Setelah mengatakan kata kata mutiara, suasana tegang seketika, ku tenelan saliva ku sendiri gugup, mengerjabkan mata, dan memandang takut ke arah sosok pria disampingku yang kini mengeluarkan aura-aura tak sedap.
"Kenapa kau tak mau?" Tanyanya cowok itu menatapku tajam, membuat diriku menjadi gugup seketika, pasalnya orang di sampingku ini sama sekali tak memasang senyum di wajahnya.
"Sudah ku bilang aku tak mau menikah." Ngegasku sok berani, dapat dilihat, raut muka Mike saat ini makin tak enak di pandang, dan reaksi penonton hanya mengerjabkan mata menunggu kelanjutan.
Kuteguk lagi salivaku kasar, Cih. Aku benci situasi ini.
"Kenapa kau tak mau menikah?" Tanya Mike menaikkan alisnya.
Aku menghembuskan nafas pelan, "Memangnya jika aku tak mau menikah harus ada alasannya?"
"Ya!" Jawabnya menatapku lekat lekat.
Ku tatap muak dirinya, geram dengan semua perkataan yang di lontarkan cowo di depanku ini. "Sudah kubilang, kalo aku tidak akan mau menikah, baik denganmu, atau siapapun itu, kau paham tidak sih?!" Teriakku kesal, heran dengan orang satu ini, dibilang ga mau nikah, ngeyel bener.
Dia tampak menghembuskan nafasnya kasar.
"Jika tidak sekarang , apa kau mau menikah?"
WOY LAH! GW DAH BILANG KAGA YA KAGA BAMBANK!
Pen bunuh orang rasanya.
"Bagaimana jika ku tunggu kau berumur 19, baru kita menika-"
"Tidak. Tidak. Tidak. Sudah kubilang aku tak akan pernah mau menikah! Kau ini diajak bicara itu harusnya paham dong!" Tekanku memandangnya sinis, dan mulai beranjak dari duduk ku menuju ke kamar.
Bodo amat, dibilang ga sopan ketika ada kaisar di depanku, anaknya aja nyebelin, bapaknya pasti yang nurunin, eh?
Bodo, kesel gw.
Baru saja beranjak, tanganku sudah di cekal oleh seseorang, siapa? Ya siapa lagi kalo bukan si cowo k*****t ini!
"Kemana?" Tanya Mike datar.
"Mati!"
********
Brak.
Ku banting pintu kamarku kesal, dengan langkah gontai berjalan menuju ranjang empuk milikku. Merebahkan diriku disana, ku pikirkan lagi tentang apa yang terjadi baru baru ini.
Ini tak sama dengan alur cerita, bukan begini alurnya dan mengapa jadi begini? Argh, memukul angin, aku kesal sekarang, ku tatap langit langit kamarku dengan tatapan kosong, menghembuskan nafas sebelum tak sadar ketiduran.
Di sisi lain, Cesario menatap kamar Queen yang tadi di banting kasar, dia bingung kenapa ia punya adik tak tahu malu seperti ini? Walaupun sama-sama tak punya malu ya setidaknya jaga emage dikitlah di depan tamu.
Toel.
Menoleh ke arah Austin yang baru saja menyolek lengannya, Cesario menaikkan alisnya seolah bertanya, "Kenapa?"
Austin menunjuk ke arah samping dengan dagunya, menunjuk Mike yang saat ini sedang mengatur emosinya. Membuat Cesario ikut menoleh dan menatap cowok yang di tolak mentah mentah oleh adiknya.
Mereka sebenarnya rada kasihan dengan orang di samping mereka saat ini, ganteng iya, kaya iya, goodlooking iya, semuanya iya, tak di sangka malah di tolak sama cewe.
"Apa mata Queen ikut buta setelah semburan dukun waktu itu?"
Plak.
Cesario menampar pipi Austin keras tanpa rasa bersalah, sebelum berujar, "Sembarangan! Tapi sepertinya iya."
Plak.
Kini ikutan Austin yang menggeplak kepala Cesario.
"Jika kau ingin membenarkan perkataanku tak usah menamparku bisa?"
Keduanya menghembuskan nafas kasar, bingung dengan sifat masing masing.
Sedangkan Mike, cowok itu masih melongo tak percaya dengan apa yang barusan terjadi.
Dia ditolak?
Emajing sekali bukan?
Ia bingung dengan tipe yang diinginkan wanita zaman sekarang seperti apa? Dengan dirinya yang sudah masuk ke jejeran pria yang paling diminati menjadi suami ini masih ditolak juga?
Plak.
Suara ribut di sebelah membuyarkan lamunan Mike, di tatapnya dua orang yang lebih tua setahun darinya sedang berbisik bisik dengan sesekali menampar satu sama lain.
Ada apa dengan mereka? Pikirnya bingung.
"Sudah-sudah kita di lihat olehnya" Bisik Austin mengingatkan Cesarion. Membuat Cesario spontan menoleh dan mendapati sosok di sampingnya yang sedang memandang mereka berdua dengan tatapan datar.
"Hehe," Senyum canggung pun terbit di bibir kedua cowok tampan itu, dengan Cesario dan Austin yang mengangguk sopan atau bisa dibilang canggung juga.
Mike mengedipkan matanya heran, oke, dirasa disini bukan selera wanita zaman sekarang yang berubah, tapi memang anggota keluarga ini yang tak jelas semua.
*****
Sore hari ini Queen berencana untuk memasak, yah sebagai wanita yang cantik dirinya juga tak bisa mengandalkan modal cantik doang untuk menarik perhatian para lelaki.
Jadi oleh karena sebab dari itu, dirinya sekarang sudah berada di dapur rumahnya.
Errr, lihatlah kawan disini bahkan tak ada kompor, lalu bagaimana dia akan memasak?
"DUAR."
"AAAAAA."
Dirinya menjerik kaget sebelum menggeplak kepala Austin yang mengagetkan dirinya.
"APA?" Tanyanya ga nyelow.
Austin terkekeh melihat raut wajah Queen yang saat ini sudah sebelas dua belas dengan babi.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanyanya setelah tawanya mereda.
"Kepo..." Jawab Queen memalingkan wajahnya. Kembali ia menghembuskan nafasnya kasar kala menatap alat alat dapur ini, jadi sekarang dia harus menghidupkan kayu-kayu ini dulu untuk masak? Aih ribet sekali.
"Kepo?" Tanya Austin bingung.
Queen sedikit melirik ke arah Austin, dia memutar bola matanya, begini nih jika sudah merasakan jadi anak modren, bahasa kayak gini udah jadi makanan sehari hari, ketika sudah ga ada di zaman modren lagi malah keterusan pake bahasa begitu. "Lupakan." Ujar Queen tak terlalu ingin repot.
Austin mengedikkan bahunya acuh, ia mengambil buah apel yang ada di meja, mendudukkan dirinya di atas meja beton beralasan kramik itu dirinya dengan tidak sopannya bertanya, "Aku tanya kenapa kau disini?" Tanya Austin lagi sambil memakan buah apel di tangannya.
"Kau buta?" Tanya Queen melirik sinis Austin, "Aku ini sedang ingin memasak, makanya tanganku sekarang sedang mengenggam pisau" Sambungnya.
Austin tak peduli dengan u*****n adiknya itu, dirinya kembali mengunyah apelnya dengan nikmat, "Ngomong ngomng kau kasar sekali," Celetuknya yang tak dipedulikan Queen, "Aku rasa tak akan ada pria yang mau dengan wanita sepertimu, selain jelek, kau juga kasar, setidaknnya jika kau jelek, perbaiki sifatmu yang kasar itu menjadi anggun, jadi ketika ada pria yang menikahimu dia tak akan rugi besar." Sambung Austin lagi.
Queen menghembuskan nafasnya kasar, dirinya melirik Austin sewot sebelum..
Brak.
"KAU MAU AKU TUSUK PAKAI PISAU INI KAH?" Teriak Queen kesal. Dirinya hari ini sedang haid, di tambah suasana hati yang tak enak dari pagi, lalu malah diganggu dengan kakak sialan satu ini, aih mental si pemilik tubuh ini cukup kuat sehingga bisa bertahan dengan orang orang sampah seperti ini setiap hari.