Part 24

1168 Kata
Camila melihat-lihat majalah yang berisi berbagai design decorasi untuk pesta resepsi pernikahan. Bara mempercayakannya untuk memilih decorasi resepsi mereka karena Bara sudah menentukan tempatnya. Lagipula mereka sudah pernah ke lokasinya jadi kurang lebih sudah tahu decorasi apa yang cocok.  "Jadi beneran kamu bakal nikah sama pak Bara, Mil?" tanya Emi yang tiba-tiba sudah berdiri di depan meja Camila. Camila hanya tersenyum tipis. Mau disembunyikan pun, semua karyawan di kantor sudah mengetahuinya. Tapi Camila juga malas untuk mengkonfirmasi soal berita rencana pernikahannya dengan Bara. Karena beberapa tidak percaya dan merendahkan dirinya yang baru kenal dengan Bara tapi sudah mau nikah. Ditambah posisi Bara yang sebagai atasannya.  "Tuh kan! Udah lihat-lihat WO aja. Kamu mah ya. Diam-diam menghanyutkan." Emi mencebikkan bibirnya sembari melipat kedua tangan di depan dadanya.  Camila tersenyum lebar kali ini.  "Habis darimana kemarin sama Pak Bara? Hampir seminggu loh. Lamaran ya?" tanya Emi yang masih pantang menyerah. "Iya aku ke Malang sekalian lamaran. Puas?" jawab Camila kali ini. "Tuh kan bener. Jadi rencana nikahnya kapan? Dimana? Kami orang-orang kantor diundang, kan?" tanya Emi lagi dengan cepat dan menuntut. "Iya iya tapi tanggalnya rahasia dong." Camila mengedipkan sebelah matanya. "Yang jelas khusus orang-orang kantor akan dibuat pesta tersendiri. Hanya kamu yang tahu loh. Jangan bocor." "Asiappp, Mil. Aku bisa jaga rahasia kok. Akhirnya kamu beneran mau nikah sama pak Bara ya. Tuh si bos akhirnya bisa keluar dari lingkaran setannya si Anne," bisik Emi sembari tersenyum lega. "Husss! Jangan ngomongin orang yang udah nggak ada di sini," balas Camila yang membuat Emi tertawa.  "Kabarnya dia pindah ke luar negri loh." "Oh ya? Kata siapa?" Emi mengedikkan bahunya. "Aku kan anak baik hati dan tidak sombong jadi ada aja yang ngasih tahu," ucapnya sembari tertawa kecil. "Emang dasar orang kaya ya. Sakit hati dikit langsung ke luar negri. Lah yang rakyat jelata kayak kita bisa apa? Sakit hati, main ke ancol aja udah bahagia." Camila tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Emi. "Ya mungkin itu udah pilihan dia, Mi. Lagipula soal hati mana bisa dipaksa. Cara dia sendiri sejak awal salah. Mana ada cowok yang senang didekati dengan cara agresif begitu." "Iya sih. Harusnya kalem kalem aja ya kayak kamu. Kalo dia mah ihhhh baju aja seksi seksi. Pasti ngegodain pak Bara mulu tuh." Emi bergidik ngeri tanpa menyadari perubahan di raut wajah Camila. Camila merasa ia seperti apa yang Emi bicarakan. Walau ia tidak pernah menggoda Bara, tapi ia dan Bara sudah tidur bersama. Jadi apa bedanya dengan Anne? ................ Siang semakin terik ketika matahari seakan berada tepat di atas kepala. Padahal tadi pagi langit cukup mendung dan gerimis kecil tapi siang ini, jejak bekas gerimis tadi pagi pun sudah tidak terlihat. Memang secepat itu perubahan cuaca. Sama seperti hati yang terkadang berubah begitu cepat.  Camila dan Emi memutuskan untuk makan es campur yang ada di salah satu kedai di sebrang kantor. Tentunya setelah mereka makan siang dengan sepiring nasi goreng di kantin kantor.  Namun saat Camila sedang asik menikmati semangkuk es campurnya, ia mendapatkan sebuah pesan masuk di ponselnya yang ternyata adalah sebuah video. Gadis itu mengernyitkan dahinya, ia melirik sekilas ke arah Emi yang tampak asik menikmati es campurnya sembari streaming drama Korea di ponselnya. Ia pun menekan tombol play setelah sebelumnya mematikan volume ponselnya.  Camila terkejut sampai hampir menjatuhkan ponselnya sendiri saat melihat video itu. Itu adalah video di kamar tempat ia dan Bara menginap di Malang. Tapi jelas sekali pria itu bukan Bara, pria yang bercinta dengannya di saat pagi hari itu. Jadi apa yang ia rasakan itu benar? Apalagi di video itu, ia terlihat sangat ganas.Sayangnya Camila tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria yang ada di video itu.  Tangan Camila bergetar. Es campur di depannya sudah tidak membuatnya berselera lagi. Bahkan untuk berdiri pun rasanya ia tidak sanggup.  "Kamu kenapa, Mil? Kok nggak di makan esnya?" tanya Emi yang mengalihkan pandangannya dari ponselnya. Camila hanya menggeleng pelan kemudian menyembunyikan ponselnya ke dalam saku blazernya. "Aku balik duluan ke kantor ya, Mi." "Kenapa? Pak Bara yang nyuruh ya? Ya udah sana gih. Aku tanggung nih masih belum habis," ucap Emi tanpa kecurigaan sedikit pun.  Camila mengangguk kemudian ia beranjak dari tempatnya dan segera kembali ke kantornya. Entah apa yang mau ia lakukan. Tidak mungkin ia menceritakannya pada Bara. Pria itu pasti kecewa jika tahu dirinya telah bercinta dengan laki-laki lain. Ia hanya butuh ketenangan. Setidaknya untuk mendamaikan dirinya. Ia mencoba menghubungi nomor itu dan langsung diangkat! "Bagaimana, sayang? Permainanmu sangat memuaskan saat itu. Aku ingin mencobanya lagi tapi dengan penuh cinta. Bagaimana menurutmu?" suara pria di sebrang membuat darah Camila mendidih. "Ka-kamu siapa? Apa yang kamu lakukan hah?! Kamu mau memerasku? Iya?" Camila menahan nada bicaranya yang bergetar meski tak berhasil. Ia hampir ingin menangis saat ini. Pria di sebrang sana malah tertawa. "Aku satu-satunya pria yang mencintaimu dengan tulus. Suatu saat kamu pasti membutuhkanku ketika kamu sadar jika Bara bukan pria yang baik. Aku akan menunggumu, sayang." Tuttt tuttt... Telepon langsung terputus dan ketika Camila ingin menghubunginya lagi, nomor itu ternyata sudah tidaka aktif. "Sial!" Ia memegangi kepalanya dan duduk di lobby kantor yang saat itu sepi. Ia pun segera naik ke lantai lima demi menenangkan hatinya. Pasti jam segini para karyawan masih berada di luar untuk makan siang. Tapi bagaimana jika Bara ada di ruangannya? Apa yang harus ia lakukan untuk menutupi semua ini? Jika Bara tahu, pasti pria itu akan membatalkan pernikahan mereka dan ia akan kembali menanggung malu seperti dulu. Tidak. Camila tidak ingin seperti dulu lagi. Ia membutuhkan Bara untuk melanjutkan kehidupannya yang sempat hancur. ................ Kisah masa lalu memang tersimpan rapih di dalam hati, menjadi kenangan indah apalagi bersama orang yang pernah berbagi rasa dengan waktu yang cukup lama.  Terkadang melupakan masa lalu memang tidak semudah memulai hubungan baru. Walau banyak yang bilang, temukanlah penggantinya maka dengan begitu kamu bisa melupakannya dengan mudah. Sayangnya realita tidak berjalan semudah itu.  Hati yang tahu kepada siapa dia berlabuh. Tapi kisah masa lalu yang terus bergelayut dalam kehidupan juga tidaklah baik, karena akan membuat kisah baru yang baru saja dirajut akan terasa sia-sia.  Seperti yang Bara alami saat ini. Ketika ia sudah hampir berhasil memulai kisah baru hidupnya bersama Camila, lalu kedatangan Rene ke dalam hidupnya lagi seakan menghancurkan semua yang telah ia bangun bersama kekasih barunya. Membuat semuanya kembali terasa hampa dan hasratnya tetap kembali untuk Rene.  Nyatanya tiga tahun lebih Bara mencoba melupakan Rene, hampir berhasil. Tapi sekali saja pertemuan dengan kekasih masa lalu yang telah menghancurkan pernikahan mereka berdua dulu, kembali menghidupkan api cinta yang membara dalam hatinya. Membuat Bara tahu jika yang ada di hatinya selama ini adalah Rene, selalu Rene, tidak akan pernah tergantikan. "Kamu bisa menikah dengan Camila, tapi ingat... dia hanya boneka dalam hidupmu. Seluruh cinta dan kasih sayangmu hanya milikku."  Bara menghela nafas ketika memutuskan teleponnya dari Rene. Seakan terhipnotis dengan semua ucapan gadis itu, ia menyetujuinya. Bibirnya perlahan membentuk senyum tipis. Ia bisa memperbaiki nama baik keluarganya yang sempat hancur bersama Camila, dan juga mendapatkan kekasih masa lalunya kembali. Bukankah itu sebuah keuntungan yang besar? Anggaplah Bara pria yang b******k. Ia hanya ingin memperbaiki nama baiknya setelah gagal menikah dengan Rene, tapi ia juga ingin tetap memiliki Rene. Ia tidak akan menyia-nyiakan Camila yang bisa menjadi tameng dalam kehidupan pernikahannya nanti, menjadikannya seperti suami yang paling baik sedunia. Padahal ia hanya ingin menyembunyikan perselingkuhannya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN