“Ini lho, Bu Dewi. Si Ratih kok nakalnya, sampai-sampai dorong Dea gitu,” ujar Dena—ubunya Dea, menatap Dewi dengan sewot. Dewi hanya bisa tersenyum kecil. “Namanya juga anak-anak, Bu. Saya minta maaf, Bu. Dea, ya nggak apa-apa, kan, dia nggak ada luka?” tanya Dewi, memperhatikan Dea yang baru saja berhenti menangis, sedikit senggukan. “Kalau ada luka, biar saya obati, Bu, bentuk tanggung jawab saya.” Dewi melanjutkan. Dena bersedekap. “Nggak ada luka, sih. Cuma saya nggak suka lihat Dea pulang nangis-nangis terus ngadu kalau dia di dorong sama Ratih. Anaknya tolong dikasih pengertiannya, Bu, jangan nakal. Kalau enggak, saya nggak mau mereka temanan lagi,” cecarnya. “Iya, Bu. Saya bakal nasihati anak saya, kok. Sekali lagi saya minta maaf, ya, Bu Dena.” Dewi menangkup tangannya ke de

