3. Jadilah Wanitaku!

1041 Kata
Setelah beberapa saat dalam perjalanan menuju perusahaan, pada akhirnya Olivia dan Miguel dan Olivia tiba di Rodriguez Corporation. Yura berlari ke arah Olivia, dan langsung memeluk kakak keduanya itu. Olivia sendiri terkejut, namun terkekeh dan membalas pelukan Yura. "Kakak bisa jatuh jika kau memeluk seperti ini." Olivia mengurai pelukannya, ia menatap adiknya dengan tersenyum. "Bagaimana kabarmu?" "Aku sangat baik, Kak. Aku benar-benar merindukanmu, kau pergi sangat lama." Yura ingin memeluk Oliv kembali, namun saat matanya melirik keberadaan Miguel, ia mengurungkan niatnya. "Maafkan kami, Tuan." Miguel menghela napasnya perlahan, sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan mereka berdua. Olivia menatap kepergian Miguel, sampai Yura menyenggol lengannya. "Kau sudah di kenalkan sama Kak Miguel?" "Sudah, tadi Kak Maria yang mengenalkan." Yura mengangguk. "Kalau begitu kita ke ruanganku, ayo." Yura menarik tangan Oliv, membawa kakaknya itu menuju ruangannya. Setibanya di dalam ruangan, Yura, dan Oliv bercengkrama banyak hal. Mereka saling melepaskan rindu satu sama lain. Sedangkan Miguel, pria itu bersama Sebastian di dalam ruangannya. Sebastian duduk di depan Miguel, ia menatap Miguel dengan penuh tanda tanya. "Jadi ada apa kau memanggilku kemari, Kak?" "Aku ingin kau mencari tahu seseorang." Miguel menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kerjanya, ia menatap Sebastian. "Namanya Olivia, dia adik kedua Maria." Sebastian mengernyitkan dahinya. "Untuk apa? Mencari tahu bagaimana maksudmu?" "Kau sudah tahu jawabannya, Bas," kata Miguel, pria itu melonggarkan dasinya yang terasa mencekik. "Cari tahu alasannya pergi dari negara ini lima tahun lalu, dan semua tentang kehidupannya dulu hingga detik ini." "f**k! Kau tertarik dengannya? Jangan macam-macam, Kak." Miguel terkekeh. "Aku tidak pernah macam-macam, aku hanya satu macam." Bibirnya membentuk seringai. "Lakukan saja tugasmu, besok kau sudah harus mendapatkan informasinya." Sebastian menggelengkan kepalanya. "Kau benar-benar gila, aku harap kau tidak melakukan kesalahan yang membuat Uncle Logan marah besar." Miguel tidak menjawab, ia lebih memilih menaikkan kedua kakinya di atas meja, lantas mengambil rokoknya, dan menyalakannya. Miguel menghisap rokok tersebut dengan nikmat. Malam harinya, mansion Devereux. Mansion besar yang ditempati oleh Olivia dan adiknya, Yura, tampak tenang dan damai. Setelah makan malam bersama Maria dan Miguel, suasana rumah menjadi sunyi. Maria sudah tidur di kamarnya bersama Miguel. Sementara Olivia mencoba mengistirahatkan pikirannya yang masih dipenuhi oleh kejadian di dalam mobil tadi siang. Meskipun dia mencoba melupakan ciuman panas dengan Miguel, setiap kali dia memejamkan mata, bayangan pria itu terus menghantui pikirannya. "Gila, kenapa bayangan pria sinting itu terus berputar di otakku?" Olivia beranjak bangun, ia mengacak kasar rambutnya. "Bagaimana bisa aku bertemu dengannya kembali? Bahkan lelucon apa, sampai dia menjadi Kakak iparku?" Merasa tidak bisa tidur, Olivia akhirnya bangkit dari tempat tidur dan memutuskan untuk pergi ke dapur. Mengenakan gaun tidur tipis berbahan satin berwarna merah yang memeluk tubuhnya dengan pas. Olivia tidak terlalu memikirkan penampilannya. Ini hanya mansion yang ia tempati bersama adiknya, Yura—siapa yang peduli dengan apa yang ia kenakan? Setibanya di dapur, dia membuka kulkas dan mengambil sebotol air dingin, meminumnya langsung dari botol. Namun, saat ia menutup pintu kulkas, dia terhenti. Di sana, di sudut dapur, berdiri Miguel dengan tatapan tajam yang tak bisa disalahartikan. “Miguel?” Olivia terkejut, tidak menyangka akan bertemu dengannya di sini, apalagi di tengah malam seperti ini. Miguel memandanginya, matanya bergerak dari kepala hingga kaki, mengamati setiap lekuk tubuh Olivia yang terlihat jelas di balik gaun tidur tipisnya. Mata dinginnya kini dipenuhi dengan api yang Olivia kenali—hasrat yang selama ini pria itu coba sembunyikan. Dia berjalan mendekati Olivia tanpa mengatakan sepatah kata pun, membuat Olivia mundur beberapa langkah hingga punggungnya menyentuh meja dapur. “Miguel, kau ... apa yang kau lakukan di sini?” Olivia mencoba bersikap biasa saja, tetapi jantungnya berdetak lebih cepat. Ada sesuatu yang berbahaya dalam cara Miguel mendekatinya, sesuatu yang membuat Olivia merasa tidak berdaya. Miguel tidak menjawab. Dia hanya terus mendekat hingga tubuh mereka hampir bersentuhan. Tanpa peringatan, dia meraih pinggang Olivia dengan tangan kokohnya, menariknya ke dalam pelukan erat. Olivia terkejut, mencoba melawan, tetapi sentuhan Miguel begitu kuat dan mendominasi, seperti memerintahkan tubuhnya untuk diam. Bahkan botol minumnya sudah Miguel taruh di atas meja. “Miguel, lepaskan aku!” Olivia mencoba berbicara dengan nada tegas, tetapi suaranya terdengar bergetar. Namun, bukannya melepaskan, Miguel menunduk dan mencium bibir Olivia dengan penuh gairah, sama seperti ciuman mereka sebelumnya—panas dan penuh tekanan, tetapi kali ini lebih mendominasi, lebih dalam. Olivia terkejut, tetapi tubuhnya, seolah memiliki ingatannya sendiri, mulai membalas ciuman itu. Tangan Olivia meremas lengan Miguel, antara ingin mendorong dan menarik pria itu lebih dekat. Setelah beberapa detik yang terasa seperti seumur hidup, Miguel menarik diri sedikit, membiarkan bibir mereka hanya beberapa inci terpisah. Napasnya terengah, tetapi tatapan dinginnya tidak berubah. “Kau tahu, Olivia,” bisiknya dengan nada rendah yang licik, “kau tidak bisa melarikan diri dariku. Aku tahu apa yang kau inginkan ... aku tahu apa yang kau butuhkan.” Olivia terengah-engah, mencoba mengendalikan dirinya. “Kau gila, Miguel. Ini salah, kau tunangan kakakku!” Suaranya tegas, tetapi matanya menunjukkan kebingungan yang bercampur dengan gairah yang tak bisa ia pungkiri. Miguel menyeringai tipis, sebuah senyum yang berbahaya. “Maria tidak harus tahu. Tidak ada yang harus tahu.” Tangannya meluncur ke belakang leher Olivia, menariknya lebih dekat lagi. “Kau akan menjadi milikku, Olivia. Mau atau tidak, kau sudah terikat denganku sejak hari pertama kau kembali.” Damn it! Olivia ingin melawan, ingin mendorong Miguel, tetapi sentuhan pria itu—cara tubuhnya memerintah setiap inci tubuhnya—membuatnya terdiam. Pikiran logisnya berteriak agar dia berhenti, tetapi tubuhnya terasa dikuasai oleh dorongan yang sama sekali berbeda. “Aku tidak akan pernah tunduk padamu, Miguel,” bisik Olivia, meskipun ia tahu ucapannya tidak sepenuhnya jujur. Ada sesuatu tentang pria ini yang membuatnya merasa lemah, takluk pada permainan d******i yang ia mainkan. Miguel tersenyum lebih lebar, menyadari konflik di dalam diri Olivia. “Oh, kau akan, Olivia. Karena kita berdua tahu... kau menginginkanku seperti aku menginginkanmu.” Ciumannya kembali turun, kali ini lebih dalam, lebih memaksa, seolah menegaskan kendalinya atas Olivia. Di tengah hujan yang masih mengguyur di luar mansion, dapur itu menjadi saksi permainan panas dan penuh gairah di antara dua orang yang terperangkap dalam api hasrat dan kekuatan yang tak terhindarkan. Lama mereka berciuman, sampai akhirnya Miguel melepaskannya terlebih dahulu kembali. Jemari besarnya bergerak mengusap jejak salivanya di sekitar bibir Olivia, lantas ia berbisik dengan penuh d******i, "Jadilah wanitaku!" Oh My!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN