4. Kegilaan Miguel

1026 Kata
Olivia tersentak mendengar bisikan itu. Matanya membesar, jantungnya berdebar tak karuan, seolah waktu berhenti di sekitar mereka. "Apa?!" desisnya, suaranya bergetar di antara keterkejutan dan ketidakpercayaan. Jemarinya meremas ujung rok dengan gugup, tubuhnya mundur selangkah, mencoba menciptakan jarak antara dirinya dan Miguel. "Miguel, tidak bisa! Kau... kau adalah kakak iparku!" ucap Olivia dengan suara bergetar. Matanya menatap tajam, perasaan bersalah dan marah bercampur aduk. "Ini salah... sangat salah. Aku tidak bisa melakukan ini. Tidak seharusnya kau... kita..." Olivia menggeleng kuat, mencoba menyingkirkan segala perasaan yang mulai membelit hatinya. Olivia terdiam sejenak setelah pengakuannya, berharap itu cukup untuk menghentikan Miguel. Namun, tatapan pria itu semakin tajam, penuh dengan intensitas yang menakutkan. "Aku tidak peduli," kata Miguel dengan nada rendah, hampir mengancam. "Kau akan tetap menjadi wanitaku, Olivia, apa pun yang terjadi." Olivia membeku. Kata-katanya membuatnya terkejut dan nyata mengakar di dalam dirinya. Ia ingin berlari, ingin menjauh dari situasi yang membelitnya, namun tubuhnya seolah tak mau bergerak. Miguel tersenyum melihat Olivia, tangannya bergerak mengelus pipi mulus Olivia, dan berbisik, "Kau akan tetap menjadi wanitaku, Olivia." Pria itu melumat bibir Olivia sejenak, sebelum akhirnya pergi meninggalkan Olivia yang berdiri mematung. "Damn! Apa dia sudah sangat gila? Aku sudah menghilang selama 5 tahun, lalu kenapa berakhir di pertemukan dia pria gila ini lagi?" Olivia mengacak rambutnya kasar. "Gila... gila, dia yang gila!" Pagi harinya, suasana di ruang makan mansion terasa tenang. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar memberikan suasana damai di tengah kemewahan yang melingkupi setiap sudut ruangan. Di meja panjang yang penuh dengan hidangan, Olivia, Maria, dan Yura duduk bersebelahan. Miguel berada di ujung meja, duduk tepat di kiri Olivia, ia mengawasi dengan tatapan yang tak henti-hentinya menyorot ke arah Olivia. Maria dan Yura tersenyum pada percakapan ringan yang terjadi di antara mereka. Olivia, di sisi lain, berusaha fokus pada piringnya, menahan diri agar tidak terlihat terlalu gelisah. Namun, setiap detik yang berlalu di dekat Miguel terasa seperti bom waktu yang siap meledak. Di tengah-tengah percakapan ringan, Olivia merasakan sesuatu yang tak terduga. Jemari Miguel yang besar tiba-tiba merayap pelan di bawah meja, mengusap lembut paha kirinya. Jantung Olivia berhenti berdetak sejenak. Tubuhnya menegang. Dia nyaris menjatuhkan garpunya, namun berhasil mengendalikan diri sebelum membuat kegaduhan. Olivia menggigit bibir bawahnya, berusaha keras untuk tetap tenang di depan Maria dan Yura, tetapi sentuhan Miguel semakin mendesak, semakin menuntut. Kepanikan menyebar di dadanya, dan ia ingin menyingkirkan tangan itu sekuat tenaga. Namun, Miguel hanya menatapnya sekilas dari ujung meja, memberikan senyum tipis yang menyiratkan sesuatu yang membuat darahnya berdesir dingin. "Olivia, kau baik-baik saja?" tanya Maria dengan nada lembut, tidak menyadari ketegangan yang menyelimuti adiknya. Olivia memaksakan senyum, meski di dalam dirinya berkecamuk berbagai umpatan. "Ya, aku baik-baik saja," jawabnya dengan nada yang terlalu tenang untuk perasaan yang sebenarnya. Ia ingin berteriak, ingin menyingkirkan Miguel dari hidupnya, tetapi ia tahu, di depan Maria dan Yura, dia harus tetap menjaga rahasia ini. Dalam hati, Olivia mengumpat penuh kemarahan. 'Dasar gila! Apa yang kau pikirkan, Miguel?! Ini tidak bisa terus begini,' Olivia menyingkirkan tangan Miguel, ia menatap Miguel dengan tajam. Miguel yang di tatap hanya mengedipkan sebelah matanya, dia sangat puas menggoda Olivia. Beberapa saat kemudian. "Langsung kembali saja kemari, kita menginap lagi di sini tidak apa-apa bukan?" Miguel mengangguk. "Ya, kita bisa menginap di sini sesuai kemauanmu." Maria tersenyum, wanita itu berjinjit dan memangut bibir Miguel. Miguel sendiri membalas pangutan Maria dengan sengaja, Olivia yang melihat lantas mengalihkan pandangannya. Setelah Miguel pergi, kini Maria dan Olivia berada di ruang tamu. "Jadi bagaimana dengan persiapan pernikahanmu?" "Sudah hampir matang, kau sendiri tidak ingin menikah?" "Tidak," kata Olivia, wanita itu menatap Maria. "Jangan khawatirkan aku." Maria mendengkus kesal. "Jelas saja aku mengkhawatirkanmu, kau pergi selama lima tahun tanpa alasan." "Aku memiliki alasannya, sudahlah... aku harus pemotretan," kata Olivia, wanita itu beranjak berdiri dan melangkah pergi. Maria menggelengkan kepalanya. "Keras kepalanya tidak pernah berubah. Malam harinya, malam datang lebih cepat dari biasanya. Kamar Olivia begitu sunyi, namun pikirannya tak bisa tenang. Seluruh tubuhnya masih gemetar setiap kali mengingat tatapan Miguel, ancaman halus yang tersirat dalam kata-katanya. Ia tidak pernah menyangka kakak iparnya akan menjadi sosok yang begitu menakutkan. "Bagaimana caranya agar aku bisa lepas darinya?" Olivia memejamkan matanya, bayangan masalalu bersama Miguel membuat tubuhnya menggelinjang. "f**k!" Wanita itu mengusap wajahnya kasar. "Kau tidak boleh mengingatnya lagi, Olivia. Dia sudah menjadi kakak iparmu." Olivia menggelengkan kepalanya, mengusir sosok Miguel dalam pikirannya. Berusaha sekuat tenaga melupakan Miguel, akhirnya Olivia tertidur. Menjelang tengah malam, tanpa suara, pintu kamar Olivia terbuka perlahan. Miguel, seperti bayangan gelap, menyelinap masuk dengan tenang. Ia mendekati tempat tidur Olivia, menatap wanita itu yang sedang terlelap dalam tidur yang gelisah. Perlahan, tubuhnya naik ke ranjang, lalu kedua lengannya memeluk Olivia dari belakang, mendekap tubuh mungilnya dengan erat. Bibirnya dengan segera menemukan bibir Olivia, memberikan ciuman yang lembut. "Kau sangat cantik, bahkan semakin cantik." Miguel tersenyum menyeringai, dia menatap Olivia dengan dalam. Hingga akhirnya Miguel melepaskan baju tidur Olivia, hingga kini tubuh atas Olivia polos tanpa sehelai benangpun. Tangan Miguel bergerak mengelus punggung mulus Olivia. "s**t! Aku sangat menginginkanmu, Olivia. Tapi tidak sekarang, aku yang akan membuatmu datang padaku." Bibirnya menyeringai. Miguel mengambil foto Olivia dengan ponselnya, lantas merunduk dan mengecupi punggung mulus itu. Yang mana hal itu mengejutkan dan membuat Olivia terbangun dalam kepanikan. “Miguel!” Olivia tersentak, menyingkirkan tubuhnya dengan kaget. “Apa yang kau lakukan?!” suaranya menggema dalam ruangan yang gelap. Namun, Miguel tetap tenang, tatapannya dingin dan penuh kendali. "Melakukan apa?" Olivia mendengkus, wanita itu menunduk melihat penampilannya. Lantas Olivia melotot. "Kau gila, Migu---" “Tidurlah,” bisiknya dengan nada mengancam, pria tersebut langsung membaringkan Olivia dan mendekapnya. Bahkan kini tangannya berada di kedua gundukan sintal milik Olivia. “Sebelum aku melakukan sesuatu yang membuatmu menjerit nikmat.” Kata-kata itu membuat Olivia membeku, seluruh tubuhnya tegang. Ia tahu Miguel tidak main-main, bahkan kini kedua tangan pria itu meremas dua gundukannya. Tubuhnya menggelinjang, wanita itu menggigit bibir bawahnya, menahan desahan keluar dari mulutnya. 'f**k! Bagaimana bisa pria sinting ini masuk ke dalam kamarku? Astaga, Olivia... dia sangat berbahaya,' Miguel mengecup tengkuk Olivia, dan berbisik, "Aku tahu kau sedang mengumpat, bagaimana jika umpatan itu di ganti dengan desahan?" Miguel menekan dua puncak kecil milik Olivia. "Oh Miguel!" "Good girl."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN