bc

Ayah Terhebat

book_age12+
357
IKUTI
1.3K
BACA
BE
drama
tragedy
genius
ambitious
male lead
slice of life
like
intro-logo
Uraian

Aswat dikhianati istrinya. Setelah bercerai dari Dewi. Hidup Aswat hanya berporos pada anak-anak saja. Aswat bertekad untuk menjadi Ayah terhebat bagi kedua anaknya. Tidak peduli dia sering diacuhkan oleh anak kandungnya sendiri.

Hingga akhir hayatnya, Aswat pun bisa memenuhi janjinya sendiri, yaitu menjadi Ayah terhebat. Meski nyawanya sendiri sebagai taruhannya.

Cover by Oktav_graphic1

chap-preview
Pratinjau gratis
Ayah Terhebat 1
Aswat Laksamana. Namanya begitu bagus bila disebutkan. Akan tetapi, kehidupan Aswat tidak sebagus namanya. Aswat harus menahan sakit hati ketika orang tuanya memutuskan untuk bercerai saat umurnya sepuluh tahun kala itu. Aswat ingin marah, tapi dia tidak bisa. Anak seumur itu tidak bisa buka suara. Rela tidak rela, Aswat harus menerima kalau keluarganya berantakan ditengah jalan. Padahal Aswat masih butuh kasih sayang dari keduanya, tetapi apa daya kala dia hanya bisa pasrah di bawa oleh Ayahnya pergi ke kota sebelah dan memulai hidup baru di sana. Ibunya tidak mau mengurus Aswat setelah perceraian, membuat ayahnya angkat tangan dalam mengurus Aswat kala itu. Hidup dalam didikan yang keras dari Ayah, menjadikan Aswat jadi kuat mental. Dari kecil hidup sederhana, hingga besar pun Aswat terbiasa dengan itu. Ketika tamat sekolah menengah atas, Aswat harus rela tidak bisa melanjutkan belajarnya lagi ke tingkat yang lebih tinggi. Ayah sudah tua dan saat itu masih bekerja banting tulang untuk memberi nafkah adik tiri dan ibu tiri Aswat. Setelah dua tahun perceraian Ayah dan Ibu. Ayah memilih menikah dengan perempuan pilihannya karena tidak ada yang mengurusnya sama sekali, apalagi kala itu Aswat masih kecil. Aswat rela harus ikut banting tulang setelah tamat sekolah. Dia jadi office boy di salah satu kantor pusat Jakarta, kantor itu tidak terlalu besar tapi cukup terkenal namanya. Ada lima tahun bekerja di sana dan bisa menabung sendiri untuk masa depannya. Aswat pun diangkat jabatannya menjadi karyawan tetap di salah satu divisi. Melihat kepintaran Aswat yang sayangnya tidak bisa dikembangkan, bos kantor memilih Aswat untuk menjadi karyawan tetapnya. Aswat bersyukur bukan main. Akhirnya dia bisa dipandang karena pekerjaannya yang tidak menjadi remehan orang-orang lagi. Enam bulan setelah kenaikan pangkat, Aswat tanpa sengaja dengan bertemu seorang gadis yang mampu memikat hatinya. Namanya Dewi Indah Permana. Cantik sekali bukan namanya? Tidak hanya nama, wajahnya pun juga cantik. Pertama kali jatuh cinta, Aswat tidak menyangka kalau hal itu mendebarkan seperti ini. Jantungnya berdetak lebih kencang, wajahnya memerah ketika berdekatan dengan gadis itu. Mereka tidak sengaja bertemu dalam sebuah meeting yang melibatkan mereka berdua. Dewi bekerja dari kantor yabg kebetulan bekerjasama dengan kantor pusat, tempat Aswat bekerja. Dari itu, keduanya pun bertemu tanpa sengaja dan makin lama semakin dekat. Satu tahun lebih kurangnya seperti itu. Aswat langsung memutuskan untuk menikahi Dewi, yang saat itu keduanya juga saling cinta. Tabungan Aswat juga cukup untuk meminang anak gadis orang. Pernikahan terjadi dengan lancar, Aswat dan Dewi terlihat sangat bahagia di satu hari itu. Tiga bulan selisih pernikahan mereka, Dewi dikabarkan hamil. Aswat semakij senang, bukan kepalang. Keluarga mereka sebentar lagi akan lengkap dengan kehadiran buah hati. Dewi yang saat itu juga sudah tidak bekerja lagi di kantor, atas permintaan Aswat sendiri. Karena dia merasa tugasnya ialah menafkahi istrinya. Sementara Dewi terlihat menurut karena patuh atas permintaan suami. Sejak awal menikah dengan Dewi. Aswat juga bertekad mempertahankan rumah tangga mereka apa pun yang terjadi. Karena Aswat tahu kalau setiap hubungan tidak pernah jauh dari kata selisih dan perkelahian. Maka Aswat akan menghindari hal yang merugikan rumah tangga mereka. Aswat tidak mau pernikahannya akan bernasib sama dengan pernikahan Ayah dan Ibunya dulu. Aswat tidak mau hal itu terjadi. Sebagai suami, Aswat bersyukur mendapatkan istri yang pengertian seperti Dewi. Meski gajinya tidak banyak, setiap bulan Dewi pasti akan mengurus pengeluaran uang, atau barang-barang penting apa yang ingin di beli. Dewi juga melarangnya agar tidak boros dan selalu hemat. Maka itu, setiap hari Dewi membuatkan bekal makan siang untuk Aswat untuk mengirit pengeluaran. Mereka juga sedang menabung karema posisi Dewi saat itu sedang hamil. Biaya persalinan tidak murah, banyak uang yang harus dikeluarkan. "Yang, dia nendang." Suara pekikan antusias dari Dewi, mengalihkan atensi Aswat dari tv yang berukuran sepuluh inci itu. "Beneran?" Aswat meringsut mendekati Dewi, berupaya meletakkan tangannya di atas perut istrinya yang sudah menbesar seperti balon saja. Dewi nampak mengangguk dengan senyum haru. "Iya, Mas. Nah, kamu rasain kan?" tanya Dewi, merasakan anaknya di dalam sana menendang sekalu lagi. Kali ini berturut-turut untuk kedua kalinya, membuat Dewi meringis pelan. "Kenapa, yang?" tanya Aswat, terlihat sedikit khawatir melihat wajah kesakitan istrinya. "Nggak apa-apa, Mas. Cuman dikit sakit aja karena dia nendang kuat banget," balas Dewi dengan gelengan. Aswat jadi menundukkan kepalanya, menyejajarkan kepalanya dengan perut Dewi. "Anak Ayah, jangan nakalnya. Tetap sehat di dalam sana. Ayah sama Bunda udah nggak sabar nunggu kehadiran kamu," bisik Aswat terdengar lirih. Dewi menyeka air matanya yang tanpa sadar jatuh melewati pipinya. Wanita itu tersenyum haru, tidak bisa melupakan moment semanis ini nantinya. Hidup mereka akan lebih sempurna setelah kehadiran buah hati mereka. Aswat duduk tegak kembali, saat ini mereka duduk lesehan. Sofa belum ada, karena barang-barang di dalam rumah sederhana yang di beli Aswat ini belum lengkap. Hanya ada beberapa barang-barang yang umum saja, yang sangat dibutuhkan sekali. "Yang, jengukin dedeknya yuk." Mata Aswat berbinar. Dewi yang tadi sempat menangis, tertawa pelan. Memukul bahu Aswat. "Apa sih!" "Yah, ayolah yang." Aswat terdengar merengek. "Aku gendong ini, ya." Setelah mengatakan itu, Aswat tanoa berpikir dua kali menggendong Dewi bridal style, masuk ke dalam kamar. Diiringi tawa Dewi yang terdengar candu ditelinga Aswat. "Kamu, nih. Astaga, kayak kebelet banget sih." Aswat merebahkan tubh Dewi ke atas tempat tidur dengan perlahan. "Lah, iya. Memang kebelet." Pagi harinya, seperti pagi biasa. Dewi bangun lebih awal daripada Aswat. Mengumpulkan semua pakaian kotor untuk dimasukkan ke dalam mesin cuci. Setelah itu Dewi memasak untuk sarapan pagi mereka sekaligus bekal makan siang untuk Aswat. Dewi tidak bisa bermanja-manja saat hamil begini kepada Aswat. Dia sadar kalau suaminya itu sudah sangat giat sekali bekerja. Pun, Dewi tidak masalah mempekerjakan rumah di saat hamil begini. Mereka bukan dari kalangan atas, sehingga Dewi tidak mau menuntut Aswat untuk mencari pembantu. Selagi bisa di kerjakan sendiri, Dewi tidka masalah. "Kamu bangun awal banget, sih." Aswat dengan wajah kantuknya memeluk tubuh Dewi dari belakang. Melingkarkan tangannya di perut besar itu. Sementara wajahnya dia sembunyikan di ceruk leher Dewi. "Mau masak. Ntar kalo aku lama bangun, kita sarapan apa, hm?" tanya Dewi. Tangannya sibuk mencuci labu siam yang dia ambil dari dalam kulkas tadi. "Tapi kamu jangan kecapean kali. Ingat, kamu lagi ngandung dia." Tangan Aswat mengelus perut Dewi. "Iya, sayang," sahut Dewi, memberikan kecupan manis di pipi suaminya. Membuat laki-laki itu tersenyum dengan nata yang masih tertutup. "Udah, sana mandi dulu, ntar kamu kelambatan masuk kerjanya," suruh Dewi. Tanpa menolak, Aswat pun menuruti perintah Dewi. Laki-laki itu bergegas mengambil handuk yang di jemur ditempat khusus. Setelahnya masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Dewi kembali melanjutkan aktivitas paginya. Hari ini dia ingin membuat labu siam tumis dengan tempe goreng untuk bekal makan siang Alam. Sedangkan sarapan pagi mereka, dia memasak nasi putih sisa semalam untuk di goreng. Terlihat sederhana apa yang di masak oleh Dewi. Akan tetapi, Aswat tidak keberatan sama sekali. Asal makanan itu Dewi yang memasak, mau bagaimana pun sederhananya, Aswat tetap memakannya. Karena makanan beginilah yang pas di lidahnya. "Bekalnya ini." Dewi memberikan tas berwarna hitam berbentuk bulat itu, di dalamnya ada tempat nasi yang berisi makan siang Aswat. "Jangan telat makan siangnya nanti," peringat Dewi. Dia tahu jelas bagaimana seluk beluk Aswat. Laki-laki ini suka sekali melewatkan makan siang karena ingin menyelesaikan semua pekerjaan kantor dengan cepat. "Iya, sayang." Aswat mengambil bekal itu. "Kamu jadi hari ini ke rumah Ibu?" tanyanya, mengingat percakapan mereka kemarin malam. Dewi ingin ke rumah orang tuanya. Dewi mengangguk. "Iya, aku ke pengen makan pisang goreng buatan Ibu." Wanita itu mengambil tangan Aswat dan segera menyalimnya. "Nanti kalo mau ke sana, telepon aku dulu, ya. Terus bilanv sama tukang gojeknya nanti, jangan ngebut di jalan," pesan Aswat. Laki-laki itu akan sangat cerewet ketika tentang dirinya. "Iya, Mas. Kamu hati-hati di jalan." Kening Dewi di cium oleh Aswat, sebelum benar-benar pergi ke kantor. Dewi melambaikan tangannya kepada Aswat, laki-laki tersenyum lebar di balik helmnya. Kemudian mengendarai motor kebanggaan laki-laki itu, Vespa. Dewi memutar tumitnya, kembaki masuk ke dalam rumah untuk mengerjakan tugasnya sekarang. Masih banyak yang belum selesai. Baju yang dia cuci tadi belum di jemur, piring kotor menumpuk di dapur. Belum lagi kamar dan ruang keluarga berantakan. Dewi menghela napas, nasib baik rumah yang mereka tempati ini tidak besar, sehingga Dewi bisa membersihkannya seorang diri. Coba kalau besar? Bisa-bisa tulang Dewi remuk dalam satu hari. Inilah tugas istri ketika suami pergi bekerja dan pulang di sore hari. Membersihkan rumah, sebersih-bersihnya. Agar nanti ketika suaku pulang dari bekerja, tidak risih melihat keadaan rumah yang sudah cantik dan enak dipandang. Dewi juga tidak masalah kalau mereka hidup sederhana. Asalkan cinta dan kasih sayang dari Aswat tidak pernah berkurang sedetikpun. Semenjak menikah, Aswat selalu memanjakannya. Meski cara memanjakan versi Aswat berbeda dari yang lain. Setiap malam laki-laki itu selalu membelikan martabak manis atau makanan yang Dewi suka. Atau setiap minggunya Aswat akan membawanya jalan-jalan ke mall dan membeli satu atau dua barang yang harganya tidak terlalu mahal. Atau jalan-jalan ke taman, dan masih banyak lagi. Yang paling utamanya, Dewi merasa bahagia ketika Aswat menjadikan ratu di dalam rumah tangga mereka. Manis sekali bukan?

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Pulau Bertatahkan Hasrat

read
640.1K
bc

Marriage Aggreement

read
87.0K
bc

Setelah Tujuh Belas Tahun Dibuang CEO

read
1.2K
bc

Life of An (Completed)

read
1.1M
bc

TETANGGA SOK KAYA

read
52.2K
bc

Scandal Para Ipar

read
708.0K
bc

Patah Hati Terindah

read
83.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook