Ayah Terhebat 10

1727 Kata

“Mas ini handuknya jangan di taroh ke atas kasur dong. Jadi basah kan, kasurnya,” ujar Dewi seraya menghela napas. Lelah sekali menasihati suaminya. “Iya, yang, maaf. Tadi kelupaan.” Dewi mencebikkan bibirnya, dalam hati menggerutu. Aswat selalu bilang begitu kalau taroh handuk di atas kasur. “Iya, maaf. Nggak di ulang lagi, kok.” Eh tap besoknya, di ulang lagi. Dasar! “Kemeja navy ku di mana ya, Yang? Kok nggak ada di lemari,” ujar Aswat, pagi ini sudah disibukkan mencari kemeja sejak tadi— di depan lemari. Dewi menghela napas pelan. Merotasikan bola matanya sebentar, Aswat dengan segala ketidakmampuan dalam mencari benda. Kebiasaan buruk yang sudah sangat Dewi hafal sekali. Dewi kemudian berjalan mendekati suaminya itu. Berdiri di depan lemari, kemudian matanya menelusuri kemej

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN