Setelah hari itu David benar-benar tidak datang lagi ke rumah sakit, hanya Archen yang sesekali berkunjung dan membuat Gina sedikit kewalahan. ia tidak bisa mengatakan kejujuran jika sekarang Ibunya sedang menghilang. bahkan Gina sudah beberapa kali melihat berita di televisi dan hanya menampilkan kecelakaan mobilnya tanpa mengatakan jika ada orang lain selain dirinya yang berada di sana.
beberapa kali Gina mendapatkan telepon dari pengacara pribadi Gea, dan Gina hanya bisa mengatakan untuk menunda tuntutan perceraian yang sedang dilakukan oleh Gea, ia tidak bisa memutuskan karena dia bukan Gea.
"Apa yang harus aku lakukan," gumamnya bingung.
Kesehatan Gina sudah mulai membaik, dan sekarang adalah saatnya ia pulang. Gina merasa sangat gugup, lebih gugup dari biasanya. David, pria itu sudah menungguinya sedari tadi, bahkan Archen tampak sibuk bermain mobil-mobilan kecil yang ia bawa. Gina mencoba berlama-lama disana, namun barang-barang yang ia bawa hanyalah tas tenteng milik Gea yang berisi beberapa surat penting seperti identitas dan ponsel, yang menjadi sumber dari segala kesalahpahaman yang ada.
"Cepatlah, jangan berlama-lama!"
David sudah mencibir, raut wajahnya terlihat sangat kesal. Gina hanya tersenyum kikuk sambil berjalan dengan setengah hati.
Selama perjalanan Gina hanya diam sambil sesekali menjawab pertanyaan Archen tentang apa yang ia lihat, sementara David sibuk dengan ponselnya yang setiap saat berdering.
Saat mereka sampai, tatapan mata Gina segera tertuju pada rumah besar mewah yang tersuguh di depan wajahnya. beberapa pelayan segera datang dan membantu Gina untuk membawa barang serta menyambut mereka.
David hanya mengernyitkan dahinya tanpa mengatakan sepatah kata apapun, bahkan setelah turun dari mobil ponselnya segera berdering lagi.
David segera mengangkat telfon itu dan sedikit menjauhi mereka, setelah itu dia kembali dengan wajah kesal.
"Kau! jangan sampai membuat masalah!" seru David sambil menunjuk ke wajah Gina.
Gina hanya mengangguk tanpa mengatakan apa pun, ia masih agak takut dengan David.
David menghela nafas sebelum ia berbalik ke arah Archen yang masih berdiri diam diantara mereka berdua.
"Ayah akan pergi sebentar ya, jangan membuat Mama marah,"
Archen mengangguk mengerti, Ia melambaikan tangannya pada David sebelum David pergi bersama mobil yang tadi mereka tumpangi.
"Mama, apa mama capek?" tanya Archen yang bergelayut di salah satu lengannya.
"Tidak," jawab Gina pendek, setelah mendengar kalimat David ia menjadi takut untuk berbuat sesuatu hal yang bodoh.
Archen tidak mengatakan apa-apa lagi tetapi ia masih bergelayut di salah satu lengan Gina dengan manja. entah kenapa anak kecil itu terlihat tidak banyak bicara seperti saat masih ada David.
"Tuan Muda, lebih baik anda bermain bersama kami, Nyonya Gea masih terlihat pucat, ia butuh istirahat," ucap salah satu pelayan yang ada di sana.
Gina melihat wajah Archen yang berubah murung, membuat hati lemahnya bergetar.
"Tidak apa-apa, biarkan dia bersamaku," ucap Gina sambil menggandeng tangan Archen.
Saat itu Gina hanya mengikuti langkah pelayan yang menuntunnya menuju kamar utama. Begitu sampai Gina melihat potret pernikahan antara Gea dan juga David, wajah Gea terlihat sangat bahagia dan tersenyum lebar, berbeda dengan wajah David yang terlihat biasa saja. Wajahnya kaku dan terkesan dingin.
Ini terlihat jauh berbeda dengan apa yang dikatakan Gea padanya.
Apa pernikahannya tidak harmonis?
Gina mendudukkan dirinya disisi ranjang, sementara Archen hanya diam sambil menatap Gina, seolah menunggu sesuatu.
"Kenapa hanya diam? katanya mau main sama-sama?" tanya Gina heran.
"Enggapapa, aku pergi dulu." ucapnya dan segera berlalu meninggalkan Gina yang kebingungan.
Setelah Archen pergi Gina baru teringat hal yang paling penting yang harus ia lakukan. ia tidak bisa tinggal satu kamar dengan David, bagaimana pun ia bukanlah Gea yang asli.
Gina menatap kaki kanannya yang masih menggunakan Gips dan juga lengannya yang juga masih dibalut perban.
"Ini sulit," gumam Gina sembari melirik sekeliling kamarnya. Gina berjalan ke arah lemari dan membukanya, mencoba melihat apa ada baju yang bisa ia pakai, dan ternyata semua pakaian Gea terlihat begitu sexy dimatanya membuat Gina ingin menangis seketika.
Akhirnya Gina hanya mengambil beberapa baju yang menurutnya terlihat paling sopan diantara pakaian Gea lainnya dan kemudian melipatnya dengan rapi, setelah itu memasukannya ke dalam Goddie bag yang tersimpan di bagian paling bawah lemari pakaian Gea.
Gina menenteng Goddie bag itu keluar kamar dan mencari kamar lain di rumah besar itu sendiri, ia tidak enak jika harus merepotkan orang lain, toh itu bukan rumahnya melainkan rumah Gea.
Gina berjalan menelusuri setiap bagian rumah itu sambil melihat-lihat, sampai akhirnya ia menemukan salah satu kamar kosong yang terlihat lumayan
"Anda mau kemana?" tanya seorang pelayan yang lewat.
"Ah, tidakapa-apa jangan pedulikan aku," balas Gina kikuk. ia tidak terbiasa dengan percakapan formal seperti itu.
"Biar saya bantu Nyonya." Pelayan itu berusaha mengambil goddie bag yang sedang dibawa oleh Gina, namun Gina menolaknya dengan sedikit menghindar.
"Tidak perlu." Gina berpikir untuk segera pergi dan masuk kamar yang baru ia temui, namun pelayan itu tampak ingin merebut tas yang dibawa Gina sehingga membuat Gina hilang keseimbangan dan jatuh ke samping.
Tubuh Gina tidak sengaja bersenggolan dengan Vas porselen yang kebetulan terpajang disana, hingga Vas itu pun jatuh dan pecah berserakan.
"Aaarrrg..." Gina berteriak karna terkejut, bahkan kaki kanannya ikut terasa ngilu akibat terjatuh. Pelayan yang tadi akan merebut tas itu pun juga terlihat syok, dan segera membantu Gina untuk berdiri, namun setelah Gina berhasil berdiri ia justru memposisikan dirinya ditempat Gina terjatuh dan berteriak seolah-olah ia baru saja jatuh di sana.
"Nyonya, maafkan saya! saya tidak bermaksud demikian," ujarnya dengan suara serak seolah akan menangis.
Gina tentusaja kebingungan, ia bahkan tidak melakukan apapun pada pelayan itu, dan bahkan kaki kanannya masih terasa ngilu akibat terjatuh.
Pelayan lain yang mendengar keributan itupun segera datang dan menghampiri keduanya. Gina masih terlihat bingung, sementara Pelayan itu masih saja meratap meminta maaf seolah Gina sudah berbuat jahat padanya.
"Nyonya, tolong jangan membuat keributan!" ucap pelayan itu sambil membantu rekan kerjanya berdiri.
Beberapa pelayan lain datang dan hanya ikut menonton merek, seolah itu adalah sebuah tontonan yang biasa terjadi.
Gina ingin membela diri, namun Pelayan yang berpura-pura itu segera memotong dengan mengatakan kalau ia baik-baik saja dan ingin meminta untuk beristirahat.
Gina sungguh tidak mengerti, padahal seharusnya ia yang mendapatkan perawatan dan bukan pelayan itu. Tatapan para pelayan terlihat sangat tidak suka, dan beberapa ada yang bergunjing. Gina yang masih terkejut itu akhirnya memilih untuk segera pergi dan memaksa kakinya yang masih ngilu itu untuk berjalan masuk ke dalam kamar.
Gina memilih tidak peduli dengan keributan yang ada di luar, toh ia tidak merasa melakukan kesalahan apa pun. Gina meletakkan goddie bag yang ia bawa ke samping ranjang dan kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur kemudian memejamkan mata, ia lelah sekali.
"Apa yang kamu lakukan!" sebuah teriakan terdengar diambang pintu, membuat Gina terbangun karena kaget.