Pria itu duduk dengan tenang di sofa, tatapan dinginnya tidak pernah lepas dari Olivia. Wajahnya datar, tetapi bibirnya melontarkan kalimat yang seperti bom waktu meledak di pikirannya.
Olivia menelan salivanya, dadanya tiba-tiba terasa sesak. Matanya membesar saat tatapan licik Miguel semakin menyudutkannya.
Kenangan yang selama ini ia coba kubur rapat-rapat mendadak muncul ke permukaan.Miguel... sialan ini memang dia! Lima tahun lalu, pria ini bukanlah siapa-siapa dalam hidupnya—hanya sebuah kesalahan dan kesenangan yang berusaha ia lupakan yang kini muncul kembali dengan bentuk yang lebih berbahaya.
Namun, meski terkejut, Olivia tidak akan kalah dalam permainan ini. Dengan cepat, dia mengendalikan diri. Senyum centilnya kembali ke wajahnya, seolah-olah baru saja mendengar lelucon basi.
"Wow, kau berani juga berbicara seperti itu, ya? Mungkin otakmu sedang berputar-putar karena terlalu banyak bekerja, Kakak ipar!" Olivia berkata dengan nada menggoda, mendekat ke Miguel dengan langkah yang provokatif.
Wanita itu duduk di sebelahnya, cukup dekat untuk merasakan kehadiran pria itu, tetapi cukup jauh untuk tetap menjaga permainan.
Dia menatap Miguel langsung, matanya berbinar penuh tantangan. "Kenangan apa, Kak Miguel? Yang kuingat, kau hanyalah orang asing. Mungkin kepalamu yang terlalu berharap?"
Damn!
Miguel menggeram, wanita di depannya masih sama, tidak pernah berubah. Dengan begini, Miguel merasakan tantangan di masalalu kembali muncul.
Miguel mendekatkan wajahnya, seolah ingin menguji Olivia lebih jauh. "Jangan bermain-main denganku, Olivia. Kau tahu betul siapa aku, dan aku tahu siapa kau," bisiknya dingin, matanya menelusuri wajah Olivia dengan tatapan yang licik, hampir seolah dia sedang menelanjangi jiwa Olivia.
Olivia tertawa kecil, meskipun jantungnya berdetak lebih cepat. "Kau mungkin berpikir bisa mengintimidasi aku, ya?" gumamnya, jari-jarinya bermain di rambutnya, gerakannya centil dan provokatif. "Tapi, kalau kau mau main permainan ini, aku siap. Bukan aku kalau mundur."
Tatapan Miguel tak berubah, tetap dingin dan penuh kontrol. "Kau sedang menantangku, Olivia?"
Olivia membalas tatapan tajamnya, senyum di bibirnya semakin lebar. Dia menggedikkan kedua bahunya acuh. "Artikan saja sendiri." Wanita itu duduk menjauh.
Miguel ingin menarik Olivia. Namun, sebelum dia bisa menarik Olivia, langkah kaki Maria terdengar dari kamar, membuat mereka berdua dengan cepat semakin menarik diri, masing-masing memasang ekspresi tak bersalah saat Maria kembali membawa jas Miguel.
"Maaf, agak lama. Kalian ngobrol apa tadi?" tanya Maria sambil tersenyum lebar, tak menyadari ketegangan yang baru saja terjadi di ruang tamu.
Olivia menatap Maria sambil tersenyum manis, namun dari sudut matanya, ia bisa melihat Miguel menatapnya dengan peringatan halus yang tak terucapkan.
"Tidak ada, Kakak iparku terlalu kaku. Kalau begitu aku akan menemui Yura." Olivia berdiri. "Aku akan main lagi kapan-kapan, kalau kau mau ... kau bisa ke mansion. Kak."
"Aku akan pergi ke mansion nanti malam, dan lebih baik kau berangkat bersama Miguel. Oliv." Maria memberikan jas milik Miguel, seolah tahu jika Oliv akan protes, Maria melanjutkan ucapannya. "Jangan membantah, kau tidak tahu perusahaan Miguel."
Olivia mendengkus kesal. "Ya, aku akan berangkat bersamanya."
Maria tersenyum. "Kau memang pintar, kalau begitu hati-hati."
"Aku berangkat dulu." Miguel mengecup bibir Maria di depan Oliv.
Yang mana membuat Oliv lantas mengalihkan pandangannya ke arah lain, dalam hatinya ia menggerutu, 'Apa dia sudah gila? Apa niatnya?'
Beberapa saat kemudian.
Di dalam mobil yang melaju melewati jalanan kota, suasana terasa aneh bagi Olivia. Dia duduk di kursi penumpang, diam dengan pikiran yang berputar-putar.
Miguel, pria yang dulu hanya sebuah kesalahan dan kesenangan sesaat yang ingin dia lupakan, kini duduk di sebelahnya, mengemudi dengan tenang. Wajahnya tetap sama—dingin dan tak terbaca, seperti patung hidup yang tak terpengaruh oleh dunia luar.
Olivia mencoba tetap cuek, melipat tangannya di d**a sambil sesekali melirik ke arah Miguel. Ketegangan di antara mereka hampir bisa dirasakan, mengisi udara di dalam mobil.
Tatapan tajam Miguel sesekali mencuri pandang ke arahnya, tapi dia tidak mengatakan apa-apa, hanya membiarkan ketegangan itu menggantung di antara mereka.
Namun, saat mereka melintasi jalan sepi di pinggir kota, tiba-tiba Miguel memperlambat mobilnya dan menepi di sisi jalan. Olivia mengerutkan kening, merasa ada sesuatu yang aneh.
Olivia menoleh pada Miguel, dan bertanya, “Ada apa?” Suaranya terdengar tegas, meski hatinya mulai berdegup kencang.
Miguel tidak menjawab. Sebaliknya, dia mematikan mesin mobil, membuat keheningan semakin tebal. Kemudian, tanpa peringatan, dia menoleh ke arah Olivia, tatapannya dalam dan tajam.
Sebelum Olivia bisa bereaksi, Miguel menariknya dengan cepat ke arahnya, menyambar bibirnya dalam ciuman yang begitu mendadak.
Olivia terkejut, matanya melebar, tubuhnya menegang. 'Apa yang dia lakukan?' pikirnya.
Namun, ciuman Miguel tidak seperti yang dia bayangkan—dingin dan tanpa perasaan. Sebaliknya, ciuman itu panas dan penuh gairah, mengalirkan adrenalin ke seluruh tubuhnya. Awalnya Olivia berusaha menolak, mendorong d**a Miguel dengan lemah, tetapi dalam sekejap, tubuhnya mulai merespons.
Damn!
'Ini gila,' pikirnya, tetapi bibirnya tak bisa berhenti membalas ciuman itu. Tangannya perlahan berhenti mendorong, malah meremas baju Miguel dengan kuat. Ciuman itu berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam, lebih manis dari yang pernah ia bayangkan. Di luar, langit mendadak gelap, dan hujan mulai turun dengan deras, memukul kaca mobil, menciptakan irama yang menggema di sekitar mereka.
Miguel mengendurkan genggamannya sejenak, menarik diri hanya cukup untuk menatap Olivia. Mata mereka bertemu, nafas keduanya terengah, tetapi tidak ada kata yang keluar dari mulut Miguel—hanya tatapan tajam yang penuh dengan perasaan yang tertahan.
Olivia bisa merasakan emosi yang selama ini terkunci di balik sikap dingin pria itu. Ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar permainan yang dia tunjukkan di depan orang lain.
"Hujan tiba-tiba deras, ya," gumam Olivia pelan, mencoba menutupi kegugupannya, tetapi suaranya lebih terdengar seperti bisikan yang nyaris tenggelam di antara suara hujan.
Miguel mengulurkan tangannya, menyentuh wajah Olivia dengan lembut, kontras dengan sosoknya yang selalu dingin dan keras. "Kau tahu aku tidak melupakanmu, Olivia," ucapnya, suaranya rendah dan dalam.
Olivia menatapnya, bibirnya masih terasa hangat setelah ciuman itu. Dia tahu ini salah, tetapi ada sesuatu tentang Miguel yang membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
Matanya terpejam sejenak, dan sebelum dia bisa menghentikan dirinya, Olivia kembali mendekat, mencium Miguel sekali lagi—kali ini lebih lembut, tapi penuh dengan perasaan yang tak tertahankan.
Hujan di luar semakin deras, menutup mereka dalam dunia kecil yang hanya berisi suara deras air dan ciuman yang manis namun membingungkan. Di tengah semua itu, Olivia tidak bisa memikirkan apa pun kecuali perasaan asing yang membakar dirinya dari dalam.
Ciuman itu akhirnya terputus perlahan, dan Miguel menarik diri dengan senyum tipis di wajahnya—senyum yang sedikit licik, namun kali ini penuh kehangatan yang aneh.
"Aku akan memastikan kita tidak akan pernah melupakan ini," bisik Miguel sebelum menyalakan kembali mobilnya dan melanjutkan perjalanan, meninggalkan Olivia dengan hati yang berdebar dan perasaan yang kacau, tak bisa memutuskan apakah ini hanya permainan, atau sesuatu yang lebih dalam dari itu.