjang sampai menutupi d**a.
Mai tahu ketakutan Aliya itu dan sesegera mungkin mengungsikan Aliya ke rumah Ellea. "Kak, pokoknya nanti kamu bersikap biasa-biasa saja ya. Anggap aja tidak ada yang terjadi, sapa dengan sopan Budhe' sama Pakdhe." Mai memperingiati Aliya untuk bersikap biasa dan sewajarnya saja.
"Mereka nggak akan lama kok di sini." ucap Mai lagi.
Rawut wajah Aliya jelas sekali tercetak kepanikan di sana. Manik matanya tak bisa berbohong, hatinya ketar ketir. Ia takut. Itu semua mengembalikan ingatannya pada kejadian setahun lalu saat Aliya di Surabaya, Bagus hampir saja menciumnya.
***
Surabaya, Setahun yang lalu.
Bagus menarik tangan Aliya dan membawa mereka ke balkon paling ujung di rumah nenek mereka itu, tempat di mana jarang ada orang yang pergi ke sana kecuali para asisten rumah tangga yang bersih-bersih. Aliya tersentak saat Bagus menariknya dengan sedikit kasar dan memaksa.
"Mas!!" panggilnya kasar.
"Apa-apaan sih?" teriaknya menepis tangan Bagus.
"Kamu kok cantik, dek?" ujar Bagus menatap wajah Aliya dalam-dalam sampai membuat Aliya mundur dan punggungnya menghantam tembok di belakangnya.
Aliya tidak bisa berkutik, Bagus memiringkan kepalanya bersiap untuk mencium bibir Aliya yang bungkam dan terengah-engah karena takut.
Aliya berusaha menahan mendorong tubuh Bagus namun tidak berhasil, Aliya memantapkan niatnya untuk kabur dari sana, ia mengumpulkan semua tenaga dan keberanian yang ada untuk menampar lalu menendang sebelum Bagus benar-benar menciumnya.
PLAK!!
BUG!!
Bagus tersungkur jatuh ke belakang dan melenguh kesakitan. Saat ia membuka matanya Aliya sudah tidak ada di hadapannya, Aliya sudah kabur, masuk ke kamar Mai dan Hardi lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi dan tidak menceritakan apapun pada keluarga lainnya.
"Aliya takut Ma, Pa." Aliya begitu ketakutan, ia bahkan tak mau keluar kamar dan takut melihat Bagus. Untunglah ke esokkan malamnya Aliya mendapat kabar kalau Anneke sakit jadi ia memiliki alasan untuk segera pulang ke Jakarta.
***
Sekitar pukul sepuluh pagi, mereka sudah sampai di rumah. Mai menyambut mereka di pintu depan bersama si kembar, Kanika masih sakit dan dalam gendongan bik Minah karena Mai kuwalahan menggendong si kembar lalu Aliya lebih memilih masuk ke kamarnya, ia enggan dan muak melihat Bagus.
"Nduk, mana sulung mu? Kuliah tah?" tanya Dina pada Mai.
"Nggak Mbak, masih liburan. Sekarang ada di kamarnya, di atas." jawab Mai.
"Antar Mbak ke atas dong?" pintanya. Setengah hati Mai membawa Kakak iparnya itu ke kamar Aliya.
Mai memutar kenop pintu kamar Aliya dan menemukan si sulung sedang berkemas dengan koper kecilnya. "Kak Aliya?" sapanya membuat Aliya menghentikan kegiatannya sejenak.
"Duh, cah ayu. Mau kemana toh nduk? Iki Budhe' mu baru sampai kok kamu udah mau pergi lagi?" Dina merangsek masuk ke kamar Aliya dan menciumi pipi keponakannya itu dengan tidak sabaran, like always.
Aliya tidak menjawab hanya tersenyum saja, senyum miring kata Mai. "Enghh, besok Aliya mau pergi sama Bunda Ellea, Budhe.' " jawab Aliya canggung.
"Lho, memangnya Mama mu ndak bilang kalau Budhe sama Pakdhe mau ke sini? Budhe kan kangen nduk. Mai, kamu ndak bilang sama Aliya kalau kami mau ke sini?" protes Dina saat tahu Aliya lebih memilih pergi dengan Tantenya.
"Udah Mbak yu. Tapi Aliya udah terlanjur janji dari dua minggu lalu mau pergi dan menginap di rumah Adikku, Mbak." jawab Mai dengan sabar.
"Tapi Aliya di jemputnya nanti sore kok Mbak, selesai Ellea praktik." lanjutnya.
"Ohhh..., yawes kalau begitu ndak apa." sahut Dina lagi. "Dah, Budhe tinggal dulu ya" Dina berlalu meninggalkan kamar Aliya.
Aliya menatap Mama nya dengan takut, ia enggan bertemu dengan Bagus di bawah, ingatan tentang kejadian Bagus hampir mencium nya setahun lalu mendadak kembali ke dalam pikirannya.
"Ma, Aliya takut." ucapnya lagi.
"It's okay baby. Ada Mama dan Papa kok, ini rumah kita. Kalau kamu takut tinggal teriak aja. Pakai kerudung kamu yang panjang itu biar nggak di lihatin Mas mu." ucap Mai.
Aliya keluar dari kamarnya dan turun bersama Mai. Mai terus merangkul Aliya yang wajahnya yang datar namun sirat ketakutan tetap terlihat di mata saat bertemu Bagus yang sedang duduk di atas sofa sambil memangku Bhima.
"Nah itu dia Aliya turun." ucap Hardi semringah. Aliya hanya senyum sekenanya. Ia mencium tangan Pakdhe nya dengan sopan tanpa melirik Bagus sekalipun.
"Ya Allah, Bunda Ellea cepet jemput Aliya! Yaya takut Bunda!" jeritnya dalam hati.
"Ehem, langsung aja ya." dehaman Addry membuat suasana tegang. Bik Minah membawa ketiga krucil ke kamar bermainnya dan membiarkan para orang dewasa itu menyelesaikan masalah mereka.
"Sebelumnya, Mas dan Mbak Dina mau minta maaf soal kelancangan Bagus beberapa minggu lalu. Soal Bagus yang melamar Aliya lewat telepon melalui Mai dan Hardi. Aliya udah tahu itu kan?" tanya Addry, Aliya hanya mengangguk tanpa bersuara.
"Mas dan Mbak mohon maaf sekali atas kelakuan Bagus dan kami juga udah tahu saat Bagus membawa Aliya ke balkon ujung rumah dan Bagus hampir membuat Aliya menjerit ketakutan, Mas dan Mbak juga sudah tahu hal itu, kami minta maaf sebesar-besarnya atas kelancangan-kelancangan yang di timbulkan Bagus. Pakdhe' tahu Aliya pasti trauma akan hal itu. Pakdhe mohon maaf ya nduk?" lagi-lagi Aliya hanya mengangguk tanpa ada jawaban.
"Yah, nasi udah jadi bubur, Mas." jawab Mai dengan nada menyudutkan sambil terus merangkul Aliya yang gemetar lalu hening berpendar.
"Maafin Mas Bagus, Aliya." suara Bagus memecah keheningan itu.
Aliya hanya menatapnya dingin, intens dan tajam tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun saat Bagus mengucapkan kata Maaf. "Ma, tolong telepon Bunda untuk jemput Aliya sekarang." ucap Aliya dengan suara tegasnya dan menekan setiap ucapannya.
"Aliya mau masuk ke kamar dulu. Mau ganti baju." tukasnya lalu melepaskan rangkulan Mamanya dan kembali masuk ke kamarnya membuat semua orang di ruang keluarga menatap Aliya heran.
"Aliya?" panggilnya, Mai menatap Hardi sekilas sebelum beranjak dari tempat duduknya dan naik ke atas.
Mai memutar kenop pintu kamar Aliya, ia melihat Aliya sedang terduduk di ujung ranjangnya, Mai memeluknya dan Aliya kembali menangis. Air mata itu mengalir lagi, air mata ketakutan itu terulang kembali.
Mai menelepon Ellea untuk sesegera mungkin menjemputnya usai praktiknya sore nanti. "Sabar ya nak, sore nanti Bunda jemput Aliya. Aliya boleh ke mana aja sama Bunda dan Ayah juga Aluna, Aliya boleh menenangkan diri Aliya dulu sampai Budhe dan Pakdhe' juga Mas Bagus pulang ya." Mai terus menenangkan putri kesayangannya yang hampir ternodai dan masih trauma sampai hari ini.
Selain Aliya sedih berkepanjangan karena kepergian Anneke, hal itu juga lah yang membuatnya semakin tertutup pada siapapun apalagi temannya di kampus.
Dina menghampiri adik ipar dan keponakannya di lantai atas. Ia mematung sejenak di depan pintu yang terbuka itu melihat Aliya menangis begitu sesak di pelukan Mai.
Ia merasa gagal mendidik Bagus saat tahu ternyata kelakuan Bagus begitu liar. "Nduk, cah ayu. Maafin bulek' nak. Maafin Mas mu, Bulek' juga kecewa sama Mas Bagus karena kelakuannya sama kamu nduk. Maafin nduk, maafin." ucap Dina terisak sambil berusaha meraih Aliya ke pelukannya. Aliya menghindar dari pelukan Budhe' nya dan membenamkan diri di balik selimut tebalnya sambil menangis.
***
Sore harinya Ellea sampai untuk menjemput Aliya, Aliya masih mengurung diri di kamarnya. Tidak ingin keluar, bercengkrama dengan keluarganya yang seolah sudah melupakan masalah yang ada walau masih ada pendar-pendar canggung di sana.
"Assalamualaikum." sapa Ellea saat di depan pintu masuk.
"Wa'alaikumsalam." jawab semuanya serentak.
"Ellea, lama banget sih?" protes Mai saat Ellea menghampirinya.
"Ya maaf deh, Mbak. Tahu sendiri jalanan Jakarta jam segini kan? Oh iya, Yaya mana Mbak?" tanya Ellea mencari keberadaan Aliya.
"Di kamarnya, hibur dia sana. Butuh kamu tuh dia." jawab Hardi.
"Iya Mas."
Ellea segera beringsut masuk ke kamar Aliya tanpa menyapa atau melirik Dina ataupun Addry maupun Bagus di sana, ia terlanjur kesal. Ia lebih memilih naik ke lantai atas menemui keponakan kesayangannya dan membawanya menginap di rumahnya.
"Bundaaa..." suara Aliya di depan pintu kamarnya membuat Ellea mempercepat langkahnya. "Bunda... Hiks..." ia memeluk Ellea dengan erat, perlakuan berbeda yang di tampakkan membuat Dina semakin tersudut, biar bagaimana pun ia juga Tante nya Aliya namun sepertinya itu hanya status bagi Aliya. "Yaya takut." lirihnya.
"Ya Allah, Yaya kenapa?" Ellea melihat Aliya yang masih menangis dan berantakan di hadapannya. "Yuk kita masuk yuk, ceritain semuanya sama Bunda, jangan ada yang di tutup-tutupin." ucap Ellea.
Aliya mengangguk dan masuk ke kamarnya. Aliya menceritakan semua yang belum di ketahui Bunda nya sampai titik dimana tadi pagi meminta maaf soal kejadian yang sudah setahun berlalu.
Ellea begitu terkejut saat tahu hampir saja ada kejadian yang mungkin akan membuat Aliya trauma seumur hidupnya pada laki-laki, namun Allah masih sayang Aliya makanya Aliya berani untuk lari dan bercerita pada Mama dan Papa nya waktu itu. "Subhanallah, Ya. Pantesan kamu takut banget sama Bagus." ucap Ellea sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya udah makanya ayo kita jalan Bun, Aliya nggak mau lihat dia lagi!" Aliya segera bangun dari duduknya dan mengganti kerudungnya lalu membawa koper kecilnya.
Mereka berdua keluar dari kamar, Aliya tidak lupa mengunci pintu kamarnya, takut-takut ada sesuatu yang di ambil oleh Bagus.
Mai dan Hardi masih berada di ruang keluarga bersama yang lainnya. Ia beranjak dari sofa, mereka menghampiri Aliya lalu memeluknya.
Mereka tatap lekat-lekat wajah Aliya, guratan sedih dan trauma masih jelas di kilat mata coklat Aliya, Mai tidak tahu apa yang akan terjadi bila ciuman itu terjadi dan menuntut lebih, akan ada perang dunia ke berapa setelah itu, ia tidak ingin masa depan Aliya hancur, untung saja tidak, itu semua tidak terjadi.
"El, titip Aliya ya. Hibur dia, ajak jalan-jalan. " pinta Mai pada adiknya.
"Ajak dia ke makam Mama dan Papa. Biar dia tumpahkan kesedihannya disana." bisiknya lagi meminta Ellea membawa Aliya ke Lembang, makam Aki dan Nini nya. Ellea hanya bisa mengangguk tanda setuju permintaan Mai.
"Kakak, baik-baik sama Bunda ya. Telepon Mama kalau udah sampai." Mai mencium kening Aliya lama dan bergantian dengan Hardi.
Aliya dan Ellea keluar tanpa pamit pada yang lainnya. Tiba-tiba, Bagus bangun dari duduknya dan menahan tangan Aliya. Tahu itu tangan siapa, Aliya segera berbalik dan menampar wajah Bagus.
PLAK!!
Suara tamparan itu begitu keras membuat semuanya tercenung bahkan si kembar sampai menangis dan Bagus meringis.
"Astagfirullah, Aliya!" teriak Mai kaget.
"Lancang sekali kamu, Mas!" teriak Aliya kesal.
"Hey! Jangan berani-beraninya kamu sentuh Aliya! Sekalipun yang kamu sentuh itu tangannya!!" teriak Ellea tak kalah kesal dan menarik Aliya ke belakang tubuhnya.
"Dengerin Mas dulu, Aliya. Mas minta maaf." Bagus memohon.
"Nggak perlu! Too late!" ucap Aliya dari balik tubuh Ellea. "Ayo Bunda, kita pergi." pintanya menarik tangan Ellea keluar dari rumah.
"Bagus!" teriak Addry saat Aliya dan Ellea sudah pergi. "Cukup Gus! Kamu udah bikin Bapak dan Ibuk malu! Secepatnya kamu Bapak jodohkan dengan Hanum!" bentaknya membuat Bagus bungkam.
Dina masih terduduk di sofa dan menangisi kelakuan anaknya pada Aliya. Terkesan memaksa dan menuntut. "Gus..., Gus. Kok yo iso kamu begitu Le..., Ibuk malu sama Om dan Tante mu. Ya Allah, dosa besar apa hingga lanangku jadi seperti ini?" keluhnya sedih.
"Ibuk sama Bapak sekolahin kamu jauh-jauh, mahal-mahal biar kamu itu belajar untuk mendapatkan gelar yang kamu mau, Le'. Tapi, opo sing kamu dapat dari sekolah di sana? Ha? Yang kamu dapat itu ilmu apa Gus? Jawab Ibuk!!!" teriaknya sambil mengguncang-guncang tubuh Bagus.
"Cara memaksa perempuan untuk kamu cium dengan mudahnya?! Nggak semua perempuan kayak mantan-mantan kamu itu Gus!! Mikir Gus mikir!! Opo salah Ibuk karo kamu Gus? Ibuk sama Bapak ndak pernah mengajari kamu untuk jadi laki-laki pengecut Gus! Ibuk sama Bapak ndak pernah ajari kamu untuk ndak hormat dan ndak menghargai perempuan, ndak Gus, ndak. Kami mengajari kamu sebalik'nya. Ya Allah, Gusti. Kamu itu masih punya adik sepupu yang lain Gus. Kamu ini ndak mikir yo, Aliya itu adikmu Gus! Adikmu!! Yang seharusnya kamu jaga dan lindungi, bukan sebaliknya. Ya Allah Gustiiii..." Dina merutuki kelakuan anaknya. "Durhaka kamu, Le." tutupnya.
Tidak peduli, Mai segera masuk ke kamarnya dan menenangkan dirinya sendiri. Ia masih tidak habis pikir dengan kelakukan Bagus yang bisa seperti itu pada adik sepupunya sendiri. Kepalanya seketika pening memikirkan hal itu.
"Bagus kelewatan!" rutuk Mai. "Ya Allah..., jangan biarkan Bian sama Bhima seperti itu, jauhkan ya Allah. Biarlah mereka menyayangi sebagaimana mestinya saudara." lirihnya saat melihat kedua bocah kembar itu pulas tertidur di dalam baby box nya.
Ia rasa kepalanya semakin pening saat ini, ia memijit keningnya lagi, benar sepertinya tekanan darahnya naik saat ini. Hardi masuk ke kamar dan mendapati Istrinya sedang bersandar pada punggung tempat tidur mereka sambil memijit keningnya pelan.
"Honey, are you okay?" pertanyaan Hardi hanya di sambut senyum manis Mai saja.
Hardi tahu bahwa Mai tidak baik-baik saja, mereka menikah bukan lagi satu atau dua tahun, melainkan dua puluh satu tahun, Hardi hafal betul kapan Istrinya baik-baik saja atau baik-baik saja.
Ia membuka laci nakas di samping Mai dan mengambil alat tensi darah digitalnya dan melilitnya di lengan Mai.
"Mas, i'm okay." jawabnya pelan.
Hardi tak mengindahkan ucapan Istrinya itu dan benar saja saat angka-angka di layar digital itu berhenti tepat di angka 120.
Tatapan Hardi seolah berkata No, you're not okay. "See? Kamu istirahat ya." tukasnya melepas alat itu dari lengan Mai dan menyelimutinya untuk segera istirahat dan tidur dengan tenang sore itu lalu mengecup kening Mai sekilas.
Ini mah Mama pasti kesel banget, tapi inget lagi punya dua bocil cowok juga. Huhu.. Kakak kasian,
Hujani aku dengan vote dan komen kalian gaes. Selamat malam minggu yaa
#dahgituaja
#awastypo
Dudui
Danke,
Ifa