Keesokan paginya, Olivia terbangun dengan kepala terasa berat, seolah-olah ingatannya sedang dibanjiri oleh potongan-potongan memori yang tak jelas. Matahari pagi yang hangat masuk melalui tirai kamar, memantulkan sinar lembut yang menyoroti seprai yang kusut dan tubuh telanjang Miguel yang terbaring di sampingnya. Olivia menoleh, melihat sosok Miguel yang masih tertidur, wajahnya tampak damai, nyaris seperti anak kecil yang lelah setelah seharian bermain. Namun, kenyataan kembali menghantamnya seperti gelombang yang menghantam karang. Ingatan tentang malam sebelumnya kembali, menggulung dengan cepat, membawa kembali emosi yang bercampur aduk—antara gairah yang memabukkan dan rasa bersalah yang menghantui. Olivia mencoba bergerak, berniat untuk bangun dari tempat tidur yang kini ter

