Keesokan paginya, Olivia terbangun dengan ruang kosong di sebelahnya. Seprai di tempat tidur masih berantakan, menunjukkan bahwa Miguel pernah ada di sana, namun kini hanya meninggalkan jejak samar. Ia mengerutkan kening, mencoba memahami di mana pria itu. Matahari pagi yang hangat menyinari kamarnya, namun rasa dingin mulai merayap di dalam hatinya. Olivia menunggu selama berjam-jam, berharap pintu kamar hotel akan terbuka dan Miguel muncul dengan senyum hangatnya seperti biasa. Namun, hingga siang tiba, Miguel tetap tak ada. Tak ada catatan, tak ada pesan. Hanya keheningan yang membuat Olivia merasa seolah-olah ia ditinggalkan begitu saja. Pikiran Olivia mulai berputar. Di balik ketenangan fasad yang selalu ia tampilkan, muncul rasa cemas yang menusuk. Pertanyaan-pertanyaan mulai mu

