Keesokan paginya, sebelum jam lima pagi Bara sudah berada di bandara untuk menjemput Om Akbar. Jarak dari rumah Camila ke bandara cukup jauh. Sehingga pria itu sudah berangkat sejak jam dua pagi agar tidak membuat Om Akbar menunggu lama. Mereka berdua baru kembali ke rumah sekitar jam delapan pagi.
Rumah Camila yang luas pun semakin terlihat ramai dengan keberadaan para saudara Camila maupun tetangga dekatnya. Camila bilang ini belum seluruh keluarganya, entah sebanyak apa keluarga besarnya jika datang semua ke acara lamaran ini. Bara sama sekali tidak terbiasa karena ia tidak memiliki banyak saudara. Tepatnya mereka sudah berpencar jauh ke seluruh penjuru negri maupun ke luar negri. Biasanya mereka pun tidak terlalu peduli. Hanya Om Akbar saudara terdekatnya. Selebihnya, terakhir kali bertemu dengan Bara saat pernikahannya yang tentunya gagal. Bahkan di saat ia bertemu keluarga besarnya, ia hanya membuat keluarganya malu.
Om Akbar dan Bara disambut hangat oleh keluarga besar Camila. Rata-rata mereka memuji ketampanan Bara yang jauh lebih baik dari Fahri. Dari gaya berpakaiannya, merk pakaian yang dikenakannya, terlebih wajahnya yang tampan.
"Wah! Ganteng banget calon kamu, Mil. Beruntung ditinggal sama si Fahri, ya kan?" sahut Dinda, salah satu sepupu Camila yang tidak terlalu dekat dengan Camila. Bahkan di saat pernikahan Camila gagal, Dinda sama sekali tidak menghibur gadis itu dan lebih menyalahkan Camila yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga membuat Fahri selingkuh. Padahal Dinda hanya iri dengan Camila yang selalu mampu menarik pria-pria tampan seperti Fahri dan sekarang Bara.
Camila hanya tersenyum getir menanggapinya.
"Kalo begini, hamil duluan juga nggak apa-apa deh. Toh calonnya ganteng dan kaya begini. Pasti anaknya juga cakep nanti," ucap Mia, Ibu dari Dinda alias tantenya Camila. Omongan ibu dan anak ini meman sama-sama nggak benernya.
"Husss! Kok ngomongnya gitu?" ucap Mira yang tidak terima dengan ucapan adik iparnya itu. Ia memang sudah hapal betul sifat adik iparnya tapi tetap saja belum terbiasa dan sering kesal dengan ucapan istri dari adiknya itu.
Mia hanya mengedikkan bahunya kemudian kembali ke dapur untuk menyiapkan beberapa makanan dan cemilan. Sementara Mira yang memang baru datang untuk membawakan teh panas dan beberapa cemilan khas kota Malang pun meletakkannya di depan Akbar dan Bara.
"Maaf ya. Omongan mereka terkadang memang tidak sopan," ucap Mira yang merasa sungkan.
"Iya nggak apa-apa, Bu. Jadi repot-repot. Padahal kami ke sini nggak bawa apa-apa. Karena memang Bara dadakan sekali ingin melamar anak ibu," ucap Akbar sembari melirik ke arah Bara yang tersenyum kecil.
"Iya nggak apa-apa. Kalian sudah sampai disini saja, kami sudah sangat senang." Kali ini Arif menanggapi. "Padahal Malang Jakarta kan tidak dekat. Kami merasa sangat dihargai."
"Ah! Bisa saja anda ini," ucap Akbar yang tersenyum sopan lalu melirik ke arah Bara. "Kamu udah siapkan cincinnya, kan?" tanyanya pada keponakannya yang sedari tadi hanya menatap Camila itu.
"Oh sudah kok, Om."
Camila merasa lega walau sebelumnya ia ingin sekali menanyakan soal cincin. Habisnya Bara tidak pernah membahas soal cincin lamaran mereka jadi Camila pikir Bara lupa. Ternyata pria itu sudah menyiapkannya. Syukurlah.
Pagi itu pun setelah Om Akbar selesai sarapan dan mengobrol ringan dengan keluarga Camila, ia disuruh untuk istirahat dulu karena acara inti akan diadakan pada sore hari. Om Akbar pun harus kembali lagi ke Jakarta besok pagi karena dia masih punya pekerjaan dan harus cek up soal kesehatannya juga.
...............
Pria yang memiliki bulu halus di wajahnya itu menatap jendela besar di depannya dengan tatapan menerawang. Ia menggaruk hidungnya yang mancung kemudian berbalik. Pekerjaannya tidak terlalu banyak hari ini. Ia hanya selesai memeriksa pemesanan dan hasil penjualan dari butik yang ia bangun sendiri. Ia memang sudah membangun bisnisnya sendiri sejak kuliah.
Gilang.
Pria yang menjadi sahabat Anne, teman satu kampusnya dulu. Ia teringat akan permintaan gadis itu sebelum pergi ke luar negri.
Membalaskan dendam Anne untuk menghancurkan pernikahan Bara.
Tadinya Gilang enggan melakukannya tapi ketika melihat Anne sangat terpuruk, ia jadi tidak tega untuk menolak permintaannya. Namun yang membuat Gilang semakin ingin melakukan apa yang Anne inginkan adalah setelah ia mengetahui siapa calon istri Bara sampai membuat pria itu tidak pernah bisa menerima Anne.
Camila.
Nama itu sangat tidak asing baginya. Gilang pikir, mungkin ini Camila yang berbeda. Bukan Camila yang selama ini berada di dalam hatinya sejak beberapa tahun yang lalu. Nyatanya, setelah ia melihat gadis itu saat membuntutinya bersama Anne... Gilang sadar jika gadis itu benar-benar gadis yang sama. Camila yang ia kenal, Camila yang menjadi cinta pertamanya di jaman SMA.
Gilang memang menempuh pendidikan SMA di kota Malang, mengikuti orangtuanya yang selalu bekerja di beda-beda daerah. Meski hanya satu tahun mengenal Camila karena ia harus kembali ikut orangtuanya yang pindah lokasi pekerjaan, tapi Gilang tidak pernah bisa melupakan gadis itu. Gadis berwajah ramah bahkan satu-satunya gadis yang ramah padanya dengan kondisi Gilang yang bertubuh subur saat itu.
Namun karena terlalu singkat, Gilang tidak sempat menjalin hubungan lebih dekat dengan Camila. Ia hanya memperhatikan gadis itu dari jauh. Sejak saat itu ia bertekad untuk merubah dirinya sampai bisa seperti sekarang. Gilang pun baru tahu jika Camila pernah gagal menikah dan sekarang dia adalah calon istrinya Bara. Entah kenapa Gilang seperti tidak terima karena ia tahu sedikit soal Bara. Tentu saja dari Anne.
Dari Bara yang masih menjalin kasih secara terbuka dengan Rene, Gilang tahu mereka sudah tinggal bersama. Sementara Camila adalah gadis polos yang pasti adalah sasaran empuk bagi Bara. Tapi Gilang tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti instruksi dari Anne. Toh dengan begitu ia punya kemungkinan untuk mendapatkan Camila. Ia harap Camila bisa menerimanya dan meninggalkan Bara yang b******k itu.
Dulu, Gilang sempat mencoba kembali ke Malang untuk menemui Camila. Tapi ia urungkan saat tahu Camila sudah memiliki kekasih bernama Fahri dan Camila tampak begitu bahagia. Ia tidak tega untuk merusak kebahagiaan gadis itu. Namun saat tahu Camila disakiti oleh Fahri, ia sangat ingin merengkuh gadis itu dan membahagiakannya. Sayangnya ia terlambat. Tapi melihat kekasih baru Camila saat ini adalah Bara, Gilang merasa pria itu hanya menjadikan Camila pelarian setelah Rene meninggalkannya tepat di hari pernikahan mereka.
Gilang tahu sejauh apa rasa cinta Bara pada Rene. Tidak mungkin Bara bisa melupakan Rene begitu saja setelah apa yang mereka lalui. Mungkin untuk sekarang Bara memang mengira dirinya mencintai Camila, tapi Gilang tahu pasti pada siapa perasaan pria itu sebenarnya.
Bara dan Camila hanya dua orang yang memiliki takdir yang sama. Sama-sama disakiti pasangan mereka tepat di hari pernikahan mereka. Lalu mungkin mereka merasa takdir mempertemukan mereka. Padahal mereka hanya saling mengasihani satu sama lain dan merasa memiliki kesamaan.
Cinta bukan hanya soal kesamaan takdir. Cinta jauh lebih dari itu. Cinta sulit didefinisikan. Cinta memang tidak tahu kapan datang, kapan tergantikan, kapan diakhiri. Tapi jika cinta hanya diawali dengan rasa kasihan satu sama lain, apa cinta itu akan bertahan lama? Atau memudar seiring rasa yang memudar karena mereka sama-sama sadar jika itu bukanlah cinta.
"Jangan pernah mengasihani dirimu sendiri, Mil. Kamu berhak mendapatkan pria terbaik dalam hidupmu. Bukan hanya sekedar memiliki kesamaan dengan kisah cintamu yang pahit. Andai kita bertemu lebih dulu, aku akan tunjukan rasa cinta yang sebenarnya padamu. Rasa cinta yang tidak pernah memudar bahkan sebelum aku bisa memiliki kamu."