8. Naughty Girl

1129 Kata
Keesokan harinya. Di studio yang megah dengan dinding putih bersih, Olivia berdiri di tengah-tengah cahaya lampu kilat yang menyorotnya. Dengan gaun yang sedikit terbuka, menonjolkan lekuk tubuhnya, Olivia berusaha tetap fokus meskipun merasa was-was. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena gugup menghadapi kamera, tetapi karena dia tahu ada sepasang mata yang terus mengawasinya-Miguel. Dari sudut ruangan, Miguel menatap Olivia dengan tatapan tajam dan penuh intensitas. Setiap gerakan Olivia, dari senyumnya yang tipis hingga cara dia mengangkat tangannya, membuat Miguel semakin gelisah. Pria itu sesekali menggeram pelan, seolah-olah ada api yang menyala dalam dirinya yang siap meledak kapan saja. Olivia bisa merasakan tatapan Miguel yang tak pernah lepas dari tubuhnya, seakan-akan setiap gerakan yang ia lakukan merupakan pengkhianatan bagi pria itu. Pemotretan berakhir, namun ketegangan di udara semakin pekat. Olivia mencoba menjaga jarak, tapi sebelum dia sempat meninggalkan studio. Miguel sudah lebih dulu menghampirinya. "Ikut denganku," perintahnya dengan nada rendah namun tegas, tanpa memberikan Olivia kesempatan untuk membantah. Tanpa kata, Miguel menggiringnya menuju ruang kerjanya yang berada di lantai atas. Begitu mereka memasuki ruangan, Miguel mengunci pintu dengan suara keras yang menggema di telinga Olivia. Aura pria itu berubah-begitu mendominasi dan penuh kendali. Ia mendorong tubuh Olivia hingga terperangkap di antara dinding dan dirinya, menciptakan jarak yang begitu sempit. Olivia terkejut, napasnya tercekat saat merasakan tubuh Miguel yang begitu dekat dengannya. Sebelum Olivia bisa berkata apa-apa, Miguel mendekat dan tanpa peringatan mencium bibirnya dengan brutal. Ciuman itu bukanlah ungkapan kasih, melainkan klaim kekuasaan, penuh gairah yang mendominasi. Olivia mencoba melawan, namun tubuhnya membeku, terjebak antara kemarahan dan hasrat yang membingungkan. Kedua tangan Miguel memegang wajahnya erat, mengunci Olivia agar tidak bisa bergerak. Setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian, Miguel melepaskan ciumannya. Olivia menarik napas dengan berat, kepalanya masih berputar karena intensitas yang baru saja ia rasakan. Mata Miguel menyala penuh dengan emosi yang berbaur; marah, posesif, dan sesuatu yang Olivia sulit pahami. "Kau milikku, Olivia," bisik Miguel dengan suara serak, dekat di telinganya. "Aku tidak suka jika ada orang lain melihat keindahan tubuhmu!" Suaranya penuh ancaman, namun ada sentuhan kegelisahan yang tersembunyi di balik kata-katanya. Olivia hanya bisa terdiam, terpaku pada sorot mata Miguel yang seolah-olah mengunci jiwanya, membuatnya tak mampu melarikan diri. Miguel mengusap lembut pipi Olivia dengan ibu jarinya, kontras dengan kekasaran sebelumnya. "Kau tahu ini, kan?" tanyanya lembut, tapi jelas-jelas mengandung ancaman. Olivia ingin berkata sesuatu, ingin melawan, tapi lidahnya kelu. Tubuhnya masih gemetar, masih merasakan bekas sentuhan Miguel yang begitu menghancurkan pertahanan terakhirnya. Mereka berdiri dalam keheningan yang menyesakkan, sementara Olivia berusaha memahami emosi yang mengaduk-aduk dirinya. Di satu sisi, ia merasa marah karena dikendalikan dan didominasi, tetapi di sisi lain, ada bagian dirinya yang mulai menyerah pada daya tarik yang tak terhindarkan dari pria yang berdiri di hadapannya. Miguel tersenyum tipis, mengangkat dagu Olivia agar tatapannya bertemu dengannya. "Jangan pernah lupakan itu, Olivia. Kau hanya untukku," ucapnya sebelum berbalik pergi, meninggalkan Olivia yang masih tertegun dan berjuang menguasai perasaannya di sudut ruangan yang terasa semakin menyempit. Miguel menerima telefon, sejak tadi ponselnya berdering, dan itu membuat suasana menjadi rusak. Melihat kelengahan Miguel, Olivia meninggalkan ruangan Miguel dengan napas yang tertahan, kemarahan yang terpendam, dan perasaan terhina. Sikap dominan Miguel yang mengklaim dirinya begitu saja membuatnya marah, tidak terima dengan perlakuan yang dia dapatkan. Dengan hati yang penuh kebencian dan tekad untuk lepas dari cengkeraman pria itu, Olivia menunggu momen yang tepat. Saat Miguel berbalik, lengah sejenak dengan percakapan telepon yang datang dari seseorang, Olivia mengambil kesempatan itu. Dia berlari keluar dari ruang kerja Miguel, tidak peduli pada panggilan pria itu yang terdengar dari kejauhan. Nafasnya memburu saat dia menuruni tangga dengan cepat, terus berlari hingga keluar dari gedung, tidak berhenti sampai dia merasa cukup jauh dari jangkauan Miguel. "f**k! Dia memang sangat nakal." Malam harinya, Olivia tidak kembali ke kamar hotelnya. Ia memutuskan pergi ke tempat yang tidak terduga-sebuah club malam yang ramai dengan dentuman musik dan cahaya yang berkelap-kelip. Di sana, ia berusaha melarikan diri dari kenyataan, mencoba mengubur emosinya dalam hingar-bingar malam. Ia menenggak minuman demi minuman, mencoba melupakan wajah Miguel, mencoba melupakan hasrat yang membingungkan yang selalu muncul setiap kali pria itu ada di dekatnya. Di sisi lain, Miguel menunggu di kamar hotel dengan sabar yang mulai terkikis oleh kemarahan. Sudah beberapa jam berlalu dan Olivia belum juga kembali. Wajahnya gelap dan penuh ketegangan, dan ketika sebuah panggilan masuk dari salah satu anak buahnya, kemarahannya mencapai puncak. "Tuan, kami menemukan Nona Olivia... dia ada di club malam," suara anak buahnya terdengar hati-hati, seolah takut dengan reaksi Miguel yang bisa meledak kapan saja. Dengan rahang mengeras, Miguel bangkit dari tempat tidur dan segera menuju ke club yang disebutkan. Sorot matanya tajam penuh kemarahan, wajahnya kaku, dan tubuhnya menegang. Olivia memang berani menguji kesabarannya, dan itu membuat darahnya mendidih. Club malam itu penuh sesak ketika Miguel tiba, dengan musik yang menghentak keras mengisi udara. Namun, semua kegaduhan itu tak menghalangi fokusnya-dia hanya mencari satu orang: Olivia. Akhirnya, dia menemukannya di tengah lantai dansa, tersenyum dan tertawa dengan bebas seolah-olah tak ada yang salah. Hatinya semakin panas melihat Olivia begitu tenang, begitu jauh dari jangkauannya. Dengan langkah cepat, Miguel mendekati Olivia yang langsung menyadari kehadirannya. Matanya membesar terkejut, dan sebelum Olivia bisa melangkah mundur, Miguel sudah lebih dulu meraih pinggangnya dan menggendongnya begitu saja. "Turunkan aku! Miguel, lepaskan!" Olivia meronta, menendang dan memukul, namun Miguel tak bergeming. Dengan kekuatan yang tak terelakkan, dia membawa Olivia keluar dari kerumunan yang terdiam menatap mereka, menuju sebuah kamar VVIP yang ada di club. Olivia terus melawan sepanjang perjalanan, tapi Miguel tetap berjalan lurus, sorot matanya penuh determinasi. Setibanya di kamar VVIP, Miguel menutup pintu dengan keras, mengunci ruangan itu sehingga tak ada yang bisa masuk. Olivia masih berusaha melepaskan diri, namun Miguel menekan tubuhnya ke dinding, wajahnya begitu dekat dengan wajah Olivia hingga ia bisa merasakan napas panas pria itu di wajahnya. "Naughty girl," desis Miguel dengan nada yang rendah, penuh ancaman. "Kau memang harus dihukum, Olivia!" Matanya bersinar tajam, penuh kemarahan dan obsesi yang tak tertutupi. Olivia terdiam, merasa terpojok dan tak punya pilihan. Dia tahu bahwa kali ini, Miguel tidak akan membiarkan sikap pemberontakannya lolos tanpa balasan. Olivia menggigit bibirnya, mencoba menyembunyikan ketakutannya, tetapi sorot matanya mengkhianati perasaan yang sesungguhnya. Miguel bisa melihat semuanya, dan itu hanya membuat keinginannya semakin kuat untuk mengendalikan wanita yang terus mencoba melawan d******i dan kekuasaannya. Dia tidak akan membiarkan Olivia pergi begitu saja- tidak malam ini, tidak selamanya. "Sekarang," lanjut Miguel, suaranya semakin rendah dan mengguncang perasaan Olivia, "kau akan belajar bahwa tidak ada yang bisa lepas dariku. Apapun yang kau coba lakukan, aku akan selalu menemukannya. Kau milikku, dan malam ini kau akan mengerti apa artinya itu." Olivia hanya bisa terdiam, napasnya memburu, terperangkap dalam cengkeraman pria yang membuatnya terjebak dalam perasaan yang penuh kontradiksi-antara kebencian, kemarahan, dan sesuatu yang jauh lebih dalam yang tak mampu ia namai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN