Part 17

1215 Kata
Setelah makan malam berdua, Bara mengajak Camila berbelanja pakaian di sebuah store. Awalnya Camila menolak karena ia sendiri sedang tidak butuh berbelanja baju baru. Tapi Bara memaksa. Dengan agak berat hati akhirnya Camila mau. Bahkan Bara membantunya untuk memilih pakaian yang cocok untuknya. Camila jadi penasaran karena selera Bara dalam memilihkan baju wanita untuknya terlihat seperti sudah terbiasa, selera pria itu bagus. Camila juga senang karena pakaian yang dipilihkan Bara sangat bagus, modelnya sederhana dan warna-warnanya kebanyakan pastel. Sehingga ia pun merasa nyaman mencobanya. Setelah selesai berbelanja, Bara pun mengajaknya pulang. ............. Paginya... Baju-baju yang Camila packing termasuk baju-baju yang baru dibelikan Bara tadi malam. Ia hanya membawa beberapa pakaian saja karena di sana baju-bajunya masih banyak dan ia akan membawa beberapa sisa bajunya di sana ke sini.  "Sudah selesai?" tanya Bara yang ternyata baru bangun. Semenjak meresmikan hubungan mereka sebagai sepasang kekasih meski tak saling mengutarakan perasaan mereka secara langsung, Bara dan Camila selalu tidur di kamar yang sama. Toh bagi Bara, mengutarakan perasaan tidak terlalu dibutuhkan. Ia pernah mengatakan jika ia menyukai Camila beberapa hari yang lalu. Menurutnya, itu jauh lebih dari cukup.  "Eh. Baru saja selesai kok. Lagipula aku packingnya nggak terlalu banyak," ucap Camila sembari menutup koper kecilnya yang ia bawa pertama kali waktu menginjakkan kaki di ibukota ini.  Bara pun beranjak dari tempatnya dan menghampiri Camila lalu duduk di samping gadis itu. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Camila. Semalam ia terlalu lelah sehingga ia ketiduran. Akhir-akhir ini ia bekerja keras agar bisa segera bertemu dengan orangtua Camila dan meresmikan hubungan mereka sampai ke jenjang pernikahan. Entah kenapa ia rasanya seakan ingin mempercepat pernikahannya. Ia hanya takut pernikahannya gagal lagi dan membuatnya terpuruk seperti dulu. Kadang ia tidak yakin dengan hatinya untuk menikah dengan Camila, tapi ia menepisnya. Toh ia menyukai Camila dan Camila pun tampaknya menyukainya. Apalagi mereka saling membutuhkan satu sama lain. Jadi tidak ada salahnya, kan? "Kamu kenapa?" tanya Camila sembari mengusap puncak kepala Bara dengan lembut. Ia tidak menyangka jika secepat ini akan mendapatkan pengganti Fahri. Mungkin kelihatannya memang terlalu cepat, tapi ia berusaha untuk mempersiapkan hati dan dirinya sendiri. Meski perkenalannya dengan Bara termasuk sangat singkat, toh tidak menjamin apa-apa. Ia saja dulu menjalin hubungan dengan Fahri sampai tiga tahun lebih tapi pernikahan mereka malah gagal. Jadi mungkin saja perkenalan yang singkat ini malah bisa membawa hubungannya dengan Bara ke jenjang yang serius tanpa khawatir pernikahan mereka akan gagal seperti dengan Fahri dulu. "Nggak apa-apa kok. Aku hanya khawatir." "Khawatir soal apa?" "Aku takut pernikahan aku akan gagal lagi. Kamu nggak akan kabur kan pas pernikahan kita?" tanya Bara sembari menatap Camila penuh harap. Seolah ia begitu takut jika semua masa lalunya terulang lagi dan membuatnya terpuruk kembali seperti dulu. Ia tidak akan pernah siap untuk sakit hati lagi yang kedua kalinya. Lagipula siapa juga orang yang siap untuk tersakiti kembali. Camila tersenyum kecil. "Nggak kok. Kecuali ada wanita yang tiba-tiba datang dan mengaku dihamili olehmu. Jangan harap kalo kamu bisa bertemu aku lagi." Ia mencebikkan bibirnya membuat Bara gemas. Bara langsung menatap ke arah Camila dan memajukan wajahnya, melumat bibir gadis itu dengan rakus sembari tangannya menyelinap ke dalam kaos yang Camila kenakan. Dan mereka melakukan permainan panas itu untuk  menyambut pagi yang cerah itu. Menyalurkan perasaan mereka satu sama lain. ................. Malam harinya setelah makan malam, Bara dan Camila berangkat ke Malang dengan menggunakan mobil pria itu. Karena mereka tidak mengejar waktu jadi Bara mengendarai mobilnya santai saja. Sesekali mereka istirahat di rest area. Jalan tol menuju Malang tidak terlalu padat karena memang bukan hari libur. Mereka memang sengaja tidak pergi di weekend karena menghindari kemacetan. Apalagi mereka menggunakan mobil pribadi.  Bara memilih naik mobil pribadi agar saat di Malang bisa bebas berjalan-jalan dengan Camila dan agar mereka berdua punya waktu yang lebih banyak juga bersama.  "Kalo capek, istirahat dulu saja," ucap Camila saat melihat wajah Bara yang terlihat sudah sangat mengantuk. Jelas saja, jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Mereka sudah beristirahat beberapa kali dan Bara hanya tidur sebentar-sebentar. Mereka baru saja sampai di kota Semarang. Masih setengah perjalan lagi menuju Malang. Mungkin butuh waktu dua belas jam lagi. Atau bahkan seharian lagi jika mereka terjebak macet. Apalagi jalan dari kota ke desa tempat orangtua Camila tinggal cukup jauh. "Padahal kita udah tiga kali istirahat ya. Tambah lama deh. Bisa-bisa kita sampai malam juga nih." Bara akhirnya membelokkan mobilnya ke rest area yang cukup sepi. Hanya ada beberapa pedagang kaki lima dan tempat makan.  "Nggak apa-apa. Orangtuaku pasti mengerti kok. Lagipula kita kan punya banyak waktu. Om Akbar sampainya jam berapa memang?" "Mungkin besok pagi karena dia dapat jadwal pesawatnya pagi sekali sekitar jam tigaan." "Baguslah. Nanti kan kamu bisa menjemput Om kamu kalo dia sudah sampai besok pagi," ucap Camila seraya tersenyum mengerti. Bara mengangguk lalu ia merubah posisi jok mobilnya agar ia bisa sedikit berbaring di sana. Camila pun melakukan hal yang sama. Matanya sudah sangat mengantuk padahal ia sudah tidur terus selama perjalanan tadi. Seharusnya ia bisa menemani Bara yang sedang mengendarai mobilnya tapi matanya tidak kuat. Bara juga menyuruhnya untuk tidur saja. Bara hanya menatap wajah Camila yang sudah memejamkan mata di sampingnya. Ia mengulum senyum, membayangkan jika setiap pagi dan malam, wajah Camila akan menjadi wajah yang selalu ia lihat. Selama satu bulan ini mereka tidur bersama, Bara tidak pernah bosan sekali pun memandangi wajah Camila. Wajah Camila sangat cantik, manis dan bersih. Tidak ada noda sedikit pun pada wajahnya bahkan pipi gadis itu sering memerah saat terkena sinar matahari, mungkin masih belum terbiasa dengan cuaca ibukota yang jauh lebih panas dibanding Malang. Tapi itu justru membuatnya terlihat jauh lebih cantik.  Camila jarang mengenakan make up tebal. Make up yang Camila kenakan selama ini hanya yang simpel dan diaplikasikan tipis, membuat kecantikan naturalnya semakin terlihat. Bahkan tanpa make up pun, Camila tetap cantik. Bara tetap menyukainya, menyukai apapun keadaan gadis itu.  Bara memang tahu banyak soal fashion wanita karena mantannya dulu adalah seorang designer sekaligus make up artist.  Rene. Dia gadis yang cantik dan make up-nya selalu menambah kecantikan gadis itu meski make upnya memang sedikit lebih tebal dibanding Camila. Tapi sangat cocok untuk wajahnya. Rene juga pintar memadu padankan pakaian yang dia kenakan. Bahkan gadis itu sering membelikannya pakaian dulu. Bara pun mau tidak mau jadi bisa menilai pakaian-pakaian yang Rene kenakan juga make up yang gadis itu poles. Bara juga sering diajak Rene saat melakukan pekerjaannya saat hari libur. Hari-hari yang selalu menyibukkan Bara tetapi pria itu senang menemani kekasihnya. Bara tiba-tiba tersadar saat sebuah sentuhan mendarat di wajahnya. Ternyata Camila sedang mengusap rahangnya sembari tersenyum kecil. Pria itu tidak sadar jika sejak tadi Camila sedang balik menatap dirinya. "Kok nggak tidur?" tanya Camila. Bara menggeleng pelan. "Aku malah nggak ngantuk. Aneh ya." Ia tersenyum geli. Padahal saat di jalan tadi, ia sangat mengantuk.  "Terus? Mau lanjut jalan aja?" "Aku beli kopi dulu deh. Kamu mau tunggu di sini apa mau ikut?" tanya Bara sembari membuka pintu mobilnya. "Aku di sini aja deh. Aku nitip kopi juga ya rasa vanilla latte. Biar nggak ngantuk lagi." Bara hanya mengangguk kemudian keluar dari mobilnya dan menutup pintu mobilnya kembali. Pria itu pun berjalan menuju sebuah minimarket satu-satunya yang ada di rest area itu. Ia segera masuk ke sana dan berjalan ke arah lemari pendingin, memilih beberapa minuman dan cemilan untuk di perjalanan nanti. Ia juga membeli beberapa roti dan makanan berat siap saji yang ada di minimarket itu.  "Loh Bara, kan?" suara yang sangat familiar itu membuat Bara menoleh dan seketika mata pria itu membulat, terkejut dengan siapa yang ada di depannya. "Rene?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN