Chapter 5

1215 Kata
Hari kini telah berganti, digantikan dengan hawa malam yang sangat sunyi, mengingat bahwa Queen tersesat hingga ke tengah hutan, tak heran bila dua insan ini samapai tujuan begitu lama. Dan kini terlihat pintu gerbang rumah Queen, yang sudah sangat jelas berada di depan mata, dengan posisi Queen yang terlelap di gendongan Mike, dan juga tampang datar pria tegap, bermanik hitam legam milik Mike. Mike, cowo itu melirik heran kearah gadis yang kini berada di gendongannya, pikirnya Queen adalah gadis menyebalkan yan sengaja dijodohkan ayahnya untuknya. Pria itu juga sempat mengira, bahwa dia adalah gadis - gadis gila harta yang hanya mengincar kekuasaan. Tapi apa apaan ini? Gadis ini bahkan tak mengenal dirinya! Mike benar benar tidak bisa melupakan fakta, bahwa dia, bahkan tak tau rupa calon suaminya seperti apa. Hei! Siapa yang tak kenal Mike? Seluruh penjuru kekaisaran pasti mengenal siapa dia! Tapi kenapa gadis bodoh ini tidak?! Cih, kesal memikirkan hal ini, dirinya beralih menatap gerbang yang kini sudah dekat didepan mata, tak di sangka ternyata rumah calon istrinya berada tepat ditengah hutan seperti ini. Kurasa besok aku akan menggusur hutan ini, agar gadis bedoh ini tak tersesat lagi. Batin Mike. ****** Suasana ruang tamu, rumah Queen saat ini dipenuhi oleh sekumpulan manusia, yang pastinya masing masing diantaranya adalah keluarga Mike, dan juga Queen. Dan juga sekarang suasana rumah saat ini sungguh ramai, Bukan, bukan karna ramai mendengar kabar bahwa putra putri kedua keluarga itu hilang entah kemana! Lebih tepatnya seperti acara syukuran karna mau jadi besan. Disana, didepan pintu, tampak sesosok pria yang melangkah masuk kedalam rumah, rumah yang tadinya ramai kini digantikan dengan suasana sepi khas tak berpenghuni. Menilik kesekitar rumah Queen, Mike berdecih, rumah ini bahkan tak seluas ruang tamu keluarganya, bagaimana bisa mereka membiarkan gadisnya tinggal di rumah seperti kecoa ini?! Lantai yang licin, dan juga ornamen ornamen murahan, yang ada di rumah ini, tak luput dari pandangan Mike. Kurasa bukan hanya hutan yang harus ku gusur! rumah ini juga harus ku ratakan! Pikir Mike Tatapan nya kini jatuh kearah sekelompok manusia yang kini tengah berkumpul di sofa, dekat dengan tempatnya berdiri. "Kau temukan dimana dia?," tanya ayahnya dengan senyum aneh. Berdecak pelan, Mike mengalihkan pandangannya, "Bukan urusanmu!" Jawabnya sarkas. Terlihat bola mata ayah Mike yang kini memutar dengan raut sinis, "Kau tempatkan dia ke kamarnya, setelah itu kita pulang." Kata ayahnya. Mike menatap horor ayahnya, tampak sekali dia tidak setuju akan keputusan yang di buat ayahnya itu. "Ini sudah malam, ada baiknya pria tua sepertimu cepat tidur, kalau kau mau pulang, pulang sendiri! aku lebih memilih tidur dari pada menuruti keinginanmu." ujar Mike menatap sinis kearah ayahnya, terdengar ibunya yang kini sedang menahan tawa, dan ayahnya yang terlihat memasang tampang kesal pada Mike. Mau tau reaksi penonton lainnya? Ya gimana lagi reaksinya kalo ga nyimak. Mike melangkah pergi meninggalkan kerumunan itu, berjalan ke anak tangga, menuju kamar Queen yang ada di atas, Sedangkan di lain sisi, kini tampak semua orang yang mulai menggelegarkan gelak tawanya, kecuali satu orang pria yang menjadi bahan buly an itu tentunya. "Sudah kau biarkan saja mereka, anak muda sekarang susah ditebak." nasehat istrinya yang hanya di iyakan oleh saja. Dan kembalilah dengan suasana rumah seperti semula, yaitu Cesario dan Austin yang menyimak, para Emak-emak yang ngerumpi, dan para bapak bapak yang bahkan aku pun ga tau lagi bahas apa. ________ Mike meletakkan Queen di atas ranjang, matanya sakit melihat barang barang murahan yang ada di dalam kamar ini, bahkan kasurnya tampak buluk dan tak layak di tiduri. Itu menurutnya saja sih sebenarnya, tapi kalo menurut Queen ya engga. Dan kini matanya jatuh kembali ke arah orang yang saat ini tertidur lelap di atas ranjang, bibirnya tertarik ke atas, tersenyum tipis yang bisa dikatakan hampir seperti orang yang sedang tak tersenyum. Memandang wajah gadis itu lekat lekat, sebelum dirinya ikut berbaring dan tidur di samping gadisnya. Keesekan harinya. Sinar pagi menerangi kamar dua insan, yang saat ini sedang bergelut dalam tidurnya. Queen pov. Sial! mentari masuk melewati celah celah gorden dan menerpa wajahku. Kepalaku yang sudah pusing, bertambah pusing lagi garagara matahari. Ku pejamkan mataku rapat, mengunpulkan nyawa, sebelum siap untuk bangkit berdiri. Eh tapi..? Aku merasa perutku sedikit berat. Spontan aku menoleh kesamping dan mataku melebar. "APA YANG KAU LAKUKAN DISINI DASAR BANJIN*AN!" ***** Ok disini kita sekarang, di ruang tamu yang entah mengapa menjadi ada banyak orang disini. Diriku masih kesal ketika baru bangun mendapati sesosok pria terlelap disampingku. Mentang mentang dia ganteng, bisa bisanya tidur dikamar cewe. "Ekhem." Aku memandang heran kearah pria paruh baya, yang kuyakini adalah ayah dari Mike tentunya. Kini posisinya adalah, aku yang duduk di sofa ruang tamu, dengan Mike disampingku, dan abang abang tercinta yang juga berada di sisi kananku, dan yeah tentunya kalian tau siapa yang berada di depan ku saat ini! Mike menatap sinis kearah ayahnya, entah apa yang dia pikirkan sampai bisa memasang raut wajah yang tak mengenakkan seperti itu pada ayahnya. Tapi yasudahlah apa peduliku? "Kalian sudah kenal satu sama lain kan?" Tanya ayah Mike, yang ku tanggapi dengan pandangan heran, maksudnya? "Ya." Dan sekarang aku menoleh kearah pria disampingku yang tampak mengiyakan ucapan pria paruh baya didepanku tadi. "Yasudah, kapan tanggal pernikahan kalian akan di tentukan?" Diriku makin linglung dibuatnya, ku tolehkan pandanganku kearah Mike yang kini juga nampak memperhatikanku sedari tadi, aih jadi salting. Senyum senyum gaje kan aku jadinya. "Aku mau bulan ini!" Ujar Mike membuyarkan lamunanku "Bulan ini? ngapain?" tanyaku spontan sekaligus menatap heran dirinya. "Bulan ini kita menikah." Jawabnya anteng. Senyumku kini luntur seketika, Hah? Ko cepet banget?! Bukannya alurnya itu dia yang harusnya ngebet di nikahin sama ni cowo, ini kenapa malah jadi kek gini?! Aku benar benar tak bisa berpikir jernih kali ini, ini alurnya kenapa bisa jadi seperti ini? Kan pantesnya aku yang ngebet di nikahin sama si Mike! Ini ko malah dia? "Kenapa?" Tanya Mike menaikkan alisnya saat melihat perubahan raut mukaku. "Ehm," berdeham sejenak, aku menatap sekitar, yang kini pandangan semua orang menuju kearahku menuntut penjelasan. "Begini, e-kita itu masih blum saatnya untuk memikirkan hal hal seperti it-" "Maksudmu?" Selah Mike sewot. Ku tegukkan air liurku kasar. "Kau tau?, ini terlalu cepat untuk bocah berusia 15 tahun sepertiku menikah di usia muda se-," "Kau tak mau menikah denganku?" Selah Mike lagi dengan tampang kesal. Jelas sekali disini tetlihat bahwa Mike nampak tak setuju dengan setiap kata yang diucapkannya. "Err, bisa iya bisa tida-," "Kau benar benar tak mau menikah dengaku?" Woy lah! omonganku prasaan dipotong mulu sama ni anak kasih selesai ngomong dulu napa. Menarik nafas dalam dalam, kini aku malah tersenyum dan menangguk kearahnya, Raut wajah pria didepannya saat ini makin berubah menyeramkan. "Kenapa?" Tanya Mike datar. Aku menatap dirinya bingung, "Ha?" "Ck, jelaskan kenapa!" Mata ku menatap nanar kearahnya, padahal tadi aku udah jelasin kalo kita terlalu muda buat menikah, tapi... yang tadi tu lu anggep apaan bangke?! Senyum manis kini terpasang di bibirku, lebih tepatnya senyum paksa. Aku menatap kearah Mike yang kini juga menatapku, bahkan penonton yang ada di samping kanan, depan, blakang, saat ini juga sedang memperhatikanku. Tapi fokus ku sekarang adalah ke sosok pria yang tepat berada di depanku saat ini! Ok mari tenang dulu! "Huft!" Memandang nyolot kearahnya aku menambahkan, "Itu karna, aku sudah memutuskan tak akan pernah menikah!" "...." "Apalagi denganmu!" Wuih, keberaniannya mengutarakan isi hati ini ku rasa patut di beri 10 jempol.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN