Chapter 2

1263 Kata
Hari demi hari kian telah berlalu, dan aku melewati hari hari ku dengan penuh kesan, kesan? Iya kesal. Orang orang disini sangat mengesankan kelakuannya, bahkan sampai bisa membuatku geleng-geleng kepala dibuatnya. Ya! siapa yang akan melakukan hal konyol seperti beberapa minggu yang lalu, Memanggil dukun untuk mengusir jin, yang bahkan tidak tau kebenaran jin itu ada atau tidak! Lebih parah lagi sampe nyembur ke muka orang lagi, mana nyemburnya pake mulut, kan bau ieeh.. Tinggal menunggu beberapa bulan lagi, pertunanganku dengan pangeran Mike akan dilangsungkan. Dan yeah kau benar! ajal ku akan segera datang tepat setelah hari itu berlalu! Uh huhuhu, mana aku masuk ke dalam dunia novel yang ga ada teknologinya sama sekali lagi, kan bosen! Orang orang disini juga pada kudet! Jadi makin males buat bersosialisasi. Tapi.. Untuk saat ini, didalam otakku sedang mengalir sebuah rencana! Rencana untuk mengubah alur novel ini. Ya, kalian pikir aku akan diam saja? walaupun di dunia ini tak ada yang namanya teknologi, yang berarti bakal ngebosenin! tapi aku masih ingin menghirup udara segar ini lebih lama! Aku hanya perlu, menganggap Mike itu tak ada, menjauh dari Mike, membiarkan pria itu selingkuh, tak usah pake uang pemberian Mike, Dengan begitu dia tidak akan mengira aku hanya mengincar hartanya saja. Dan lagi, kita akan bercerai secara damai, tanpa perlu adanya adegan penggal penggalan. Aku pintar kan? Uhh, gue gitu loh! Ok, hari sudah berganti menjadi siang, dan yeah disini lama lama menjadi amat membosankan. Biar ku jelaskan, sekarang Aku sedang berada di taman samping rumah, kalian mau tau dimana kakak ku? Ya dimana lagi kalo kaga ngebo! huft, heran, mereka kaga ada tugas di luar apa yak? bisa-bisanya jam segini masih ngebo. Mengedarkan pandanganku, tepat di pojok taman dekat tembok pembatas rumah. Aku mendapati sebuah pohon mangga, semakin ku pandang, Ehm, ko lama lama jadi pengen makan mangga? Aku berjalan mendekat kearah sana, menimang-nimang, harus kah aku manjat? atau ambil mangga di dapur saja? Ehm kalo di pikir pikir rumah ini ga mungkin kan, ga menyediakan buah buahan? Jadi ga heran juga kalo aku mikir kayak gitu! Setelah sampai di tempat pohon mangga itu berada, aku Mengedarkan pandanganku, tak ada siapa-siapa! Dan juga halaman samping rumah ini begitu luas, jadi jika saat aku ketauan manjat pohon, yeah ga mungkin lah kan ini sepi! Tau lah ya, di bikin pusing banget, aku mulai memijakkan kakiku di batang pohon itu, memanjatkan dengan susah payah, hingga akhirnya aku sampai di ranting pohon mangga itu. Gila! Ni pohon tinggi amat, Mengatur nafas, aku mengedarkan pandanganku. Wuuaah ternyata kalo diliat dari atas, pemandangan rumah aing ko bagus yak,  kek adem-adem sari gitu. Puas memandang sekitar, pandanganku beralih ke buah mangga yang tepat berada di samping ku, enak kayaknya. Tangan ku bekerja tuk menggapai mangga itu, setelah dapat, aku tersadar, Ini ngupasnya kek mana?! Astogeeeeee. BUK Tiba tiba, suatu benda keras terasa menghantam punggung ku, kalo kalian nanya sakit apa kaga, itu rasanya sakit cuy! Aku menengok ke belakang, mencari tersangka yang dengan sembarangan nampolin orang, kalo di tampolin makanan si, aku ga nolak. Disana, ku lihat! terdapat seorang pemuda bermanik hitam legam, sedang menatap ku, dengan sorot mata tajam! Ehh, itu muka ga bisa di kondisikan apa yak?  datar banget kek triplek! "Kembalikan!" Katanya, yang tiba tiba bersuara! "Ha?" Beoku heran. Ni anak ngajak ngomong siapa? Dan bisa bisanya disaat aku bingung dia malah menatapku dengan wajah tampannya itu! Lah? "Kembalikan pedangku!" ujar pria itu, dengan masih memasang muka datar dan mata menyorot tajam. "Ha?" Pedang? Pedang apaan? Pikirku heran, alis ku terangkat, dan mataku menyipit. Aku menengok kearah samping, tepatnya kearah benda yang baru saja menghantam punggungku itu Wehhhh anjerrr, itu beneran pedang! "Ehm," berdeham pelan, Aku mengerjabkan mataku. Gila ni anak! Bisa bisanya pedang sepanjang itu dilempar ke punggung ku, mana pedangnya tajem lagi! Untung yang menghantam punggungku tadi ganggang pedangnya saja, coba kalo yang tajem itu nancep ke punggungku?! Aku beralih menatap kearah pemuda yang masih menatapku dengan tampang datarnya itu. "Ini punyamu?" Tanyaku padanya yang masih memandangiku dengan sorot matanya yang tajam itu. Lama menunggu respon akhirnya aku menghembuskan nafas kasar, ku pandang mangga yang tepat berada di depanku, "Begini... karna kau baru saja hampir mencelakaiku, jadi sebagai gantinya pedang mu ku pinjam sebentar!" Kataku yang membuat alis pria itu terangkat. "Pinjam? untuk apa?" Tanyanya bingung dan menatapku heran, kepalanya sedikit miring kesamping, dan jangan lupakan alisnya yang terangkat sebelah itu. "Ehm, " Pura pura batuk sebentar, aku menghembuskan nafas dan kembali menatap pria yang berada di bawah selat pembatas rumah, "jadi gini, kau baru saja hampir mencelakai ku, dan kau tau! Itu tindakan yang amat berbahaya untuk ukuran bocah sepertimu! Karna aku baik, aku tak akan menuntut mu, cukup kau pinjamkan pedangmu untuk ku pakai mengupas mangga ini," Sambungku panjang lebar, ya bagaimanapun juga saat ini aku sedang ingin makan mangga tapi bukan ngidam! Kalo kulitnya ga aku kupas terus cara makannya gimana? Masa mau di kupas pake gigi, mungkin aja sih sebenernya tapi kan.. udahlah. Menggelengkan kepalaku pelan menyingkirkan pikiran nonfaedah dalam benakku, kembali ku perhatikan pria tampan itu yang malah mendekat ke arah tembok pembatas saat ini. Dia mau manjat? Pikirku. Ketika sudah dekat dengan tembok pembatas, kau tau apa yang dia lakukan?! Dia beneran manjat dung! melompat dengan lihainya, bagaikan monyet,  hingga saat ini dia telah sampai di ranting tempatku duduk. Aku menatapnya dengan tak percaya, gila ni anak, bener bener gila! "Apa yang kau lakukan disini?" Tanyaku padanya heran sekaligus tak percaya. Pria tampan itu menatap diriku datar namun menusuk, tapi setelahnya, dia merampas pedang yang ku pegang juga merampas mangga yang sedang ku genggam. "Mengambil pedangku," Katanya dingin. "Hah?" Aku sih oke-oke aja kalo dia mau ngambil pedang, tapi kenapa manggaku ikut di ambil sama dia? Ku perhatikan kelakuan kurang ajarnya, yang dengan antengnya mengupas mangga ku menggunakan pedangnya, dan memakannya dengan aman damai dan tentram. "Hei! Itu punya ku," Protesku tak terima mangga ku dicuri. "Kau mau?" Tawarnya menyodorkan mangga itu padaku. Lah? Malah nawarin ni bocah! Itu buah punya ku woy! "Tapi itu kan emang punyaku?!" Ujarku bingung sendiri. Lelaki itu mengedikkan bahunya, "Tak mau yasudah." He? Kesal dengan sikapnya aku memalingkan kepalaku, ga ada ahlak orang didepannya ini. Kalo di pikir pikir penduduk disini sama semua kelakulannya, tidak berahlak. Membuat diriku stres saja. Lama suasanya menjadi hening, aku menoleh kearah pria tadi, yang kini juga sedang menatapku dengan intens. Astaga! salting akunya mas. "A-apa?" tanyaku yang malah gagap, dia masih mempertahankan mimik mukanya, hingga kemudian di detik ke empat, dia mulai berdiri, beranjak dari duduknya. Kurasa dia akan kembali ke habitatnya saat ini, mari kita pantau. Tak kusangka, dengan mudahnya orang ini, anak ini, cowok ini, mengangkatku! Dan melompat melewati tembok pembatas ini! Jantung ku rasanya mau copot, Astaganagadragon. Ku pukul bahunya, ni anak ngajak war jadi manusia, ga tau jantung anak orang hampir copot apayak? "APA YANG KAU LAKUKAN MONYET?" Teriakku nyaring di gendang telinganya. Dia tampak tak peduli dan malah terus berjalan. Kesal masih tak ada balasan kupukul kepalanya, "JIKA TIBA TIBA AKU JATUH, TRUS MATI, KAU MAU TANGGUNG JAWAB!" Dan lagi-lagi aku teriak tepat didepan wajahnya. Pria tampan yang kurang ajar ini melirikku sekilas dengan sedikit mendesis kesal. Posisinya saat ini masih tetap berada di gendonganya, bukan bukan, lebih tepatnya itu semacam dia mengendongku dari depan layaknya bayi Kaki ku melingkar di perutnya dan tanganku melingkari punggungnya, layaknya koala. Pria itu berjalan, membawaku kearah pohon besar yang ada di tengah tengah hutan itu, tepat setelah sampai disana, dia menurunkan ku dari gendongannya. Aku menatap kesal kearah nya,  sedangkan dia hanya memandangku dengan raut datarnya itu. Makin kesel kan jadinya! Lagian ni anak ngapain ngajak aku kesini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN