Gilang sengaja memesan kamar yang bersebelahan dengan kamar Bara dan Camila agar lebih mudah memantau keberadaan mereka. Terutama Bara. Gilang curiga jika Bara akan menemui Rene diam-diam. Tentu saja pria itu tidak akan berkata jujur pada Camila. Tidak mungkin.
Gilang tidak bisa tidur meski suhu dingin di Malang sangat menusuk kulitnya. Ia masih terjaga dengan secangkir kopi mochachino favoritnya.
Jam sudah menunjukkan pukul empat pagi ketika Gilang mendengar pintu di sebelahnya terbuka. Ia pun memutuskan untuk mengintip dari lubang pintu kamarnya dan melihat Bara berjalan sembari menoleh ke sekelilingnya, pria itu berjalan ke arah kamar di paling ujung yang mungkin hanya berjarak lima kamar dari kamarnya saat ini.
"Dia mau ngapain? Itu kamarnya Rene, kan?" gumam Gilang. Ia pun keluar dari kamarnya setelah Bara mengetuk pintu kamar itu dan seseorang menarik pria itu ke dalam. "Itu Rene. Dimana Dion? Bukankah dia ke sini sama Dion?" Ia merasa bingung, mau mencari tahu soal Bara dan Rene atau memastikan keberadaan Camila karena ia sangat merindukannya.
...............
Setelah memastikan jika Camila masih tidur, Bara turun dari ranjangnya dengan hati-hati agar tidak membangunkan gadis itu. Ia pun sengaja mencampurkan obat tidur di minuman Camila karena ia tahu kebiasaan gadis itu ketika bangun adalah pasti minum air mineral. Ia sengaja mencampurnya sedikit karena tahu jika ini pasti akan tetap berpengaruh untuk membuat Camila tetap mengantuk sampai ia kembali.
Bara pun keluar dari kamarnya dengan perlahan dan menutup pintunya pelan-pelan. Ia berjalan dengan pasti menuju kamar nomor dua puluh satu, tempat Rene berada. Gadis itu sudah mengabarinya jika ia sudah sendirian di kamarnya karena Dion pagi-pagi sekali sudah pergi menuju tempat proyek pekerjaannya. Ia mengetuk pintu kamar Rene. Hanya dalam ketukan pertama, pintu itu sudah terbuka seolah Rene memang sudah menunggunya. Gadis itu bahkan langsung menariknya masuk ke dalam.
"Hai!" sapa Rene dengan senyumnya yang tidak pernah berubah sejak dulu. Gadis itu menarik Bara ke dalam dan ternyata dia hanya mengenakan luaran tipis berbahan satin dan dress tipis tanpa lengan yang hanya menutupi sedikit pahanya saja. Membuat Bara menelan ludahnya sendiri. "Aku tahu kalo kamu pasti akan menemuiku."
Bara tersenyum tipis. "Iya. Aku hanya ingin tahu yang sebenarnya terjadi. Tidak lebih," ucapnya yang terlihat gugup.
"Aku tahu. Kamu kan sebentar lagi akan menikah. Sayang sekali ya, tapi setidaknya aku bisa mengatakan yang sejujurnya padamu soal yang terjadi di masa lalu kita," ucap Rene yang mengambilkan sebuah cangkir berisi kopi yang masih hangat. "Minumlah, kamu selalu suka kopi buatanku, kan?"
Bara mengangguk kemudian meminum kopi buatan Rene sedikit. Saat ini ia duduk di kursi yang menghadap ke balkon. Sementara Rene duduk di meja yang tepat berada di depannya dengan posisi kaki yang menyilang sehingga mengekspos paha mulusnya. "Terimakasih. Jadi bagaimana? Kenapa kamu melarikan diri di hari pernikahan kita?" tanyanya yang menunjukkan nada kekecewaan yang begitu dalam. Bara tidak bisa mengelak jika ia masih merasa sakit hati atas apa yang Rene lakukan, meski itu sudah lewat dari tiga tahun yang lalu.
Rene memasang raut sedih lalu gadis itu beranjak dari tempatnya, ia sengaja duduk di atas paha Bara yang sama sekali tidak menolak. "Maaf," cicitnya tepat di depan telinga Bara. "Saat itu aku dihamili oleh Dion."
"Hamil?" Bara tampak terkejut mengetahui soal kehamilan Rene. "Bagaimana kamu tahu jika itu anak Dion? Memangnya kalian... " Ia memegangi kepalanya sendiri. "Bagaimana jika itu anak kita?"
Rene menggeleng pelan. "Maaf. Aku khilaf. Aku tidak bisa menahannya saat kamu dinas selama satu bulan ke luar negri. Dan kamu tahu kenapa aku yakin itu anak Dion, kan?"
Bara tiba-tiba teringat sesuatu. Sesuatu yang ia lupakan soal dirinya sendiri. Ia tidak mengingatnya karena saking kecewanya dengan kepergian Rene yang tiba-tiba padahal hubungan mereka baik-baik saja sebelumnya. "Karena aku infertilitas," gumamnya dengan tatapan kosong dan kekecewaan untuk dirinya sendiri.
Rene mengangguk. Ia mengetahui gangguan yang Bara alami saat mereka melakukan pemeriksaan sebagai syarat untuk dokumen calon pengantin. Ia pun baru mengetahuinya. Pantas saja selama berhubungan seks dengan Bara selama bertahun-tahun, ia tidak pernah hamil. Ia sengaja berbohong untuk mengkonsumsi pil KB. Padahal tidak. Karena ia sadar dengan kelainan yang Bara alami semenjak ia merasa tidak pernah hamil saat berhubungan dengan kekasihnya itu. Namun saat ia pertama melakukan hubungan seks dengan Dion, ia langsung telat haid dan ketika periksa ternyata di dalam rahimnya sudah ada nyawa yang tak lain adalah anaknya, hasil hubungannya dengan Dion.
"Lalu di mana anak kalian?" tanya Bara yang berusaha menutupi rasa kecewanya. Pria itu jadi agak khawatir jika Camila nanti tidak bisa menerima kekurangannya. Bagaimana jika Camila malah meninggalkannya? Tidak seperti Rene yang memilih untuk menerimanya meski gadis itu ternyata mengkhianatinya.
"Aku keguguran saat usia kandunganku menginjak bulan ket iga." Rene terlihat sangat sedih. "Dion kecewa, dia mengira aku tidak becus menjaga anaknya dan sengaja membunuhnya. Padahal aku menjaganya dengan baik. Lalu dia mulai cuek denganku. Bahkan kami jarang sekali berhubungan. Aku haus akan belaian, Bar." Gadis itu menyentuh d**a bidang milik Bara dan membuka kancing kemeja yang pria itu kenakan. "Aku rindu kebersamaan kita."
Bara merasa suasana di kamar ini sangat panas. Padahal di kamarnya sangat dingin sampai ia tidak bisa tidur nyenyak. Wajah Rene yang berada begitu dekat dengannya membuat hawa panas dari dalam tubuhnya semakin terasa. Apalagi baju yang Rene kenakan sangat tipis dan sepertinya gadis ini tidak mengenakan pakaian dalam. Terlihat sekali bayang-bayang tubuhnya yang terbalut dengan kain tipis itu.
"Bukankah tidak apa-apa jika kita berhubungan? Toh aku tidak akan hamil. Kita masih bisa seperti dulu meski kita sudah punya pasangan. Iya kan? Katakan jika kamu tidak bisa melupakanku, Bar." Rene menatap Bara begitu dekat hingga hembusan nafas mereka terasa memburu satu sama lain hingga Rene menuntun Bara ke puncak kembar miliknya. "Semua ini masih milikmu, dan aku pun selalu menjadi milikmu, sayang," ucapnya tepat di depan telinga Bara dan mengecup leher pria itu, menghisapnya pelan.
"Ja-jangan... " Bara mendorong Rene pelan.
Rene terlihat kecewa, ia mencebikan bibirnya dengan kesal.
"Jangan sampai meninggalkan bekas. Aku tidak ingin Camila curiga." Bara langsung tersenyum menyeringai sembari menarik Rene agar semakin mendekat padanya dan melumat bibir gadis itu dengan rakus, menyalurkan hasratnya pada sang kekasih masa lalu seperti dulu.
...............
Camila bergerak gelisah ketika terbangun dan menyadari jika Bara tidak ada di sampingnya. Suasana kamarnya tampak gelap karena lampu memang sengaja dimatikan. Ia mengulurkan tangannya dan mengambil air mineral yang ada di atas nakas kemudian menenggaknya sampai habis hingga tenggorokannya sudah tidak terasa kering lagi. Namun yang terjadi setelah ia minum air mineral adalah rasa kantuk yang luar biasa dan juga rasa panas dari dalam tubuhnya. "Bara?" Ia melihat bayang-bayang pria yang berdiri di depan pintu. "Kamu habis dari mana?" tanyanya dengan suara serak.
Pria itu semakin mendekat walau Camila tetap tidak bisa melihat wajahnya. Pandangannya agak buram tapi postur tubuh pria di depannya seperti Bara. Tidak mungkin ada pria lain di ruangan ini, kan?
Camila menarik pria itu agar berbaring di sebelahnya dan meletakkan kepalanya di atas d**a bidangnya. "Aku nggak bisa tidur kalo nggak ada kamu, Bar. Tapi... " Ia mengangkat wajahnya dan langsung melumat bibir pria itu dengan rakus. Membiarkan pria itu membuka bajunya satu persatu. Bara tampak begitu ganas. Pria itu mengecup setiap inci tubuhnya tanpa terlewatkan sedikit pun, membuat Camila terus mendesah karena sentuhannya.
Hingga tubuh mereka akhirnya menyatu bersama peluh dan desahan panas yang membuat pagi mereka berkeringat. Hingga saat Camila mencapai pelepasannya dan rasa kantuknya yang semakin menjadi, membuat gadis itu tertidur lelap dengan rasa puas.
Pria itu mengusap wajah Camila dengan lembut dan mengecup bibirnya lagi dengan singkat. "Aku melakukannya karena aku mencintaimu. Andai aku bisa mendapatkanmu, aku harap kita bisa melakukannya atas dasar suka sama suka. Semoga apa yang aku tanam di dalam sana bisa tumbuh dan menyatukan kita," ucapnya yang beralih ke perut datar milik Camila. Berharap sesuatu itu tumbuh di dalam sana, karena ia tahu jika Bara tidak akan bisa melakukannya.