9. Tanda Kepemilikan

1313 Kata
Miguel mendekat, menatap Olivia yang masih berada di bawah kungkungannya. Tatapan tajamnya meluluhkan sedikit perlawanan yang tersisa pada diri Olivia, meski hatinya masih dipenuhi kebencian. Dia mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara mereka nyaris tidak ada. Sementara Olivia masih berusaha memalingkan pandangannya, Miguel mengulurkan tangan, mengusap lembut pipi Olivia dengan ibu jarinya. "Menjauhlah, Migu—" Sentuhan itu penuh dengan kehangatan yang tak terduga setelah kemarahan yang ia perlihatkan tadi. Tangannya bergerak turun, meraba sepanjang rahang Olivia, lalu turun ke lehernya yang berdenyut. "Miguel..." Olivia menggeliat, merasakan sentuhan Miguel. "Jangan mencoba lari lagi dariku, Olivia," bisiknya. Suara Miguel begitu rendah dan berat, seolah ia menahan sesuatu yang lebih dalam. Olivia terdiam, terjebak dalam kebingungan antara menolak dan menerima kehadiran pria itu yang menggetarkan dirinya. Sentuhan itu perlahan-lahan mengendurkan kemarahan Olivia, membuat pertahanannya retak meski pikirannya masih berteriak menolak. Miguel merosotkan tubuhnya ke bawah, dalam sekali sentakan. Miguel merobek gaun Olivia. "Damn! Apa yang kau lakukan, Miguel... ah s**t!" Tubuhnya tersentak, wanita itu memejamkan kedua matanya saat merasakan lidah Miguel. Ya, Miguel menjilati miliknya di bawah sana yang sudah tidak tertutup apapun. Pria tersebut memainkan miliknya dengan bibir, dan jemari pria itu. Gila, rasanya sangat nikmat. Membuat Olivia tidak bisa berkata-kata, dan hanya mampu mendesah. Bahkan kini tanpa sadar jemarinya meremas helaian rambut Miguel. "Oh Miguel!" Miguel menyeringai mendengar lenguhan dan desahan Olivia, pria itu semakin memainkan milik Olivia. "S-top... aku mau keluar, Miguel. Ah s**t!" Tubuh Olivia bergetar hebat, wanita itu mendapatkan pelepasannya. Miguel terkekeh, pria itu membersihkan semua cairan milik Olivia. Sebelum akhirnya, ia memberikan tanda kepemilikan di atas milik Olivia. "s**t! Kau benar-benar gila, Miguel!" Olivia mengerang, saat merasakan perih di atas miliknya. Keesokan paginya. Olivia terbangun dengan sinar matahari yang hangat menyinari kamarnya. Sejenak, ia merasa bingung dengan ruangan yang berbeda dari kamar hotelnya. Tubuhnya masih terasa lelah setelah malam penuh ketegangan dengan Miguel. Dengan mata yang masih setengah terbuka, ia melihat Miguel duduk di dekat jendela, mengawasinya dengan tenang. Pria itu tersenyum tipis saat melihat Olivia terbangun, membuat wanita itu tersentak dan segera mengalihkan pandangan. "Selamat pagi," sapanya dengan nada lembut yang sangat kontras dari malam sebelumnya. Di atas meja, Miguel telah menyiapkan sarapan yang terlihat sempurna—croissant hangat, buah-buahan segar, dan segelas jus jeruk yang segar. "Aku tidak lapar," kata Olivia dingin, mencoba mengusir bayangan malam tadi dari pikirannya. Dia masih merasa terhina dengan sikap Miguel yang selalu ingin mengendalikan hidupnya. "Tapi kau butuh makan," jawab Miguel, tetap tenang. Ia mengambil sebuah croissant dan menyodorkannya kepada Olivia. "Makanlah, kau akan merasa lebih baik." Olivia menatap croissant itu dengan ragu, namun perutnya yang kosong menuntut sesuatu. Akhirnya, dengan enggan, dia menerimanya dan mulai menggigit perlahan. Melihat Olivia makan, Miguel tampak puas. "Bagus. Setelah ini, aku sudah menyiapkan keperluan untuk kita mandi," lanjutnya tanpa meminta persetujuan Olivia. Dia berjalan ke kamar mandi, dan seperti biasa, segalanya sudah diatur dengan rapi. Air hangat mengalir di bak mandi yang penuh dengan busa, dan aroma wangi sabun yang lembut memenuhi ruangan. Meski masih marah, Olivia memutuskan untuk mengikuti instruksi Miguel. Dia tahu betapa keras kepala pria itu, dan melawan hanya akan menambah ketegangan yang tak perlu. Setelah mereka selesai bersiap-siap, Miguel menyarankan sesuatu yang tidak diduga oleh Olivia. "Aku ingin kita jalan-jalan hari ini. Kota ini terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja. Milan punya banyak hal yang bisa kau lihat." Olivia mengerutkan kening, menolak ajakan itu dengan nada yang tajam. "Aku tidak tertarik. Aku lebih suka sendiri," jawabnya tegas. Namun, Miguel tidak menyerah. Dengan senyum yang lembut, dia mendekatkan wajahnya ke wajah Olivia, hingga jarak di antara mereka menjadi begitu intim. "Ayolah, Olivia," rayunya. "Aku tahu kau ingin melihat Milan. Lagipula, ini akan menjadi hari yang tenang—hanya kita berdua, tanpa gangguan. Aku janji." Suaranya mengandung kehangatan yang menenangkan, membuat Olivia ragu untuk sesaat. Dia ingin menolak, ingin mempertahankan kemarahannya. Namun, melihat tatapan Miguel yang begitu yakin dan suara yang memohon dengan lembut, Olivia akhirnya mengangguk setuju, meski enggan. "Baiklah," gumamnya, "Tapi ini bukan berarti aku memaafkanmu." "Tentu saja," jawab Miguel dengan senyum kemenangan yang membuat Olivia sedikit menyesal telah menyetujuinya. Namun, dia tetap berdiri, mengenakan mantel tebal untuk menghangatkan tubuhnya sebelum mereka berangkat. Hari itu, mereka berjalan-jalan menyusuri jalanan berbatu di kota Milan yang berkilauan di bawah sinar matahari. Jalan-jalan sempit di sekitar Duomo diwarnai oleh toko-toko mewah dan kafe yang mengeluarkan aroma kopi yang menggoda. Udara terasa segar, dengan angin musim gugur yang sejuk, membawa serta semerbak wangi dedaunan kering. Mereka berjalan perlahan, dengan Miguel yang sesekali mengarahkan Olivia ke sudut-sudut tersembunyi kota yang tak banyak orang tahu. Meski Olivia masih merasa jengkel, ada sesuatu dalam perhatian Miguel yang menghangatkan hatinya sedikit demi sedikit. Mereka berhenti di sebuah kafe kecil, duduk di luar sambil menikmati secangkir cappuccino dan melihat orang-orang berlalu-lalang. Untuk pertama kalinya, Olivia merasa seolah-olah dia bisa melupakan segala hal yang terjadi sebelumnya, setidaknya untuk sesaat. Ketika mereka melanjutkan perjalanan, Miguel menggenggam tangan Olivia, membuatnya terkejut. Olivia hendak menarik tangannya, tapi sentuhan Miguel terasa hangat dan menenangkan. Dengan malu-malu, dia membiarkan Miguel menuntunnya melewati keramaian. Mereka berjalan menuju Piazza del Duomo, di mana katedral megah yang menjulang tinggi menjadi pusat perhatian semua orang. Miguel menarik Olivia mendekat, dan mereka berdua berdiri di sana, memandangi kemegahan arsitektur yang begitu luar biasa. "Cantik, bukan?" tanya Miguel, memecah keheningan yang mulai terasa nyaman di antara mereka. Olivia mengangguk tanpa berkata apa-apa, tatapannya terpaku pada ukiran-ukiran rumit yang menghiasi dinding katedral. "Aku senang kau setuju untuk ikut denganku hari ini," lanjut Miguel, suaranya lebih lembut dari biasanya. "Aku hanya ingin menunjukkan padamu sisi indah dari dunia ini... sisi yang mungkin belum pernah kau lihat sebelumnya." Olivia tidak tahu harus menjawab apa. Ia tahu Miguel seringkali berkata dengan cara yang manipulatif, tapi kali ini, ada kejujuran dalam suaranya yang membuat Olivia tersentuh. Mereka menghabiskan beberapa saat dalam keheningan yang damai, sebelum Miguel mengajaknya pergi ke Galleria Vittorio Emanuele II—salah satu pusat perbelanjaan tertua di dunia. Di dalam bangunan megah dengan kubah kaca yang tinggi, Miguel membawa Olivia melihat-lihat toko-toko mewah yang menjual pakaian berkelas dan perhiasan yang berkilauan. Olivia merasa anehnya santai, seolah segala tekanan menghilang di tengah kemewahan yang mengelilingi mereka. Mereka berhenti di depan sebuah toko perhiasan, dan Miguel menunjuk sepasang anting yang bersinar di balik kaca etalase. "Mereka akan terlihat cantik padamu," katanya tanpa ragu. Olivia tersenyum kecil, merasa tersanjung meski masih menyimpan sedikit kemarahan. "Aku tidak membutuhkannya," jawabnya sambil tertawa pelan. Tapi Miguel memaksa, dan akhirnya mereka keluar dari toko dengan sekotak kecil yang berisi anting-anting itu. Olivia mengenakannya, dan Miguel tersenyum lebar, seolah-olah melihat sesuatu yang sempurna. Mereka melanjutkan perjalanan, berjalan menyusuri kanal-kanal di Navigli saat matahari mulai terbenam. Cahaya oranye keemasan membalut kota Milan dengan pesona yang romantis, dan Miguel memeluk Olivia dari belakang saat mereka berdiri di tepi jembatan, melihat bayangan mereka sendiri yang memantul di air yang tenang. Olivia, yang awalnya ingin menolak, akhirnya merelakan dirinya bersandar di d**a Miguel, merasakan kehangatan tubuhnya yang begitu nyaman di malam yang dingin. "Terima kasih untuk hari ini," bisik Miguel di telinga Olivia. Ia mengecup pelan puncak kepalanya, dan Olivia, untuk pertama kalinya, tidak merasa ingin melawan. Mereka terus berdiri di sana, dalam keheningan yang penuh makna, menyaksikan malam perlahan-lahan mengambil alih kota. Di momen itu, Olivia menyadari bahwa, meskipun ia masih marah dan bingung, ada sesuatu dalam hubungan mereka yang lebih kuat dari sekadar kebencian atau gairah. Sesuatu yang dalam, namun tak pernah sepenuhnya ia pahami, terus menariknya kembali pada pria yang ia coba hindari. Meskipun pertahanan dalam hatinya belum sepenuhnya runtuh, hari itu di Milan menjadi salah satu hari yang takkan pernah ia lupakan—hari di mana Miguel menunjukkan sisi lain dari dirinya yang lebih lembut, lebih manusiawi. Malam itu, mereka kembali ke hotel dengan suasana yang jauh lebih hangat dari sebelumnya. Meskipun konflik di antara mereka belum sepenuhnya terselesaikan, setidaknya ada perasaan damai yang mengisi kekosongan di antara mereka, seperti bayangan kota Milan yang tetap indah meski terbenam dalam gelapnya malam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN