Saat matahari menyelinap masuk ke dalam kamarnya, Camila terbangun dari tidurnya. Ia melihat Bara yang baru masuk ke kamarnya dengan hati-hati. Seketika perasaan gadis itu mendadak tidak enak apalagi menyadari jika dirinya tanpa sehelai benang pun. "Ka-kamu darimana, Mas?" tanyanya.
"A-aku habis jalan-jalan ke luar, sayang." Pria itu lalu duduk di samping Camila dan menyadari gadis itu tidak mengenakan sehelai benang pun. Ia tersenyum tipis menyadari efek samping dari obat tidur itu ternyata berhasil. Ia pun langsung menarik selimut yang menutupi tubuh Camila dan langsung menyetubuhi gadis itu tanpa pemanasan lagi, membuat Camila sedikit kesakitan karena Bara menyerangnya tiba-tiba.
Camila merasa telah mencium aroma parfum wanita dari tubuh Bara tapi gadis itu terlalu lelah untuk berpikir. Apalagi ia masih bingung dengan apa yang ia alami beberapa jam yang lalu. Rasanya begitu nyata. Rasa nikmat yang berbeda. Lalu siapa pria itu? Tidak mungkin pria lain yang menyelinap masuk ke sini dan memperkosanya, kan? Lagipula ia yang menyerang pria itu lebih dulu.
Siapa dia?
Ada begitu banyak pertanyaan di dalam kepala Camila saat ini. Terutama tentang pria yang semalam datang ke sini. Siapa pria itu? Dan kenapa ia dengan bodohnya malah menyerahkan tubuhnya tanpa memastikan siapa yang bersamanya. Ini benar benar keterlaluan. Bagaimana bisa ia semurah ini? Bagaimana jika Bara mengetahui yang sebenarnya? Lalu kemana Bara semalam sampai pria itu baru kembali di pagi hari begini. Ditambah aroma parfum wanita yang membuat gadis itu semakin curiga.
"Kamu memang yang terbaik. Meski diam saja, kamu selalu bisa menggodaku," ucap Bara dengan senyum manisnya. Senyum yang selalu bisa membuat Camila jatuh hati.
Camila hanya balas tersenyum tipis dengan rasa nyeri pada bagian bawah tubuhnya karena serangan Bara yang terlalu terburu-buru. Seolah pria itu telah menahan hasrat yang begitu dalam.
............
Rene tersenyum sembari menyesap tehnya dan menatap ke luar jendela. Matahari telah sampai di tempatnya, menyinari pagi itu dan meninggalkan rasa hangat. Tapi kehangatannya kalah dengan kehangatan yang ia dapatkan dari Bara hari ini. Ia memeluk lengannya sendiri seakan setiap sentuhan Bara di kulitnya masih sangat terasa. Ia tidak peduli dengan suaminya mau pun calon istri Bara. Yang ia butuhkan adalah kebutuhan biologisnya kembali terpenuhi seperti dulu. Hanya Bara yang bisa memberikannya.
.............
Gilang memegangi kepalanya sendiri, merasa bersalah dengan apa yang sudah ia lakukan tapi ia tidak menyesalinya. Ia malah berharap agar Camila hamil dan membuat gadis itu membatalkan pernikahannya dengan Bara. Ia tidak ingin jika Camila menikah dengan Bara, pria b******k yang hanya ingin mempermainkan gadis itu. Walau tak bisa Gilang pungkiri, tubuh Camila sangat bagus meski dalam kegelapan.
Bukan Gilang bermaksud mempermainkan Camila dan memperlakukannya seperti gadis murahan. Namun ia bingung dengan cara apa untuk merebut Camila selain dari cara yang Anne katakan. Karena jika berhasil, otomatis hubungan Camila dan Bara bisa hancur dan ia punya kesempatan untuk memiliki Camila. Tapi bagaimana jika gadis itu malah membencinya karena tahu ia adalah penyebab semua kerusakan dari hubungan Bara dan Camila?
Gilang hanya menghela nafas sembari berdiri di balkonnya, menatap Camila yang tengah asik berjalan-jalan di pinggir pantai bersama Bara. Pria yang berada di samping Camila itu tampak begitu mencintai Camila, padahal Gilang tahu apa yang telah Bara lakukan bersama Rene. Tidak mungkin mereka tidak berbuat apa-apa selama berjam-jam di dalam kamar Rene.
"Kenapa pria b******k seperti itu yang malah membuatmu jatuh cinta, Mil. Andai kita bertemu sejak awal, mungkinkah aku dan kamu bisa bersama?"
..............
Setelah liburan singkat di Pantai Ngliyep, Bara dan Camila pun akhirnya kembali ke Jakarta. Perjalanan kali ini mereka lakukan lebih santai lagi karena memang masih lelah dan efek masih ingin liburan.
Bara lebih sering tersenyum, membuat Camila merasa senang. Gadis itu merasa mood Bara sedang sangat baik setelah liburan yang mereka habiskan bersama. Atau mungkin Bara tidak sabar untuk pernikahan mereka?
"Dalam waktu dekat kita akan sibuk mempersiapkan pesta pernikahan ya. Aku sudah pesan resort di Pantai Ngliyep. Sepertinya lokasinya bagus untuk pesta pernikahan kita."
"Apa? Jadi resepsinya di Malang?" tanya Camila dengan mata berbinar karena senang.
Bara mengangguk cepat. "Iya. Tepatnya resepsinya akan kita buat secara outdoor. Aku sudah memesan penginapan untuk keluargamu dan keluargaku. Lagipula keluargaku tidak terlalu banyak. Teman-temanmu juga lebih banyak di Malang, kan?"
"Iya benar. Lalu teman-teman kantor gimana?"
"Mereka nanti kita buat pesta tersendiri. Khusus anak-anak kantor. Bagaimana? Kamu setuju, kan?"
"Apa tidak apa-apa kalo pestanya dua kali? Pasti akan memakan budget yang banyak." Tiba-tiba Camila jadi kepikiran.
"Tenang saja. Uang tabunganku cukup kok, asal bisa membuatmu bahagia." Bara mengusap puncak kepala Camila dengan lembut, membuat gadis itu merasa sangat terharu.
Camila sampai melupakan kejanggalan soal kejadian kemarin pagi, tentang bersama siapa ia bercinta jika Bara saja baru pulang dari berjalan-jalan pagi itu. Apa itu hanya mimpi?
"Lusa kita juga fitting baju ya. Aku nggak mau serba mendadak. Apalagi kita juga punya pekerjaan yang harus diselesaikan."
"Iya, kamu benar."
.................
Gilang melihat video yang baru saja ia edit. Selain pintar di bagian marketing sampai berhasil membangun bisnis butiknya sendiri, pria itu juga jago di bidang editing video maupun foto. Salah satu keahlian yang seharusnya dimiliki para pengusaha agar bisa mengiklankan usaha mereka dengan menarik. Walau bidang ini sudah ada orang yang mengerjakannya tersendiri, tapi Gilang lebih senang melakukannya dulu baru sisanya dia serahkan pada karyawannya.
Namun untuk kali ini, video yang Gilang edit adalah video pribadi yang hanya boleh ia sendiri yang lihat. Karena video ini adalah videonya saat bercinta dengan Camila. Meski gelap, Gilang berhasil mengeditnya sehingga hasilnya jauh lebih jelas terlihat. Camila jelas lebih ganas permainannya di sini. Entah memang gadis itu mengira dirinya Bara sampai senafsu itu atau ada hal lain yang membuat gadis itu seakan memiliki nafsu yang besar. Apa itu perbuatan Bara?
"Jika dia hamil, apa dia mau membatalkan pernikahannya?"
.............
Bara menatap jendela besar di depannya yang menampakkan gedung-gedung pencakar langit yang berada di sekitar gedung kantornya. Pikirannya menerawang saat terakhir kali ia bertemu Rene lagi setelah hampir empat tahun tidak mendengar kabar dari mantan kekasihnya itu, sekaligus mantan calon istrinya. Apalagi setelah permainan panas yang terulang kembali seakan mengembalikkan hasrat yang selama ini susah payah Bara tekan sebelum kedatangan Camila. Sejak Camila datang, ia kembali bisa bebas menyalurkan hasratnya seperti saat bersama Rene dulu. Namun semua itu berbeda. Permainan panas dengan Rene jauh lebih memuaskan dirinya. Padahal mereka sama-sama cantik meski ya Bara akui jika tubuh Rene jauh lebih bagus dibanding Camila.
"Sial! Aku jadi memikirkan dia terus. Kalo begini apa bedanya aku dengan mantannya Camila? Tapi aku juga tidak bisa menahannya, aku masih mencintai Rene."