Ayah Terhebat 24

1735 Kata

Aswat menggeram tertahan, mengigit daun telinga Dewi s*****l, setelah mencecap bibir manis itu, seakan tidak bosan, Aswat terus bermain di sana dengan tangan yang sudah berkelana ke mana-mana, membuat lenguhan tertahan dari Dewi karena bibir mereka saling mencecap. Hingga kegiatan yang begitu panas harus terhenti. “Mas, berhenti dulu, itu ponsel aku dari tadi bunyi terus,” ujar Dewi, tangannya bertumpu di d**a Aswat—menahan lelaki itu agar menunda kegiatan mereka sejenak. Terdengar helaan napas kasar dari Aswat, dengan amat terpaksa melepaskan Dewi dari kukungannya. Kemudian menghempaskan tubuhnya ke kasur, menatap Dewi yang sekarang sibuk menjawab telepon. “Hah, laporannya bukannya sudah saya kasih sama asisten Bu Citra, ya? Kok bisa nggak ada, Bu?” “Dia nggak ada kasih ke saya. Sekar

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN