10. Semakin Dekat

1167 Kata
Malam beranjak dingin saat Olivia dan Miguel kembali ke hotel. Udara kota Milan yang sejuk menyelip di antara mereka, namun kehangatan yang perlahan tumbuh sepanjang hari masih tersisa di hati Olivia. Malam sebelumnya dipenuhi ketegangan, tapi hari ini, setelah berjalan menyusuri jalanan bersejarah, menikmati arsitektur, dan berbagi secangkir kopi, Olivia merasa seolah ada sesuatu yang berubah. Meskipun masih terjaga kewaspadaannya, dia tak bisa mengabaikan caranya Miguel membuat dunia terasa lebih kecil, lebih hangat, ketika mereka bersama. Malam itu, Miguel mengundang Olivia untuk makan malam di restoran Italia klasik di dekat hotel, yang terletak di sebuah gedung tua dengan teras yang menghadap kanal. Langit malam Milan berwarna biru tua, dihiasi bintang-bintang yang berkilau samar. Mereka duduk di sebuah meja kecil dengan lilin yang menerangi wajah mereka. Miguel memesan anggur merah yang berkualitas, dan aroma hidangan Italia yang hangat memenuhi udara. Olivia mengangkat alis saat Miguel memilihkan menu untuknya, namun ia membiarkan pria itu memegang kendali, kali ini tanpa protes. Saat makanan datang—hidangan pasta dengan saus truffle yang harum—Olivia merasa tergugah. Mereka berbicara tentang kota Milan, tentang seni, musik, dan hal-hal yang tak pernah mereka bicarakan sebelumnya. Miguel mengungkapkan ketertarikannya pada arsitektur Italia, sesuatu yang tak pernah Olivia bayangkan dari pria yang ia anggap terlalu penuh rahasia. Di bawah kilauan cahaya lilin, mata Miguel terlihat lebih lembut, lebih jujur. Olivia tak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa saat Miguel bercerita tentang perjalanannya di Italia bertahun-tahun lalu, sebuah kisah penuh humor yang tak pernah ia ceritakan kepada siapa pun sebelumnya. Anggur membuat kepala Olivia terasa sedikit ringan, dan setiap senyuman Miguel membuatnya merasa lebih rileks. Ketika makan malam berakhir, Miguel mengulurkan tangan, mengundang Olivia untuk berjalan-jalan kembali di tepi kanal yang berkilauan. Cahaya lampu jalan memantul di air, menciptakan suasana yang begitu romantis. Olivia merasa seperti berada dalam sebuah dongeng, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dia tak ingin malam ini berakhir. “Aku tidak pernah menyangka kau bisa begitu santai,” ujar Olivia, memecah keheningan di antara mereka. Ia menatap Miguel dengan tatapan yang penuh rasa ingin tahu. Miguel tersenyum, menundukkan kepala, seolah-olah menyembunyikan sesuatu di balik matanya yang gelap. “Kau hanya perlu melihatku dari sudut yang berbeda,” jawabnya, suaranya lembut namun penuh arti. Mereka berjalan pelan, berbicara tentang hal-hal ringan, menikmati keheningan malam yang nyaman. Saat mereka tiba di jembatan yang terbentang di atas kanal, Miguel berhenti. Ia menghadap Olivia, memegang kedua tangannya dengan lembut. Tangan Miguel hangat, dan sentuhannya membuat hati Olivia berdebar. Sesaat, ia ingin menarik tangannya, tapi rasa hangat itu terlalu nyaman untuk dilepaskan. “Ada satu tempat lagi yang ingin aku tunjukkan padamu,” kata Miguel dengan nada yang tenang namun mendesak. Sebelum Olivia sempat bertanya, Miguel menuntunnya melewati jembatan dan menyusuri jalanan yang gelap namun menawan. Mereka tiba di sebuah gedung tua dengan tangga berkelok yang menuju ke atas. Miguel memimpin Olivia naik, dan ketika mereka sampai di puncaknya, pemandangan kota Milan terbentang di hadapan mereka, lampu-lampu kota berkilauan di kejauhan. “Selamat datang di atap favoritku,” kata Miguel. Suaranya terdengar bangga, seolah-olah ini adalah tempat rahasia yang hanya ingin ia bagi dengan Olivia. Mereka duduk di sudut atap yang nyaman, dengan selimut hangat yang disediakan Miguel di sana. Angin malam berhembus lembut, membawa aroma kota yang menggabungkan bau bunga, asap, dan kopi. “Kenapa kau membawaku ke sini?” tanya Olivia perlahan, memandangi kota yang berkilauan di bawah mereka. “Aku ingin kau melihat dunia dari sudut pandangku,” jawab Miguel, nada suaranya berubah lebih serius. “Aku tahu kita sering berdebat, kita punya banyak perbedaan, tapi… ada sesuatu tentang dirimu yang selalu membuatku kembali. Sesuatu yang tidak bisa aku lepaskan.” Olivia terdiam, terkejut oleh keterusterangan Miguel. Ia menatap pria itu dalam keheningan, mencoba menemukan kebohongan di balik kata-katanya, tapi yang ia lihat hanyalah kejujuran yang tak terduga. “Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan,” Olivia mengakui, matanya masih tertuju pada wajah Miguel yang kini berada begitu dekat dengannya. “Kau tidak perlu mengatakan apa-apa,” balas Miguel, suaranya hampir berbisik. “Hanya biarkan aku bersamamu malam ini. Lupakan yang lain, hanya kita, di sini, di bawah bintang-bintang Milan.” Olivia merasa seluruh pertahanan yang ia bangun perlahan-lahan runtuh. Malam itu, mereka berbicara lebih banyak, tertawa, bahkan berdiam dalam keheningan yang tidak canggung. Miguel mengeluarkan sebotol anggur kedua dari tasnya, dan mereka bersulang untuk malam yang tak terduga ini. Semakin malam, semakin mereka mendekat, hingga akhirnya Olivia bersandar di bahu Miguel, merasakan detak jantungnya yang tenang. “Kau membuatku bingung,” Olivia akhirnya berkata setelah lama berdiam diri. “Aku tahu aku seharusnya menjauh darimu, tapi aku tidak bisa.” Miguel mengelus rambut Olivia dengan lembut, jari-jarinya menyusuri helaian rambut yang tertiup angin. “Mungkin itu karena kita tidak pernah benar-benar memilih siapa yang kita cintai,” bisiknya, mendekatkan bibirnya ke kening Olivia dan mengecupnya dengan lembut. Olivia menutup matanya, merasakan kehangatan ciuman itu mengalir ke seluruh tubuhnya. Ketika malam semakin larut, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke hotel. Jalanan Milan yang sunyi menjadi saksi kedekatan yang mulai terjalin di antara mereka, meski Olivia masih enggan mengakuinya. Kembali di hotel, Miguel mengantar Olivia hingga ke pintu kamar, matanya menatapnya dengan intens. “Terima kasih telah menghabiskan malam ini bersamaku,” kata Miguel dengan nada yang begitu tulus, membuat Olivia tak sanggup menatapnya terlalu lama. “Jangan terlalu senang dulu,” jawab Olivia sambil tersenyum samar, berusaha menutupi kegugupannya. “Aku masih belum memaafkanmu.” Miguel tertawa pelan, sebuah suara yang terdengar begitu akrab di telinga Olivia. “Aku tahu,” jawabnya, “Tapi aku akan terus mencoba. Aku tidak akan menyerah.” Olivia hanya mengangguk, lalu perlahan menutup pintu kamarnya, membiarkan Miguel berdiri di sana sendirian. Namun, sebelum pintu benar-benar tertutup, Miguel menahan dengan lembut, menatap Olivia sekali lagi. “Selamat malam, Olivia,” katanya dengan nada yang begitu lembut. “Selamat malam,” jawab Olivia, dan kali ini, suaranya tidak terdengar dingin. Ia menutup pintu, menahan napas sejenak, lalu bersandar di belakangnya. Hatinya berdebar keras, dan perasaannya bercampur aduk—antara kebencian, kemarahan, dan sesuatu yang tak ingin ia akui. Di sisi lain pintu, Miguel tersenyum, merasakan kemenangan kecil yang ia raih malam itu. Perlahan, langkah kakinya menjauh, meninggalkan koridor yang hening. Dan Olivia tahu, meskipun ia mencoba menghindari pria itu, hatinya telah sedikit demi sedikit terbuka, seperti kuncup bunga yang mulai mekar di bawah cahaya matahari musim semi yang hangat. Malam itu, Olivia tertidur dengan perasaan yang tak menentu, tapi satu hal yang pasti—Miguel telah berhasil menanamkan benih perasaan yang tak pernah ia bayangkan akan tumbuh di antara mereka. Di kota Milan yang penuh dengan sejarah dan keindahan, sebuah babak baru telah dimulai, dan Olivia tahu bahwa hubungannya dengan Miguel akan menjadi jauh lebih rumit dari sebelumnya. Namun, untuk saat ini, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam keromantisan malam, memimpikan kota yang berkilauan di bawah langit Italia yang abadi. Miguel masuk ke dalam kamarnya di samping kamar Olivia, dia sengaja memesan satu kamar lagi. "Sebentar lagi kau akan menjadi milikku, Baby." Miguel tertawa, tawa yang terdengar menakutkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN