Bara menoleh pada Camila yang tengah tertidur di sampingnya dengan sangat lelap. Walau sebenarnya ia juga sangat lelah sekali, tapi ia tetap memaksakan diri untuk melanjutkan perjalanan agar tidak terlalu lama sampai di kampung halaman Camila. Karena ia juga harus menjemput Om Akbar di keesokan paginya.
Pria itu mengambil sesuatu yang terasa mengganjal dari saku kemejanya. Bara mengernyitkan keningnya saat melihat dua kartu nama di sana. Satu kartu nama adalah kartu nama Rene dan satunya lagi adalah kartu nama sebuah penginapan yang ada di Malang. Sepertinya Rene meletakkannya ketika gadis itu mendekat dan sengaja memberikannya. Pria itu menimang-nimang pikirannya, apa ia harus menemui Rene atau tidak? Sepertinya gadis itu sengaja memberikan kartu nama ini agar ia bisa menemui dan menghubunginya.
Sekilas, Bara melihat ke arah Camila yang masih terlelap. Ia tidak ingin mengkhianati gadis yang akan ia nikahkan ini tapi ia juga penasaran soal Rene. Demi membunuh rasa penasarannya, ia merasa harus menemui Rene. Mungkin sekaligus mengajak Camila liburan juga.
Ya, Bara hanya ingin menyelesaikan hubungannya dengan Rene yang dulu sempat tidak jelas ketika gadis itu hanya kabur dari pernikahan mereka tanpa alasan selain karena Rene menikah dengan sahabatnya Bara, Dion.
Sekitar sore hari, jam tiga sore akhirnya Bara sampai di depan rumah milik Camila.
Satu pria paruh baya yang masih tampak gagah berdiri di teras seakan sudah tahu dengan kedatangan mereka, juga wanita paruh baya yang terlihat buru-buru keluar dari dalam rumah dan berdiri di samping pria itu dengan senyum hangatnya.
Jadi seperti inikah disambut oleh orangtua ketika anaknya datang?
Bara sudah lama sekali tidak merasakannya, ia merindukannya.
"Akhirnya kalian sampai juga," ucap Mira, Ibu dari Camila yang langsung memeluk anaknya dengan hangat. "Kamu baik-baik saja, kan?" tanyanya sembari menatap Camila dari atas ke bawah.
Camila merasa risih saat diperhatikan ibunya seperti itu seolah Mira sedang memastikan jika anaknya tidak sedang hamil. Karena kepulangan Camila yang tiba-tiba juga dengan alasan kepulangannya adalah karena Camila akan dipinang oleh pria yang tak lain adalah atasan di kantor barunya. Orangtua mana yang tidak khawatir? "Aku baik-baik saja, Bu. Yang jelas aku tidak sedang hamil," bisiknya ketika Mira menatap ke arah perutnya dengan khawatir.
Wajah Mira akhirnya menunjukkan kelegaan. Bahkan wanita itu terang-terangan bersyukur dan mengusap dadanya. "Syukurlah." Ia balik menatap pria di belakang Camila yang sedari tadi hanya tersenyum canggung. "Nak Bara, ya?" sapanya sembari tersenyum hangat.
"Iya, Om, Tan." Bara menyalami kedua orangtua Camila dengan sopan.
Arif-- ayah Camila tampak memperhatikan Bara seperti menilai apakah pria di depannya ini adalah pria yang tepat untuk mendampingi anak perempuannya. Apalagi setelah kegagalan pernikahan yang Camila alami. Bahkan keluarga besarnya pun agak khawatir saat mendengar jika Camila akan dilamar lagi. Mereka masih menanggung malu atas apa yang menimpa Camila di pesta pernikahannya. "Bagaimana perjalanannya? Pasti jauh sekali ya dari Jakarta ke sini," ucapnya dengan senyum yang terlihat kaku.
Bara tersenyum kecil dan mengangguk. "Jauh, lumayan. Tapi kami banyak istirahat jadi tidak terlalu lelah."
"Kalian istirahat saja dulu. Ibu juga sudah menyiapkan kamar untuk Bara di lantai atas. Kamu tidur di kamar bawah aja ya. Biar ibu siapkan minuman dan makanan buat kalian."
"Nggak usah repot-repot, Bu."
"Nggak apa-apa. Sudah seharusnya ibu melayani calon menantu keluarga ini dengan baik," ucapnya sembari melirik ke arah Camila dan tersenyum kecil seolah mendukung keputusan anaknya untuk membuka hatinya kembali setelah dikecewakan oleh mantan calon suaminya. Meski terlalu cepat, Mira percaya jika setiap orang memiliki waktu tersendiri untuk sembuh dari patah hati dan memulai hidupnya kembali. Tidak ada yang harus dipermasalahkan.
Camila pun akhirnya mengantar Bara ke kamarnya yang berada di lantai atas. Kamar yang sudah lebih dari tiga bulan tidak ia tempati. Kamar itu masih sama seperti dulu ia tinggalkan. Kamar sederhana dengan satu single bad di sudut kamar yang tepat berdampingan dengan jendela yang cukup besar. Karena Camila suka tidur berdampingan dengan jendela atau berbaring sembari menatap keluar jendela. Lalu ada lemari kayu besar dengan cat putih di dekat pintu serta satu meja rias. Ada satu nakas juga di samping ranjangnya. Barang-barangnya tidak terlalu banyak di sana.
"Ini kamarmu dulu?" tebak Bara saat memasuki kamar itu, ia bisa menghirup wangi khas dari gadis di sampingnya.
"Iya." Camila mengangguk. "Aku ada di kamar bawah. Mungkin besok beberapa saudaraku akan datang setelah Om Akbar sampai di sini."
"Semua keluargamu akan datang?"
"Tidak juga." Camila menggeleng pelan dengan tatapan yang berubah sendu, seperti ada kekecewaan di sana. "Beberapa keluarga besarku tinggal di kota lain yang jauh dari sini. Hanya keluarga yang tinggal dekat sini aja. Beberapa menolak datang karena merasa aku hanya main-main soal pernikahan."
"Main-main?" Bara mengerutkan keningnya, tak mengerti. "Kenapa mereka mengira seperti itu?"
"Karena pernikahanku baru saja batal beberapa bulan yang lalu, dan aku mengabari mereka jika aku akan dilamar lagi. Mereka mengira aku nggak kapok-kapok dan selalu salah memilih pria," Camila tersenyum getir.
"Lalu apa masalahnya? Memangnya jika pernikahanmu pernah gagal lalu kamu harus terpuruk lama, begitu? Setiap orang kan berhak untuk bangkit dan memulai kehidupannya lagi. Seharusnya mereka bersyukur karena kamu bisa membuka hatimu lagi dan akan menikah dengan pria lain. Aku akan buktikan ke mereka jika pilihanmu tidak salah," ucap Bara yang merasa keluarga Camila memiliki pemikiran yang sangat aneh. Ia saja menyesali dirinya yang terpuruk begitu lama semenjak pernikahannya gagal sampai membuat kedua orangtuanya ikut terpuruk dan meninggal dunia. Andai saat itu ia lebih kuat, mungkin ia tidak akan kehilangan orangtuanya. Cukup Rene yang meninggalkannya saat itu.
"Kamu nggak akan mengecewakan aku, kan?" tanya Camila, penuh harap.
Bara tersenyum sembari mengulurkan tangannya, mengusap puncak kepala kekasihnya dengan lembut. "Aku akan melakukan yang terbaik untuk kita. Jika aku tidak serius dan hanya ingin mempermainkanmu, aku tidak akan sampai di sini."
..............
Terkadang mengatakan sebuah janji yang manis adalah sesuatu yang sangat mudah untuk dilakukan. Terlebih jika pasanganmu sudah mempercayaimu dengan sebuah kepercayaan yang besar.
Seperti yang Fahri lakukan dulu. Kini ia menyesali apa yang telah ia lakukan, mengkhianati kepercayaan terbesar yang pernah Camila berikan padanya. Kini ia terjebak bersama wanita yang hanya bisa menghabiskan uangnya saja dan Fahri tak bisa menolaknya karena wanita itu baru saja melahirkan anak laki-laki pertama mereka satu bulan yang lalu. Hasil buah cinta mereka, bukan... bukan cinta tapi kekhilafan. Fahri tidak pernah mencintai Desya, ia hanya melampiaskan nafsunya pada wanita itu di saat ia tidak bisa melakukannya bersama Camila dulu. Karena ia terlalu takut untuk merusak Camila atau merusak kepercayaan gadis itu walau pada akhirnya yang ia lakukan tetap menyakiti hati Camila, jauh lebih melukai gadis itu. Karena yang ia lakukan adalah sebuah pengkhianatan yang tak termaafkan.
Hari ini Fahri mendengar jika nanti sore di rumah Camila akan diadakan acara lamaran sederhana. Jauh lebih sederhana dibanding acara lamaran yang ia lakukan untuk kekasihnya itu. Tapi tetap saja membuat hati Fahri sakit karena mengetahui Camila jauh lebih cepat mendapatkan pengganti dirinya. Apalagi setelah mendengar jika calon suami Camila adalah atasan di kantor barunya. Benar-benar membuat harga dirinya jatuh.
"Paling hamil duluan tuh mantan kamu. Masa baru beberapa bulan di ibukota udah mau lamaran aja, sama atasannya lagi. Lihat aja, nggak sampai sembilan bulan dari sekarang juga dia udah lahiran," ucap Desya yang seakan lupa apa yang terjadi dengan dirinya dulu.
Fahri mendengus kesal. Ucapan Desya barusan seakan mengingatkannya pada hal memalukan yang ia lakukan. Untungnya keluarganya bisa menerima Desya hanya karena mereka tahu jika anak di dalam kandungannya berjenis kelamin laki-laki. Keluarganya memang sangat mendambakan memiliki cucu pertama, laki-laki pula. Tapi Fahri tahu jika Camila tidak sebodoh itu. Mereka saja hanya pernah ciuman selama menjalin kasih selama tiga tahun dulu. Jadi apa mungkin?