(7) 6- Little Moment

1484 Kata
Beberapa Tahun Kemudian... Keriuhan nampak jelas terdengar dari dalam kediaman keluarga Prayuda. Si kembar dan Kanika yang kini sudah memasuki sekolah dasar yang sama sedang menikmati liburan mereka. Karena jarak usia yang tidak jauh, Mai memutuskan untuk menyekolahkan Kanika bersamaan dengan Si kembar karena saat tes masuk sekolah ternyata si kembar mampu mengikuti. Sementara Aliya kini sudah selesai dengan internshipnya memilih untuk melanjutkan praktik di KMC, tempat Mai bekerja seminggu sekali. Aliya nampak baru keluar dari kamarnya menenteng tas juga snelinya ke arah meja makan lalu menyapa Mama dan Papanya. "Morning, Ma, Pa." Aliya duduk kemudian. "Morning, Kakak jadi bawa Kanika? Nggak repot?" tanya Mai. "Jadi Ma. Nggak kok, hari ini di poli aja kayak biasa." sahut Aliya lalu memulai sarapannya, Mai mengangguk. Kanika menarik-narik lengan baju Aliya. "Kak..., Kak..." lalu membisikkan sesuatu ke telinga Kakaknya itu, sambil Aliya menganggukkan kepalanya. "Hmm.., pasti ada sesuatu nih makanya mau ikut Kakak kerja yaa?" tanya Hardi. "Iih nggak Papaa," jawab Kanika cepat-cepat. "Emang kamu mau beli apa, Kani?" tanya Bhima tiba-tiba. Ekspresi wajah Kanika langsung berubah ketika Bhima menanyakan hal itu padanya. "Iihh Mamas!! Diam kenapa sih!" protesnya keras. Mai dan Hardi menahan tawanya melihat wajah Kanika yang memerah karena ketahuan. "Kalau kurang nanti Papa transfer, Kak." ujar Hardi setelah menyelesaikan sarapannya. "Iya Pa, gampang. Jalan duluan ya, Ma, Pa." jawab Aliya. "Ya udah, ayo Kani." Aliya langsung berpamitan lalu membawa Kanika ke mobil. Mai menggelengkan kepalanya sambil senyum-senyum melihat Kanika dan Aliya begitu lengket sampai Aliya praktik pun Kanika ingin ikut. "Bian sama Bhima nggak mau ikut Mama ke klinik?" "Nggak." jawab keduanya kompak. "Mas mau ikut Papa kok, Mama sendiri ajaaa." sahut Bhima sambil memakan rotinya. "Sama Mama nggak asik, pulangnya nggak bisa beli robot." tambah Bian, membuat Mai mengerjap tak percaya. Hardi menahan tawanya lagi melihat wajah Mai. "Sabar ya, Mam." Hardi menepuk-nepuk pundak Mai. "Iihh kamu mah!" Mai langsung mencubit pinggang Hardi sampai suaminya itu mengaduh kesakitan. "Awas aja di belikan macam-macam ya!" ancam Mai.  . . . . . "Kak nanti pulangnya kita ke toko mainan yaa..." pinta Kanika lagi saat sudah perjalanan menuju rumah sakit. "Iyaa nanti ke sana ya. Tapi pas pulang, oke?" sahut Aliya sambil mengarahkan mobilnya masuk ke KMC. "Okeee..." Kanika mengacungkan kedua jempolnya lalu bersiap-siap turun. Aliya turun bersama Kanika, sejak kecil Kanika terbiasa dengan tempat ini karena setiap Jumat selalu ikut Mamanya praktik saat si kembar malah ingin dengan Papanya saja seperti tadi pagi. Ini kali kesekian Aliya membawa Kanika, sejak kemarin adiknya itu sudah merengek minta ikut dan alasannya karena sedang libur padahal ada sesuatu yang akan di mintanya pada sang Kakak. Yaitu pergi ke toko mainan di mall dekat rumah sakit. Kanika menyapa setiap suster yang ia temui dengan ramah hingga sampai di ruangan poli umum. Kanika sudah tak mau lagi dititipkan pada daycare karena isinya semua bayi, tak ada yang seusia dirinya. "Eh Kanika, kok nggak sekolah?" tanya Suster Devi yang biasa membantu Aliya di poli umum. "Libur dong aku, jadi ikut deh sama Kakak..." Suster Devi mengangguk lalu menyerahkan beberapa medical record ke atas meja Aliya. "Ini dok, pagi ini sudah ada lima." katanya, Aliya segera memakai sneli dan mengalungkan stetoskopnya. "Oke. Panggil aja, Sus. Kani, duduk di situ ya, aku kerja dulu." ujar Aliya lalu duduk di kursinya sementara Kanika asik dengan buku mewarnainya. Sudah sering kali banyak yang mengira Kanika adalah anak Aliya setiap ia membawa Kanika ke sini. Sampai Aliya kehabisan kata jika ada pasiennya yang juga punya adik seusia Kani dan bilang bahwa akan mengenalkannya dengan Kanika. Kalau sudah begitu, Aliya hanya tertawa dalam hati saja. Ada-ada saja. Seperti sekarang, jika Kanika sudah bosan di ruangan Aliya, biasanya dia akan minta di antarkan Suster ke ruangan Ayah Mario yang hanya berjarak beberapa ruangan saja dari poli umum. "Kanika sama Aluna anaknya dr. Mario itu lengket banget ya, Dok?" tanya Suster Devi saat sudah tak ada lagi pasien. "Iya Sus, dari kecil udah sama-sama. Umurnya nggak beda jauh jadi lengket banget kayak kembar." jawab Aliya. "Sama Si kembar juga gitu, Dok?" Aliya mengangguk. "Ya sama, orang kalau baru aja sekali lihat mereka pasti akan mengira kembar empat, dua laki-laki dan dua perempuan. Sering banget setiap jalan ke mall nggak sama Papa Mama, orang kiranya aku Mamanya mereka." cerita Aliya sambil geleng-geleng kepala. "Udah gitu mereka iseng sering panggil aku Mama di depan umum." tambah Aliya sambil menepuk dahinya pelan. "Wah pertanda itu, Dok." "Pertanda apa?" Aliya pura-pura tak paham. Suster Devi menahan tawanya. "Pertanda harus segera cari pasangan, Dok." tawanya tak tahan lagi, Aliya jadi ikut tertawa juga. "Iya deh, yang udah punya calon. Duh, kalah saya." ujar Aliya, Suster Devi terkekeh. Ya memang, sejak lulus koas lalu selesai internship, tak ada satu lelaki pun yang sampai saat ini Aliya suka atau jadi incarannya. Tidak seperti Izza yang selesai koas bahkan langsung melangsungkan pernikahan beberapa hari setelah sumpah. Sebagai wanita normal, timbul rasa iri di hati Aliya melihat satu persatu sahabatnya menikah tapi mau di kata apa jika sang jodoh belum juga nampak di pelupuk mata? Aliya tak ingin terburu-buru, Aliya tak ingin salah langkah dan berakhir dengan perceraian jika pasangannya tak bisa mengerti kesibukannya nanti jika benar-benar mengambil spesialis yang tentu akan menambah jam kerja juga sekolahnya. Mai juga sering kali menegur Aliya untuk segera mencari lelaki yang pas bahkan sampai mau di jodohkan namun Aliya menolak mentah-mentah dengan alasan ingin fokus kerja dan menabung dulu. .  .  . "Kak, udah selesai belum?" Kanika merengek lagi entah untuk yang ke berapa kalinya dari balik meja Aliya. "Sabar, bentar lagi." Aliya masih sibuk menulis dan merapikan berkas-berkasnya tadi. Kanika harus menunggu lagi dengan sabar walau tak bisa ditutupi, bibirnya sudah maju beberapa senti sambil menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. Sesekali Aliya melirik sambil mengulum senyum membuat adiknya jadi sebal sendiri karena terlalu lama menunggunya. "Kaakk..." rengeknya lagi. "Iya iya, ini udah. Sabar dulu kenapa sih, mall nya juga nggak pergi ke mana-mana." jawab Aliya sambil melepaskan snelinya. "Sus, duluan ya." ucap Aliya menuju pintu. "Iya, Dok. Have fun." sahut Suster Devi.  .  .  . Kanika menggandeng tangan Aliya dengan senang saat sudah sampai di mall, Aliya hanya bisa geleng kepala melihat kelakuan adiknya yang satu ini jika sudah menginginkan mainan kesukaannya yang bulan ini mengeluarkan boneka Barbie edisi berhijab yang kabarnya bahkan stok sudah semakin menipis akibat permintaan pasar yang tinggi. Aliya jadi ikut berlari juga mengikuti Kanika menuju toko mainan itu, entah sepertinya Kanika sudah melihat mainan yang diidamkannya di salah satu rak. "Wah tinggal satu..." gumam Kanika lalu tangannya langsung terulur ingin mengambil boneka itu tapi ada tangan lain yang ikut juga hingga kedua tangan beda orang itu saling memegang kotak barbie yang sama. Kanika lantas menoleh ke sebelahnya, tatapan mata sinis dan wajah kesalnya pun nampak saat melihat anak perempuan lain yang juga menginginkan boneka yang sama dengannya. "Ini punyaku!" Kanika merampasnya dari rak. "Iihh aku duluan!!" anak perempuan seusia Kani itu nampak menarik - narik kotak barbie tadi dari tangan Kanika. "Punyakuuu!!" "Punya akuuuu!!!" hingga mereka berebut satu sama lainnya. Aliya yang ada tak jauh dari sana langsung menghampiri Kanika bertepatan juga dengan seseorang yang menghampiri anak perempuan tadi. "Hey hey.." lerai Aliya saat laki-laki itu menahan anak perempuan, lawan Kanika tadi. "Huwaaaaaaa..." Kanika langsung menangis sejadi-jadinya di gendongan Aliya karena kesal tak dapat mempertahankan mainan yang sudah di pegangnya lebih dulu. "Kani mau barbie ituuuuuu..." "Aduh, Mbak, maaf. Ini saya kembalikan." ujar lelaki itu setelah berhasil membujuk anak perempuan tadi. "Udah nggak usah buat anaknya aja, Mas." jawab Aliya sambil menenangkan Kanika di pelukannya. "Tapi kasihan itu anak Mbak juga jadi nangis." ujarnya lagi. Aliya menggeleng. "Sshh udah sayang cepcep yaa, nanti minta Papa belikan yaa?" bujuk Aliya. "Nggak mauuu, maunya ituu..." Kanika masih kekeuh mau yang tadi ia pegang. "Eh besok Papa mau kerja ke Kuala Lumpur lho, besok titip Papa aja ya?" Kanika masih menggeleng enggan. "Maunya itu..." "Ya sama aja sayang, nanti di carikan yang sama persis seperti itu. Nggak satu deh, tiga sama Papa nanti beli yang lengkap serinya." bujuk Aliya lagi membuat lelaki di depannya itu semakin tak enak hati. "Mbak, ini untuk anaknya aja. Nggak apa-apa nanti saya cari di toko mainan lain." Aliya tersenyum. "Nggak usah Mas, buat anaknya aja. Ini udah tenang kok, ya, Kani nanti beli sama Papa aja ya?" "Lima ya?" pintanya setengah terisak. "Iya, lima. Bilang Papa nanti." sahut Aliya sebagai senjata terakhir daripada malu di tempat umum. "Mbak, saya jadi nggak enak. Maafin ya, Mbak?" Aliya tersenyum sekilas. "Nggak apa-apa. Namanya anak-anak, saya permisi dulu ya. Ayo sayang, cari mainan lagi yang lain ya?" ujar Aliya sambil berlalu meninggalkan lelaki tadi dengan anak kecil di sebelahnya keluar dari toko mainan. "Pasti suaminya beruntung punya istri penyabar seperti itu." gumam si lelaki tadi sambil menatap punggung Aliya yang semakin menjauh. Haaiii aku kembalii, gimana gimana. Di sini hujan dari pagi sampai jam segini awet yaaa.. Bikin mager Hujani aku dengan vote dan komen kalian ya genksss #dahgituaja #awastypo Dudui Danke, Ifa
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN