Deden melangkahkan kakinya dengan gontai dari butik milik Asri. Berkali-kali pria itu menyeka wajahnya yang masih mengeluarkan air mata. Ia sesak, tersentuh dan juga nelangsa. Terhenyak karena mendapatkan perlakuan kasar lagi dari Asri. Deden menghentikan motornya di tepi jalan, ia lelah. Dari pagi, hingga matahari mulai meninggi, pria itu masih sepi orderan. Tidak biasanya ia seperti ini. Di saat kegundahan hati yang melanda, tiba-tiba ponsel Deden berdering. Bu Yuyun memanggil pemuda itu. Wanita yang bekerja di bagian kemahasiswaan di tempat Deden menimba ilmu. “Assalamu’alaikum ... apa kabar, Bu Yuyun?” Deden menyapa dengan sopan. “Wa’alaikumussalam ... Alhamdulillah ibu sehat. Den, ibu ingin mengabari jika permintaan Deden untuk aktif kembali, sudah disetujui.” “Benarkah, Bu? Alha

