Part 21

1041 Kata
Acara lamaran yang dihadiri beberapa saudara serta tetangga Camila pun berjalan lancar. Walau Bara terlihat gugup tapi pria itu berhasil mengatakan keinginannya untuk melamar Camila pada kedua orangtua gadis itu dan di depan keluarga besarnya Camila. Ia juga memasangkan cincin yang memang ia beli untuk gadis itu sebagai kejutan karena sebelumnya ia tidak mengajak Camila untuk membeli cincin.  Namun akhirnya semua selesai. Arif dan Mira merestui hubungan mereka dan penentuan tanggal yang baik untuk pernikahan mereka. Jarak dari acara lamaran ini ke acara pernikahan yang ditentukan tidak sampai dua bulan. Karena Bara dan Camila memang memilih tanggal tercepat dari tanggal-tanggal yang disarankan oleh orang-orang yang dipercaya untuk memilihkan tanggal baik untuk pernikahan mereka. "Nggak apa-apa ya, semakin cepat semakin baik, kan?" ucap Akbar yang terlihat sangat senang. Apalagi melihat keceriaan di wajah keponakannya, ia semakin yakin jika kebahagiaan Bara semakin dekat untuk dia capai setelah Bara kehilangan cinta dari kekasih dan kedua orangtuanya.  .............. Keesokan harinya sembari mengantar Om Akbar ke bandara, Camila dan Bara juga pamit untuk pergi liburan ke kawasan wisata di daerah Malang. Memang tidak di luar dari rencana karena Bara memang berencana untuk mengajak Camila berlibur ketika acara lamaran mereka sudah selesai.  Kawasan wisata yang menjadi tujuan Bara adalah Pantai Ngliyep. Ia sudah menyewa salah satu kamar di penginapan yang ada di sana. Dari yang ia tahu lewat internet, pantai itu memang sangat bagus meski jaraknya sangat jauh dari kota Malang. Tepatnya sekitar enam puluh dua kilometer dari pusat kota. Dan alasan Bara ke sana adalah... karena Rene juga sedang ada di sana.  "Kok kamu tahu pantai Ngliyep? Aku aja belum pernah ke sana tahu. Karena jauh banget dari rumah," ucap Camila yang merasa sangat antusias dengan perjalanan mereka kali ini. Meski tubuhnya masih lelah akibat perjalanan jauh dari Jakarta, tetapi karena ini untuk liburan, rasa lelahnya menguap seketika. Ia belum sempat liburan bahkan setelah patah hatinya saat dikhianati oleh Fahri. "Aku cari-cari dari internet kok, sepertinya tempatnya bagus," ucap Bara yang berusaha menutupi kegugupannya. Jika Camila tahu ia ke sana karena akan menemui Rene, mungkin saat ini juga Camila akan meninggalkannya. Iya, kan? Jelas Bara tidak ingin Camila meninggalkannya dan ia juga ingin mengetahui kejelasan dari Rene. Hanya itu. Hanya untuk menyelesaikan kisah pahit di masa lalunya, tidak lebih. "Tapi sepertinya akan memakan waktu lama. Padahal lusa kan kita harus ngantor lagi." Camila tiba-tiba saja khawatir sampai lupa dengan siapa ia pergi kali ini. "Tenang saja. Pekerjaan kita kan sudah selesai untuk minggu ini. Jadi kita bisa bersantai. Jangan terlalu memikirkan pekerjaan, bagaimana pun juga kita butuh liburan, kan?" ucap Bara menenangkan sembari mengusap paha Camila dengan lembut. Camila tersenyum kecil. "Iya, kamu benar." ............... Sekitar sore menjelang malam hari mereka baru sampai di penginapan yang lokasinya tidak jauh dari Pantai Ngliyep. Penginapan itu tidak terlalu mewah, terdiri dari beberapa kamar dengan taman yang luas di area depan penginapannya sementara di bagian belakang sudah pemandangan pantai Ngliyep yang cantik. Mungkin hanya perlu berjalan kaki sebentar untuk sampai di sana.  "Ini penginapan terbaik yang aku dapat. Nggak apa-apa, kan?" tanya Bara ketika mereka sampai di kamar dengan ukuran luas dan memiliki balkon yang tepat mengarah ke Pantai Ngliyep. Karena hari sudah gelap, mereka jadi belum bisa menikmati pemandangan pantai. Mungkin esok pagi, pemandangan pantai yang cantik akan menyambut hari mereka. "Nggak apa-apa, Mas. Aku suka kok." "Ya udah kamu beberes aja dulu lalu istirahat." "Lalu kamu mau ngapain?" tanya Camila sembari merapihkan rambutnya.  "Aku akan berjalan-jalan sebentar keluar. Nanti aku akan kembali. Kalo mau tidur, tidur saja. Aku akan segera kembali kok dan kita akan cari makan malam," ucap Bara sembari tersenyum tipis. "Baiklah." Camila hanya mengangguk tanpa kecurigaan sedikit pun. Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi yang tidak terlalu luas itu sementara Bara keluar dari kamarnya dan berjalan menuju tangga yang membawanya ke lantai bawah, tempat meja resepsionis berada. "Selamat malam, Pak. Ada yang bisa kami bantu?" sapa salah satu resepsionis dengan senyum ramahnya.  "Saya mau tanya, apa di sini ada pengunjung bernama Rene? Saya mau tahu kamarnya dimana. Saya temannya dan saya sudah janjian sama dia tapi saya tidak bisa menghubunginya karena ponselnya tidak aktif," ucap Bara dengan nada meyakinkan agar resepsionis di depannya percaya. "Oh, baik. Sebentar ya, Pak. Kami akan mengeceknya dulu," ucap resepsionis itu yang ternyata percaya dengan ucapan Bara. "Oh iya ada, Pak. Di kamar dua puluh satu." Letak kamarnya tidak terlalu jauh dari kamar Bara, masih satu lantai yang sama. "Boleh dihubungkan dengan pemilik kamarnya, Mbak? Bilang saja dari temannya Rene." "Baik, Pak. Akan saya hubungkan." Resepsionis itu pun tampak menekan tombol di telepon kabelnya. Lalu setelah menyapa orang di sebrang sana sebentar, ia pun menyerahkan telepon itu pada Bara. "Silahkan, Pak. Ini Bu Rene." "Ha-halo, Ren. Ini aku Bara." ................ Sejak tahu jika Bara sedang berada di Malang, entah kenapa Gilang langsung menuju ke sana meski ia tahu jika pria itu sedang acara lamaran dengan keluarga Camila. Ia tahu dari Anne yang memiliki banyak mata-mata. Walau Bara sudah menyakitinya, gadis itu masih ingin menyaksikan kehancuran dari hubungan Bara dan Camila. Makanya dia selalu memantau segala aktifitas Bara. Meski Anne lebih sering sakit hati saat tahu hubungan Bara dan Camila sudah sangat jauh. Persis seperti saat Bara bersama Rene dulu.  Padahal Anne sudah sering menggoda Bara tapi entah kenapa pria itu tidak tergoda. Setahu Gilang, hubungan mereka hanya sekedar ciuman panas. Itu pun Anne yang memaksanya.  Dan disinilah Gilang sejak beberapa menit yang lalu sampai di penginapan yang sama dengan Bara dan Camila, Gilang sudah tahu di kamar mana Bara tinggal dan ternyata satu kamar dengan Camila. Gilang tak menyangka jika Bara sedang berusaha untuk bertemu dengan Rene. Tadinya ia pikir jika Bara benar-benar ingin menghabiskan waktu bersama Camila, bukan untuk menemui mantan kekasihnya. Bagaimana mungkin Bara bisa menemui Rene lagi setelah apa yang wanita itu lakukan di hari pernikahan mereka? Apa Bara sebodoh itu? Atau memang Bara tidak pernah bisa melupakan Rene, seperti dugaan Gilang sejak awal. Apalagi ketika Bara tampak tersenyum sebelum kembali ke kamarnya di lantai dua. Seolah sesuatu yang baik tengah menantinya. Sesuatu yang tentu saja berkaitan dengan Rene dan pastinya akan melukai Camila. Sudah sejak awal Gilang tahu jika Bara tidak akan pernah bisa mencintai Camila apalagi membahagiakannya. Pria itu hanya akan menyakiti Camila untuk kedua kalinya. Gilang tentu saja tidak akan membiarkannya. "Gue akan merebut Camila dari lo, lihat saja." Gilang memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan menatap Gilang yang baru saja masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang ia yakini ada Camila disana. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN