Part 16

1088 Kata
"Kamu tahu? Rencana pernikahan kamu dan pak Bara jadi trending topik di kantor ini," ucap Emi yang sedang menyeduh kopi di pantry lantai lima bersama Camila.  Camila hanya diam sembari menggenggam cangkir yang berisi coklat panas yang baru saja ia buat. Ia bukan tidak tahu soal karyawan-karyawan disini yang membicarakan dirinya. Bahkan ada yang sampai mengira jika dirinya menggoda pak Bara karena tinggal di rumah kos yang sama dan menjadi sekretaris pria itu. Lalu apa yang bisa seorang sekretaris manajer lakukan jika tidak dekat dengan manajernya?  "Kamu tidak hamil gara-gara pak Bara, kan?" bisik Emi kali ini dengan suara yang jauh lebih rendah sembari memperhatikan di sekelilingnya yang tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua. Terkadang dinding pun mendadak punya telinga ketika kita sedang membicarakan seseorang. Camila tersedak lalu melotot kesal ke arah Emi yang hanya tersenyum tipis sembari mengaduk-aduk kopinya yang mengepulkan asap. "Enggak kok. Aku nggak sedang hamil. Kamu tahu memang pak Bara aja yang mengajakku menikah mendadak padahal belum tiga bulan kami kenal." "Iya juga sih. Jadi kenapa ya? Apa pak Bara udah ngebet? Semoga dia benar-benar sudah move on dari Rene deh. Aku nggak kebayang kalo kamu malah jadi pelariannya dia." Emi menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian mengajak Camila kembali ke ruangan mereka. Tanpa Emi ketahui, ucapannya membuat gadis itu jadi kepikiran. Apa Bara benar mencintainya? Apa Bara benar-benar sudah move on dan menikah karena pria itu cinta padanya, bukan menjadikannya pelarian? Dan untuk dirinya sendiri, apa ia benar-benar siap menikah dengan Bara? Setelah kekecewaannya beberapa bulan yang lalu dan masih terlalu dini sebenarnya untuk memulai hubungan lagi apalagi sampai ke jenjang pernikahan. Jika pun move on yang dipertanyakan, harusnya Camila lah yang patut dipertanyakan soal itu. Terkadang move on memang tidak membutuhkan waktu yang lama, hanya butuh kesiapan hati untuk menerima orang baru dan mencintainya dengan ketulusan, bukan keterpaksaan. ............. Hari semakin sore ketika Camila sibuk berkutat dengan pekerjaannya. Sampai gadis itu tidak menyadari pria yang baru saja keluar dari ruangannya dan tengah memperhatikannya. Sebenarnya meski tengah serius dengan pekerjaannya, pikiran gadis itu tengah berkelana dengan pertanyaan-pertanyaan di dalam kepalanya. Namun ia berusaha mengacuhkannya dengan terus mengerjakan pekerjaannya.  "Ehm." Deheman Bara sukses membuat Camila tersadar dan menoleh ke pria itu.  "Eh, Pak Bara." Camila berdiri di tempatnya dan menatap pria itu dengan sopan. Meski berita soal rencana pernikahannya dengan Bara sudah tersebar ke seluruh penjuru kantor, tapi Camila tetap harus bersikap sopan di depan calon suaminya itu. Kecuali kalo di luar kantor, itu beda lagi. "Saya tunggu di parkiran," ucap Bara yang ternyata sudah membawa tas kerjanya dan berjalan menuju lift. Camila menghela nafas lalu matanya sekilas menangkap tatapan Emi yang sedang mengarah padanya. Emi mengepalkan tangannya ke udara, berniat menyemangatinya. Camila hanya tersenyum tipis kemudian membereskan mejanya sebelum menyusul Bara ke parkiran. Ia tidak ingin membuat pria itu menunggu terlalu lama. "Besok kamu jangan lupa packing ya, malamnya kita akan berangkat ke Malang dengan mobilku saja. Om Akbar akan menyusul lusa dengan pesawat," ucap Bara ketika Camila sudah duduk di sebelahnya.  Camila hanya mengangguk. Pikirannya masih tertuju pada perkataan Emi. Gadis itu jadi penasaran, seperti apa sosok Rene hingga sepertinya membuat Bara begitu terluka. Walau Camila juga pernah terluka, tapi ketika tahu Fahri mengkhianatinya, ia malah merasa sedikit lega. Tentu saja karena ia bebas dari pria pengkhianat itu. Ia juga tidak tahu kabar soal Fahri dan Desya lagi. Ia memilih memblokir semua tentang mereka dibanding menggali lukanya sendiri jika secara tak sengaja mengetahui kabar mereka lewat sosial media. Apalagi Desya yang terkesan suka pamer kemesraan dengan Fahri ketika mereka baru menikah dan Camila masih di Malang, seolah bahagia di atas penderitaannya.  Terkadang Camila jadi berpikir, apa ia benar mencintai Fahri dulu? Tapi kenapa sekarang ia dengan mudah mencintai pria lain setelah dikecewakan mantan kekasihnya itu? Apa ini memang takdir atau memang dirinya sejak dulu tidak mencintai Fahri? Atau perasaannya pada Fahri hanya sekedar rasa kagum karena kegigihan dan kemandirian pria yang adalah anak dari pengusaha terkenal di kampungnya? "Mau makan malam di luar?" tanya Bara tiba-tiba ketika lampu lalu lintas di depannya berubah menjadi merah. Pria itu menoleh ke Camila yang terlihat sedang kosong tatapannya. "Iya, boleh." "Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu? Kamu terlihat tidak fokus." Bara menginjak pedal gasnya lagi dan melajukan mobilnya menuju salah satu pusat perbelanjaan. "Tidak juga." "Omongan orang-orang kantor tidak perlu didengarkan," ucap Bara yang tahu sedikit apa yang Camila pikirkan walau tak sepenuhnya soal itu. Camila memang tidak terlalu memikirkannya.  Ia sudah terlalu ahli dalam mengabaikan komentar orang lain soal hidupnya. "Lambat laun mereka akan sadar jika berita itu salah. Toh kamu juga tidak sedang hamil." "Iya, aku tidak memikirkannya kok. Aku hanya lelah karena hampir seminggu ini kita bekerja keras." Camila mengelak. Terkadang ia jadi berpikir pada dirinya sendiri. Ia hampir seminggu sekali melakukan permainan panas dengan Bara. Tapi tidak kunjung memberikan tanda-tanda jika dirinya hamil. Padahal mereka tidak pernah menggunakan pengaman. Camila jadi khawatir jika dirinya memiliki masalah pada kesuburannya, walau ia juga tidak berharap hamil dalam-dalam waktu dekat ini apalagi ia belum resmi menikah dengan Bara. Bara menyunggingkan senyum tipisnya. "Maaf jika semuanya terlalu cepat buat kamu. Aku hanya tidak ingin kamu menunggu terlalu lama. Toh niat baik memang seharusnya disegerakan, kan?" "Iya. Tapi kamu merasa aneh nggak sih? Kita melakukannya kan lumayan sering, tapi kok aku nggak hamil ya?" Camila mengutarakan kecemasannya. "Memangnya kamu mau hamil?" Bara tersenyum geli menanggapi pertanyaan calon istrinya ini. "Bukan gitu juga sih. Ya aku mau aja hamil tapi setelah menikah." Camila menggembungkan pipinya dengan kesal. "Aku takut aja jika aku nggak subur. Atau rahimku ada masalah." Ia bergidik ngeri membayangkannya. Walau ia sendiri yakin jika dirinya baik-baik saja. Terlebih jadwal bulanannya rutin dan ia tidak terlalu sering kesakitan saat jadwal bulanan di hari pertama. Malah ia bisa tetap bekerja meski bisa ambil cuti haid. "Entahlah." Bara mengedikkan bahunya. "Kita kan nanti akan periksa juga soal itu untuk berkas-berkas pernikahan. Semoga tidak ada masalah apa-apa." Ia berusaha menenangkan gadis yang tampak gelisah di sampingnya. "Kalo ternyata ada masalah pada diriku bagaimana?" Camila menunjukkan raut kecemasan pada wajahnya. Karena ia pernah baca di artikel, walau tak ada gangguan yang terasa terkadang penyakit tetap ada di dalam tubuh. Ia jadi mengkhawatirkannya. Bukankah akan lebih menyeramkan jika sebuah penyakit itu tidak terdeteksi? Bara memarkirkan mobilnya di basement pusat perbelanjaan lalu menoleh ke arah Camila. Pria itu tersenyum tipis. "Aku menikahimu karena aku mencintaimu, jadi apapun yang terjadi pada kamu ataupun aku, aku akan tetap menerimanya. Kalo ternyata yang menjadi masalah itu aku, apa kamu akan tetap melanjutkan pernikahan kita?" tanyanya balik yang membuat Camila menjadi bingung. Sangat jarang pria yang memiliki masalah pada kesuburannya. Lebih tepatnya jarang terdeteksi. Kebanyakan wanita yang nggak kunjung hamil dikira mandul, padahal bisa saja masalah itu ada pada sang pria. "Aku akan tetap melanjutkannya." Camila mengangguk yakin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN